Showing posts with label Garden. Show all posts
Showing posts with label Garden. Show all posts

17 January 2021

Kale

Seumur-umur, baru kali ini aku mengenal tanaman Kale. Mungkin sebelumnya pernah melihat, atau bahkan tanpa sadar memakannya, tapi tidak pernah benar-benar tahu. Ini adalah jenis sayuran yang asing bagiku. Aku beli ini secara online karena ada promo saja - iseng.


Ternyata lebih mudah merawat tanaman kale ini, dibanding misalnya bayam atau sawi. Dalam 2 minggu, sudah muncul daun-daun yang agak lebar dan bisa dimasak.

Rasanya agak pahit, tapi aku masih bisa dinikmati, gak seperti pare yang tidak aku sukai. Karena belum pernah nemu masakan dengan bahan ini, biasanya aku nikmati saja bersama mi instant, atau kadang aku campur dengan nasi goreng. Kata sepupuku, dia biasa menikmati kale yang dibeli di supermarket sebagai smootie, yak ... aku sih belum bisa menikmati jus sayuran hehehe.

10 January 2021

Bunga Gingseng Jawa

Ini bunga tanaman gingseng jawa. Di kebunku ada 2 jenis gingseng jawa yang berbeda, meski daun dan batangnya mirip, tapi bunganya beda. Nah ini yang jenis bunganya kecil-kecil. Diameternya mungkin kurang dari setengah cm.


 Kamera handphone sekarang memang makin canggih. Yang aku pakai ini Xiaomi REdmi Note 8, dengan mode Pro, dibuat agar jarak fokusnya tetap. Jadi aku cukup menggeser kamera agar dapat jarak yang pas sesuai fokus, terus dizoom biar lebih jelas. Hasilnya lumayan. Kalau pakai autofocus agak sulit bisa dapat fokus yang bagus. Meski tidak setajam hasil kamera digital yang mahal, tapi sudah lumayan bisa mendapat foto benda kecil dan bokeh.

02 January 2021

Memindah Tanaman Ke Luar Ruangan

Selama ini aku coba bercocok tanam di ruangan sekitar tempat jemuran, yang meskipun panas, tapi tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sekat dan atapnya plastik transparan tapi tidak jernih, jadi agak buram. Atap itu tidak menghalangi panas terik matahari, tapi ternyata tanaman tidak bisa menyerap cahaya matahari secara maksimal.

Jadinya aku mencoba memindahkan beberapa tanaman ke luar ruangan, ada sedikit ruang (sempit sekali sih) di atap yang bisa dimanfaatkan ala kadarnya. Hasilnya sangat berbeda. Sayuran yang aku tanam jadi lebih tumbuh subur dan rindang.



Ada dua keuntungan kalau ditanam di luar ruangan : kena sinar matahari langsung, dan jika hujan langsung tersiram air (menghemat tidak perlu menyiram air). Masalahnya, jika cuaca panas terus dan lupa menyiram air, tanahnya bakal cepat kering. Juga beberapa tanaman agak sensitif dengan cahaya matahari yang terlalu terik. 

Namanya juga belajar mandiri, itupun belajar ala kadarnya, gak serius.
 

Bunga Mekar

Akhirnya, setelah dipindah ke luar ruangan (celah sempit dekat atap), tanaman ini memunculkan bunganya yang indah. Memang butuh cahaya matahari secara langsung agar bunga bisa tumbuh dan tanaman lebih segar.


Sebelumnya aku letakkan di dalam ruangan, meski rutin disiram dan terang, tapi karena tidak langsung kena sinar matahari, ditunggu lama gak berbunga juga. Ah sayang, aku lupa nama bunga ini.



 Kalau jenis krokot seperti ini tetap bisa berbunga meski tidak kena cahaya matahari langsung. Tapi ketika berada di tempat yang terkena matahari langsung, bunganya lebih banyak dan daunnya juga tampak lebih segar dan rindang.

03 December 2020

Menyiram Tanaman

Namanya juga anak-anak, selalu penasaran dan ingin meniru yang dikerjakan orang dewasa. Ya selama masih hal positif dan bermanfaat, biarkan saja. Kalau ada kesalahan, ya tinggal dibimbing agar benar.


