I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
Showing posts with label Singapore. Show all posts
Showing posts with label Singapore. Show all posts
03 December 2015
A Day Trip
Salah satu pesawat Lion Air sedang parkir di landasan Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta yang sedang direnovasi. Pagi-pagi aku sudah sampai bandara CGK untuk menuju negeri jiran dalam perjalanan satu hari. Ini pertama kali aku melakukan perjalanan pergi-pulang ke kota tersebut karena tujuan utama hanya untuk menukar laptop yang rusak.
Ternyata subuhpun tol menuju bandara sudah padat merayap, meskipun tidak parah dan aku masih bisa sampai tepat waktu. Pengamanan di bandara tampak lebih ketat dan syukurlah penerbangan pagi ini tidak mengalami keterlambatan. Pesawat yang aku naiki penuh penumpang dan aku agak beruntung masih bisa dapat tiket meskipun membeli satu hari sebelumnya. Tampaknya musim liburan sudah dimulai.
Pemeriksaan penumpang di Bandara Changi juga lumayan ketat dan membuat antrian lumayan lama. Padahal kami tiba sedikit lebih cepat dari jadwal tapi aku tetap menghabiskan waktu hampir 1 jam di bandara ini untuk proses pemeriksaan hingga keluar imigrasi. Padahal perjalanan kali ini aku hanya membawa satu ransel tanpa koper, jadi aku tidak perlu menunggu di tempat pengambilan bagasi.
Kalau gak salah, terakhir aku ke sini adalah bulan Mei lalu dan bangunan apartemen baru di samping Stasiun Tanah Merah itu belum terlihat. Cepat juga pembangunannya, apartemen yang lokasinya sangat strategis dan aku yakin pasti akan cepat terjual juga. Karena sudah agak siang, kondisi penumpang di MRT tidak terlalu padat.
Hari ini aku tidak sempat berkeliling kemana-mana selain ke kantor bertemu bos. Sepanjang hari juga waktu tersita untuk mengatur laptop baru dan sedikit waktu mendengar ide dan rencana kerja ke depan.
Mumpung lagi di kota ini, aku puas-puasin makan daging haram ini. Apalagi di daerah Bintaro agak susah mencari restoran yang menjual menu daging babi dengan harga terjangkau, tidak seperti waktu masih di Grogol.
Enak juga melakukan perjalanan dengan sedikit barang bawaan (travelling light), gak ribet. Ada kemungkinan aku akan sering melakukan perjalanan satu hari seperti ini, selain karena memang tidak banyak hal yang perlu dibicarakan langsung (koordinasi kerja biasa dilakukan secara online), juga jauh lebih menghemat biaya. Tapi aku juga gak mau terlalu sering, gempor juga dan gak sempat refreshing hehehe.
Bandara Changi tidak mau ketinggalan dalam menyambut film terbaru Start Wars, The Force Awakens. Sayang aku sudah harus berangkat pulang sehingga tidak sempat ikutan menikmati apa yang disajikan, lagipula aku bukan penggemar Star Wars maupun Star Trek.
Meskipun penerbangan pulang sedikit terlambat, tapi tidak terlalu parah dan antrian di imigrasi juga tidak panjang. Ada satu kejadian menarik waktu antri di sini, mbak di depanku persis (yang pakai celana minimalis) baru menyadari kalau passport-nya tidak ada saat berada di gerbang imigrasi. Wah, pasti dia sangat menikmati perjalanan bersama teman-temannya, sampai tidak menyadari hal itu. Kalau aku karena biasanya agak cemas, saat baru mendarat saja sudah cek passport dan dokumen-dokumen yang mungkin perlu, untuk memastikan.
