Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

31 January 2015

Festival Paduan Suara ITB 2015


Nah, sebenarnya tujuan utama kunjunganku ke Bandung di akhir pekan ini adalah buat nonton lomba paduan suara di ITB. Kebetulan keponakanku yang ada di Semarang ikutan untuk kategori B, yang setingkat dengan sekolah menengah pertama (SMP). Kakakku sempat nelpon kira-kira aku bisa mendampingi atau tidak, soalnya mereka belum tentu bisa cuti. Ya udah, sekalian aja refreshing, mumpung dah agak lama gak ke Bandung.

Hampir 6 tahun aku kuliah di sini, belum pernah sekalipun aku nonton lomba seperti ini, apalagi kalau pakai acara bayar segala. Baru kali ini aku beli tiket pertunjukan di ITB, langsung aja beli yang VIP toh selisih harga "hanya" 20 ribu.


Ini sebagian dari peserta lomba paduan suara tingkat SMA. Rupanya untuk tampil di lomba ini kostum juga mendapat perhatian khusus. Meski yang dilombakan adalah suara, tapi gak bisa pakai kostum sembarangan. Entah apakah kostum juga masuk ke salah satu penilaian atau tidak.


Nah kalau yang ini kostum dari beberapa peserta tingkat SMP yang sempat aku jumpai. Aku paling suka yang kostum batik dengan kombinasi ungu itu, tampak menarik. Kostum biru yang dipakai oleh sekolahan keponakanku juga lumayan bagus, juga dengan ada nuansa batik di bajunya. Keren lah.


Ini adalah penampilan dari keponakanku, tim sekolah Domsav Semarang. Mereka membawakan lagu Bunda (wajib), Musica Dei (pilihan wajib) dan Katoba Asobi Uta (pilihan bebas). Lagu terakhir itu katanya berkisah soal mabok sake, dalam bahasa Jepang tentunya. Agak aneh mendengar lagunya meskipun menarik.


Ternyata kakakku bisa cuti hari ini, dan menyusul ke Bandung untuk nonton penampilan anaknya, meskipun pulak, datang pagi, sorenya langsung cabut pulang. Selesai pertandingan Ester sempat terjatuh dan kakinya agak terkilir. Setidaknya perjuangannya berlatih berbulan-bulan tidaklah sia-sia, penampilannya bagus, dan dia bisa jalan-jalan di Bandung bersama teman-temannya.

Hasil akhirnya, tim Domsav jadi juara 1 kategori B. Selamat ya, Ester!

Napak Tilas : Kanayakan - Bukit Ligar


Pagi ini langit di atas kota Bandung sangat cerah, cocok buat jalan-jalan. Berhubung pagi ini gak ada acara apa-apa dan aku juga sendirian di sini, aku putuskan untuk napak tilas jalan kaki dari Dago ke Bukit Ligar. Jaman kuliah dulu, aku sering jalan kaki lewat jalur itu untuk pulang-pergi ke kampus, buat menghemat ongkos. Seingatku kurang lebih selama 4 tahun aku tinggal di salah satu rumah di Bukit Ligar.


Sebelum mulai perjalanan, isi bahan bakar dulu. Sarapan dengan makanan yang dulu sering aku nikmati waktu di Bandung - kupat tahu. Hanya saja kupat tahu di Jawa Barat ini beda dengan yang sering aku nikmati waktu kecil di Jogja. Kalau di sini kupat tahu isinya tauge dengan bumbu kacang (selain kupat+tahu tentunya). Sementara kalau di Jogja kupat tahu ada kuahnya, bening dan manis gula jawa, seger lah. Tapi aku suka dua-duanya. Harga masih 8000 per porsi, beli di pinggir jalan.

Aku berangkat melewati jalan Kanayakan, lewat depan kampus Polban dan melintas perumahan elit. Di ujung kompleks itu ada jalan tembus ke Cigadung, meskipun jalannya hanya cukup untuk kendaraan roda dua. Dulu aku menemukan jalan tembus itu secara tak sengaja, iseng saja, apalagi dulu belum ada google maps ataupun smartphone.


Dari jalan Cigadung, aku langsung masuk ke kompleks dosen Unpad dan cari jalan pintas melewati lembah dan sawah-sawah. Rumah yang ada di atas itu dulu pernah dikontrak oleh pendetaku dan aku serng datang juga karena ada acara yang diadakan di situ.

