I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
27 January 2019
Tenda Mainan
El punya hobi membuat rumah-rumahan, dengan memanfaatkan berbagai barang yang ada di rumah - sofa, karpet, selimut, meja dan sebagainya. Karena itu di ulang tahunnya kali ini kami memberinya kado tenda mainan.
Seperti dugaan kami,dia sangat senang dan antusias dengan tenda barunya ini.
Sayangnya, tenda ini tidak bisa bertahan lama. Bahannya dari parasit dan plastik, termasuk kerangkanya. Mungkin karena untuk mainan anak agar tidak terlalu berbahaya, atau mungkin juga agar harganya terjangkau, kerangkanya tidak kokoh dan mudah patah. Padahal El sangat aktif kalau bermain - tenda dipindah kesana kemari, digulingkan, dan kadang ditimpa dengan barang-barang. Tidak perlu waktu lama, beberapa tiang rangka sudah patah.
Akhirnya, setelah satu hari bermain, aku putuskan untuk membungkus kembali tenda ini. Selain terlalu berbahaya kalau ada kerangka yang patah, aku pikir lebih baik menunggu sampai El cukup bijaksana saat bermain.
02 January 2019
Catatan Akhir Tahun 2018 - Liburan Penuh Kebersamaan
Liburan tahun ini mungkin menjadi liburan paling tidak menyenangkan sejak kami menikah. Aku menyebutnya sebagai liburan penuh kebersamaan, -- di mana semua anggota keluarga terkena sakit flu. Berawal dari kecapekan, terus kena virus flu (batuk, pilek, meriang) membuat kami semua terkapar. Sejak sampai di Kediri aku sudah merasa kurang enak badan dan ingin lebih banyak istirahat. Tapi karena El dan Fe masih tampak sehat dan bermain gembira, aku sedikit mengabaikannya.
Tapi ketika El mulai menunjukkan gejala yang lebih parah - batuk pilek dan beberapa kali muntah, aku juga tidak bisa mengabaikan kondisiku. Beberapa hari El tiduran saja karena lemas - menolak untuk makan dan minum susu. Meskipun dia merengek minta minum susu, tapi susunya sama sekali tidak diminum. Kondisi yang cukup menyedihkan, mengingat sebelumnya kalau El sakit tidak pernah sampai tampak begitu lemah. El sempat diperiksa di RS. Baptis Kediri, dan untunglah hanya didiagnosa sebagai flu, jadi tidak perlu rawat inap.
Kondisi Fe meskipun tidak parah tapi tetap saja tidak menyenangkan. Pilek dan batuk yang dia alami cukup mengganggu dan membuatnya sulit untuk tidur nyenyak. Akibatnya sepanjang malam sering terjaga, dan membuat kami juga ikut terjaga dan sulit istirahat secara maksimal.
Hampir selama 4 hari kepalaku sakit karena pilek dan meriang. Batuknya sendiri aku rasa belum terlalu mengganggu saat awal, lebih seperti batuk karena masuk angin. Tapi pileknya membuat kepala nyut-nyutan lumayan parah dan susah tidur. Baru setelah 2 hari berturut-turut aku hajar dengan parasetamol (Ultraflu), rasa pusing dan meriang mulai berkurang. Perjalanan pulang ke Jakarta bisa aku lalui tanpa nyeri di kepala, meski badan masih terasa masuk angin parah.
Istriku juga kena flu, begitu juga dengan Andre. Karena kelelahan, Eyang Kakung kambuh sakitnya dan harus dibawa ke RS. Jadi kami pulang ke Jakarta tidak diantar oleh Eyang Uti karena harus menunggu Eyang Kakung di rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, El tidak banyak bermain. Meskipun sesekali mengajak jalan-jalan di sepanjang gerbong, tapi dia lebih banyak tiduran di kursi. Untunglah kursi sebelah kosong sepanjang perjalanan, jadi dia bisa istirahat dengan cukup tenang sepanjang perjalanan - bahkan agak kesulitan memintanya bangun saat kereta sudah tiba di Jakarta. Sebaliknya dengan Fe, mungkin karena pilek yang mengganggu, lebih rewel saat pulang dibanding saat berangkat. Beberapa kali Fe menangis dalam perjalanan dan tidak mau diam, terpaksa istriku menggendongnya jalan-jalan di sepanjang gerbon dan juga di bordes.
Semoga tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya, liburan kita bisa lebih menyenangkan, dan lebih variatif.