Agar berhemat, saat pulang aku sengaja mencoba naik bis Damri ketimbang langsung naik taksi, toh belum terlalu malam. Apesnya, aku harus menunggu hampir setengah jam dan bis Damri itu masih keliling bandara terlebih dahulu untuk mencari penumpang. Ya mungkin juga karena bis yang menuju Lebak Bulus armadanya tidak terlalu banyak. Selain itu, ternyata di tol JORR juga terjadi kemacetan karena adanya perbaikan jalan. Ternyata bis menuju Lebak Bulus ini langsung masuk JORR hingga Lebak Bulus, tanpa melewati Slipi-Palmerah seperti dulu. Dari Lebak Bulu aku pindah naik taksi ke rumah dan tiba jam 11 lebih. Secara total, kalau dibandingkan termasuk biaya tol, aku bisa menghemat biaya 50% (sekitar 80 ribu), tapi waktu perjalanan juga hampir tiga kali lipat.
21 May 2015
Taman (Penuh) Merpati
Seingatku baru pertama kali ini aku melihat sebuah taman umum di tengah kota yang penuh dengan burung merpati liar. Tidak hanya banyak, tapi ada puluhan burung di satu tempat yang sempit. Biasanya di kota ini aku banyak menemui burung jenis myna, tapi merpati sebanyak ini belum pernah lihat, kecuali di televisi.
Taman ini ukurannya kecil dan sederhana, ada di sudut antara New Bridge Road dan Kreta Ayer Road. Tidak ada fasilitas bermain anak atau fasilitas fitnes seperti yang sering aku jumpai di taman-taman kota ini. Tapi selain adanya bangku taman, setidaknya ada beberapa hal yang menurutku unik di taman ini.
Selain banyaknya burung merpati liar, di taman ini juga ada beberapa pohon dengan bunga yang unik. Terus terang baru pertama kali ini juga aku melihat bunga seperti ini. Bunganya mirip bunga jambu air, tapi lebih indah dan lebih besar, mungkin 2-3 kali. Warna dan bentuknya bagus. Kalau dilihat sekilas, sepertinya bunga ini sejenis parasit di pohon yang besar, tapi bukan. Bunga ini memang memiliki pohon yang besar.
Karena penasaran, aku obrak-abrik google untuk mencari tahu tentang bunga ini. Agak sulit karena sulit menemukan keyword yang tepat untuk bunga ini. Apalagi keberadaan taman kota yang kecil ini juga tidak terlalu menarik, tidak ada nama yang spesial yang memudahkan untuk mencari info di internet. Tapi lewat google map, dengan kombinasi panoramio, akhirnya nemu juga postingan artikel tentang bunga ini, yang ternyata adalah Pohon Cannonball dengan nama Couroupita guianensis. Ada juga yang menyebut dengan nama Nagalinga Pushpa (Kannada, India).
Taman ini terletak persis di belakang kuil Hindu Sri Layan Sithi Vinayagar Temple di jalan Keong Saik. Jadi dari taman ini bisa tampak bagian atas kuil dengan beberapa patungnya.
Memberi makan burung liar adalah hal yang dilarang secara hukum di Singapura. Mungkin alasannya adalah untuk kesehatan burung-burung itu, yang berpengaruh juga dengan kesehatan manusia. Selain itu juga agar burung-burung terbiasa mencari makanan yang lebih alamiah dan tidak mengganggu manusia, mungkin. Tapi tetap saja ada warga yang sembunyi-sembunyi memberi makan burung-burung ini. Melihat bagaimana burung-burung ini berebut makanan, hatiku jadi iba dan dalam hati aku menyetujui tindakan yang melanggar hukum ini :)
19 May 2015
Cerita Pagi Sepanjang South Bridge Rd
Pagi ini ada acara yang dimulai cukup pagi, meskipun kalau telatpun tidak masalah. Tapi gara-gara terbiasa bangun jam 6, jadi milih berangkat pagi saja daripada bengong di hotel. Karena masih terlalu awal, aku putuskan untuk jalan kaki saja. Udara cerah dan segar, jarakpun mungkin cuma 2-3 kilo, jalan santai satu jam cukup lah.
Ini adalah kuil Hindu, Sri Mariamman Temple, yang dulu pernah aku lewati juga waktu pertama kali berkunjung di Chinatown. Sudah ada turis yang motret-motret di sana, meskipun belum banyak orang datang untuk beribadah. Katanya ini adalah kuil Hindu yang tertua di Singapura.