Pernah suatu malam waktu aku hendak datang ke rumahnya, di ujung jalan itu, ada kelompok pemuda menghadangku dan menyerang tanpa alasan. Aku sendiri gak tahu alasannya. Yang jelas waktu itu ada sekitar 3 orang. Awalnya mereka cuma duduk-duduk, dan waktu aku lewat, mereka langsung marah-marah dan menyerangku. Aku sih gak meladeni, cuma menghindar dan segera lari ke rumah ini. Untung mereka berhenti mengejar waktu melihatku masuk ke rumah pendetaku itu. Aku sengaja gak cerita apa-apa ke teman-teman waktu itu. Pas aku kembali, aku datangi lagi mereka baik-baik, mencoba berdamai dan mencari penjelasan mengapa mereka menyerangku. Aneh-aneh saja, kayaknya sih para pengangguran lagi mabuk saja. Setelah itu gak ada kejadian aneh lagi.


Jalanan yang aku lewati cuma kecil saja seperti ini. Seingatku sejak belasan tahun lalu, tidak ada banyak perubahan, kecuali mungkin jumlah rumah dan penduduk yang bertambah. Herannya meskipun jalan sempit ini, ada aja yang punya mobil di daerah ini. Padahal jalan pas hanya untuk satu mobil, gak kebayang kalau sempat berpapasan mobil, pasti repot. OH ya, daerah ini juga banyak kuburan tanpa pagar atau pembatas, jadi persis di pinggir jalan aja. Dulu waktu sering melintas malam-malam, aku sering tidak menyadari hal itu. Baru sadar setelah aku jalan di siang hari, tapi karena sudah biasa ya jadi santai saja.


Masih ada sawah di sekitar sini, tapi jumlahnya sudah sangat sedikit, tergusur oleh pemukiman warga. Yang membuatku heran, di pelosok bukit, kok ya ada saja yang membangun gedung tinggi bertingkat banyak layaknya apartemen. Ah biarlah, moga saja tidak ada bencana yang disebabkan oleh gedung-gedung itu.


Rumput liar di tanah kosong ini tampak menarik. Warnanya juga unik, tidak hanya putih. Yang aku perhatikan, perumahan-perumahan baru mulai dibangun di sekitar bukit Ligar ini. Lalu tempat yang dulu dijadikan arena off-road juga sudah tidak dipakai lagi. Padahal seingatku di situ dulu ada jalan pintas, yang waktu aku cari-cari gak ketemu lagi. Jadinya aku harus agak memutar untuk mencari jalan lain.


Ah ... sampai juga ke Bukit Ligar, dan bisa menikmati pemandangan kota Bandung. Dulu aku bisa menikmati pemandangan ini setiap hari, bahkan setiap bangun tidur sudah langsung bisa menikmati tanpa halangan karena rumah yang kutinggali ada di atas bukit dan tidak ada bangunan lain yang menghalangi. Rumah itu sekarang sudah dibeli orang lain dan direnovasi cukup bagus. Jalanan di sekitar Bukit Ligar juga sudah bagus, diaspal halus. Beda jauh dengan waktu aku masih tinggal di sini, jalanan lebih mirip sungai kering karena aspal sudah bolong-bolong dan batu kerikil berserakan dimana-mana. Perjalananku pulang naik angkot ke Dago, lancar dan mulus, dengan tarif 4000.


Dua ekor anjing ini, sebenarnya ada tiga, tapi yang satunya langsung mundur waktu aku coba mendekat, menggonggong terus waktu aku lewat. Heran, padahal aku cuma lewat, gak ngapa-ngapain. Apa mereka mencium bau kucing di tubuhku yang membuat mereka jengkel? Melihat pagar itu agak sempat, aku mendekat saja sekalian hehehe...

Perjalanan yang cukup menyenangkan, meskipun melelahkan dan hanya sendirian.


Pengalaman Menginap di Garden Hostel


Ini pertama kalinya aku menginap di sebuah hostel sendiri, gaya backpacker-an yang kamarnya model kayak barak gitu, satu kamar ada banyak tempat tidur dan kamar mandi dipakai rame-rame. Alasannya simple, nyari yang murah karena toh liburan kali ini aku cuma sendiri. Kalau bareng keluarga yang mending sewa kamar yang lebih keren. Aku iseng nyari hotel di Traveloka dan Garden Hostels ini jadi pilihanku.


Seperti kebanyakan hotel atau rumah di Bandung, hostel ini penuh dengan taman dengan berbagai bunga yang indah, seperti bunga Anggrek ini. Selain itu juga ada pohon rambutan yang sudah berbuah, sayangnya mau minta kok malu :) Yang jelas suasana di dalam hostel ini asri dan nyaman. Untuk istirahat dan sekedar nongkrong juga nyaman. Suasana Bandung yang adem benar-benar terasa.



