I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
Showing posts with label Mountain. Show all posts
Showing posts with label Mountain. Show all posts
26 December 2016
Liburan : Jalan Pagi di Desa
Serombongan buruh tani wanita diantar dengan truk roda tiga menuju areal persawahan di lereng gunung Klotok, sekilas mereka tampak bahagia. Meskipun petani ndeso, baju yang mereka kenakan berwarna-warni hehehe.
Pagi ini aku mengajak El jalan-jalan pagi, dengan kereta dorong, menuju areal persawahan tak jauh dari rumah.
Kami tidak sendirian, karena ada beberapa rombongan keluarga yang juga sedang menikmati suasana pedesaan di pagi yang sejuk-hangat ini. Gundukan tanah yang paling dekat itu adalah bukit Maskumambang, sedangkan di belakangnya adalah Gunung Klotok.
Sepertinya ini alat perontok padi, entah masih berfungsi dengan baik atau tidak, soalnya bentuknya sudah tampak sangat berkarat gini. Perlahan tapi pasti, areal persawahan di Pulau Jawa berubah beralih fungsi menjadi bangunan, entah untuk tempat usaha atau pemukiman penduduk. Pemerintah dan tenaga ahli pertanian di negeri ini harus mulai lebih memikirkan lagi industri pertanian yang lebih baik, mengatasi keterbatasan lahan yang ada. Penggunaan teknologi tepat guna dan peningkatan pendidikan bagi petani mungkin bisa jadi salah satu alternatif yang perlu ditingkatkan.
Di lapangan dekat sawah sedang ada anak sekolah yang berkemah dan pagi ini mereka sedang senam pagi bersama.
Foto ini aku ambil kurang dari 5 menit sebelum akhirnya El tertidur, tidak sampai setengah jam perjalanan. Jadinya jalan-jalan berhenti sampai sini dan kamipun pulang.
Panorama areal persawahan di lereng Gunung Klotok, Kediri, dihasilkan oleh Google Photo yang secara otomatis menggabungkan beberapa foto yang ada. Jadi gak perlu capek-capek ngepas-pasin sendiri untuk bikin foto panorama :D
25 December 2016
Liburan : Bukit Maskumambang
Pagi-pagi, apalagi karena ini hari Minggu dan juga hari libur, beberapa warga tampak berjalan-jalan di sepanjang jalan menuju Gua Selomangleng, Kediri. Sebagian sekedar berolah raga, ada juga yang membeli sarapan di warung-warung yang ada di sepanjang jalan, kebanyakan jualan pecel khas Kediri.
Pagi ini kami tidak langsung pergi ke gereja untuk mengikuti ibadah Natal. Alasannya, karena masih kecapekan. Apalagi semalam El memaksa kami begadang dan tidur hingga lewat dini hari (lagi). Padahal khusus untuk hari Natal, ibadah gereja dimulai jam 5 pagi, yang memaksa kami harus mulai siap-siap sebelum jam 4. Kami menyerah dan memilih melanjutkan istirahat pagi ini dan memutuskan untuk mengikuti ibadah sore saja. Meskipun kurang istirahat, tapi pagi ini aku merasa cukup bugar dan ingin memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan pagi.
Ini adalah Gereja Baptis Indonesia (GBI) Bukit Pengharapan, gereja kecil yang ada di lereng Gunung Klotok. Aku iseng mampir ke tempat ini, sekedar ingin tahu bagaimana gereja kecil ini merayakan Natal. Gereja masih sepi, saat aku lewat cuma ada 2 orang yang berjaga-jaga, karena ibadah memang baru akan diadakan jam 7 pagi, masih satu jam lagi. Aku bersalaman dengan bapak penjaga gereja dan sedikit berbasa-basi.
"Ini terpal memang dipasang setiap hari Minggu?", tanyaku.
"Oh tidak, hanya untuk perayaan Natal saja", jawabnya sambil tersenyum.
