Showing posts with label Car. Show all posts
Showing posts with label Car. Show all posts

02 December 2020

Pengamen Manusia Perak


 Seorang pengamen yang dikenal dengan istilah "manusia perak" karena mengecat tubuhnya dengan warna perak, sedang beraksi di lampu merah Tegal Rotan. Keberadaan mereka sering dianggap sebagai gangguan, dan seringkali satpol PP melakukan razia terhadap mereka.

Apakah pengamen adalah seniman? Ini bisa jadi perdebatan. Bagi sebagian orang, seniman panggung itu juga pengamen, bedanya dapat bayaran yang pasti. Sedang pengamen jalanan, bayaran gak jelas. Bedanya, seniman yang berpentas di panggung, kebanyakan punya kualitas yang teruji. Kalau kualitasnya jelek, sapa yang mau bayar? Sementara pengamen, sebagian besar kualitasnya ala kadarnya, jadi orang yang "membayar" lebih banyak karena terpaksa, atau kasian. Kalau ada pengamen yang kualitas seninya bagus, terbukti banyak orang yang rela dan senang hati memberi saweran.

Perlu kreativitas, dan mungkin juga dukungan dari pemerintah daerah, agar para pengamen berkualitas bisa menampilkan seni yang pantas dihargai, tidak hanya meminta belas kasihan, apalagi memaksa dan mengganggu.

01 January 2020

Banjir di Tahun Baru


Malam pergantian tahun 2020 kali ini sepi-sepi saja, yang ada malah hujan deras. Sempat ada wacana dari beberapa warga, tapi tampaknya kebanyakan lebih suka bergumul di balik selimut atau merayakan di tempat lain. Jam 12 malam aku sempat melongok keluar rumah dan segera balik tidur melihat gerimis masih turun. Pagi harinya bangun kesiangan, dapat kabar dari grup kalau sungai di sebelah kompleks meluap.


Luapan sungai alias banjir kali ini termasuk paling dahsyat selama aku pindah ke kompleks ini. Biasanya kalau banjir, jalanan ini masih aman dilewati motor. Tapi kali ini, mobil yang diparkir di depan rumah warga tenggelam hampir separuh badan.



Rumah-rumah di kompleks memang aman dari banjir, karena lokasi di lereng dan cukup tinggi. Hanya 1 rumah yang sempat kemasukan air di dalam rumah, parahnya tuan rumah tidak segera menyadari karena sedang tidur. Mobilnya yang ada di carpot sempat terendam juga sebagian. Beberapa rumah lainnya air hanya sampai ke pekarangan/halaman.

Tapi yang terkena dampak parah adalah rumah pemulung yang ada persis di pojokan kompleks, tempat El biasa bermain. Rumah utama aman meski tergenang hampir 1 meter, tapi rumah lainnya yang tanpa pondasi hanyut tak bersisa, beserta banyak barang-barang rongsokan yang mereka kumpulkan. Tidak ada korban jiwa, syukurlah. Listrik di rumah itu langsung dipadamkan sekitar jam 7 pagi.


Karena bukan kejadian yang rutin, meski hujan masih rintik-rintik, banjir ini jadi tontonan warga sekitar yang penasaran. Di seberang sungai itu adalah kompleks Ciputat Baru, dan mereka terkena dampak banjir lumayan parah. Selain posisi rendah, sistem drainase juga kurang bagus meskipun ada 1 pompa air di sana. Kabarnya sejak pagi sudah ada tim Basarnas yang siaga di sana.

Masalahnya, di Ciputat Baru itu ada gardu listrik yang terkena dampak, dan sebagian rumah di kompleks kami mendapat suplai listrik dari sana, termasuk rumahku. Demi keamanan, mulai jam 12 siang listrik dipadamkan. Untung sudah ada pemberitahuan awal, jadi kami sempat mengisi penuh air dan powerbank.


Sore hari, mobil Ford yang terendam air ini dievakuasi atas instruksi pemiliknya, yang kebetulan saat itu sedang tidak ada di rumah, masih berlibur. Lumayan parah juga kayaknya.


