Showing posts with label Plane. Show all posts
Showing posts with label Plane. Show all posts

12 October 2022

Kembali ke Jakarta - Bye Bali

Hari terakhir, pagi hari kami cuma sarapan bareng, selanjutnya aktivitas bebas masing-masing. Ada yang pulang lebih awal, ada juga yang masih menunggu sore, dan bahkan masih menginap di Bali melanjutkan liburan karena ada saudara di sini. Aku sendiri check-in lebih awal karena memang sengaja memilih pulang tengah hari, biar sampai Jakarta gak terlalu malam.

Sebelum  pulang sempat diskusi dengan Chin terkait kerjaan, terutama tentang revisi dari beberapa proyek, mumpung kami ketemu jadi ngobrolnya lebih lancar ketimbang online. Tapi gak bisa lama, soalnya perlu segera check out.

Dari hotel aku naik GoCar sampai bandara bareng Wendi dan dua teman Vietnam, lumayan tarifnya dari Seminyak ke Bandara cuma 90 ribu. Kami drop kedua teman asing itu ke area keberangkatan Internasional, barulah aku dan Wendi turun di area domestik. Sebenarnya pesawat mereka masih berangkat jam 5 sore, tapi mereka memutuskan untuk berangkat lebih awal dan menunggu di bandara.

... matur suksma Bali, atas keramahtamahan selama beberapa hari ini... masih terlalu singkat dan sangat sedikit waktu buat menikmati pulau dewata ini, semoga lain waktu masih ada kesempatan buat berkunjung ...

Aku dan Wendi berpisah di Bandara karena memang berbeda maskapai dan tujuan.

Aku sempat melihat-lihat smoking area yang ada di bagian atas bandara, cukup bagus dan nyaman, apalagi kalau pas sore. Sayangnya saat itu panas terik dan gerah, jadi gak nyaman buat berlama-lama di sini, apalagi dipenuhi dengan asap rokok di setiap sudut.

Sambil menunggu waktu boarding, aku makan siang dulu di Bandara, agak bingung memilih-milih, akhirnya milih menu khas Bali saja, bebek betutu.

Sempat lihat Ivan Gunawan (dan beberapa "artis" lain yang aku gak kenal) di restoran yang sama, tapi mereka sudah selesai makan. Aku baru ingat ada acara semacam pemilihan putri apa gitu di Seminyak juga, jadi mungkin mereka baru selesai dari acara tersebut.

Ada sedikit rasa sesal dan kecewa juga karena tidak sempat mampir ke landmark yang baru itu - patung Garuda Wisnu Kencana, padahal harusnya lokasi gak jauh. Sempat mikir-mikir buat pinjam motor atau sepeda dan pergi ke sana sendiri, tapi akhirnya batal juga. Semoga lain kali sempat.

Perjalanan pulang ke Jakarta kembali naik maskapai Citilink.

... selamat tinggal Denpasar, selamat tinggal Bali, sampai jumpa lagi ...

Sampai di Bandara Sukarno Hatta CGK sudah sekitar jam 5 sore, aku langsung menuju Stasiun Bandara. Lumayan sepi, mungkin karena bukan waktu liburan dan bukan akhir pekan. Herannya, pas aku beli tiket ke St. Duri, tarinya "hanya" 35 ribu. Kok beda jauh, separuhnya dengan pas berangkat. Ah sudahlah, nikmati saja.

Setelah selesai beli tiket baru aku kepikiran, kenapa gak turun di Batu Ceper saja, pindah naik KRL terus naik taksi dari Cengkareng (lewat tol lebih cepat). Meski ongkos lebih mahal, tapi masih lebih irit dibanding kalau naik taksi langsung dari bandara, dan lebih nyaman. Tapi aku cek, katanya harus turun di stasiun sesuai tiket, ya sudah, bablas saja ke Duri. Masalahnya kereta bandara tidak sesering kereta commuter line, jadi aku sempat menunggu hampir satu jam.


 Dari St. Duri, transit naik KRL ke Tanah Abang, baru lanjut ke Bintaro. Meski jam kerja, karena sudah lebih dari jam 7, penumpang tidak terlalu padat. Apalagi masih tetap dalam kondisi PPKM meski sudah lebih longgar. 

Meski sampai rumah malam juga, tapi lumayan lah bisa jauh lebih irit, apalagi kalau barang bawaan tidak banyak, jadi santai saja naik angkutan umum.