Sebenarnya aku ingin bertanya lebih banyak lagi tentang gereja ini, tapi aku masih merasa ragu dan canggung. Mungkin lain kali kalau ada kesempatan.
Bukit Maskumambang adalah bukit kecil yang ada di samping Gunung Klotok, di sebelah barat kota Kediri. Di bagian selatan bukit ini kita bisa menemukan banyak kuburan Tionghoa, tersebar tidak beraturan. Kalau dilihat dari tanggal-tanggal yang ada di makam-makam tersebut, aku yakin penggunaan lahan ini sebagai kawasan kuburan, khususnya untuk warga Tionghoa, sudah lama dilakukan. Sayangnya semakin lama makin banyak rumah yang dibangun di sela-sela makam, sangat kacau. Aku yakin, rumah-rumah itu dibangun tanpa ijin, kalaupun ada ijin, pasti ada sesuatu yang tidak benar. Aneh sekali bisa membangun rumah diantara makam yang tidak ada hubungan dengan pemilik rumah. Rumah-rumah itu juga ada yang dijadikan kontrakan, seiring dengan berkembangnya kawasan itu menjadi kawasan pendidikan. Kacau.
Ini adalah Pura Penataran Agung Kili Suci, dilihat dari arah belakang. Seingatku aku belum pernah melihat pura ini dari dekat. Ada yang bilang, Kediri cocok untuk menjadi wisata ziarah bagi warga Hindu Bali, karena banyak tempat-tempat bersejarah yang terkait dengan ibadah agama Hindu, khususnya dari peninggalan jaman kerajaan dulu. Menurut rumor, ada situs-situs bersejarah semacam candi, yang sengaja "disembunyikan" keberadaannya, karena terlanjur berada di kawasan penganut agama lain. Padahal kalau bisa digali lebih banyak, situs-situs itu bisa jadi kawasan wisata yang justru mendukung perekonomian warga.
Enam tahun lalu aku pernah "mendaki" Bukit Maskumambang sendirian, karena tidak ada yang mau menemani, dan kali ini aku mengulanginya. Tidak sulit untuk mendaki bukit ini karena pemerintah sudah menyediakan tangga yang rapi dan terawat. Kali ini aku menyempatkan diri menghitung jumlah anak tangga yang ada. Dari hasil perhitunganku, ada 413 anak tangga dari bawah hingga ke bagian paling atas bukit. Selain itu masih ada lagi tangga menurun sebanyak 42 anak tangga ditambah tangga naik 14 anak tangga untuk menuju ke makam Boncolono.
Seingatku, saat aku pertama kali mendaki bukit ini enam tahun lalu, pendakian tidak terlalu menguras tenaga. Capek, tapi ya masih biasa. Kali ini, aku butuh 3 kali istirahat sebelum akhirnya mencapai puncak. Umur tidak bisa bohong, tapi yang jelas memang belakangan aku sangat jarang berolahraga, ditambah lagi kemarin aku kurang istirahat (alasan yang lengkap hehehe).
Pemandangan dari atas bukit memang tidak terlalu menakjubkan, tapi tetap saja indah. Hamparan sawah hijau diselingi perumahan cukup memanjakan mata dan memberi kesegaran (refreshing). Di arah timur tampak samar-samar kota Kediri yang dilalui oleh Sungai Brantas. Di sebelah utara ada gedung yang baru dibangun, rencananya memang di lokasi itu akan dibangun sebuah politeknik.
Beragam bunga liar bisa ditemukan di bukit ini, ditambah dengan beragam kupu-kupu dan serangga lainnya ikut menambah keindahan tempat ini. Gak rugi lah berlelah-lelah sedikit untuk menikmati pemandangan dari atas bukit, termasuk menikmati udara yang bersih dan segar. Sesekali ada kicauan burung, tapi tidak terlalu banyak.