Sementara bagi anak-anak, genangan air banjir adalah wahana bermain yang menyenangkan. Bahkan ada beberapa anak yang sempat mandi di jalanan yang tergenang air itu. Meski menyenangkan dan murah-meriah, hal ini bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan.Adalah konyol kalau ada tokoh politik terpelajar yang justru senang saat melihat "anaka-anak gembira tuh bermain di banjir".


Hingga menjelang senja genangan air masih belum juga surut, dan kabarnya masih bakal ada tambahan kiriman dari selatan, meski hujan di sini sudah reda. Padahal kami berharap air segera surut, atau setidaknya listrik dinyalakan. Sayangnya harapan kami bakal sia-sia.


Jadinya kami melewatkan malam ini tanpa listrik dan harus berhemat air. Untunglah kami sudah sedia beberapa powerbank yang penuh, dan ada beberapa lampu LED yang cukup untuk penerangan. Syukurlah pula malam ini udara masih dingin dan tidak banyak nyamuk. Hanya saja sinyal internet (XL) sangat buruk jadi kami tidak bisa banyak memakai internet. Karena terbiasa dengan gelap,anak-anak tidak takut saat mati lampu.

21 February 2018

Jalan-jalan Pagi Mengitari Pondok Ranji


Matahari sudah mulai beranjak naik meskipun sinarnya masih sedikit terhalang awan tipis di langit timur. Pagi ini El mengajak jalan-jalan mengendarai motor, jadi aku ajak saja dia berkeliling kelurahan Pondok Ranji, mencoba menjelajahi tempat-tempat menarik di pinggiran Bintaro/Ciputat ini. Mulai dari Situ Bungur, yang airnya tampak tenang pagi ini, sementara langit biru jernih tanpa banyak awan meski sekarang masih di musim hujan.


Dari Situ Bungur kami lurus, menuju Masjid Jami Ar-Rahman di Jl. H. Gadung Raya, karena menurutku masjid ini paling unik bentuknya. Bisa dibilang ini untuk kedua kalinya aku memotret masjid ini dari arah depan, karena biasanya kami hanya melewati jalanan di belakang masjid. Terus terang, bentuk menara masjid ini agak gimana gitu :D.

Btw, persis di depan masjid ada satu petak makam, tempat H. Gadung dimakamkan. Aku sempat meneliti lebih lanjut, siapa H. Gadung ini.


Selanjutnya kami melintasi Jl. Rusa melewati jembatan penyeberangan di atas jalan tol Jakarta-BSD. Tampak antrian mobil di gerbang tol tidak terlalu banyak pagi ini, mungkin karena masih terlalu pagi.

Perjalanan kami lanjutkan, melewati kompleks Kurincang, kawasan yang tidak terlalu elit tapi lumayan rapi. Jalanannya rapi, ada jalur sepeda, dan juga ada papan-papan penunjuk jalan. Btw, di sini juga ada masjid dengan nama Ar-Rahman.


Ini lapangan bolah yang cukup luas di ujung Jl. Beruang, sepertinya di belakang itu adalah jalan tol, tak jauh dari SMPN 13 Pondok Ranji. Mungkin lapangan ini sering dipakai oleh sekolah itu untuk berolah raga, karena saat ini sudah jarang ada lahan kosong yang luas begini di kawasan padat penduduk.


Waktunya pulang, melintasi area paling menyebalkan di kelurahan ini - Stasiun Pondok Ranji, yang hampi selalu macet. Penyebab utamanya adalah angkot yang ngetem, sementara jalannya sempit. Selain itu perilaku pengendara motor saat pintu perlintasan rel ditutup juga memperparah kemacetan. Sudah waktunya tempat ini dibuat jalan layang atau terowongan.


Ini adalah penjual jajanan pasar di persimpangan kompleks Pertamina yang jadi langgananku. Penjualnya dari Surabaya dan sudah lumayan hafal denganku karena aku sering beli sambil nggendong El. Tidak terlalu banyak pilihan, tapi lumayan lah untuk alternatif jajanan.