23 December 2018
Penyerahan Anak El & Fe
Berangkat ke gereja pagi ini, Eyang Kakung sudah bisa berjalan sendiri tanpa menggunakan kursi roda, meski perlahan. Perkembangan yang cukup menggembirakan, karena artinya beliau bisa ikutan jalan-jalan meskipun tidak boleh terlalu melelahkan.
Hari ini dilakukan acara pemberkatan penyerahan anak untuk El dan Fe sekaligus, mengingat di GBI tidak mengenal adanya baptis anak. Seharusnya untuk El dijadwalkan tahun lalu, tapi gagal total karena dia sama sekali tidak mau masuk ke dalam gereja, dan memilih berkeliaran di luar. Kali ini, mungkin memang sudah waktunya, dia mau masuk ke gereja, meskipun dengan alasan bermain. Kebetulan ada anak yang membawa mainan yang menarik perhatian El, sehingga El sempat cukup lama betah di dalam gedung. Saat namanya dipanggil, aku segera menggendongnya dan dia tidak terlalu memberontak - meskipun harus dengan "tumbal" membawa mainan temannya itu. Untung sang anak rela meminjamkan mainannya, dengan sedikit paksaan dari orangtuanya yang pengertian.
Saat didoakan oleh Pak Pdt. Yosia, El anteng aja dalam gendongan, sementara Fe penasaran ingin menarik-narik tangan pak pendeta hehehe.
Semoga kalian berdua nanti bisa jadi saluran berkat yang luar biasa bagi Tuhan, memancarkan kasih dan cahaya Kristus sepanjang hidup kalian, mencintai Tuhan dan selalu hidup dalam pengenalan dan kasih Tuhan.
Selesai acara pemberkatan itu, El langsung beranjak keluar gereja. Sempat nimbrung sebentar di kumpulan anak-anak sekolah minggu yang sedang asyik makan es krim. Selanjutnya El minta jajan - baik mainan atau makanan - yang dijual di sekitar gereja.
Selamat hari Minggu!
PS: ini satu-satunya aktivitas luar ruangan bersama-sama dalam liburan kali ini. Setelah ini, kami semua "tumbang" dan menghabiskan liburan di rumah saja.
22 December 2018
Tidak Sabar Menunggu Kereta
El tanpak gelisah setiap kali ada kereta api yang lewat, dan berhenti di St. Gambir. Dia sudah sangat tidak sabar ingin naik kereta, sehingga setiap ada kereta berhenti ingin dimasuki. Dari posisi berdiri, duduk, ngesot hingga guling-guling saking ingin segera masuk kereta, dikasih tahu tidak mau mengerti juga.
Meski sudah memasuki masa liburan, tapi tidak terlalu tampak kepadatan di St. Gambir, seperti yang terlihat di ruang tunggu paling atas ini. Meski demikian, tiket kereta sudah terjual ludes. Bahkan saat masih menunggu di loby, aku sempat ketemu Rouf, teman SMA yang akan pergi ke Jogja dengan kereta yang sama dengan kereta yang aku pakai ke Kediri - yang jelas harganya lebih mahal ketimbang tiket kereta Jakarta - Jogja. Sayangnya aku gak sempat ngobrol banyak dengan temanku itu, padahal sudah cukup lama tidak bertemu. Aku di gerbong 8, sementara dia ada di gerbong 3. Agak sulit buatku bepergian karena harus mengawasi dua bocah.
Ini pertama kali bagi Fe untuk bepergian dengan kereta api - terutama bepergian dari jarak jauh. Aku sempat kuatir kalau dia bakal seperti El dulu ... tidak mau diem, pengennya diajak jalan-jalan terus, apalagi mengingat Fe juga sudah bisa merangkak. Untunglah justru sepanjang jalan Fe tampak sangat anteng, nyaman saja dipangku istriku sepanjang perjalanan.