Nah, tak jauh dari kuil Hindu itu ada bangunan umat Budha, Buddha Relic and Tooth Temple and Museum. Bangunannya cukup megah dengan arsitektur tradisional Tionghoa. Tidak aneh kalau ada bangunan megah seperti ini karena lokasinya yang di tengah-tengah Chinatown. Sesuai namanya, tempat ini dipercaya menyimpan gigi Sang Budha, yang katanya ditemukan di Myanmar.
Masih di kawasan yang sama, ada bangunan ibadah lainnya di pinggir jalan, Masjid Jama'e. Sebagai kota dengan penduduk heterogen dari berbagai suku bangsa dan agama, keberadaan berbagai bangunan keagamaan yang berbeda secara berdekatan bukanlah hal yang aneh. Masyarakat kota yang heterogen cenderung mudah mengembangkan toleransi. Ini juga merupakan masjid yang cukup tua di Singapura, dibangun tahun 1826 oleh masyarakat Tamil muslim di wilayah itu.
Ada cerita menarik waktu melintas jalan ini. Seorang pria berwajah India mencoba menghentikan taksi di jalan ini, tapi tidak ada yang mau berhenti. Padahal aku perhatikan ada beberapa taksi kosong, tapi mereka memilih melintas langsung. Mungkin merasa kasihan, seorang pria tionghoa bertelanjang dada mencoba membantu dengan langsung menghentikan taksi di tengah jalan. Ada taksi yang berhenti, tapi sepertinya taksi itu ingin menuju satu tempat yang berbeda dengan pria India itu.
Pria Tionghoa itu mendatangi pria India dan ngobrol sebentar, entah apa yang dibicarakan. Tak lama setelah itu ada taksi yang mau berhenti, dan pria India itu berjalan dengan pelan menuju ke taksi yang berhenti agak di tengah jalan. Karena jalannya terlalu lambat, ada taksi di belakangnya yang merasa terganggu dan membunyikan klakson. Mungkin bukan terganggu, tapi memberi peringatan karena pria itu berjalan di tengah jalan sangat lambat. Mendadak si pria India tampak emosi dan mendatangi taksi yang membunyikan klakson tadi, berniat memukul badan taksi. Taksi itupun terus melaju dan kemudian pria India itu akhirnya mendapatkan taksi. Ah, mungkin tabiat seperti itu yang membuat taksi enggan berhenti :)
Waktu aku cerita ke temanku soal ini, menurutnya ada beberapa alasan supir taksi enggan membawa penumpang pria India, apalagi di pagi hari dan pakaiannya tidak terlalu rapi. Biasanya karena bau badan, atau bisa juga karena mereka sedang mabuk. Ah, entahlah :)
Di salah satu sudut jalan ada patung yang menggambarkan kehidupan sehari-hari warga di sekitar itu pada jaman dulu. Di samping patung-patung itu ada catatan tentang "Squatters & Squalor", pendatang liar dan penduduk miskin yang dulu menghuni daerah itu.
Aktivitas warga mulai terlihat di jalanan meskipun belum terlalu padat. Sebelumnya di perempatan ini ada sepeda yang melaju kencang di antara mobil-mobil yang melaju. Bukan di jalur sepeda atau di pinggir jalan, tapi di tengah-tengah, dan dikendarai oleh seorang wanita. Sayang sekali aku gak sempat memotretnya.
18 January 2015
Singapore Trip - Jan 2015
Waktu nonton film Chef, aku tertarik ketika si anak kecil bercerita ke ayahnya bagaimana dia membuat video hanya 1 detik (atau kurang lebih lah), dan kemudian menggabung-gabungkan video itu menjadi sebuah film tentang perjalanan mereka. Wah, menarik juga menurutku. Jadi aku coba bereksperimen dengan cara yang sama, untuk merekam perjalananku. Hanya saja aku tidak membatasi hanya 1-2 detik, tapi agak lebih banyak. Untuk di android juga ada aplikasi gratis untuk menggabungkan video itu, meskipun kualitas hasilnya tidak begitu bagus, tapi tetap menarik. Pada dasarnya aku masih malas untuk merekam video dan lebih suka memotret gambar diam. Cuma cara seperti ini rasanya cukup menarik dan menantang juga.