Gedung Serba Guna yang cukup mungil di kawasan kompleks Pertamina juga, belum lama dibangun. Kalau gak salah pertama digunakan untuk acara pergantian tahun 2018 ini. Waktu itu beberapa tetangga ikut hadir.

Hampir satu jam kami berkeliling dan sampai rumah si bocah sudah mulai mengantuk.

09 July 2017

Reuni Kecil dan Mencoba Jalur Lebak Bulus - Kampung Rambutan


Meski sudah setahun dibuka jalur busway antara Lebak Bulus - Kampung Rambutan, baru hari ini aku mencoba jalur itu. Hari ini ada acara "reuni" kecil bersama beberapa teman SMP dulu, dan tempatnya ada di Cibubur. Hanya saja aku janjian dengan beberapa teman untuk bertemu di daerah Cijantung dan berangkat bareng-bareng ke Cibubur.


Karena pembangunan MRT yang sedang berlangsung, halte Transjakarta di Lebak Bulus digeser ke pinggir jalan, dan sempit. Rute Lebak Bulus - Kampung Rambutan ini belum punya jalur busway khusus, jadi masih menyatu dengan kendaraan lain. Juga belum ada halte khusus, jadinya tidak jauh beda dengan naik Kopaja/Metromini.


Kami tiba di Cibubur sekitar jam 4, jauh meleset dari perkiraan kami sekitar jam 1 siang. Ya memang acaranya santai dan jalanan menuju ke sana sudah terkenal macetnya, tidak mengenal  libur.


Meski hanya berlima, tapi cukup menyenangkan bisa berkumpul dengan kawan lama berbagi cerita dan kenangan, tetap menjalin persaudaraan.


Acara bubar sekitar jam 7 malam, setelah kenyang tentu saja hehehe. Dari situ kami kembali ke Cijantung dulu, cukup lama melepaskan diri dari kemacetan di Cibubur.

Sampai ke Pasar Rebo sudah jam sembilan lebih, langsung masuk ke halte busway, sengaja biar hemat. Cukup lama menunggu bus menuju Lebak Bulus, hampir 30 menit tak juga ada. Padahal di layar informasi beberapa kali muncul keterangan akan datangnya bis ke sana, tapi mendadak bisnya "menghilang". Tidak ada petugas yang bisa dimintai keterangan, kalaupun ada petugas adanya di ruang tiket, yang harus keluar gerbang dulu - malas banget.

Saat akhirnya ada petugas yang bisa ditanyai, ternyata jalur ke Lebak Bulus HANYA sampai jam 9 malam, lewat itu sudah tidak ada lagi.
Akhirnya sih aku pulang naik taksi setelah sedikit berbasah ria.

05 February 2016

Ke Tanjung Duren Selatan


Jalanan yang dulu setiap hari aku lewati karena kontrakan rumahku ada di ujung jalan itu. Aku perhatikan sekarang ada lebih banyak mobil yang diparkir di sini, dan adanya penutup mobil, sepertinya bukan mobil milik tamu yang berkunjung di daerah ini.

Meski sudah pindah ke wilayah Tangsel, aku masih mempertahankan KTP DKI, yang notabene alamatnya masih di Tanjung Duren Selatan. Akibatnya, ketika anak lahir di Tangsel, urusan akta kelahiran tidak bisa diusahakan oleh pihak rumah sakit, jadi harus berangkat mengurus sendiri.


Setahun lebih tidak datang ke sini, ternyata kantor kelurahan sudah direnovasi dan berdiri megah. Tapi pas aku sempat kebingungan mencari pintu masuknya, lagipula gedung ini seperti tidak ada penghuni alias kosong melompong. Padahal ini kan hari jumat. dan bukan hari libur. Ternyata gedung baru ini belum digunakan dan operasional kelurahan masih menggunakan bangunan sementara di RW 02. Untunglah para pekerja bangunan berbaik hati menginformasikan tentang lokasi kantor sementara itu.