Alasan utama aku memilih tempat ini, selain karena harga, juga karena lokasinya yang strategis menurutku. Di jalan Dago dengan akses angkot 24 jam, sekitar 500 meter dari Pasar Simpang Dago, dan persis di pinggir jalan. Jadi kalau gak bawa kendaraan pribadi, gak perlu kuatir harus jalan jauh, karena turun dari angkot sudah sampai dan tinggal masuk ke dalam 50 meteran dah sampai front office. Pas check-in dapat pelayanan yang ramah, petugas kamarnya juga ramah. Sejauh ini aku tidak punya keluhan dengan palayanan petugas.

Oh ya, waktu aku nginep di sana pas lagi kosong. Cuma ada 2 tamu yang menginap, satu lagi orang Belanda namanya Nikko, seorang traveler yang ramah.


Salah satu fasilitas unggulan di sini adalah kolam renang. Aku sih gak niat berenang, soalnya gak bawa cukup celana buat ganti. Lagipula renang sendirian kayaknya kurang asyik. Kolam renangnya lumayan, waktu aku datang pagi itu ada petugas yang sedang membersihkan kolam ini. Masalahnya, aku menjumpai banyak kodok berkeliaran, bahkan ada yang sempat ikut nyemplung ke dalam kolam. Waduh, aku yang gak masalah sama kodok saja agak risih, apalagi yang fobia lihat makhluk itu. Katanya sih karena dekat dengan sawah, jadi kodok-kodok dari sawah suka ikut bermain ke dalam hostel.


Inilah sawah yang dimaksud itu, persis ada di samping sebelah utara dari hotel. Sawah yang masih bertahan, di tengah himpitan padatnya perumahan. Sebenarnya ini adalah selingan pemandangan yang menarik. Jadi bukan berasa di tengah kota, tapi berasa di sawah, jadinya kesan liburan itu benar-benar ada. Andai saja background perumahan itu bisa diganti dengan hamparan pegunungan, pasti lebih ciamik.


Ada juga disediakan mushola yang cukup lega, dengan bangunan panggung yang menarik. Pokoknya cocok banget buat tiduran beribadah.


Overall sih aku suka tempat ini, recommended dan besar kemungkinan untuk datang kembali. Tapi bukan berarti tanpa keluhan. Setidaknya ada empat keluhan utama yang aku rasakan di sini.

Pertama, ya masalah kolam renang tadi. Sepertinya pihak manajemen perlu kerja keras lebih lagi untuk memastikan kolam renangnya bersih, terawat dan bebas kodok hehehe.
Kedua, soal sarapan. Ada harga ada rupa, jadi terkesan minimalis. Tapi buatku sih gak terlalu masalah, karena toh aku tidak berniat sarapan di hotel. Sengaja aku ingin sarapan di pinggir jalan, nostalgia waktu jaman kuliah di sini, menikmati makanan khas di sini yang agak jarang ditemui di Jakarta.

Ketiga, masalah terbesar adalah kondisi kamar mandi. Gantungan bajunya minim, belum lagi kamar mandi sangat kecil. Udah gitu untuk toiletnya gak ada kunci, jadi pintu harus dipegangin kalau gak mau ada yang mendadak membuka pintu waktu kita lagi ngeden. Masalah yang  paling mengganggu adalah bau gas. Bau gas ini bahkan sampai masuk ke kamar dan selain mengganggu juga agak meresahkan. Waktu aku sampaikan keluhan ini ke petugas, dia bilang itu biasa saja, gak masalah. Tapi kayaknya karena terlalu banyak yang protes, pihak manajemen harus mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah itu.

Terakhir adalah soal pembagian kamar. Terus terang aku merasa "diusir" secara halus, padahal kan harusnya jadwal check-out jam 12. Pagi itu aku jalan-jalan dulu sampai sekitar jam 10 lebih. Pas sampai di hostel, aku buang hajat dulu. Betapa kagetnya waktu tiba-tiba di luar kamar mandi ada suara ibu-ibu berisik. Langsung aku pegang gagang pintu kuat-kuat, sambil membuat suara-suara sekenanya untuk ngasih tahu kalau ada orang di dalam. Benar juga, mendadak seseorang mencoba membuka pintu. Untuk aku sudah sigap, barulah mereka sadar ada cowo ganteng yang lagi ngeden di toilet. Lah, bukannya ini harusnya kamar laki-laki? Entahlah. Yang jelas rombongan ibu-ibu itu check-in lebih awal dan langsung ditempatkan di kamar yang aku pakai, mungkin karena waktu itu kosong. Untung aja aku lagi gak bugil mondar-mandir di kamar mandi karena merasa kamar sedang kosong.