---

Overall, pengalaman 4 hari yang menyenangkan di Bali bersama teman-teman kantor yang selama ini tidak pernah bertatap muka secara langsung, juga pengalaman liburan setelah tiga tahun "terpenjara" di rumah karena pandemi Covid-19.

09 October 2022

Terbang dari Terminal 3 SHIA Setelah Renovasi

Ini bukan pertama kali aku naik pesawat dari Terminal 3 bandara Sukarno-Hatta, tapi bisa dibilang ini adalah pertama kalinya bagiku setelah bandara ini direnovasi menjadi cukup berbeda. Dulu sih sudah bagus, tapi setelah renovasi jadi lebih bagus lagi.

Juga bukan pertama kali aku melihat bandara yang baru ini, tapi dulu waktu ke sini aku hanya berkunjung karena mau berjumpa dengan Martin, bukan untuk bepergian.

Aku tidak suka melakukan check-in dari aplikasi atau website, mungkin karena malas, jadi biasanya aku check-in langsung di counter bandara. Tapi di sini, ada beberapa mesin check-in yang mudah digunakan, bahkan sekarang penumpang wajib check-in di sana agar tidak perlu antri di counter. Tapi karena aku bawa bagasi yang tidak mau aku bawa ke kabin, ya mau gak mau harus antri juga untuk mendaftarkan bawaan itu juga. Karena PPKM sudah mulai longgar, sudah mulai banyak yang bepergian, jadi antrian lumayan lama juga. Untung aku sudah antisipasi dengan datang lebih awal dari waktu keberangkatan.

Sebelum menuju tempat boarding, aku menjelajahi sebentar suasana di Terminal 3, terus makan di Old Chang Kee, tak lupa minum kopi juga.


Mungkin karena banyaknya gerbang penerbangan di Terminal 3 ini, perjalanannya jadi lumayan panjang, untung ada "ban berjalan" bagi yang malas atau lumayan buru-buru. Aku tidak perlu menunggu waktu lama ditempat boarding, dan segera menuju pesawat untuk berangkat menuju Bali.


 Sengaja memilihi CitiLink, dengan harapan tidak ada delay, meskipun harganya lebih mahal dibanding budget airline lainnya. Meski ini acara kantor, tapi kantor tidak memberi budget berapa harga tiket yang akan diganti. Bahkan gak tahu juga apakah tiket akan diganti hehehe. Tapi ya aku berpikir bahwa tiket akan diganti oleh kantor, tapi aku tidak mau naik kelas yang mahal, jadi aku milih naik kelas ekonomi saja.

Bagiku, ini adalah perjalanan ketiga ke pulau dewata, dan lagi-lagi karena urusan kantor. Perjalanan termasuk lancar di tengah cuaca yang relatif cerah hari ini.

16 October 2018

Ke Jakarta Aku Kembali


Baru kali ini aku benar-benar merasa ingin segera meninggalkan Jogja dan kembali ke Jakarta. Selain karena tanggung jawab keluarga, rindu dengan duo bos kecil, juga karena suasana di Jogja (lebih tepatnya di rumah dalam masa berduka) memang kurang menyenangkan. Alasan yang cukup egois sebenarnya.


Semalam aku beli tiket pesawat dari Jogja ke Jakarta lumayan mendadak,dan sempat gagal. Untung pagi harinya aku segera sadar kalau pesanan tiketku dibatalkan dan segera mencari pengganti. Untunglah masih dapat tiket meskipun berangkatnya agak siang dan bukan tiket paling murah. Ya sekali-kali naik Citilink.


Aku berharap bisa melihat gunung Merapi saat lepas landas dari Bandara Adisutjipto ini, dan hampir terwujud karena pesawat berangkat ke arah timur terlebih dulu. Sayangnya meski cuaca cerah, tapi gunung itu tertutup awan. Lagipula aku tidak duduk pas di pinggir jendela, jadi susah juga memotretnya. Tapi pemandangan waktu pesawat berbelok lumayan menarik, bisa menangkap sebagian landskap kota Jogja dari udara.


Sepanjang perjalanan cuaca cerah, langit biru dengan sesekali gumpalan awan putih.

Sampai di Jakarta naik bis Damri biar irit, turun di Lebak Bulus sudah menjelang maghrib. Dari situ naik Go-Jek saja biar lancar, apalagi ini jam sibuk saat orang-orang pulang kerja.