Dari ujung gang aku langsung bisa mengenali lokasi kantor sementara itu, dari banyaknya motor yang diparkir di depannya. Rumahnya kecil, membuat ruang pelayanan masyarakat jadi terkesan sempit. Sudah ada mesin antrian di sana, tapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Jadi ya cuma bisa duduk menunggu dan berharap ada petugas yang lagi senggang dan mengenali kalau kita warga yang ingin dilayani. Kurang lebih itu yang aku rasakan.

Ternyata ada beberapa syarat yang harus aku lengkapi untuk mengurus akta kelahiran, salah satunya adalah surat rekomendasi dari RT/RW. Waduh .... bakal lama nih prosesnya. Jadinya aku putuskan untuk minta tolong salah satu (mantan) tetangga dulu untuk membantu mengurus akta kelahiran ini, biar gak repot bolak-balik.


Bonus: pas pulang ke Tangsel naik kereta, ketemu bentar dengan teman se-SMP di St Palmerah.

22 December 2015

Touring Sendiri Ciputat - Cikarang


Ini adalah Golden Gate, jembatan penghubung daerah Cinere (Depok) dengan Pondok Cabe (Tangsel) yang aku lalui secara tidak sengaja. Hari ini aku bermaksud pergi ke Cikarang naik motor dan mencoba mencari jalur alternatif menghindari jalanan Jakarta. Salah satunya melalui daerah Cinere ini. Ternyata malah nemu lokasi yang cukup menarik ini, dan ternyata jembatan ini baru diresmikan tahun ini. Ulasan lengkap tentang jembatan dan jalan penghubung ini bisa dilihat di Kompasiana.


Ternyata pilihan rute yang aku tempuh bukanlah rute yang bagus. Meskipun sebagian besar jalanan tidak terjadi kemacetan, tapi jalanan terlalu banyak belokan sehingga kurang efektif juga dari sisi waktu. Selain itu, rute yang cenderung menebak-nebak membuatku beberapa kali kesasar dan harus memutar arah, terutama saat di sekitar Srengseng Sawah dan Lenteng Agung. Akhirnya setelah mutar-mutar gak jelas, hingga sampai di Jl. Akses UI, aku sampai juga ke Cibubur.

Di jembatan yang melintas di atas tol Jagorawi ada razia kendaraan. Ini pertama kali aku menemukan razia ketika sedang berkendara dan untunglah aku selalu bawa SIM dan STNK, jadi gak ada masalah. Yang menarik adalah dalam razia ini ada perdebatan seru antara pengendara dengan petugas. Sepertinya petugas sempat emosi karena si pengendara mempertanyakan surat tugas untuk melakukan razia ini. Petugas itu membentak dan mengancam untuk membawa pengendara motor itu ke polda. Sepertinya pengendara tidak cukup nyali dan merasa kalah sehingga berkali-kali meminta maaf dan berharap diberi keringanan. Ada-ada saja.


Meskipun cukup padat, aku bisa melewati daerah Cibubur dengan lancar, tidak terlalu macet. Yang macet padat merayap adalah jalur ke arah Jakarta. Di daerah Cileungsi ada jalan layang yang melintas sebuah perempatan padat. Karena gak paham, aku memilih jalur biasa, jalur bawah. Ternyata pilihan yang salah, karena perempatan itu benar-benar kacau dan padat dengan angkutan umum yang hampir menutup jalan. Untunglah aku cuma pakai motor, jadi masih bisa menyelusup dan tidak terlalu parah terjebak kemacetan di tempat yang mirip terminal ini.


Akhirnya tahu juga Taman Buah Mekarsari, setelah selama ini hanya dengar berita dan iklannya, meskipun cuma lewat. Setidaknya sudah tahu lokasinya jadi kalau kira-kira nanti pengen liburan ke sini sudah tahu arah :)


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam (fuih), akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Lippo Cikarang :D Lama juga, selain karena macet di beberapa tempat, tersesat dan jalur yang tidak efektif membuat perjalanan jadi terlalu lama. Tapi setidaknya ini adalah perjalanan santai, bukan diburu-buru waktu. Toh aku ke sini juga tanpa tujuan tertentu, hanya untuk main saja.