 Seperti halnya El, penasaran ingin menyiram tanaman. Kadang geregetan juga melihat aksinya yang kurang pas, dan terkesan mengganggu, tapi aku yakin ini adalah proses belajar. Semoga saja dia bisa jadi anak yang rajin nantinya, tidak hanya bermain-main.

27 November 2020

Timun

Akhirnya muncul juga satu buah ketimun. Senang melihat sayuran satu ini bisa tumbuh subur dan lebat di "lahan" seadanya, pot mungil bekas kaleng biskuit. Menjalar kemana-mana, daunnya lebat dan banyak bunganya.

Sayangnya aku kurang pandai belajar soal pupuk, jadi tidak bisa merawat tanaman ini dengan baik. Apalagi ternyata, karena di dalam ruangan, cahaya matahari yang didapat sepertinya kurang maksimal, jadi buahnya jarang muncul. Namanya juga belajar gak serius, untung-untungan saja sembari mengisi waktu luang.

 

25 October 2020

Lebah Menghisap Sari Bunga

Iseng saja mengamati dan mengabadikan peristiwa lebah-lebah yang sedang mencari makan di bunga putih di depan rumah Pak Reza.


 

14 June 2020

Kolam Mini dan Kucing Liar

Konon, dalam keyakinan tertentu, ada pahala bagi mereka yang menyediakan minuman bagi kucing liar. Tanpa mengharapkan pahala, salah satu alasan aku membuat kolam mini di depan rumah adalah juga untuk menyediakan tempat minum bagi kucing-kucing liar yang sering berkeliaran di kompleks. Beberapa kali aku mencoba menyediakan air dalam wadah khusus, tapi seringkali wadahnya kosong karena lupa diisi, atau karena dibersihkan sama pembantu. 


 Sementara kolam kecil seperti ini, asalkan tidak ditinggal pergi ke luar kota dalam waktu lama, seharusnya bakal selalu terisi air. Paling-paling airnya saja yang berkurang saat musim kemarau kalau aku lupa mengisi ulang, tapi setidaknya air tetap tersedia.

24 January 2020

Kolam Mini di Teras


Biar gak terlalu kosong, aku kepikiran untuk mengisi lahan kosong di depan teras dengan kolam kecil, siapa tahu bisa lebih manis. Sebelumnya tempat itu hanya aku isi dengan kerikil putih, yang lama-lama jadi kotor oleh lumpur. Jadi proyek ini sekalian membersihkan kerikil putih itu sebisanya.


Akhirnya kesampaian juga, setelah 'mencuri' waktu membeli gerabah tanah liat seharga 70 ribu tak jauh dari rumah. Sebelumnya aku harus mengeruk lumpur dan mencuci kerikil-kerikil putih ini, kerjaan yang hampir menyita waktu seharian. Melelahkan, tapi menyenangkan saat melihat hasilnya.


Untuk sementara aku isi ikan kecil-kecil saja, lumayan buat dipandang, meski artinya aku harus mengajar El dan Fe agar tidak mengobok-obok kolam kecil ini. Selain memberi variasi,adanya kolam ini juga memberi kesempatan bagi para kucing untuk minum. Sebenarnya juga sudah ada kolam kecil yang lama, tapi karena airnya biasanya dikit, kucing-kucing agak kesulitan untuk minum.

Proyek selanjutnya, menghias kolam mini ini agar lebih menarik. Pengennya sih ada tanaman, syukur-syukur kalau berbunga, di tengah kolam.



#minipond #kolammini #tinypond #gardening #fish

22 December 2019

Mudik 2019 : Hari Ke-1


Kami tiba di St. Kediri tepat pukul 6 pagi, sesuai jadwal. Ini berarti total perjalanan hanya 13 jam, padahal dulu seingatku perjalan Jakarta-Kediri bisa memakan waktu lebih dari 15 jam. Sayangnya, Pakde Verdi belum siap menjemput sehingga kami harus menunggu agak lama di stasiun.


Sampai di rumah, kami disambut dengan suguhan kopi jahe oleh Bu Agung, mantap sekali dengan cemilan kacang rebus yang gurih. Belajar dari pengalaman tahun lalu, hari pertama, terutama pagi hari kami manfaatkan untuk istirahat total, jangan sampai hanya pindah sakit. Meski aku tidak bisa langsung tidur, tapi lumayan bisa beristirahat.


