06 June 2013

Sail to Ayer Island


Pagi-pagi kami sudah menunggu di Dermaga 16 Pantai Marina Ancol untuk berangkat ke Pulau Ayer. Ini adalah pertama kali aku akan naik kapal untuk berlayar agak jauh hehehe...


Istriku sengaja mengatur rencana liburan kali ini ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu berkaitan dengan kunjungan mertuaku ke Jakarta untuk berlibur, mumpung hari ini tanggal merah.


Deretan kapal yang entah sekedar parkir atau sudah siap untuk berangkat berlayar. Kemungkinan kami akan naik salah satu kapal itu, karena untuk ke pulau Ayer hanya dari Dermaga 16.


Karena kami datang terlalu awal, ada waktu untuk jalan-jalan sebentar menikmati suasana pagi yang agak mendung di pantai utara Jakarta ini


Tampak beberapa burung pantai sedang beristirahat di bebatuan pinggir pantai. Entah burung apa namanya, tidak terlalu banyak.


Dunia fantasi Ancol terlihat dari Dermaga 23. Waktu lagi di sini banyak pesepeda yang mampir sekedar beristirahat dan menikmati suasana pantai Ancol.


Ternyata kami dapat jatah keberangkatan cukup awal, jam 8 pagi, padahal kata petugas agen perjalanan jadwal kami jam 9.


Andre dan istriku memilih berdiri, karena memang penumpang terlalu banyak, dan ada yang duduk di buritan kapal. Istriku sudah pernah ke Pulau Ayer sebelumnya, dan tahu betul kalau di buritan akan kena cipratan air. Gak masalah berdiri, toh perjalanan cuma sekitar 20-30 menit.


Eh ada bule yang mau liburan juga ke pulau Ayer :) Meskipun perjalanan cuma sebentar, saking ngantuknya aku sempat tidur juga.

04 June 2013

Rain on Hot Sunny Day


Anak-anak kecil berlarian di depan rumah menikmati hujan yang cukup deras siang ini. Sepanjang pagi cuaca sangat cerah, bahkan panas. Mendadak kok turun hujan deras, tapi cahaya matahari masih bersinar dengan begitu terik.


Selokan depan rumah sampai tergenang air saking derasnya. Seingatku dulu kami sering menyebut hujan semacam ini sebagai udan tekek, ada juga yang bilan udan kethek.


Aku gak sempat, dan memang gak minat, mencicipi rasa air hujan ini. Di facebook ada yang bilang kalau hujan kali ini rasanya asin, sehingga ada yang berspekulasi ini adalah hujan buatan untuk menguji kesiapan Jakarta menghadapi banjir. Ada-ada saja.

31 May 2013

Only in Jakarta


Di depan rumah ada pemuda yang memasang kabel, entah listrik atau telpon atau kabel lainnya. Sepertinya sih bukan dari instansi resmi, malah aku sempat curiga kalau dia mau "mencuri listrik". Tapi aku sih gak mau terlalu ikut campur atau sok curigaan, jadi kubiarkan saja.


Yang cukup menarik perhatian adalah cara dia memasang tangga. Tetangga depan rumah sempat menegur dia dan bertanya apakah aman memasang tangga langsung di kabel tersebut. Sang pemuda dengan sangat yakin bilang kalau itu aman. Okelah, memang tidak terjadi apa-apa sampai pekerjaannya tuntas.

27 May 2013

Lapangan Denggung


Sudah lama lapangan ini berbenah, lebih terawat dan bersih. Menurutku, lapangan inilah pusat kota Sleman. Waktu kecil dulu aku sering bermain sepakbola di sini, justru tidak bersama teman-teman se dusun, tapi bersama teman-teman dari desa lain. Pokoknya asal ada yang main bola dan kurang orang, aku bergabung. Btw, gelandangan yang sedang membawa alat mandi itu sudah kukenal sejak aku kecil, hanya saja aku lupa namanya.


Di lapangan ini juga dulu sering diadakan pasar malam dan pertunjukan layar tancap. Kalau istilah kerennya, bisa juga disebut Slemain Fair hehehe. Meskipun isinya begitu-begitu saja, tapi karena lokasinya dekat, aku gak pernah absen nonton pameran pembangunan dan pasar malam di sini. Sekarang sudah ada taman bermain anak-anak.


Wow ... di taman yang terletak di salah satu sudut lapangan ini ternyata ada beberapa alat fitnes juga. Padahal di Jakarta saja aku jarang nemu. Kalau di Singapura memang banyak. Moga saja peralatan itu tetap awet.


Di sebelah selatan lapangan juga ada patung gajah, dengan dua anak gajah. Bagus, apalagi di sekitarnya pohon-pohon cukup rindang. Beda banget dengan suasanya waktu aku masih kecil, gersang karena pepohonan cuma ada di sekeliling lapangan (pinggir jalan). Tapi kenapa patung gajah ya? Apakah ada gajah di Sleman? Mungkin kalau patung salak kurang menarik hehehe. Pas iseng google, nemu artikel ini  : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/05/23/asal-usul-sleman-dan-ki-ageng-wonolelo-562564.html


Beberapa peralatan bermain anak-anak, yang kalau dilihat catnya sih masih terawat, meskipun lantainya sudah bopeng-bopeng. Tampak sepi, karena aku datang pas hari Senin pagi, bukan di hari libur.