Di sini mampir ke kantor lama ketemu Dessy, sebelumnya juga sudah janjian sih. Untung dia juga lagi lumayan sibuk, jadi meskipun aku sampai ke kantornya jam 12 lewat, dia juga masih belum sempat makan siang. Jadi kami bisa ngobrol sambil makan siang bareng, bersama salah satu karyawan di sana. Sayangnya Pak Iwan sedang liburan di Klaten, kalau ada bisa makin rame lagi.


Berikut cuplikan-cuplikan video singkat yang aku buat selama perjalanan Ciputat - Cikarang.
Perjalanan pulang bisa aku tempuh lebih cepat, kali ini aku pilih jalur normal saja lewat Cibubur - Cijantung - Lebak Bulus - Bintaro. Total perjalanan pulang hampir 3 jam, dengan kecepatan rata-rata sekitar 25 km/jam, lumayan hehehe. Tapi memang perjalanan pulang hampir nonstop, tidak banyak berhenti seperti waktu berangkat.

19 May 2015

Cerita Pagi Sepanjang South Bridge Rd


Pagi ini ada acara yang dimulai cukup pagi, meskipun kalau telatpun tidak masalah. Tapi gara-gara terbiasa bangun jam 6, jadi milih berangkat pagi saja daripada bengong di hotel. Karena masih terlalu awal, aku putuskan untuk jalan kaki saja. Udara cerah dan segar, jarakpun mungkin cuma 2-3 kilo, jalan santai satu jam cukup lah.


Ini adalah kuil Hindu, Sri Mariamman Temple, yang dulu pernah aku lewati juga waktu pertama kali berkunjung di Chinatown. Sudah ada turis yang motret-motret di sana, meskipun belum banyak orang datang untuk beribadah. Katanya ini adalah kuil Hindu yang tertua di Singapura.

Nah, tak jauh dari kuil Hindu itu ada bangunan umat Budha, Buddha Relic and Tooth Temple and Museum. Bangunannya cukup megah dengan arsitektur tradisional Tionghoa. Tidak aneh kalau ada bangunan megah seperti ini karena lokasinya yang di tengah-tengah Chinatown. Sesuai namanya, tempat ini dipercaya menyimpan gigi Sang Budha, yang katanya ditemukan di Myanmar.

Masih di kawasan yang sama, ada bangunan ibadah lainnya di pinggir jalan, Masjid Jama'e. Sebagai kota dengan penduduk heterogen dari berbagai suku bangsa dan agama, keberadaan berbagai bangunan keagamaan yang berbeda secara berdekatan bukanlah hal yang aneh. Masyarakat kota yang heterogen cenderung mudah mengembangkan toleransi. Ini juga merupakan masjid yang cukup tua di Singapura, dibangun tahun 1826 oleh masyarakat Tamil muslim di wilayah itu.


Ada cerita menarik waktu melintas jalan ini. Seorang pria berwajah India mencoba menghentikan taksi di jalan ini, tapi tidak ada yang mau berhenti. Padahal aku perhatikan ada beberapa taksi kosong, tapi mereka memilih melintas langsung. Mungkin merasa kasihan, seorang pria tionghoa bertelanjang dada mencoba membantu dengan langsung menghentikan taksi di tengah jalan. Ada taksi yang berhenti, tapi sepertinya taksi itu ingin menuju satu tempat yang berbeda dengan pria India itu.