Jadi ini bisa dibilang perjalanan pertama ke Singapura di tahun ini, seperti biasa, enam hari dari Minggu hingga Jumat. Ada beberapa kejadian menarik dalam perjalanan ini, misalnya delay keberangkatan pesawat hampir 2 jam, untuk pertama kalinya aku menikmati Bak Kut Teh, kemudian kena diare sejak hari ketiga dan terus berlanjut hingga membuat aku gak bisa kerja dengan maksimal. Selain itu waktu kembali ke Jakarta, aku sempat tertipu saat melihat turun dari pesawat (Lion Air) menggunakan aerobridge, kok tumben. Eh rupanya aerobridge itu tidak membawa masuk ke dalam bandara, tapi penumpang tetap saja turun ke lapangan dan diangkut dengan bis ... pengen ngakak juga waktu nyadar.
07 January 2015
Installasi Seni di Raffles Place
Beberapa kali mengunjungi Raffles Place, aku melihat ada beberapa karya seni installasi yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Yang pertama adalah tumpuka bola metalik berukuran besar ini. Silahkan hitung sendiri jumlahnya. Ini ada di dekat gedung the Arcade. Kita bisa selfie juga di situ dan langsung dapat efek fish-eye, lha wong cerminnya cembung :)
Kalau ini dekorasi berupa ratusan ikan yang ditempel di dinding. Karena di beri pagar pembatas, aku tidak bisa mendekat untuk tahu apa bahan yang digunakan untuk membuat ikan itu, apa kaca, plastik, fiber atau yang lain.
Dan ini mungkin karya seni yang sering diabaikan, karena cuma seperti tanaman yang diletakkan di tembok. Sewaktu aku amati, rupanya tanaman-tanaman itu disusun membentuk peta dunia. Telaten sekali.
16 October 2014
Foodcourt Modern Bertema Klasik
Berhubung ada sedikit waktu buat jalan-jalan, aku mampir bentar di Little India untuk cari oleh-oleh. Sebelumnya aku mampir makan di salah satu foodcourt yang ada di mal City Square, tak jauh dari Mustafa Center. Meskipun sudah beberapa kali aku ke Mustafa Center, tapi aku belum pernah mampir di mal ini.
Tidak terlalu ramai, meskipun aku rasa masih di jam makan malam. Yang agak menarik bagiku adalah dekorasi foodcourt ini, yang notabene adalah Food Republic, mengambil tema suasana jaman kolonial. Kalau diperhatikan dekorasi gedung tiap gerai seperti bangunan yang ada di daerah Chinatown. Pilihan gerai di sini tidak selengkap foodcourt yang ada di Vivo City, mungkin karena pengunjungnya juga gak sebanyak di sana.
Bonus:
Hiasan lampu jalan di sepanjang jalan Serangoon Road dalam rangka menyambut hari Deepavali, salah satu perayaan besar bagi umat Hindu India.
Bonus 2 :
Nah, rupanya di dalam Terminal 3 Bandara Changi juga ada foodcourt, namanya SIngapore Foodstreet. Uniknya, dekorasi gerai di sini juga seperti mengambil dekorasi bangunan-bangunan lama jaman kolonial. Aku gak nyoba makan di sini, karena harganya hampir 2 kali lipat harga di foodcourt biasa (yang ada di basement Terminal 3). Tapi setidaknya tempat ini bisa jadi alternatif kalau kita sudah terlanjur masuk bandara (melewati gerbang imigrasi).
Pembersih Sampah di Sungai Singapura
Kayaknya baru kali ini aku lihat petugas kebersihan sedang melakukan patroli di Sungai Singapura. Dengan kapal kecil mereka mondar-mandir dan mengambil sampah-sampah yang mengapung di sungai.
Kapal ini, sepertinya juga milik petugas kebersihan, menurunkan salah seorang penumpangnya. Sepertinya memang dia itu menumpang di kapal ini, dan diantar ke daerah sekitar Raffles Place.
Oh ya, aku juga baru ngeh kalau ada perubahan dengan pinggiran sungai. Seingatku dulu tepi sungai ada pagarnya dan langsung curam, gak ada semacam tangga batu seperti ini.