14 October 2018

Mendarat di Jogja


Malam-malam mendadak sudah ada di Jogja, karena pagi ini mendapat kabar duka meninggalnya Eyang Uti (ibu tiri) karena sakit. Cukup mengejutkan mengingat beliau baru sakit sekitar 1-2 minggu, tapi memang kondisi terakhir sudah cukup drop.


Karena tiba di Jogja sudah jam 9 malam, ternyata itu jam terakhir beroperasinya bis TransJogja, aku pikir jam 10 seperti di Jakarta. Berbeda dengan TransJakarta, yang bis terakhir pasti berhenti di perhentian terakhir (sesuai jalur), di Jogja kalau sudah jam 9, bis akan selesai sesuai penumpang terakhir, biasanya tidak sampai penuh. Makanya kali ini aku berhenti di daerah Condong Catur, dan melanjutkan perjalanan pulang dengan Go-Jek, lumayan menghemat daripada harus naik langsung dari bandara.

18 May 2015

Menikmati Senja Dari Atas


Matahari terbenam masih menyisakan bingkai cahayanya di atas langit dan masih bisa aku nikmati dalam penerbanganku malam ini.


Setiap perjalanan menggunakan pesawat, aku selalu ingin berada di samping jendela agar bisa menikmati pemandangan di luar. Apalagi kalau penerbangan pas siang hari dan sore hari, berharap bisa menyaksikan matahari terbenam. Dalam penerbangan kali ini, sebenarnya tempat dudukku sudah pas di pinggir jendela di sisi barat, dan jadwal penerbangan juga pas dengan waktu matahari terbenam. Sayangnya ada sedikit delay, jadinya telat juga menyaksikan matahari tenggelam.


Tapi aku masih sangat bersyukur bisa menyaksikan pemandangan ini dan mengabadikan gradasi cahaya senja yang menakjubkan, meskipun dengan keterbatasan kamera yang ada.

10 August 2014

Flying Without Wings


Penerbangan kali ini cukup menyenangkan buatku, meskipun delay 30 menit, karena aku dapat tempat duduk dekat jendela dan di baris nomor dua, sehingga pemandanganku tidak terhalang oleh sayap pesawat. Ditambah lagi dengan cuaca yang cerah, dan aku terbang di sore hari sehingga ada kemungkinan bisa menyaksikan matahari tenggelam dari atas awan. Mungkin ini yang kedua kalinya aku dapat tempat duduk di depan :)


Hamparan tanah kosong di daerah sekitar bandara yang ada di tepi pantai. Petak-petak itu mungkin sawah, tapi mungkin juga tambak nelayan.


Cuaca cerah dan berawan memberi pemandangan yang indah, dan bukan hanya aku yang tertarik mengabadikan pemandangan itu. Terbukti penumpang di depanku juga sibuk memotret dengan kamera ponselnya.


Semula aku agak kecewa karena aku dapat tempat duduk di sisi kanan, sehingga aku tidak akan dapat menikmati pemandangan sunset. Tapi justru aku beruntung, karena di sisi kanan, cahaya matahari tidak terlalu menyilaukan, berbeda dengan di sisi kanan yang terkena langsung sinar matahari. Aku perhatikan hampir semua jendela di sisi kiri ditutup karena terlalu silau oleh sinar matahari.


Awan-awan bergumpal cukup tebal, selain seperti kapas juga mirip gumpalan salju di atas air :) Ah, pemandangan yang menakjubkan.

Meskipun saat lepas landas cuaca sangat cerah, hingga sekitar 30 menit, ternyata tak lama kemudian kami harus menembus awan yang gelap dan hujan deras. Jadi pemandangan di luar tidak lagi menarik, dan tidak ada suasana matahari tenggelam yang bisa dinikmati. Ternyata lebih beruntung duduk di bagian kanan :)

17 April 2014

Experience with Jetstar (ValueAir)


Beberapa bulan terakhir ini, Lion Air selalu jadi pilihanku saat bepergian jauh (dan dibayari). Yah, meskipun perjalanan dinas ditanggung kantor, tetap saja aku memilih maskapai yang murah dibanding, ambil contoh Garuda. Namun belakangan aku sedikit terganggu dengan kecenderungan delay yang dialami Lion Air.