Sementara El dan Fe langsung bisa beradaptasi dan mulai eksplorasi rumah kakek-neneknya ini. Mereka tampaknya cukup bisa beristirahat di kereta api, jadi sampai siang tetap aktif bermain.Sore hari kami semua sempat tidur bareng semuanya, lumayan memulihkan tenaga.


Rencana mau ke gereja sore akhirnya batal gara-gara kurang perencanaan. Mas Ver pergi keluar kota sementara rumah dikunci dan akhirnya mobil tidak bisa diambil. Meski ada kunci cadangan,tapi ternyata tidak bisa membuka gerbang, hingga akhirnya terlambat kalau mu ke gereja. Akhirnya kami jalan-jalan saja ke mall memakai taksi online.


Fe tertidur dalam perjalanan, jadi kami bagi tugas. Aku membawa Fe makan malam, bareng Andre dan pacarnya, sementara El bermain ditemani Bunda.


El betah bermain pasir, cukup bayar 10 ribu. Fe sendiri baru bangun setelah aku selesai makan, dan kami segera bergabung dengan El di arena permainan.


Saat hendak pulang, seperti biasa El sulit diajak pulang. Karena masih menunggu om yang lagi di salon,kami ajak makan. El sempat ngambek karena permintaannya - es krim dan ayam goreng - sudah habis.

06 February 2019

Panen Cabe (Lagi)


Ini sebagian cabe hasil panen dari cabe yang tumbuh (liar) di taman depan rumah.


Bisa dibilang ini tanaman ke-3 yang muncul tanpa kami tanam ataupun rawat dengan sengaja. Aku memang ingat pernah melempar biji atau buah cabe ke halaman, tapi ya itu saja. Kali ini ada dua tanaman cabe yang tumbuh dan cukup lebat


Sayangnya kami bukan penggemar cabe. Meskipun aku doyan sambel, tapi jarang sekali sengaja bikin cabe sendiri, apalagi makan cabe. Jadi belanja cabe kami sangat jarang. Alhasil, cabe ini biasanya dipetik tetangga, atau dibawa pulang si bibi.

08 March 2018

Rock Stacking


Ada banyak batu di taman depan rumah, batu-batu kali yang halus yang memang khusus untuk taman. Entah bagaimana awalnya batu-batu ini ditata, yang jelas sekarang  sudah tidak beraturan dan tertimbun tanah.


Iseng, terinspirasi dari hebohnya cerita soal sungai di Sungai Cidahu, nyoba belajar menyusun/menumpuk batu-batu itu. Tidak mudah, meskipun juga tidak terlalu sulit, tergantung pilihan batu. Yang jelas, aku hanya bisa menumpuk maksimal 5 buah batu, itupun yang bentuknya tergolong rapi. Entah mengapa, setiap sampai batu ke-6, keseimbangan selalu kacau hehehe.... dasar super amatir.



Yang jelas aku senang melihat tumpukan batu itu, ada seni tersendiri yang bisa terlihat. Seperti melihat patung abstrak.

Sayangnya, kalau di Cidahu beberapa oknum merasa "terancam imannya" oleh batu-batu tak bernyawa itu, di rumah si bocah ganteng yang tidak suka. Setiap melihat ada batu bertumpuk, dengan segera ia merobohkannya.

26 February 2018

Merapikan Taman Depan Rumah


Pagi itu ada pedagang bunga keliling kebetulan lewat depan rumah. Aku tidak ingat apakah mereka sebelumnya pernah berkeliling di sini atau belum, karena memang ada beberapa kali penjual bunga tampak berkeliling di perumahan. Karena aku lagi pengen nambah koleksi tanaman, jadi aku sapa mereka.

"Bunganya berapaan, Mang?" tanyaku.
"Tiga ribu satu iket", jawabnya sambil menunjukkan satu iket bunga yang aku tidak tahu namanya itu. "Udah sini beli bunganya saja, saya rapikan tamannya."
"Emang butuh berapa banyak kira-kira? Sampai sepuluh iket gak?", tanyaku lagi. Soalnya ini diluar anggaran dan dana di akhir bulan ini sudah sangat mepet.
"Kalau sepuluh mah lebih atuh, Pak", jawabnya.