Sementara El? Masih tidak bisa duduk diam di bangkunya. Meskipun tidak separah dua perjalanan sebelumnya, tapi El tetap ingin mondar-mandir jalan-jalan sepanjang gerbong, ingin bermain dengan anak-anak kecil yang ada di gerbong yang sama.Masalahnya,El punya kecenderungan "mengambil" mainan dari teman-temannya itu, yang tidak semuanya rela memberinya pinjaman. Sempat dia meminjam mobil mainan, dan terpaksa aku ambil paksa karena pemiliknya menangis :D
Ada satu insiden lumayan memalukan saat El bermain sendiri di bangku kereta. Aku sengaja tidak mengawasinya terlalu ketat, karena paham kemampuan dan kegemerannya, jadi aku awasi saja dari bangku sebelah. Pas dia berdiri di bangku, mungkin karena ada gerakan kereta yang berguncang mendadak, tahu-tahu El terjengkang ke belakang, jatuh di lantai kereta. Penumpang lain terkejut, mungkin was-was. Aku tenang saja, bergegas menggendongnya dan meletakkannya di pangkuanku sambil mengusap-usap kepalanya. El sempat menangis sebentar, tapi segera dia melupakan kejadian itu, dan kembali bermain seperti sebelumnya. Kapok? Tentu tidak.
Sebelum kereta sampai di Jogja, kedua bocah itu sudah tidur.
11 December 2018
Simbah Kangen Cucu Perempuannya
Suatu sore, mendadak dapat kabar mengejutkan dari ponselnya ibuku - dari rumah sakit mengabarkan kalau simbah masuk UGD. Walah ... bukan kali pertama, tapi tetap saja mengejutkan.
Dua hari lalu simbah memang secara mendadak mengatakan kalau ingin ke Jakarta, dan ternyata persiapan sudah dilakukan dan dia pergi cukup mendadak dari Jogja. Kakakku yang mencoba menghubungi pihak bis malam ternyata terlambat karena ibu sudah berangkat. Ya sudah, kami anak-anaknya cuma bisa pasrah.
Pagi ini sebenarnya aku ingin menemui simbah di gereja, tapi kondisi kurang memungkinkan, agak repot menjaga El dan Fe, jadi aku putuskan untuk menunggu saja. Ternyata dugaanku benar, ibu memang akan datang ke rumahku. Hanya saja, dalam perjalanan dia terjatuh di dalam angkot, kepalanya membentur sesuatu dan berdarah cukup banyak. Supir angkot cukup sigap dan baik hati segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Ibu mendapat 7 jahitan di dahi, tapi ya cuma itu, tidak ada masalah lain yang mengkhawatirkan. Malam itu juga ibu bisa pulang.
Aku bisa memahami betapa besar keinginan ibu untuk pergi ke Jakarta. Bosan terus-menerus di rumah, sementara biasanya beraktivitas. Rindu ingin bertemu dengan cucunya paling kecil yang belum pernah ditemui sejak lahir hingga hampir 9 bulan. Tapi alasan utama yang aku lihat adalah beliau ingin menambah pendapatan dengan berjualan di gereja, agar bisa membantu biaya perawatan bapakku.
Meski hanya sebentar dan jarang bisa bermain bersama cucunya, simbah tampak senang.
26 November 2018
Rambutan Tetangga
Ada satu pohon rambutan milik tetangga (pak Kino) yang dahannya sudah sangat rendah dah sebenarnya mengganggu kendaraan yang melintas di bawahnya. Tapi sepertinya dahannya tidak segera dipangkas karena pohon rambutan itu sedang berbuah lebat.
Iseng-iseng aku lempar wacana soal rambutan ini, dan pemilik rumah merespon dengan memberi ijin siapa saja yang ingin mengambilnya, silakan, bebas karena toh ada di luar pekarangan rumah. Mantap!
Jadi tiap aku lewat depan rumahnya untuk jalan-jalan dengan bocah, baik El atau Fe, aku selalu sempatkan mengambil buah rambutan yang rasanya manis dan nglothok ini. Tentu tidak bisa sampai berkarung-karung, paling 1-2 genggam saja. Sebenarnya aku pengen ngajak tetangga sekitar untuk memetik ramai-ramai, tapi herannya seperti tidak banyak yang berminat. Anak-anak kecil di kompleks juga tampaknya tidak "beringas" soal rambutan ini.
Padahal kalau aku ingat di kampung dulu, rambutan ini gak akan bertahan semalam hehehe ... bisa langsung ludes saat anak-anak bermain.
PS: seminggu setelahnya, barulah dahan pohon rambutan ini dipotong sekaligus panen rambutan. Sayangnya waktu itu aku sedang ribet, jadi justru gak bisa ikutan panen.
14 November 2018
Hati-hati Menyeberang Jalan
Ketemu lagi dengan makhluk ijo ginuk-ginuk ini, kali ini pas bukan lagi makan daun, tapi lagi menyeberang jalan :)
Hati-hati ya Lat!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...

