Wajar saja kalau pemerintah setempat ingin menjaga sungai ini tetap bersih, terutama di daerah ini, karena tempat ini adalah salah satu tempat wisata andalan. Di seberang sana, katanya, merupakan tempat pertama kali Sir Raffles mendarat di Singapura. Jadinya tempat ini menjadi kombinasi yang pas antara wisata sungai (air), wisata sejarah dan juga wisata kuliner dengan banyaknya tempat makan di sekitar sungai.
Seorang turis tampak juga mengabadikan aktivitas para petugas kebersihan tersebut, termasuk memotret perahu tongkang wisata yang hilir mudik di sepanjang sungai.
Mungkinkah muara sungai Ciliwung disulap jadi tempat wisata seperti ini? Mungkin saja, asal warganya mendukung
#river #cleaning #boat #tourism #singapore #historical #takingPicture #working #water #bay #city
15 October 2014
Sore di Bedok Reservoir
Setelah pantai, sekarang giliran danau (entah asli atau buatan) jadi tempat tujuan untuk refreshing sore ini. Tepatnya di Bedok Reservoir, sebuah areal konservasi air tanah yang cukup luas, dengan taman yang rapi dan menjadi salah satu favorit warga untuk berolah raga. Ada tempat khusus juga untuk memancing, jadi gak bisa mancing di sembarang tempa.
Ternyata lokasi ini juga dipakai untuk berlatih olahraga air seperti dayung. Sebelumnya aku datang pas sudah gelap, jadi gak banyak aktifitas, apalagi waktu itu sedang musim hujan. Kali ini cuaca cerah dan belum gelap, jadi bisa melihat beragam aktivitas di sini.
Meskipun niat refreshing, karena sebenarnya masih jam kerja, aku manfaatkan waktu sejenak untuk mengecek kerjaan dan nyicil kerjaan yang sedang sangat menumpuk. Lumayan juga, sambil menunggu waktu makan malam. Koneksi internet juga lumayan. Cuma gak sempat nyari tempat yang nyaman, jadi seadanya saja diselingi lalu lalang warga yang berolahraga.
Republic Polytechnic
Ini kali kedua kunjunganku ke salah satu kampus di daerah Woodlands, Singapura. Kunjungan pertama kalau gak salah setahun yang lalu, hanya meeting singkat dan aku gak sempat jalan-jalan atau foto-foto untuk melihat sekeliling kampus.
Meskipun kayakna tidak seluas kampus UI Depok, tapi kampus ini cukup luas dan isinya gak cuma gedung. Ada banyak lahan terbuka hijau serta taman yang menarik. Saat kunjunganku kali ini suasana kampus sedang sepi, meskipun tetap ada beberapa mahasiswa yang mondar-mandir, tapi sepertinya kali ini bukan waktunya kuliah. Mungkin sudah masuk liburan atau di akhir semester awal dan menjelang liburan. Mungkin.
Lingkungannya asri, banyak pohon dan banyak kolam hias. Jadi terasa teduh dan adem meskipun cuaca sedang panas. Kantinnya juga banyak, aku amatin setidaknya minimal ada 3 foodcourt (bukan sekedar satu warung). Cuma aku hanya sempat nyobain satu foodcourt saja.
Jadwalku 2 hari meeting di sini, tapi untunglah setiap hari tidak pernah sampai full. Hari pertama aku pulang sekitar jam 4, dan hari ke-2 lebih cepat lagi, sebelum jam 2 sudah pulang.
Di sekitar gedung banyak selasar lengkap dengan tempat-tempat duduk. Bisa buat ngobrol, belajar atau makan bareng. Jadi cukup nyaman untuk istirahat di kampus sambil menunggu jadwal kuliah berikutnya. Seingatku dulu waktu di ITB banyak juga selasar, tapi minim tempat duduk. Jadi kegiatan siswa lebih banyak dilakukan secara lesehan. Entah kalau kampus sekarang gimana.
Hari pertama di kampus ini aku disambut dengan hujan ringan, lumayan adem dan menyegarkan. Padahal di sisi lain, terutama daerah tengah kota, cuaca masih panas terik, dan gerah.
