17 September 2013

In Memorial: Kucing Ringgo

Ternyata kucing ini hanya sanggup bertahan 1 hari lebih lama dibanding kedua temannya.



Kucing ini pertama kali tampak di samping rumah, mengeong-ngeong dengan suara nyaring meskipun badannya kecil. Ekornya panjang, lehernya kecil. Hampir sepanjang malam dia mengeong, sepertinya masih belum lepas susu, jadi masih ingin mencari induknya. Kata bocah-bocah yang main di depan rumah, kucing ini memang dibuang oleh pemiliknya. Oleh tetanggaku yang tinggal di samping rumah, kucing ini sengaja diletakkan di depan rumahku "Sini aja banyak temannya", sempat aku dengar kurang lebih dia berkata begitu.

Seperti Ciko, kucing ini juga selalu ingin masuk ke rumah. Tiap pintu dibuka, akan berusaha masuk dan langsung lari menuju dapur. Saat awal dia lincah, langsung bermain sendirian di sofa. Sayangnya, tak lama kemudian dia ketularan Miow. Mulai pilek dan matanya juga kena infeksi. Tiap diberi obat, biasanya sembuh, tapi tak lama kemudian akan kambuh lagi.



Kucing kecil ini adalah partner bermain bagi Ucil, sangat lincah bermain. Sayangnya pileknya seperti tidak sembuh-sembuh. Kami sering dibikin jengkel karena dia sering bersin dan menyemburkan ingusnya. Pada dasarnya dia juga manja, jadi kalau minta makan sering ngelendot-lendot di badan, bahkan di kepala. Sialnya, pas lagi dekat kepala dia sering bersin, dan ingusnya nyemprot kemana-mana.

Karena tidak terbiasa dengan toilet pasir yang ada di rumah, dia jarang kami biarkan tidur di dalam rumah. Biasanya tiap dia mengeong ada dua kemungkinan : lapar atau kebelet buang air. Seringkali saat kami suruh dia keluar, dia langsung menuju ke toilet pasir yang ada di teras dan segera buang hajat.



Akhirnya penyakitnya makin parah. Istriku sudah mencoba berbagai pengobatan, dengan salep antibiotik, vitamin, penguapan dengan Vicks dan sebagainya. Diantara ketiga kucing yang sakit bersamaan, kondisi Ringgo terlihat paling parah. Hidung ingusan sampai kuning, mata berair sampai kadang tertutup, dan mulutnya kesulitan untuk mengunyah dan kadang ngiler begitu saja. Pokoknya tampak kumal dan paling kasihan. Ditambah dengan hilangnya nafsu makan, tubuhnya makin kurus. Tapi dua hari sebelum meninggal dia menunjukkan gejala ingin makan, sayangnya tiap akan mengambil makanan seperti ada yang tidak nyaman. Makanya kami sempat senang melihat perkembangannya. Eh ternyata hari ini makin parah.

Saat siang hari aku memberinya minum oralit, nafasnya sudah mulai berat dan pelan. Aku sudah menyerah, sepertinya gak ada harapan lagi. Aku usap-usap saja kepalanya sekitar 1-2 menit sebelum kutinggal pergi karena ada kerjaan. Satu jam kemudian waktu aku tengok lagi, badannya sudah kaku. Sedih juga.

No comments:

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...