Ya sudah, segera saja aku beres-beres dan beranjak pergi untuk nonton lomba paduan suara di ITB.

30 January 2015

Napak Tilas : Kampus ITB


Weekend ini aku pergi ke Bandung sendirian untuk menghadiri lomba paduan suara yang diikuti oleh ponakanku dari Semarang. Sekalian refreshing juga. Berangkat pagi hari dengan travel XTrans dari BTC Bintaro, dapat jadwal yang jam 7.30 dan masih kosong. Suasana BTC pagi ini juga masih sepi sekali.

Meskipun sudah berangkat agak pagi, tetap saja perjalanan tersendat di sepanjang jalan tol dari Lebak Bulus hingga Cikarang. Payah juga. Sempat tertidur saat kendaraan berjalan merayap, eh pas bangun di Cikarang sudah jam 9.30 ... busyet, dua jam baru sampai sini.


Sampai Bandung jam 10 lebih, untunglah tadi sempat sarapan cemilan di pasar modern. Jadi perut gak terlalu kosong pagi ini. Turun di daerah Cihampelas, aku memutuskan untuk jalan kaki saja menuju Balubur, melewati jalan Pelesiran. Jalan ini dulu sering aku lewati saat masih kuliah, karena aku sempat kos selama setahun di daerah Kebon Bibit, dan sempat bergereja di daerah Cihampelas. Lagipula kalau naik angkot juga gak ada yang sekali, itupun bakal kena macet juga meski kalau jam segini gak terlalu parah. Toh niatku pengen nostalgia juga. Sempat mampir di Taman Film yang ada di bawah jembatan Paspati, tapi bukannya pertunjukan film, yang ada justru anak-anak main futsal :)


Sampai ITB, salah satu makanan yang aku cari adalah lumpia basah khas Semarang. Herannya, selama di Semarang aku justru jarang sekali makan makanan ini. Malah bisa dibilang aku makan makanan ini kalau pas di sekitar ITB saja. Makanan yang sederhana, hanya touge, rebung manis dan telur ditumis, terus dibungkus dengan kulit lumpia dlapisi adonan seperti lem yang manis dan gurih. Tapi ini salah satu makanan favoritku, jadi gak masalah meskipun harus antri bersama para mahasiswa/i. Harga saat itu masih 7000 rupiah per bungkus.


Selesai menikmati lumpia basah, aku iseng muter-muter kampus sebentar tanpa tujuan yang jelas. Ini adalah salah satu kantin di jurusanku, yang waktu aku kuliah kantin ini disebut sebagai kantin borju. Alasannya, hanya orang-orang borju (alias berduit) yang mampu beli di sini, karena jenis menunya serta (yang utama) harganya yang kurang ramah bagi kalangan mahasiswa kampung kayak aku. Jadi selama kuliah 6 tahun di sini, tidak pernah sekalipun aku makan di tempat ini, bahkan untuk sekedar beli minumpun gak pernah. Selain karena minder, takut gak paham dengan makanan yang dijual, juga karena takut jatah makan seminggu habis buat makan di sini hehehe... Pas kemarin sempat nengok daftar harga, kok rasanya biasanya aja, gak semahal makanan di fastfood pada umumnya :-? Entah sudah berubah atau memang sejak dulu harganya gitu, aku kurang paham.


Beberapa orang antri di ATM BNI dekat aula barat. Seingatku dari dulu ATM ini cukup favorit. Mungkin karena kalangan akademisi kebanyakan punya rekening BNI. Tapi kalau dulu, tempat ini cukup favorit karena masih menyediakan pecahan 20 ribuan, sementara ATM lain umunya berisi pecahan 50 atau 100 ribuan. Aku belum sempat ngecek nominal pecahan mata uang yang tersedia di ATM itu sekarang. Cuma aku tertarik karena antriannya yang agak banyak tapi renggang, sehingga meski terkesan menutup jalan, tapi orang masih bisa menyusup kalau sekedar mau lewat.

Awalnya aku ingin sambil kerja di kampus ini, sayangnya sinyal XL di sini kayak gak stabil dan beberapa tempat malah suka ilang. Jadi aku putuskan untuk ke hotel saja, sapa tahu dapat wifi gratisan yang bagus.