Seperti saat pertama naik ke bukit itu, saat pulang aku sengaja mengambil jalur jalan setapak menuju ke lereng sebelah timur. Dulu jalan setapak itu tampak jelas dan begitu mudah dilalui sehingga aku tidak ragu atau takut kesasar. Tapi kali ini jalannya tampak kecil dan nyaris tertutup rerumputan, mungkin karena sudah jarang ada yang melewatinya.
Melalui jalan setapak itu bisa sampai ke PDAM dan kalau dulu aku memilih belok kanan dan berujung ke areal pemakaman Tionghoa, kali ini aku penasaran dan memilih belok kiri. Eh ternyata masuk ke kawasan SMAN 5. Saat itu sekolah lagi sepi karena hari libur. Untunglah saat aku melewati gerbang, penjaga sekolah cukup ramah menyapaku tanpa curiga.
22 August 2015
Touring Gn. Bunder : Waktunya Pulang!
Cukup puas bermain air di Curug Pangeran, sekarang waktunya pulang. Sengaja tidak berlama-lama supaya sampai rumah tidak terlalu gelap.
Meskipun sebentar, tapi pengalaman piknik rame-rame ini sangat menyenangkan. Bagiku, ini makin membuatku mengenal tetangga-tetangga kompleks yang selama ini jarang aku temui.
Perjalanan pulang mengambil jalur yang berbeda, yaitu jalur lurus dari jalur waktu berangkat, melewati jajaran pepohonan pinus. Sayangnya jalanan di sini kurang mulus, banyak yang berlobang dan lebih sempit. Jadinya perlu ekstra hati-hati dan tidak bisa melaju kencang. Tapi pemandangannya bagus.
Di tengah jalan beberapa kendaraan perlu berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar, termasuk motornya pak Djoko. Tak lama setelah mengisi bensin sempat terjadi insiden dimana motor Pak Djoko sempat oleng, dan diambil keputusan untuk memindahkan Pak Lestari ke motor lain. Tapi bukan insiden yang berbahaya.
Di daerah Kemang, lagi-lagi kami berhenti untuk istirahat. Selain mengisi bahan bakar di SPBU terdekat, kami juga nongkrong sebentar di warung es kelapa muda.
Masalahnya dalam perjalanan pulang, karena sudah tahu jalannya, kebanyakan memacu kendaraannya dengan kencang. Sementara aku cuma bisa memacu agak terbatas, jadi berada di rombongan paling bontot dengan sekitar 4 motor. Apalagi aku selalu kewalahan ketika ada kemacetan, yang terjadi cukup parah di pasar Parung dan pasar Ciputat. Jadinya ketika rencana awal akan melewati UIN, rombongan terakhir ini memilih langsung belok ke arah Cendrawasih :)
Meskipun aku tertinggal cukup jauh, tapi ketika sampai di kompleks rombongan masih melakukan ritual akhir yang disepakati, konvoi memutari kompleks sambil menyalakan klakson :) Kami disambut oleh anak-anak yang penasaran dengan kemeriahan yang ada. Setelah ngumpul sebentar di pos satpam, semua peserta langsung bubar.
Dari sejak mengisi bahan bakar di dekat Parung, sampai ke rumah bensin masih banyak. Jadi perjalanan PP sebenarnya cukup memakan bbm kurang lebih 3 liter.
Touring Gn. Bunder - Curug Pangeran
Sekitar jam 11 siang kami sampai di tempat istirahat dekat Curug Pangeran, tujuan touring kali ini. Panitia sudah memesan tempat di warung Kiara, persis di jalan masuk menuju air terjun. Di sini kami istirahat sebentar untuk makan siang sebelum bermain ke air terjun.
Hidangan yang dipesan adalah makanan tradisional, ikan goreng, sayur asem, ayam cabe hijau, lalapan dan tak ketinggalan, pete. Warung ini juga menyediakan teh betawi, jahe dan tentu saja kopi. Makanan terasa sangat nikmat setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan.