Salah satu tempat parkir sepeda yang rindang dengan bunga-bunga disekitarnya. Tapi herannya kok malah ada yang parkir tidak di tempat yang disediakan, dan di tempat parkir (yang kebetulan ada tempat duduknya) malah dipakai untuk tidur.
Sebelum meninggalkan tempat ini, aku sempat melihat ada sekelompok grup musik yang sedang berlatih. Mereka memainkan musik khas Melayu yang kental nuansa Islami. Sepertinya musik seperti ini juga ada di daerah Sumatera, tapi aku belum pernah tahu. Agak khas, alat musiknya pun sederhana lebih banyak jenis perkusi.
Karena penasaran aku googling sebentar. Ternyata ini grup Wira, yang memainkan kesenian yang mereka mainkan adalah Dikir Barat, kesenian khas Semenanjung Melayu, yang bisa dimainkan dengan atau tanpa alat musik. Biasanya ada satu/dua penyanyi utama, dan beberapa orang yang menjadi pengiring atau penyanyi latar, yang bernyanyi sambil tepuk tangan. Kelompok Wira adalah kelompok Dikir Barat yang beranggotakan pria, sedang yang beranggotakan wanita bernama Endang.
Ternyata kampus Republic Polytechnic di Woodlands ini termasuk kampus baru, diresmikan tahun 2007 oleh Perdana Mentri Lee Hsien Loong. Sementara RP sendiri mulai didirikan tahun 2002.
#campus #singapore #students #diploma #polytechnic #building #park #music #malay #traditional #education
14 October 2014
Mie Kuah Sapi Porsi Jumbo
Seingatku waktu pelayannya tanya apakah porsi small atau medium, aku pesan yang small. Tapi kalau dilihat porsinya, ini sih porsi jumbo. Aku lupa nama kedainya, yang jelas malam ini aku makan di FoodRepublik di Vivo City. Setelah mutar-mutar nyari menu yang cocok, aku pilih menu mi kuah sapi ini aja. Mangkoknya besar dan isinya tidak menipu, benar-benar banyak. Lebih banyak dibanding ramen porso jumbo di Platinum, apalagi dibanding ramen di Ramen-38 yang mangkoknya doang menipu. Harga mie ini juga "cuma" sekitar SGD 5.
Ciri khas foodcourt di sini adalah interior yang dibuat terkesan seperti tempat makan tradisional jaman kolonial. Cuma heran aja, emang dulu ada yang majang sepeda di dinding kayak gitu ya :-?
Nenek ini setiap merapikan setiap nampan dan tempat makan yang sudah kotor. Wajah dan seragamnya benar-benar pas (matching) dengan interior tempat. Jadi saat makan di sini dan memandang petugas-petugas kebersihan yang rata-rata sudah lansia, bagaikan terlempar ke jaman kolonial :D
Salah satu tempat makan favoritku.
#noodle #mie #food #foodcourt #beefnoodle #singapore
Kapal, Kereta dan Kereta Gantung
Sebuah kapal kecil, gak tahu jenis apa, bersiap merapat di pelabuhan Singapura - HarbourFront. Ada beberapa penumpang yang turun dari kapal itu. Sore ini ada sedikit waktu luang, jadi aku nongkrong sebentar di VivoCity berharap bisa menyaksikan sunset di tepi pantai.
Kereta odong-odong versi mall, melaju pelan meskipun penumpangnya cuma satu anak kecil yang ditemani ayahnya. Di kota besar, hiburan seperti inpun tetap menarik minat anak-anak. Sementara di restoran sebelah sana .... #ahsudahlah
Ternyata keinginanku menyaksikan sunset yang dramatis tidak terwujud, karena sebelah barat tertutup dengan awan cukup tebal. Ya sudah, aku nikmati saja pemandangan Singapore Cable Car yang berlalu lalang di atas langit pantai. Sambil mengisi waktu, aku coba merangkum hasil meeting hari ini dan menyimpan ke laptop. Karena mendung juga, sinyal internet juga kurang bersahabat.
