16 August 2015

Lomba 17an di Kompleks


Untuk pertama kalinya aku ikut merayakan HUT Kemerdekaan RI di kompleks ini. Tahun lalu aku masih merayakan di Jakarta, dan pindah persis di bulan September. Padahal katanya perayaan di sini cukup meriah, termasuk ada acara panjat pinang.


Meskipun warganya tidak banyak, hanya sekitar 50 KK, dan yang aktif berkumpul mungkin hanya 50%, tapi beberapa warga tetap saja semangat. Jam 7 pagi sudah ada bocah SD yang keliling kompleks untuk mengundang warga, khususnya teman-teman sebayanya. Waktu aku tiba hampir jam 8, soalnya hari libur jadi bangunnya telat, sudah banyak anak-anak yang berkumpul, tapi masih sedikit orang tua yang datang.


Bapak ini salah satu tetangga yang punya hobi mirip denganku, gemar memotret apa saja termasuk hal-hal sepele. Sepanjang acara, hanya aku dan dia yang membawa kamera digital. Warga lainnya memotret dengan smartphone saja. Padahal aku yakin, banyak warga yang lebih mampu membeli DSLR dibanding kami, mungkin bukan hobinya.


Pertandingan pertama adalah untuk anak kecil di bawah SD. Lombanya sederhana, adu cepat mengisi gelas dengan air menggunakan sendok. Pemenangnya adalah yang berhasil mengumpulkan air paling banyak dalam waktu 1 menit. Sederhana, tapi tetap anak-anak itu semangat mengikuti lomba. Meskipun demikian, ada satu bocah yang ketika diberi semangat oleh kakaknya, malah nyeletuk "Aku pernah kok ikutan lomba gini, hadiahnya cuma buku sama makanan". Hehehe .... tapi toh dia tetap mengikuti lomba sampai selesai.


Beralih dari kanak-kanak, ini lomba untuk anak-anak usia SD dan sifatnya beregu. Satu kelompok ada 3 anak. Mirip dengan lomba pertama, intinya adalah lomba mengumpulkan air paling banyak, hanya caranya yang berbeda. Di sini air dikumpulkan dari ember dengan kain lap, terus dilemparkan ke rekannya agar dipindah ke mangkok yang tersedia. Lumayan seru karena perlu keterampilan khusus untuk melempar dan menangkap kain basah dengan tepat.


Istirahat sejenak untuk menikmati makanan yang tersedia. Entah siapa yang mengkoordinir konsumsi, karena aku sendiri gak pernah terlibat dalam kepanitiaan acara ini, kalau ada. Tapi beberapa kali aku lihat beberapa warga menyumbang makanan dengan sukarela.


Syukurlah, kesadaran warga akan pentingnya kebersihan patut diacungin jempol. Setidaknya panitia sudah menyiapkan kantong plastik untuk tempat sampah, dan sebagian besar warga dengan sadar membuang sampah pada tempatnya. Ada lah beberapa yang masih khilaf, tapi tidak tampak kumuh. Berbeda sekali dengan kondisi waktu aku masih di Tanjung Duren dulu.


Beranjak ke lomba untuk anak remaja. Kali ini tidak bermain dengan air, tapi bermain dengan kerikil. Lombanya sederhana, adu cepat memindahkan kerikil dari satu tempat ke tempat lain. Meski tampak sederhana, tapi tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi mereka tidak berasal dari keluarga dengan budaya memakai sumpit sehari-hari :) Seharusnya ada lebih banyak ABG di kompleks, tapi kebanyakan enggan untuk bergabung dan memilih menikmati liburan bersama teman-teman mereka sendiri.


Giliran lomba untuk orang tua. Untuk ibu-ibu, lombanya adalah merangkai bendera. Seminggu lalu, kami bersusah payah merangkai bendera plastik kecil-kecil ini untuk menghias lapangan. Mungkin itulah yang jadi ide diadakan lomba itu, sederhana, tapi agak rumit. Aktivitas ini juga tidak terlalu menguras banyak energi, jadi ibu hamil pun bisa ikut perlombaan. Ya, asal tahan berpanas-panasan saja, karena cuaca siang ini sangat panas, meskipun baru jam 10 pagi.


Untuk bapak-bapak, pertandingan yang diadakan juga menggunakan batu kerikil, yang mirip dengan batu akik. Intinya hampir sama dengan perlombaan untuk anak remaja, memindahkan batu dari satu tempat ke tempat lain, tapi caranya berbeda. Untuk lomba ini, cara memindahkannya dengan satu sumpit saja, jadi mirip golf. Kok malah jadi ingat permainan "benthik" jaman dulu.


Setelah perlombaan selesai untuk setiap kelompok usia, selanjutnya adalah acara santai yang dilombakan, menari Limbo. Tidak cuma anak-anak, tapi orang-orang tua juga semangat melakukan tarian ini, terutama ibu-ibu gaul yang gokil :) Ada satu anak perempuan yang badannya paling lentur, dan tentu saja dia jadi juaranya.


Inilah para juara! Secara keseluruhan, perlombaan yang diadakan adalah sederhana, tapi tetap meriah. Uniknya, sebagian besar perlombaan yang diadakan bukan perlombaan khas 17an seperti makan kerupuk, lari kelereng, balap karung dan sebagainya. Mungkin panitia sengaja mencari lomba-lomba yang berbeda, sederhana dan murah meriah.


Emak-emak gaul yang sepanjang acara selalu narsis dan heboh, termasuk salah satu bagian yang membuat acara terasa meriah.


Meskipun sejak awal sudah ada tali tambang, pihak panitia tidak punya agenda untuk lomba tarik tambang. Tapi ya namanya bocah, pengennya main melulu dan sepertinya kurang puas dengan perlombaan yang sudah ada, sementara pihak panitia sudah merasa kewalahan karena panas. Jadi bocah-bocah itu berinisiatif sendiri bermain tarik tambang.

Melihat antusiasme anak-anak, panitia pun memutuskan untuk melakukan lomba tarik tambang itu, meskipun hanya sekali. Cuma dua tim yang bertanding untuk seru-seruan saja.


Secara keseluruhan aku cukup senang dengan acara yang hanya berlangsung kurang dari setengah hari ini. Kebersamaan dan kegembiraan bersama selalu menyenangkan. Semoga saja tahun-tahun depan akan lebih banyak warga yang berpartisipasi. Mungkin akan lebih ramai lagi kalau acara ini digabung dengan RT di luar perumahan, karena sebenarnya kompleks kami masih jadi bagian dari RT lain, belum menjadi RT tersendiri. Meskipun ada pengurus internal kompleks, tapi bukan pengurus resmi.

No comments:

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...