Kenyang makan, leyeh-leyeh dulu sambil melihat video perjalanan yang direkam panitia. Sederhana, tapi sangat menarik, dan yang penting adalah kebersamaan. Beberapa orang langsung tertidur pulas, dan salah satu peserta tertidur sangat pulas sampai dikerjain macam-macam juga tidak terbangun.
Beberapa kali aku lihat rombongan orang bersepeda lewat depan warung. Salut!
Dari warung ke pelataran parkir menuju Curug Pangeran jaraknya sekitar 300 meter. Aku memilih berjalan kaki karena jalannya cukup menanjak dan tidak mulus, sementara kebanyakan orang memilih untuk naik motor.
Lumayan mendaki, tapi dengan udara segar di sekitar ini, perjalanan tidak terlalu melelahkan, Apalagi sebelah kanan-kiri juga penuh dengan pepohonan dan beragam bunga, jadi tidak membosankan.
Dari pelataran parkir kami harus berjalan kaki sekitar 400 meter menuju air terjun Curug Pangeran. Jalannya landai, sesekali perlu melewati anak tangga, tapi tidak terlalu curam. Tidak seberapa dibanding perjalanan menuju air terjun Dolo di Kediri.
... penasaran, ini bunga apa ya?
Rupanya air terjunnya kecil, mungkin tingginya hanya 3-5 meter, kedung-nya juga tidak begitu luas. Waktu rombongan kami tiba ke tempat itu, ada beberapa wisatawan yang sedang mandi. Mereka langsung menyingkir dan pulang melihat kehadiran kami hehehe .... Meskipun kecil, tapi tetap indah, dan bagian dekat air terjun itu lumayan dalam, bisa menenggelamkan orang dewasa. Debit air tampak sedikit karena masih musim kemarau, tapi airnya jadi jernih. Kalau musim hujan mungkin air terjunnya lebih besar lagi dan genangan airnya juga lebih luas, mungkin.
Bagian sungai di bawahnya ternyata juga sangat menarik, dengan hamparan bebetuan gunung yang besar-besar. Cocok buat foto prewedding kalau mau. Sayangnya saat kami datang, ada rombongan anak sekolah yang lagi melakukan aktivitas perploncoan di sana. Jadinya pemandangan sedikit terganggu, dan aku enggan mengeksplorasi tempat itu.
Sebagian besar peserta menikmati acara mandi bareng, tidak peduli umurnya lebih dari paruh baya dan sudah punya cucu hehehe .... Aku batal ikutan nyebur meskipun sudah bawa baju ganti. Soalnya terlalu sempit, jadi rasanya bakal kurang puas berendam.
Jadinya aku cukup menikmati sejuknya air pegunungan ini dengan merendam kaki saja. Airnya benar-benar segar dan bening.
Yang namanya anak remaja jaman sekarang, kalau piknik pasti bawa tongsis buat selfie atau groupfie :)
Touring Gn. Bunder - Bakti Sosial
Setelah istirahat sebentar di Situ Kemang, perjalanan dilanjutkan kembali melewati jalur perkebunan kelapa sawit milik PTPN. Meskipun tidak terlalu jauh, tapi melintasi jalur kelapa sawit itu membuat suasana seperti di Sumatera :)
Sampai di pasar Ciampea terjadi kemacetan cukup parah. Pak Miing yang ternyata kecilnya pernah tinggal di daerah ini langsung memberi komando untuk mengambil jalan memutar. Kami ikut saja dan memang jaraknya jadih lebih 2x lipat, yang penting lancar.
Eh, selepas dari daerah Ciampea, ternyata kedua tetua tidak ada dalam rombongan, yaitu Pak Djoko dan Pak Lestari. Jadi rombongan berhenti sebentar, foto-foto, duduk-duduk dan beberapa orang mengambil kesempatan untuk merokok. Beberapa orang mencoba menyusuri jalur sebelumnya siapa tahu mereka tertinggal atau kesasar.