Nah, di sinilah terjadi kesalahpahaman. Aku pikir, gak bakal butuh sampai 10 iket. Hitung-hitung kalau cuma 30 ribu sih, gak masalah, pikirku.



Mulailah tukang taman ini bekerja, merapikan tamanku yang super mungil. Rupanya ada satu lagi temannya, jadi mereka bekerja berdua. Awalnya taman dibersihkan dari semua tanaman dan rumput yang ada dan tanahnya digemburkan. Barulah mereka mulai menanam tanaman itu.

Saat bunga-bunga mulai diambil dan dilepaskan ikatannya, aku mulai cemas. Lha kok yang diambil banyak banget. Apalagi mereka menanam bunga itu dalam jarak rapat. Pikirku tanaman ini nanti bakal tumbuh tinggi dan melebar, seperti rumput jepang misalnya, jadi cukup ditanam renggang-renggang saja. Ternyata tidak. Katanya tanaman ini tidak akan tumbuh terlalu tinggi, paling nambah 10 cm saja.



Waduh, ternyata yang dibutuhkan banyak sekali.

Saat pekerjaan sudah hampir  selesai, aku minta agar jumlah tanaman dihitung dulu. Rupanya hampir 200 ikat ... wah, bisa bangkrut lah ... 600 ribu untuk taman seperti ini saja. Ternyata maksud dari ucapan si Mamang tadi adalah, kalau 10 iket ya kurang, pasti butuh lebih banyak. Jiah ...

Akhirnya aku bilang jujur apa adanya kalau duitku terbatas. Anggaran yang tersedia hanya 150 ribu, itupun sudah sangat berat hati aku keluarkan. Aku minta agar tanaman yang sudah ditanam diambil lagi saja, toh aku yakin masih bisa dijual lagi. Sisakan secukupnya saja sesuai dana yang aku punya.


Si Mamang menolak dengan alasan bakal tampak jelek nanti tamannya. Seperti  ini sudah bagus, jadi gak perlu dikurangi lagi. Dia mencoba menawar, anggap saja ongkos borongan, harga per tanaman didiskon,dsb. Mulai dari angka 400 ribu, 300 ribu, hingga 200 ribu. Aku tetap menolak. Lha memang uang di dompetku cuma segitu, kalaupun ada duit di ATM, itu bakal dipakai untuk kebutuhan hingga gajian beberapa hari lagi.

Aku sebenarnya paling malas untuk menawar, apalagi saat membeli barang dari pedagang dengan modal kecil seperti ini. Tapi kali ini aku terpaksa ngotot. Bukan nawar sebenarnya, tapi aku hanya mampu membeli barang sesuai dana yang aku punya. Tapi karena si penjual ngotot tidak mau "mengambil" lagi dagangannya, ya ini jadi terkesan aku manawar habis-habisan. Bayangkan, dari 600 ribu jadi 150 ribu. Sebenarnya aku merasa bersalah.

Akhirnya si Mamang mengalah dan pasrah dengan bayaran 150 ribu. Sebelum pamit, temannya bertanya apakah aku punya baju-baju bekas yang tidak dipakai lagi. Wah, kebetulan. Ada baju-baju bekas milik istriku yang sudah lama aku kumpulkan, aku simpan dalam satu tas ransel penuh. Sedianya barang itu mau aku kasih ke pemulung dekat rumah, tapi belum sempat. Segera aku ambil tas ransel berisi baju bekas itu dan aku serahkan ke mereka. Aku yakin di dalamnya ada lebih dari 20 potong baju bekas yang masih layak pakai. Sebenarnya masih banyak lagi baju-baju bekas, tapi harus dicari dulu, gak keburu.

Baju-baju bekas yang aku berikan itu setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku.

30 October 2017

Bunga Putih


Akhirnya tanaman ini berbunga juga, meski sampai sekarang aku belum tahu namanya. Ada satu tangkai memanjang dan di tangkai  itu muncul banyak biji dan bunga-bunga berwarna putih yang indah. Bunga ini mekar di siang hari dan menguncup saat malam. Semula aku pikir bunganya cepat layu, eh rupanya besok tampak mekar lagi.


