15 November 2008

Festival Kampoeng Toegoe



Tanggal 15 November ini, komunitas Tugu di Jakarta Utara mengadakan Festival Kampoeng Toegoe di kompleks gereja Tugu yang menjadi salah satu cagar budaya karena sudah berusia lebih dari 200 tahun.

Acara yang ingin melestarikan budaya tugu serta menjalin keakraban antara 4 negara ini rencananya akan diadakan di Grand Indonesia, namun pihak pemkot Jakarta Utara menolak dan meminta acara diadakan di kawasan Jakarta Utara.



Seorang anak nampak duduk bengong sendirian di samping gereja. Gereja tugu kabarnya dibangun oleh Belanda setelah komunitas tugu (yang merupakan keturunan Portugis) berpindah ke agama Protestan. Seperti halnya gereja-gereja di Eropa, di sebelah gereja ini ada areal pemakaman.



Sekelompok anak SD turut memeriahkan festival kali ini, dengan membawa beraneka bendera dari keempat negara, menyambut tamu dari negara-negara yang diundang.



Duta besar dari Mozambik dan Portugal memasuki kompleks festival. Selain itu hadir juga perwakilan dari Timor Leste dan Brazil. Keempat negara tersebut sama-sama memiliki budaya yang berakar dari Portugal, dan baru-baru ini mereka bekerja sama juga mendirikan taman bacaan yang juga berada di dalam kompleks gereja Tugu.



Beberapa foto yang dipamerkan dalam festival ini, menceritakan tentang kehidupan di kampung tugu, serta sejarah singkat tentang komunitas tugu yang selain ada di Jakarta juga tersebar di berbagai negara.



Beberapa wartawan dan fotografer sedang bersiap-siap meliput acara. Berbagai media massa baik cetak maupun elektronik tak mau ketinggalan meliput acara yang melibatkan 5 negara ini.



Tarian yang merupakan gabungan budaya Betawi dan Portugal menjadi pembuka acara festival ini, yang dimulai sekitar pukul 10 pagi. Tarian ini, aku lupa namanya, menggunakan irama khas betawi seperti irama gambang kromong namun tariannya serta kostumnya seperti tarian tradisional Portugal. Cukup unik juga.



Sang primadona dari kelompok Keroncong Tugu Junior, Angela Michiels, tersenyum manis sebelum membawakan lagu-lagu dalam irama khas keroncong tugu. Meski baru berusia 7 tahun, namun dia bernyanyi dengan cukup meyakinkan, membawakan lagu berbahasa Portugis dan berbahasa Indonesia.



Tim keroncong tugu junior yang berusia dari 7 hingga 17 tahun ini memainkan irama keroncong dengan cukup lancar. Keberadaan mereka memastikan bahwa budaya keroncong, khususnya keroncong tugu tidak akan punah. Mereka mungkin akan menjadi penerus generasi ke 12 dari keroncong tugu.



Kelima gadis ini bergabung dalam vokal grup (ah, lagi-lagi aku gak sempat mengingat namanya, bahasanya cukup aneh) yang khusus menyanyikan lagu-lagu berbahasa Portugis. Rupanya di kampung tugu ada seorang guru bahasa Portugis yang ditugaskan langsung oleh kedutaan besar Portugal, kalau gak salah namanya Maria.



Perwakilan dari Dinas Kebudayaan Jakarta Utara menyerahkan seperangkat peralatan musik keroncong ke perwakilan keroncong tugu junior, sebagai tanda dukungan pemerintah daerah dalam melestarikan budaya keroncong. Sayangnya, komunitas tugu sendiri sudah memiliki perlengkapan keroncong yang cukup lengkap sehingga mereka berniat menghibahkan peralatan itu ke grup keroncong lain, namun belum mendapat informasi tentang adanya grup keroncong di Jakarta Timur yang membutuhkannya.



Selain juru potret dari berbagai media massa, ada juga dari kalangan militer seperti bapak satu ini, entah apakah untuk dokumentasi pribadi atau untuk keperluan instansi. Yang jelas kuperhatikan sejak awal acara beliau sangat aktif mengabadikan momen-momen yang ada dengan kamera digitalnya.



Perwakilan dari keempat negara berfoto bersama dengan perwakilan dari pemkot Jakarta Utara setelah menerima kenang-kenangan dari panitia festival. Sebelumnya, masing-masing perwakilan dari negara tetangga itu menyampaikan kata-kata sambutan yang isinya .... jangan tanya deh, jarang ada yang memperhatikan kata-kata sambutan dari pejabat :))



Bas bethot, aku cuma ngerti istilah itu. Katanya sih nama kerennya cello, yang dalam musik keroncong dimainkan dengan cara dibethot, bukan digesek. Bunyi bas bethot ini juga yang menjadi bunyi khas dari musik keroncong.

Yang cukup unik dari keroncong tugu adalah adanya bas elektrik,yang mungkin tidak ditemui orkes keroncong pada umumnya. Selain itu, keroncong tugu memiliki lagu-lagu yang iramanya lebih ceria, mungkin pengaruh dari budaya portugis dan betawi. Ada satu lagu, Kr. Tugu, yang iramanya mirip dengan Kr. Kemayoran. Dengan irama keroncong yang cukup ceria dan meriah, mendengarkan keroncong tugu tidak akan membuat kita terkantuk-kantuk, malah bisa sambil bergoyang. Pokoknya, keroncong tidak selalu identik dengan ngantuk, percaya deh!



Pak Munifa, datang langsung dari Surabaya demi mengikuti acara ini. Salut juga dengan dedikasi beliau, bahkan beliau mengabadian setiap momen dengan cukup detail melalui kameranya, dan hasilnya setelah diedit dibagikan secara cuma-cuma ke rekan-rekan yang ikut hadir dalam acara itu.



Bung Andre, pimpinan Ikatan Keluarga Besar Tugu dan merupakan generasi ke-11, sedang diwawancarai wartawan. Saat itu dia cukup sibuk karena menjadi panitia festival, namun masih sempat juga menyanyikan beberapa lagu andalan keroncong tugu.



Sebagai perwakilan budaya Brazil, tampil grup capoiera yang dipimpin oleh Prof. Mola. Penampilan seni beladiri yang juga mirip gerakan-gerakan breakdance ini cukup menarik meskipun sempat terganggu dengan kurang lancarnya musik yang dimainkan, sepertinya CD musik yang digunakan mengalami kerusakan. Memang, pertunjukan capoiera tanpa musik yang sesuai akan menjadi sedikit hambar.



Sementara yang satu ini adalah tarian tradisional dari Timor Leste.



Taman Surapati Chambers ikut berpartisipasi dalam acara ini, berkolaborasi dengan keroncong tugu. Suatu kolaborasi yang luar biasa, meski tidak megah, namun bisa memberi gambaran tentang kolaborasi musik keroncong dengan orkestra.



Pelataran depan gereja tugu menjadi tempat favorit pagi pengunjung maupun peserta festival untuk berfoto bersama, seperti halnya kontingen dari Timor Leste yang menyempatkan diri berfoto bersama duta besar negara tersebut.

Lebih banyak foto tentang festival ini bisa dilihat di : http://yudik.multiply.com/photos/album/5

No comments:

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...