29 June 2014

Instant Bajigur


Bajigur adalah minuman tradisional favoritku. Jadi saat ke Bandung kemarin lihat ada bajigur instan, langsung aku beli sebagai oleh-oleh. Karena baru pertama beli, jadi aku beli satu pak saja. Yang sangat menarik adalah desain bungkusnya yang menarik, keren, tidak seperti desain produk instan pada umumnya.


Aku jadi ingat jaman kuliah di Bandung dulu, sering sekali beli Bajigur yang dijual oleh penjual keliling, berbarengan dengan singkong, ubi dan berbagai makanan kampung lainnya. Selain harganya yang murah, bajigur cukup efektif untuk menambah tenaga dan mengganjal perut ketika duit di kantong sedang tidak bersahabat.


Bonus: kalau ini wedang sereh yang dihidangkan di kafe Kartika Sari Dago.

Weekend in Bandung


Subuh-subuh sudah rapi jali, nongkrong di pom bensin daerah Grogol, maklum, nyari tiket travel ke Bandung kebanyakan dah full, dapatnya ya subuh-subuh gini. Selain itu Daytrans lagi ada promo, cuma 65 ribu per orang. Kami berangkat bertiga (aku, istri dan adik ipar) ke Bandung, untuk refreshing aja di akhir pekan.


Meski sudah berangkat sebelum matahari terbit, jalanan sudah cukup padat. Berangkat setengah 6 lebih, sampai Bandung hampir jam 9, mungkin juga karena sempat istirahat hampir setengah jam di rest area. Perjalanan sih lancar-lancar saja. Tapi yang menyebalkan, pas sampai di Bandung dan beberapa penumpang turun, dengan santainya pak sopir membuka jendela dan MEROKOK. Lah, ini kan mobil ber-AC. Biarpun dia coba nyebul keluar jendela, tetap saja asap bisa masuk. Ah, payah nih supir.


Berhubung pool kedatangan di Cihampelas, kami langsung menuju Ciwalk buat nyari sarapan. Karena masih pagi, kami terpaksa "nggedor-nggedor" KFC biar buka lebih cepat (lebay mode on). Kami masih harus menunggu sekitar 15 menit, seperti dijanjikan oleh manager warungnya. Lumayanlah, gak terlalu lama menunggu, toh pagi tadi sudah sempat ganjal perut dengan roti.


Habis sarapan, tujuan utama kami (masih dengan membawa ransel berat masing-masing) adalah Trans Studio Bandung. Dari Cihampelas aku naik angkot Ledeng-Kelapa, turun di Cikawao. Dari situ pindah lagi naik angkot yang ke arah Binong. Ongkosnya masih 3000 per orang, dan jalanan juga masih lancar, gak ada macet.


Untuk menginap, istriku memesan kamar di hotel Royal Dago lewat agoda.com. Dulu waktu kuliah sering banget lewat depan hotel ini, lewat doang. Bayanganku dulu hotel ini pasti mewah, soalnya tempatnya strategis. Ternyata gak juga, tapi cukup nyaman lah untuk harga yang terjangkau. Yang paling membuatku senang adalah lokasinya yang strategis, setidaknya aku cukup kenal daerah sekitar ini, dan dilewati banyak rute angkot 24 jam.

Oh ya, malam minggu di Jalan Dago biasanya ramai, meriah dan macet. Terutama sepanjang jalan dari ITB hingga BIP. Tapi malam minggu kali ini terkesan berbeda. Jalanan lancar, kalaupun sedikit macet itupun cuma sebentar karena lampu merah. Hampir tidak ada mahasiswa yang mengamen, meskipun masih ada beberapa orang yang berjualan bunga. Kurasa ini adalah efek hari pertama tarawih, soalnya besok adalah hari pertama puasa, sesuai pengumuman dari pemerintah.


Satu hal yang aku anggap baru di Bandung adalah halte-halte seperti ini, sesuatu yang tidak sempat aku perhatikan (atau mungkin memang belum banyak) saat terakhir kali aku berkunjung ke Bandung beberapa bulan lalu.Halte ini lengkap dengan rute angkot yang melintas di halte, meskipun tetap saja halte cuma jadi tempat berteduh, karena toh orang selalu naik/turun angkot di sembarang tempat :)


Satu-satunya tujuan kami di hari kedua, hari minggu, adalah Rumah Mode. Setiap kali kami bertiga datang ke Bandung, selalu mengunjungi tempat ini. Aku sih ngikut doang, gak ada selera belanja sama sekali.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di kota yang udaranya masih relatif bersih dan sejuk dibanding Jakarta ini. Jam 12 kami harus segera berangkat kembali ke Jakarta, kali ini naik travel Cititrans, dan beruntung kami bisa dapat jalur yang langsung ke Central Park. Perjalanan juga sangat lancar, tanpa istirahat, waktu tempuh "hanya" sekitar 2 jam lebih sedikit. Justru macetnya pas mau masuk CP, hampir 15 menit lebih.