Sebenarnya sudah cukup lama aku merawat bunga ini, tapi baru kali ini berbunga. Mungkin karena sebelumnya salah lokasi, aku letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Kurang dari dua bulan setelah aku pindah ke lokasi yang lebih memungkinkan terkena sinar matahari langsung, muncul juga bunganya. Indah!


Oh ya, bunga ini aku pungut dari selokan tak jauh dari rumah. Aku perhatikan hampir semua tetangga dekat rumah memiliki tanaman ini, jadi sayang juga melihat bunga ini terbengkalai tumbuh di selokan, dan bakalan dibuang. Makanya segera aku ambil dan letakkan di depan rumah. Ini jenis bunga yang butuh banyak air, makanya kalau di tempat tetangga selalu ditanam di pot yang airnya menggenang. Aku masih enggan membiarkan air menggenang di pot karena bisa mengundang nyamuk bertelur. Konsekuensinya ya harus rajin-rajin menyiram. Sempat lama gak disiram, daunnya cepat sekali layu.

Ada yang tahu nama bunga ini?

26 August 2017

Barang Bekas Dan Warna Putih


Ceret ini sudah lama rusak, aku lupa sebenarnya rusaknya di mana, yang jelas sudah malas untuk dipakai. Kelihatan dari luar masih bagus, dan seharusnya bisa dengan mudah diperbaiki. Tapi aku malas. Mau dibuang kok juga sayang, kepikiran untuk jadiin pot saja.


Ternyata di rumah masih ada cat warna putih sisa renovasi tiga tahun lalu, waktu pertama kali pindah ke Tangsel, dan dilihat-lihat masih bagus. Terinspirasi dari gambar-gambar taman yang ada di internet, aku putuskan untuk mengecat semua pot dengan warna putih, dicicil saat ada waktu luang, mumpung lagi musim panas.

Di samping kanan teras ada tembok kosong yang tidak terawat dan berlumut. Sebenarnya itu tembok rumah tetangga, tapi menghadap ke teras rumahku, jadi aku yakin tetangga juga gak bakal ambil pusing. Makanya saat ada waktu luang, aku cat saja tembok itu. Permukaan yang tidak rata aku sengaja biarkan, hanya saja lumut dan lapisan pasir yang gampang rontok aku buang.


Woala ... beginilah hasilnya. Saat aku mulai posting foto waktu mengecat tembok ini, banyak yang komentar soal aci yang tidak rata. Padahal itu sengaja, selain karena malas (dan tidak mampu) mengaci, juga aku rasa tekstur tembok yang tidak rata itu justru memberi kesan tersendiri.



Ini tangga kayu boong-boongan juga, yang aku buat pakai kayu-kayu bekas kaso dan dicat putih. Nah di rumah ada mainan (action figure) kualitas KW yang terbengkalai begitu saja, karena salah beli oleh adik iparku. Dari pada berserakan di rumah, aku pasang saja di teras hehehe ...

#onepiece

04 August 2017

Kunjungan Keluarga Belalang


Taman mungil di halaman rumah sudah sering kedatangan tamu berwarna hijau (dan kadang kekucing-coklatan) ini. Ya, seringnya sih belalang daun, dan kayaknya belum pernah kedatangan belalang sembah.


Tapi seingatku yang datang hanya 1-2 ekor, tapi kali ini lebih dari 4 ekor, mirip seperti keluarga. Soalnya ada yang ukurannya besar, adan ada beberapa yang masih kecil. Warnanya juga bervariasi. Kali ini mereka menginvasi pohon kamboja.


Meski mereka termasuk hama, yang merugikan karena bisa memakan daun-daun, tapi aku biarkan saja. Toh selama ini seingatku belum ada tanaman mati karena ulah belalang ini. Meskipun daunnya habis, tapi tanaman tetap hidup dan daun-daun baru akan tumbuh lagi.


Entahlah, apakah dengan "serbuan" keluarga belalang ini akan mematikan tanaman yang ada. Aku sih ragu. Apalagi seringkali aku harus memangkas daun-daun yang terlalu memenuhi taman yang mungil itu. Jadi bisa dibilang justru kehadiran belalang ini bisa membantuku merapikan beberapa daun, gak cocok juga sih dianggap merapikan, karena yang dimakan justru yang masih muda hehehe.

Setidaknya kali ini aku lumayan senang dengan koleksi foto-foto belalang yang bisa aku dapatkan.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...