Hampir setengah jam kami menunggu sampai akhirnya panitia berhasil menelpon Pak Djoko. Rupanya dia tidak tertinggal, malah sebaliknya, sudah ada jauh di depan. Entah dia melaju terlalu cepat atau mengambil jalan pintas, yang jelas saat itu dia sudah mendahului. Langsung kami berangkat setelah sebelumnya meminta Pak Djoko untuk menunggu.
Salah satu peserta sedang mengisi angin di tengah jalan, pas sudah memasuki lereng pegunungan. Pak Indra berkelakar "padahal saya lagi pengen buang angin nih, eh malah ada yang ngisi angin" :)
Memasuki kawasan objek wisata Gunung Salak Endah ini katanya tiap orang (sudah termasuk motor) dikenakan biaya 15 ribu. Jadi kalau ada 24 motor, minimal kami harus membayar 360 ribu. Tapi pihak panitia sudah berkoordinasi dengan salah satu tetua di Gunung Bunder dan ketika dia menyebut nama yang bersangkutan, kami cukup membayar 100 ribu. Lumayan.
Sebelum sampai di tempat tujuan akhir yaitu Curug Pangeran, kami singgah sebentar di salah satu mushala di Gunung Bunder untuk memberikan sumbangan kepada anak-anak yatim yang ada di daerah itu. Sebelumnya panitia sudah berkoordinasi dengan pengurus setempat, dan mereka berhasil mengumpulkan anak-anak yatim yang ada di dua RW. Memang dalam acara touring ini, selain sumbangan untuk kegiatan ada juga donasi sukarela untuk bakti sosial ini.
Tidak semua anak-anak yatim yang masuk dalam daftar bisa datang untuk menerima sumbangan ala kadarnya. Sebagian besar masih sekolah, beberapa diwakili oleh orangtuanya. Jika ada yang tidak hadir dan tanpa wakil, sumbangan dititipkan ke ketua RW setempat untuk diserahkan. Selain amplop berisi uang, kami juga memesan nasi bungkus untuk dibagikan ke mereka. Semoga semua itu bisa bermanfaat meskipun jumlahnya sedikit.
Nampang dulu sebelum lanjut ke tujuan akhir yang jaraknya masih kurang lebih 3 km. Oh ya, kalau dihitung kasar, dari Situ Kemang ke tempat ini memakan waktu 2 jam. Harusnya bisa lebih cepat kalau saja tidak kena macet dan mengambil jalan memutar, serta tidak perlu "menunggu" pak Djoko yang ternyata sudah mendahului :)
25 December 2014
Berkunjung ke Nganjuk
Ini adalah rumah dari saudaranya saudara istriku, di Nganjuk. Entah, aku juga kurang paham hubungan keluarga ini dengan keluarga istriku, tapi kurasa cukup dekat. Penghuninya baru saja meninggal dunia sekitar seminggu lalu dan mumpung liburan Natal ini keluarga berkumpul, mertuaku mengajak kami untuk menjenguk keluarga yang ditinggalkan. Orangnya cukup terpandang, rumahnya besar dan tanahnya juga luas. Karena gak kenal dengan kerabat yang ada, aku cukup setor muka saja, sesekali nyengir, sama sekali gak ikut nimbrung obrolan yang terjadi. Syukurlah kunjungan tidak terlalu lama.
Selanjutnya kami juga mampir ke tempat makan keluarga nenek mertua bersama paman-tante istriku. Kebetulan paman istriku hendak bertugas ke Lombok, sementara tantenya hendak pergi umroh bulan depan. Jadi mereka menyempatkan diri untuk ziarah ke makam orangtua. Saat ini aku merasa bingung kalau harus berdoa di makam. Jadi aku memilih memotret saja, toh doa yang dipanjatkan juga sifatnya personal.