Dua orang petugas kebersihan sedang beristirahat. Pantes saja bersih.


Oh ya, tempat sampahnya pun unik, ada yg berbentuk kangguru, ada juga yg berbentuk kodok. Moga saja dengan keunikan ini bisa mendidik anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Kadang prihatin melihat orang tua justru memberi contoh buruk pada anaknya, dengan membuang sampah sembarangan.


Di sebelahnya, persis dekat lampu merah, ada taman dengan patung adipati Sleman yang pertama, kalau gak salah KRT Pringgodiningrat. Tamannya cukup terawat. Kalau melihat taman dan lapangan Denggung ini, aku gak lagi merasa malu kalau Sleman dapat piala Adipura :)

Small Flowers


Jalan-jalan pagi ini aku agendakan untuk "mengoleksi" bunga-bunga berukuran kecil, bunga-bunga liar gampang ditemui di pinggir jalan, dan sering tidak dianggap. Meskipun sering diabaikan orang, tapi bagiku mereka tetap cantik dan menarik.


Sayangnya, seperti halnya bunga-bunga pada umumnya, aku gak tahu nama bunga-bunga itu.


.... yg ini bukan bunga, tapi jamur :) ....



Nah, kalau yang kuning ini waktu kecil aku menyebutnya kambil-kambilan (kambil = kelapa, karena mirip dengan pohon kelapa). Tanaman ini dulu sering kami pakai untuk bermain, kami rontokkan daunnya, terus diikat dengan simpul khusus terus diadu. Yang simpulnya gampang putus pertanda kalah.


Nah, kalau yang ini putri malu. Cantik, mungil, tapi berduri. Daunnya akan menutup jika tersentuh sesuatu, makanya dibilang malu :)

Sparrows at Rice FIeld


Bagi petani, burung pipit (emprit) adalah hama. Mereka mengambil biji padi di sawah, dan jumlahnya banyak.


Bagiku, yang bukan petani, melihat burung pipit adalah menyenangkan. Apalagi setelah lama tinggal di kota besar, dimana sangat jarang bisa melihat burung di alam bebas.


Kalau di Singapura, justru burung pipit atau burung gereja lebih jarang dilihat. Malah yang banyak adalah burung jalak (myna) sehingga burung itu dianggap sebagai pengganggu, padahal di Jawa aku jarang melihat burung jenis jalak itu di alam bebas, apalagi di perkotaan.

26 May 2013

Kethek Ogleng


Pas di Taman Budaya Yogyakarta, aku kebagian tontonan Kethek Ogleng, yang dibawakan oleh salah satu grup dari Gunung Kidul. Aku sudah sering mendengar istilah kethek ogleng ini, tapi tidak pernah tahu persis bentuk keseniannya seperti apa. Katanya kesenian ini berasal dari Wonogiri.


Seperti halnya kelompok kesenian tradisional pada umumnya, personil pendukung pertunjukan ini rata-rata sudah tidak muda lagi. Makanya wajar kalau ada kekuatiran kesenian tradional semacam ini akan punah, atau malah diadopsi oleh bangsa lain dan kita harus belajar ke luar negeri untuk tahu. Moga saja gak sampai terjadi.


Beberapa anak remaja mengajak pemeran utama pertunjukan ini untuk berfoto bersama. Mungkin mereka kenal dengan pemerannya, atau mungkin juga mereka hanya wisatawan pada umumnya.


Ah, untunglah pemeran utama pertunjukan ini masih tergolong muda, meskipun tidak terlalu belia. Mbak ini memerankan Rara Tompe, yang merupakan penyamaran dari Dewi Sekartaji :) Di sebelahnya adalah pembawa acara, yang kelihatannya tidak paham bahasa Jawa karena beberapa kali dia tampak kesulitan saat mengucapkan beberapa kata-kata jawa, termasuk saat menyebut nama Kethek Ogleng.


Meskipun aku tidak yakin dengan jalan ceritanya, tapi sepertinya bapak ini memerankan Raden Panji Asmorobangun.


Pertunjukan sudah dimulai, diawali dengan tarian Kethek Ogleng, sang Kera yang merupakan penyamaran dari Panji Asmorobangun, dalam usaha mencari kekasihnya.


... tampak belakang ....


.... Rara Tompe siap-siap beraksi ...


... ada beberapa wisatawan mancanegara yang mampir dan sejenak menyaksikan pertunjukan ini. Aku rasa, pertunjukan tradisional seperti ini sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja oleh wisatawan asing.


Si kethek memanfaatkan pohon beringin di belakang panggung sebagai bagian dari aksinya, karena setting adegan ini memang ditengah hutan.


... dapat close-up lagi ... (mohon dimaafkan kalau foto Roro Tompe terlalu mendominasi)


Sayangnya aku tidak sempat menyaksikan pertunjukan ini sampai selesai. Sudah terlalu sore, dan aku harus segera pulang karena keterbatasan angkutan umum di malam hari. Aku lagi malas pulang naik taksi. Perlu banyak menghemat untuk liburan kali ini.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...