Jadi untuk perjalanan dinas minggu ini aku coba maskapai berbeda, atas anjuran seorang teman, yaitu Jetstar. Katanya sih nyaman, dah waktu cek harga tiketnya juga gak terlalu jauh dibanding yang biasa aku pakai. Bedanya sih 600 ribuan, tapi masih dalam budget. Meskipun mereka mengklaim punya harga paling rendah, tapi tetap Lion Air lebih murah dibanding mereka.


Secara umum, fasilitas dan pelayanan, tidak terlalu beda dengan yang biasanya. Keunggulan pertama yang kurasakan adalah tepat waktu dan pesawat langsung siap di Terminal 2, jadi gak perlu naik bis dulu ke terminal lain untuk menuju pesawat. Ok, tiba di tempat tujuan cukup nyaman. Tidak ada masalah. Sepertinya bakal lebih sering pakai maskapai ini.

Btw, kalau di Lion Air kebanyakan penumpang adalah warga Indonesia, dilihat dari logat dan bahasanya, kalau di Jetstar ini aku amati kebanyakan penumpang adalah orang Malaysia. Bahkan krunya sendiri bicara dengan bahasa Malaysia, meskipun secara umum tidak jauh berbeda. Yang unik adalah, waktu berangkat kepala pramugarinya adalah orang Jepang, dan bahasa Inggrisnya terdengar lucu :) Sementara waktu kembali ke Jakarta, pilotnya yang orang Jepang, dari namanya.


Masalah mulai muncul saat check-in untuk perjalanan pulang. Saat beli tiket secara online, memang ada tawaran untuk pembelian paket bagasi. Minimal kalau gak salah 15 ribu untuk bagasi hingga 10kg. Bagasi ini berbeda dengan barang yang kita bawa ke dalam ruang duduk pesawat (hand-carry). Selama ini aku selalu bepergian dengan ringan, tidak banyak barang bawaan. Dengan Lion Air, tidak pernah bawa barang melebihi kapasitas, jadi gak pernah perlu bayar biaya tambahan untuk bagasi. Pokoknya bayar tiket doang.

Eh, rupanya di sini bagasi harus bayar. Pantesan pas berangkat aku disuruh hand-carry koper dan taskku. Masalahnya batas hand-carry adalah 10kg, dan entah mengapa koperku jadi lebih berat. Koperku sih cuma 9 kiloan, tapi ditambah tas ransel berisi laptop dan coklat, total jadi 13 kiloan. Jadi aku dikenakan biaya tambahan, SGD 60..... what????? Memang benar peringatan yang ada di website, kalau gak beli paket bagasi, bisa-bisa kena biaya yang sangat tinggi. Ampun dah! Untuk aku bahwa kartu kredit. Tentu saja istriku sempat kelabakan waktu ada pihak bank menelpon untuk konfirmasi penggunaan kartu kredit ini, karena aku lupa memberitahunya.


Ada sedikit untung juga sebenarnya aku taruh koper di bagasi, soalnya tempat penyimpanan barang di sini sudah sangat penuh. Beberapa orang sempat kebingungan karena sulit meletakkan barang. Tapi tetap harganya tidak bisa aku abaikan. Dalam perjalanan pulang ini baru sedikit aku rasa kalau bangkunya terasa lebih nyaman dan empuk. Dan saat tiba di bandara CGK, aku tidak perlu menunggu lama untuk mengambil bagasi. Kalau pakai Lion Air seringkali dibuat jengkel karena terlalu lama menunggu pengambilan bagasi.

Ok, overall, naik ValueAir (bagian dari Jetstar) memang lebih nyaman dan tepat waktu. Tapi kurasa cukup sekali ini saja aku milih naik maskapai ini. Biaya bagasi yang besar itu sangat mengecewakan, terkesan ada "hidden cost", sesuatu yang tidak aku suka. Hal ini juga mungkin ada di AirAsia, makanya sudah agak lama aku gak naik maskapai negeri jiran itu. Kalau dihitung-hitung, dengan tambahan biaya bagasi, keseluruhan biaya naik Jetstar jadi 2x lipat kalau naik Lion Air.

Jadinya untuk lain kali sepertinya bakal balik lagi ke armada merah putih. Dengar-dengar Citilink sudah mulai melebarkan sayap keluar negeri juga, mungkin bakal nyobain Citilink juga.