Nah, waktunya makan, kami diajak menikmati Sate Ponorogo yang cukup terkenal di salah satu sudut kota Nganjuk, gak jauh dari alun-alun kota (ah, lupa nama jalannya). Warungnya kecil saja, di perempatan, tapi yang ngantri lumayan bikin ragu-ragu untuk masuk, karena banyak sementara perut sudah memaksa ingin diisi. Toh akhirnya kami makan di sini juga, dan untunglah tidak terlalu lama menunggu hidangan disajikan. Rasanya enak, meskipun secara umum mirip dengan sate madura, tapi ada perbedaaan mendasar, yang jelas bumbu kacangnya berbeda.
Di Nganjuk banyak juga yang berjualan air tebu di pinggir jalan. Meskipun cuaca mendung, tetap saja es tebu ini laris karena segar. Daripada suntuk di rumah saudara, kami bertiga pergi ke sawah untuk membeli es tebu, jalan kaki sekitar 500 meter.
Seingatku, aku berpapasan dengan kendaraan penggiling ini lebih dari empat kali, dan melihat jarak serta sesekali mengingat pengendaranya, yang aku temui bukan kendaraan yang sama. Artinya di daerah ini ada cukup banyak mesin giling portabel seperti ini. Menyenangkan melihat para buruh tani ini tersenyum saat aku memotret mereka, meskipun mungkin penghasilan mereka tidak terlalu besar.
Oh ya, Nganjuk adalah salah satu daerah yang ada di lereng Gunung Wilis. Jadi dari kota ini bisa terlihat sama-samar Gunung Wilis serta beberapa perbukitan di sekitarnya. Sayang aku gak sempat mengambil sudut yang pas untuk mengabadikan landscape berlatar belakang gunung itu, hanya sempat motret dari dalam mobil yang melaju. Moga lain kali ada kesempatan.
11 December 2014
Situ Tujuh Muara aka Situ Cileduk
Meskipun sedikit terganggu dengan adanya menara sutet yang membelah danau ini, tapi Situ Tujuh Muara di Pamulang ini tetap terlihat indah. Lebih luas dibanding ketiga situ yang sudah aku kunjungi (Bungur, Legoso dan Sasak Tinggi), dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Entah berapa luas aslinya, tapi yang jelas bentuk danau ini agak unik, karena terbelah oleh daratan-daratan. Entah apakah sudah sejak awal atau akibat pengurukan, aku kurang tahu. Udah nyoba ubek2 google buat nyari riwayat danau ini, belum ketemu.
Konon kabarnya, situ ini luasnya mencapai 33 hektar, entah berapa luasnya sekarang. Ada yang bilang 22 hektar, bahkan ada data yang mengatakan cuma tersisa 19 hektar.
Latar belakang pegunungan di daerah Bogor dan pohon kelapa yang tumbuh memberi kesan suasana pedesaan yang kental. Meskipun berada di samping jalan raya, tapi udaranya masih segar. Danau ini sendiri juga sekilas tampak bersih, tidak terlihat banyak sampah di permukaan, kecuali di beberapa sudut dan tepian danau. Entah kalau bagian dalamnya. Soalnya pas jalan-jalan, sempat terlihat salah satu warga liar (yang menghuni gubuk semi permanen di pinggir danau) dengan santainya membuang bungkusan plastik hitam berisi sampah, parahnya!
Seperti informasi yang pernah aku peroleh, danau ini dan danau Sasak sengaja dibendung, dan kebetulan bendungannya dijadikan jalan raya. Untuk kasus Situ Tujuh Muara ini malahan pinggirnya adalah jalan raya, yang mungkin sekelas jalan antar propinsi. Lebar dan ramai. Di ujung sebelah utara ada pintu airnya untuk mengatur debit air.
