31 January 2015

Pengalaman Menginap di Garden Hostel


Ini pertama kalinya aku menginap di sebuah hostel sendiri, gaya backpacker-an yang kamarnya model kayak barak gitu, satu kamar ada banyak tempat tidur dan kamar mandi dipakai rame-rame. Alasannya simple, nyari yang murah karena toh liburan kali ini aku cuma sendiri. Kalau bareng keluarga yang mending sewa kamar yang lebih keren. Aku iseng nyari hotel di Traveloka dan Garden Hostels ini jadi pilihanku.


Seperti kebanyakan hotel atau rumah di Bandung, hostel ini penuh dengan taman dengan berbagai bunga yang indah, seperti bunga Anggrek ini. Selain itu juga ada pohon rambutan yang sudah berbuah, sayangnya mau minta kok malu :) Yang jelas suasana di dalam hostel ini asri dan nyaman. Untuk istirahat dan sekedar nongkrong juga nyaman. Suasana Bandung yang adem benar-benar terasa.



Alasan utama aku memilih tempat ini, selain karena harga, juga karena lokasinya yang strategis menurutku. Di jalan Dago dengan akses angkot 24 jam, sekitar 500 meter dari Pasar Simpang Dago, dan persis di pinggir jalan. Jadi kalau gak bawa kendaraan pribadi, gak perlu kuatir harus jalan jauh, karena turun dari angkot sudah sampai dan tinggal masuk ke dalam 50 meteran dah sampai front office. Pas check-in dapat pelayanan yang ramah, petugas kamarnya juga ramah. Sejauh ini aku tidak punya keluhan dengan palayanan petugas.

Oh ya, waktu aku nginep di sana pas lagi kosong. Cuma ada 2 tamu yang menginap, satu lagi orang Belanda namanya Nikko, seorang traveler yang ramah.


Salah satu fasilitas unggulan di sini adalah kolam renang. Aku sih gak niat berenang, soalnya gak bawa cukup celana buat ganti. Lagipula renang sendirian kayaknya kurang asyik. Kolam renangnya lumayan, waktu aku datang pagi itu ada petugas yang sedang membersihkan kolam ini. Masalahnya, aku menjumpai banyak kodok berkeliaran, bahkan ada yang sempat ikut nyemplung ke dalam kolam. Waduh, aku yang gak masalah sama kodok saja agak risih, apalagi yang fobia lihat makhluk itu. Katanya sih karena dekat dengan sawah, jadi kodok-kodok dari sawah suka ikut bermain ke dalam hostel.


Inilah sawah yang dimaksud itu, persis ada di samping sebelah utara dari hotel. Sawah yang masih bertahan, di tengah himpitan padatnya perumahan. Sebenarnya ini adalah selingan pemandangan yang menarik. Jadi bukan berasa di tengah kota, tapi berasa di sawah, jadinya kesan liburan itu benar-benar ada. Andai saja background perumahan itu bisa diganti dengan hamparan pegunungan, pasti lebih ciamik.


Ada juga disediakan mushola yang cukup lega, dengan bangunan panggung yang menarik. Pokoknya cocok banget buat tiduran beribadah.


Overall sih aku suka tempat ini, recommended dan besar kemungkinan untuk datang kembali. Tapi bukan berarti tanpa keluhan. Setidaknya ada empat keluhan utama yang aku rasakan di sini.

Pertama, ya masalah kolam renang tadi. Sepertinya pihak manajemen perlu kerja keras lebih lagi untuk memastikan kolam renangnya bersih, terawat dan bebas kodok hehehe.
Kedua, soal sarapan. Ada harga ada rupa, jadi terkesan minimalis. Tapi buatku sih gak terlalu masalah, karena toh aku tidak berniat sarapan di hotel. Sengaja aku ingin sarapan di pinggir jalan, nostalgia waktu jaman kuliah di sini, menikmati makanan khas di sini yang agak jarang ditemui di Jakarta.

Ketiga, masalah terbesar adalah kondisi kamar mandi. Gantungan bajunya minim, belum lagi kamar mandi sangat kecil. Udah gitu untuk toiletnya gak ada kunci, jadi pintu harus dipegangin kalau gak mau ada yang mendadak membuka pintu waktu kita lagi ngeden. Masalah yang  paling mengganggu adalah bau gas. Bau gas ini bahkan sampai masuk ke kamar dan selain mengganggu juga agak meresahkan. Waktu aku sampaikan keluhan ini ke petugas, dia bilang itu biasa saja, gak masalah. Tapi kayaknya karena terlalu banyak yang protes, pihak manajemen harus mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah itu.

Terakhir adalah soal pembagian kamar. Terus terang aku merasa "diusir" secara halus, padahal kan harusnya jadwal check-out jam 12. Pagi itu aku jalan-jalan dulu sampai sekitar jam 10 lebih. Pas sampai di hostel, aku buang hajat dulu. Betapa kagetnya waktu tiba-tiba di luar kamar mandi ada suara ibu-ibu berisik. Langsung aku pegang gagang pintu kuat-kuat, sambil membuat suara-suara sekenanya untuk ngasih tahu kalau ada orang di dalam. Benar juga, mendadak seseorang mencoba membuka pintu. Untuk aku sudah sigap, barulah mereka sadar ada cowo ganteng yang lagi ngeden di toilet. Lah, bukannya ini harusnya kamar laki-laki? Entahlah. Yang jelas rombongan ibu-ibu itu check-in lebih awal dan langsung ditempatkan di kamar yang aku pakai, mungkin karena waktu itu kosong. Untung aja aku lagi gak bugil mondar-mandir di kamar mandi karena merasa kamar sedang kosong.

Ya sudah, segera saja aku beres-beres dan beranjak pergi untuk nonton lomba paduan suara di ITB.

No comments:

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...