Pria Tionghoa itu mendatangi pria India dan ngobrol sebentar, entah apa yang dibicarakan. Tak lama setelah itu ada taksi yang mau berhenti, dan pria India itu berjalan dengan pelan menuju ke taksi yang berhenti agak di tengah jalan. Karena jalannya terlalu lambat, ada taksi di belakangnya yang merasa terganggu dan membunyikan klakson. Mungkin bukan terganggu, tapi memberi peringatan karena pria itu berjalan di tengah jalan sangat lambat. Mendadak si pria India tampak emosi dan mendatangi taksi yang membunyikan klakson tadi, berniat memukul badan taksi. Taksi itupun terus melaju dan kemudian pria India itu akhirnya mendapatkan taksi. Ah, mungkin tabiat seperti itu yang membuat taksi enggan berhenti :)

Waktu aku cerita ke temanku soal ini, menurutnya ada beberapa alasan supir taksi enggan membawa penumpang pria India, apalagi di pagi hari dan pakaiannya tidak terlalu rapi. Biasanya karena bau badan, atau bisa juga karena mereka sedang mabuk. Ah, entahlah :)


Di salah satu sudut jalan ada patung yang menggambarkan kehidupan sehari-hari warga di sekitar itu pada jaman dulu. Di samping patung-patung itu ada catatan tentang "Squatters & Squalor", pendatang liar dan penduduk miskin yang dulu menghuni daerah itu.


Aktivitas warga mulai terlihat di jalanan meskipun belum terlalu padat. Sebelumnya di perempatan ini ada sepeda yang melaju kencang di antara mobil-mobil yang melaju. Bukan di jalur sepeda atau di pinggir jalan, tapi di tengah-tengah, dan dikendarai oleh seorang wanita. Sayang sekali aku gak sempat memotretnya.

07 May 2015

Sekilas Wajah Transportasi Umum Jakarta


Bagi warga dari pinggiran Jakarta, KRL tetap menjadi primadona transportasi umum. Tak ayal lagi, kepadatan di dalam kereta pun sangat sering terjadi, apalagi di jam-jam sibuk. Beberapa orang memilih untuk berangkat lebih awal biar lebih sepi, tapi tetap saja penuh. Bahkan yang berangkat siang pun, kayak yang aku coba pagi ini jam 9, tetap padat. Tapi toh di negara-negara maju lain, kepadatan seperti ini juga terjadi. Yang penting kereta bisa datang tepat waktu dan armadanya diperbanyak lagi.


Semula aku pikir ini adalah minibus perusahaan atau khusus pariwisata. Makanya aku kaget waktu membaca tulisan Metro Mini di sampingnya. Wah, selain warnanya berbeda, tampaknya bisnya juga baru dan lebih bagus. Sangat menarik kalau semua metromini, kopaja dan sejenisnya secara rutin melakukan regenerasi armada seperti ini. Meskipun tanpa AC dan termasuk angkutan kelas bawah, tapi kalau nyaman dan aman, pasti banyak yang beralih ke metromini juga. Yang penting jangan suka ngetem dan kebut-kebutan.


Angkot sebenarnya  moda transportasi umum yang praktis, karena bentuknya ringkas, jadi rutenya bisa lebih fleksible ke tempat-tempat yang terpencil. Tapi mentalitas pengemudi yang hobi ngetem ini yang paling membuatku jengkel. Lha ini malah ngetem di jalur busway, persis di samping halte busway Kebayoran Lama. Ya meskipun tempat ini khusus busway jadi kemungkinan tidak akan menambah kemacetan, tapi rasanya kok jengkel saja melihat mereka ngetem gitu. Apalagi kalau angkot ngetem di tempat yang tidak semestinya dan menimbulkan kemacetan yang parah.

Sedangkan busway, (gak sempat motret), masih tampak setengah-setengah untuk jadi transportasi umum andalan ibukota. Armada yang kurang, kualitas bis dan awak, serta jalur yang masih sering berbagi dengan jalur umum, membuat jadwal keberangkatannya sering berantakan.

Sebagai pekerja rumahan yang jarang pergi-pergi, aku juga tetap berharap transportasi umum di Jakarta, dan seluruh kota di Indonesia, bisa lebih ditingkatkan lagi. Juga bisa menguntungkan semua pihak, baik masyarakat maupun pengelola angkutan umum.

04 May 2015

Kemacetan di Senin Pagi


Padatnya kendaraan yang berjalan merayap menuju gerbang tol Pondok Ranji menuju Jakarta, pemandangan yang biasa terjadi di hari Senin pagi. Apalagi seusai long weekend seperti sekarang ini.