Di sebelah utara, agak pojok timur, ada pusat perbelanjaan. Bisa kelihatan lah itu mereknya apa. Moga saja tempat itu dibangun bukan hasil menguruk danau, dan moga saja pembuangan limbahnya tidak digelontorkan ke dalam danau. Cuma memang herannya, danau sebagus ini, di dekat Jakarta, seperti tidak terlalu dimaksimalkan sebagai tempat wisata. Padahal kalau mau dikembangkan jadi areal wisata domestik akan cukup lumayan, tanpa menghilangkan fungsi utama sebagai areal konservasi air. Minimal dijadikan taman kota dengan jogging track yang nyaman dan berbagai fasilitas lain untuk membuat warga nyaman berekreasi di sini, gak usah jauh-jauh. Apalagi akses jalan raya sangat dekat. Sempat mikir-mikir, kok gak ada hotel di dekat sini ya :-? Atau aku aja yang kurang menjelajah.
Di salah satu sudut ada warung semi permanen seadanya. Mungkin untuk melayani para pengunjung, khususnya yang mancing di areal danau. Hmm.... sekilas kok tampak ada minuman beralkohol ya, entah benar atau gak hehehe...
Yup, kaum pemancing tidak pernah absen dari tempat-tempat seperti ini...menurutku sih gak masalah. Yang penting mereka sadar akan pelestarian lingkungan, turut menjaga kebersihan dan syukur-syukur bisa ikut peduli dengan pelestarian danau secara menyeluruh.
Beberapa nelayan juga menggantungkan nasib menjala ikan dari danau ini. Waktu aku datang sih tidak banyak, cuma satu bapak ini yang aku lihat sedang menjala ikan di tengah danau.
Aku perhatikan sih jogging track sudah ada di seputar danau. Hati-hati, ada jalur yang mengarah ke kuburan, jadi kalau mau jogging di sini jangan tengah malam, kecuali memang sengaja uji nyali atau dah paham hehehe.... Tapi jelas jogging track ini masih bisa dikembangkan lagi, yang sekarang lebih seperti jalan setapak.
Sekeliling danau masih cukup asri, kita bisa menjumpai berbagai jenis bunga. Tapi ya itu tadi, untuk sekedar nongkrong-nongkrong masih agak kurang nyaman. Belum banyak tempat duduk khusus untuk warga bersantai di sekitar danau. Mungkin sengaja, biar gak dipakai pacaran atau perbuatan tidak baik lainnya, tapi ya kan banyak orang baik yang ingin menikmati danau ini juga.
Jalan setapak ini membelah sebegian danau, dan cukup sering dilalui warga dengan motor, karena sepertinya jadi jalan alternatif yang praktis.
Nah, masalah klasik danau-danau seperti ini, adalah berurusan dengan keserakahan kaum berduit, terutama yang bekerja di bidang properti. Mereka seenaknya menguruk danau untuk dibuat perumahan, padahal harusnya lahan ini dilindungi pemerintah. Salah satunya ya PT Villa Pamulang. Bukan fitnah, tapi banyak beritanya di internet.
http://www.kabar6.com/tangerang-raya/tangerang-selatan/17360-lurah-di-pamulang-diduga-terlibat-pencaplokan-situ-tujuh-muara.html
http://www.tempo.co/read/news/2014/11/26/214624522/Situ-Ciledug-Diuruk-di-Mana-Airin
http://regional.kompasiana.com/2014/11/30/parah-pengurukan-situ-di-tangsel-707144.html
Jadi bagi yang peduli dengan pelestarian alam dan tempat-tempat seperti ini, kalau belum bisa berbuat banyak, ya minimal suarakan saja keprihatinan. Mungkin bisa juga dengan melakukan boikot terhadap pengembang yang turut merusak lingkungan danau ini, seperti PT Villa Pamulang itu. Moga saja ada penyelidikan dan proses hukum bagi oknum pejabat yang terlibat, karena pasti ada lah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...
























