01 March 2014

Unplanned Travel to Kediri


Suasana bandara Sukarno Hatta tampak tidak terlalu ramai pagi ini, dan ini untuk pertama kalinya aku mencoba armada Citilink menuju Surabaya. Perjalanan ini tergolong mendadak, karena kami hendak menengok mertuaku yang katanya sedang sakit di Kediri. Mereka kecapaikan membereskan rumah mereka dari material vulkanik kiriman dari Gunung Kelud yang meletus beberapa minggu lalu.


Kami berangkat tepat waktu dan tiba juga tepat waktu. Salut juga dengan Citilink,entah apakah ini hanya kebetulan atau memang sudah jadi kebiasaan, tapi setidaknya ke depannya kami jadi mempertimbangkan untuk kembali menggunakan Citilink. Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya ditempuh kurang dari  2 jam.


Jam sepuluh pagi kami sudah tiba di Bandara Juanda. Dari sini kami menggunakan Damri menuju terminal antar kota. Nah, disinilah masalahnya, karena kemacetan di Sidoarjo ternyata cukup parah, termasuk di hari sabtu. Perjalanan yang tidak terlalu jauh harus kami tempuh lebih dari satu jam untuk bisa tiba di terminal Purabaya.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan dengan bus antar kota jurusan Surabaya - Trenggalek, memilih bus Patas. Di dalam kota masih ada kemacetan, dan lagi-lagi kurang beruntung, di daerah Jombang terjadi kecelakaan sehingga bis harus memutar arah dan memakai jalur alternatif yang lebih jauh dan sempit. Akibatnya kami baru tiba di Kediri sekitar jam 4 sore. Perjalanan yang melelahkan. Sepertinya kami akan berpikir panjang untuk kembali menggunakan pesawat kalau mau ke Kediri. Masih mendingan naik kereta api, meskipun perjalanan 12 jam, tapi sepertinya lebih nyaman.


Sampai di Kediri kami masih bisa melihat adanya pasir di atap-atap rumah, juga di pinggir-pinggir jalan. Di rumah mertua sendiri tumpukan karung pasir ada lebih dari 10 karung :) Cerita yang menyedihkan yang kami dengar adalah banyaknya korban meninggal bukan karena letusan secara langsung, tapi justru korban yang terjatuh saat membersihkan atap rumah mereka dari pasir dan material gunung berapi itu :(

17 February 2014

Cycling on Sunset Around Changi


Sepertinya ini adalah ujung dari kanal Bedok. Ok, sore ini judulnya bersepeda nekat menikmati matahari tenggelam. Tanpa rencana, tanpa pemanasan dan tanpa persiapan (termasuk minuman dll). Mumpung ada ksempatan dan ada sepeda yang bisa dipinjam, aku manfaatkan waktu buat jalan-jalan bersepeda. Lokasi favorit masih ke pantai timur (ECP), hanya saja kalau biasanya aku bersepeda ke arah barat, kali ini aku ambil arah timur. 


Meskipun sedikit terlambat, tapi aku masih bisa menikmati dan mengabadikan saat-saat setelah matahari terbenam, saat warna langit masih tampak menakjubkan, dengan latar depan muara-muara sungai.


Sebuah pesawat terbang rendah hendak mendarat di bandara internasional Changi. Jalur yang aku lewati memang akan menuju sekitar bandara tersebut, meskipun aku kurang tahu pasti juga, pokoknya asal genjot.


Memang benar, setelah hampir sejam bersepeda (karena gak bisa ngebut terus dan sesekali berhenti untuk foto-foto), sampai juga di samping bandara. Lumayan, masih ada keindahan terpancar di langit senja, sebelum akhirnya berubah jadi hitam pekat.


Melewati bandara Changi, aku jalan terus, hingga sampai di Changi Beach Park. Waktu yang terbatas membuatku enggan untuk mampir, dan terus melanjutkan perjalanan, jalan lurus hingga melewati pelabuhan feri, Changi Creek Reservoir, dan akhinya sampai juga di Changi Village. Di sini aku sempat istirahat sebentar, beli minum dan coklat untuk megganjal perut.