Ini pertama kalinya aku melongok dari atas jembatan penyeberangan di Jl. Boulevard Raya, persis di samping gedung Titan Center. Dari sini bisa mengamati lalu lintas di bawah yang biasanya lancar karena jalannya sebenarnya cukup luas dan kendaraan yang lewat juga tidak terlalu banyak.


Tapi pagi ini sepertinya antrian kendaraan yang berjalan pelan terlihat sejak dari perempatan dekat Gedung Bank Permata. Mungkin lebih jauh lagi kalau melihat masih ada mobil-mobil di atas jembatan itu.

14 March 2015

Sabtu Siang di Jakarta

Hari Sabtu biasanya aku malas jalan-jalan ke Jakarta, apalagi saat cuaca panas terik. Alasannya sudah pasti, malas dengan kemacetan yang ada. Tapi karena ada keperluan, menemani istriku, siang ini kami pergi ke Jakarta sebentar. Tapi ada beberapa hal menarik yang aku jumpai selama perjalanan singkat siang itu.


Berangkat dari Bintaro naik kereta api yang cukup lenggang meskipun gak kebagian tempat duduk. Yang menarik adalah iklan pembersih wajah, dengan ikut menggantungkan kemasan di samping pegangan penumpang. Lha orang kan bisa salah pegang, atau jangan-jangan memang itu sudah dikemas biar kuat juga untuk dijadikan pegangan.


Di sungai sebelah jalan Daan Mogot, seberang Samsat Jakarta Barat, beberapa petugas tampak sedang membersihkan sampah di sekitar dengan perahu yang agak unik ini. Terus terang baru kaliini aku melihat perahu jenis ini. Salut juga kalau ada tenaga kebersihan yang dikerahkan untuk membersihkan sungai-sungai di Jakarta dari tumpukan sampah, meskipun tanggung jawab kebersihan tetap ada di masyarakat.


Masih di sungai yang sama, tampak sisa-sisa perahu yang sudah rusak terapung di permukaan sungai. Wah, sayang juga bangkai kapal ini terbuang sia-sia seperti ini. Di tangan orang yang kreatif, bangkai kapal ini pasti bisa dimanfaatkan.


Memasuki kawasan kampus Binus di Jl. Rawabelong, aku perhatikan ada pemandangan yang tidak biasa, yaitu adanya petugas pengatur lalu lintas di pertigaan Batusari. Biasanya pertigaan ini sangat semrawut, para pengguna jalan (terutama pengendara motor dan angkot), biasanya tidak sabar untuk menunggu lampu hijau menyala. Salah satu titik kemacetan yang pantas dihindari saat hari Sabtu siang, tapi kali ini terlihat cukup lancar.


Stasiun Palmerah sedang direnovasi besar-besaran, bangunannya diperbesar, hampir kayak Stasiun Tanah Abang. Yang membuatku tertarik, di sebelah kanan-kiri juga dibangun jembatan penyeberangan. Kalau dimaksimalkan nanti, bakal bisa mengurangi kemacetan di sekitar tempat ini, asalkan para pejalan kaki juga disiplin memanfaatkannya.

10 March 2015

Senja Yang Mendung


Sore ini tidak hujan, tapi langit sangat mendung. Tapi seberkas pelangi di sisi selatan membuatku tertarik, apalagi di tampak ada cahaya matahari dari sisi timur, jadi masih ada celah awan di sana. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelajah, karena harus membeli makanan untuk makan malam.


Tapi kurasa tak ada salahnya mencoba mengejar "golden hour", dan tempat terdekat yang belum pernah aku cek adalah jembatan Jurangmangu, yang melintas di atas St. Jurangmangu dan jalan tol Jakarta Serpong. Meskipun langit mendung terlalu gelap, tapi tidaklah sia-sia, aku masih sempat menikmati suasana matahari tenggelam dan twilight yang menarik.


Tidak mewah, tapi tetap pertunjukan keindahan alam yang patut disyukuri dan cukup menyegarkan.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...