#transportation #sunset #ship #boat #train #mall #gondola #sky #cloudy
24 September 2014
Menyusuri Sungai Singapura di Suatu Sore
Sungai Singapura tampak beriak tenang mengalir mendekati muara di Marina Bay. Selain karena angin semilir, riak air itu juga disebabkan oleh beberapa perahu wisata yang melintas di sungai ini. Sore ini udara cerah dan meeting dengan client berakhir lebih cepat. Jadi ada waktu untuk beristirahat sejenak di sekitar sungai, sambil melepas penat setelah meeting yang menguras emosi.
Singapore First Floating Bar .. demikian tulisan di spanduk yang dipasang di perahu yang barusan melintas. Hmm... jadi orang bisa menikmati minuman di atas sungai, sambil menikmati pemandangan kota. Konsep wisata yang cukup menarik. Kalau ada yang mabuk terus bikin ulah, tinggal dicemplungin ke sungai hehehe...
Si mbak yang lagi motret itu mendadak mendekatiku yang lagi duduk di pinggir sungai, dan langsung menyodorkan kamera. Tanpa banyak kata aku dah paham, dia minta tolong dipotretin :) Wah, agak grogi juga pegang kamera besar dan mahal. Modal nekat, asal jepret saja. Dia tersenyum dan mengucap terima kasih setelahnya. Semoga puas. Selanjutnya dia melanjutkan perjalanan sambil jepret sana-sini, mungkin aku juga jadi salah satu objek fotonya (geEr dulu ah)
Setelah perut sedikit terisi dengan roti dan jus botolan, aku pikir mendingan aku jalan-jalan saja, iseng menyusuri sungai Singapura ini. Jadilah aku berangkat dari Boat Quay, menuju ke arah utara, lewat jalan yang ada di pinggir sungai.
Tak berapa lama, sampai juga di Clarke Quay. Ini pertama kali aku berkunjung di tempat ini pada siang hari. Dua kali aku mampir ke sini selalu saat malam, dan ternyata ini cuma sebelahan dengan Raffles Place :) Pantesan saja di kedua tempat ini masih lalu-lalang perahu wisata.
Di salah satu tempat tampak sungai seperti terpotong oleh pembangunan. Aku pikir kok aneh banget sungai disumbat gini. Rupanya ini dilakukan sementara terkait pembangunan jalur MRT yang baru, Downtown Line. Lagipula arus sungai masih mengalir lewat sisi yang satunya.
Sebuah jembatan melintas di atas sungai, tampak unik dilihat dari bentuk maupun warna-warninya. Namanya Alkaff Bridge. Menurut wikipedia, jembatan ini bentuknya mirip tongkang dan selesai dibangun tahun 1999. Warna-warni jembatan ini dicat oleh artis Filipina Pacita Abad beserta timnya.
Nah, jembatan di samping Riverview Hotel ini juga tampak unik, apalagi untuk jenis jembatan kecil. Namanya Robertson Bridge. Aku merasa familiar dengan nama hotel itu dan ternyata benar, hotel ini yang sering aku lihat dari arah Holiday Inn di dekat Outram Park. Wah, ternyata tempat ini gak jauh dari Marina Bay.
Sebuah mobil Ferrari tampak baru saja keluar dari hotel dan langsung melaju kencang di jalanan. Modelnya bagus, tapi suaranya berisik, bukan tipeku :D
Dari sini aku menghentikan perjalanan menyusuri sungai karena hari sudah mulai gelap dan perut sudah meminta untuk diisi. Awalnya aku hendak menuju ke Outram Park, tapi aku batalkan dan berbalik ke Tiong Bahru karena penasaran. Jadi aku juga makan malam di sana, karena ada mall persis di atas stasiun MRT. Rupanya tempat-tempat yang selama ini aku anggap terpisah jauh (karena jalur kereta yang berbeda dan biasanya aku berkelana lewat jalur bawah tanah) ternyata berdekatan dan tidak terlalu melelahkan kalau ditempuh dengan jalan santai.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...























