Kalau dah malam gini aku lumayan cemas juga, karena bisa dengan mudah kehilangan arah mata angin. Apalagi aku gak punya koneksi internet, jadi gak bisa buka google map. Akhirnya aku iseng cek rute bis di sebuah halte, dan bingo! Ada bis jalur 2 yang menuju Bedok. Jadi aku gunakan cara lama, ngintil bis :D Selain itu juga ada daftar halte dan jalan yang dilalui oleh bis itu, jadi bisa aku jadikan petunjuk sebagai rute pulang. Sepanjang jalan aku melewati penjara Changi, Museum Gereja Kecil dan juga Changi Expo. Total hampir 2 jam perjalanan yang kulakukan malam ini.

05 January 2014

Boarding ... After 1 Hour Delay


Bersiap memasuki pesawat Lion Air, setelah lebih dari sejam nongkrong rame-rame di ruang tunggu karena keterlambatan keberangkatan. Alasanya, antrian bandara CGK sedang sangat padat. Yup, aku amati, sejak 3 bulan terakhir memang kondisi kepadatan bandara ini sudah masuk kategori parah. Sampai-sampai ada wacana memindahkan sebagian penerbangan ke Halim.

Untung aku sudah antisipasi, dengan mengambil penerbangan yang lebih sore, soalnya dua bulan lalu mengalami delay dan sampai tempat tujuan jadi sangat larut. Tapi harus aku akui, untuk kali ini aku diuntungkan dengan delay yang terjadi. Pertama, aku datang terlambat untuk checking (untung tidak cuma sendiri, jadi gak gitu malu), karena delay, masih bisa dilayani dengan santai, malah jadi dapat prioritas antrian. Kedua, penumpang belum sempat dipaksa masuk pesawat, jadi maskapai memberi snack ke penumpang. Meskipun cuma roti dan segelas aqua, itu cukup buatku mengganjal perut hingga tiba ke tujuan nanti, jadi gak sempat masuk angin. Ketiga, kali ini pesawat "menjemput" di lokasi boarding, biasanya kami harus naik bis untuk mendatangi pesawat yang parkir jauh dari terminal :)

Btw, gak cuma Lion yang kena delay, bahkan Garuda International pun mengalami. Jadi memang masalah ada di bandara Sukarno Hatta ini.

14 October 2013

Going Home


Libur telah usai, waktunya kembali ke Jakarta. Kami sengaja datang lebih awal ke Bandara Changi dan makan siang di sana, jadi ada cukup waktu untuk jalan-jalan sebentar di bandara ini. Sebelumnya aku ajak istriku dan Andre untuk narsis sebentar di Social Tree yang ada di Terminal 1 :)


Bunga anggrek segar yang menghiasi Terminal 1. Karena badanku masih kurang fit, aku memilih duduk saja menunggu di taman, memandangi bunga-bunga dan orang-orang yang berlalu-lalang, sementara istriku dan Andre berjalan-jalan di areal pertokoan yang ada.


Ternyata ada pengumuman kalau penerbangan kami, pakai Lion Air, mengalami delay. Jadinya kami memilih istirahat sebentar di ruang tunggu. Sebenarnya aku pengen nyobain pijat kaki yang juga ada di sini, tapi pas nunggu tempat itu kosong, ternyata boarding sudah dibuka. Syukurlah delay cuma 30 menit.

Saat boarding, hampir saja belanjaan kami, berisi coklat dan oleh-oleh, ketinggalan di bandara. Ceritanya barang itu harusnya dibawa Andre. Tapi dia hendak ke toilet, dan menitipkannya ke aku. Pas masih antri untuk masuk boarding, aku lihat dia sudah keluar dari toilet. Jadi aku letakkan saja barang di lantai antrian, dan aku masuk. Maksudku biar Andre yang membawa lagi barang itu. Rupanya dia tidak menyadari perbuatanku, jadi dia juga langsung saja nyelonong masuk boarding.

Saat panggilan masuk pesawat dilakukan, barulah Andre sadar kalau kantong belanjaan berisi coklat itu belum ada. Wah, repot. Aku langsung keluar, sempat gak diijinkan oleh petugas karena sudah hampir berangkat, tapi aku ngotot keluar. Belanjaanku itu sudah diangkut dengan troli oleh petugas kebersihan, tapi untunglah dia masih ada dekat dengan ruang boarding. Fuih .... kantong berisi coklat oleh-oeh itupun masih bisa kami bawa pulang :)


Sudah lama aku tidak bepergian dengan pesawat di siang hari. Waktu hendak mendarat, terlihat bulan di tengah langit yang biru cerah, meskipun tampak kecil.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...