Snapshots whilte Waiting


Waktu berkunjung (lagi) ke Rumah Mode, aku memutuskan untuk menunggu saja di luar. Untunglah istriku cukup pengertian, jadi dia belanja tanpa perlu aku temanin. Suasana outdoor yang asri membuatku lebih betah berada di luar, sekaligus menikmati udara Bandung yang masih segar.

Ah sialan, baru nyadar ternyata aku dipantati sama (patung) kodok itu.


Tapi karena aku harus mengawasi tas-tas bawaan kami, aku tidak bisa berkeliling sesuka hati. Alhasil aku hanya duduk di kursi di depan toko, sambil memperhatikan tingkah laku pengunjung lain yang sudah mulai berdatangan pagi ini. Kebanyakan aktivitas pengunjung adalah berfoto-foto, baik selfie maupun gantian memotret.


Sepasang suami istri sedang memperhatikan hasil jepretan foto mereka, memastikan apakah hasilnya sesuai atau tidak. Kalau gak sesuai, tinggal dihapus dan diulangi lagi. Teknologi digital membuat hal tersebut sangat mudah dilakukan, dan murah. Bayangkan kalau kita masih pakai potret analog. Hasil gak bisa diketahui, juga tidak bisa mengulang foto. Harus menunggu berhari-hari sampai foto itu dicetak.


Tentu saja, selain berfoto-foto, salah satu aktifitas yang dilakukan orang-orang untuk menghabiskan waktu adalah dengan berponsel ria. Bisa sekedar sms-an, bersosial media, atau sekedar berselancar di dunia maya. Kalau satpam yang di ujung sana tidak ada pilihan lain. Dia harus bersiaga dan waspada menjaga keamanan :)

28 June 2014

Trans Studio Bandung (Part 2)


Setelah makan siang, kami mencari wahana yang menarik tapi santai. Soalnya kalau memilih wahana yang memicu andrenalin, takutnya malahan sia-sia makanan yang barusan dinikmati. Apalagi makanan di dalam studio ini tidak bisa dibilang murah. Pilihan kami adalah Sky Pirates, wahana menaiki kapal Zeppelin berkeliling studio. Tentu saja bukan balon udara sungguhan, melainkan hanya memutar ibaratnya gondola.


Dari kapal "udara" itu, kita bisa melihat suasana di hampir setiap sudut studio ini. Gak terlalu berasa rugi lah. Berhubung jumlah kapal juga lumayan banyak, dengan waktu edar yang tidak terlalu lama, kita tidak perlu mengantri lama untuk bisa menikmati perjalanan ini. Pas banget untuk yang pengen sekedar santai sehabis makan.



Setelah berkelana lewat udara, giliran mencoba wahana lewat air, Jelajah. Meskipun tampaknya santai, rupanya "pelosotan" yang ada cukup tinggi dan menegangkan, dan cipratan air yang dihasilkan juga menambah seru wahana ini.


Istriku berada di sisi yang salah, sehingga terkena cipratan air yang cukup banyak dan membuat basah rambut serta bajunya. Untunglah pihak studio menyediakan pemanas, meskipun harus merogoh kocek 30 ribu untuk menggunakannya.


Meskipun tidak sempat menyaksikan pertunjukan dari maskot-maskot Trans Studio yang digelar di aula utama Studio Central, kami masih bisa menikmati pertunjukan tarian api yang menarik. Meskipun hanya seorang diri, namun pertunjukan yang menampilkan kelihaian memainkan api yang membara ini bisa dinikmati.


Dan tentu saja, dimana-mana selalu bisa kita jumpai orang yang bernarsis ria, dan berfoto bersama keluarga.


Mencoba berlatih menunggangi naga di wahana Dragon Riders hehehe. Meskipun tampak sepele, tapi ada kalanya kita dijungkat-jungkit cukup tinggi yang kadang bikin deg-degan. Ya tentu saja tidak terlalu menegangkan, tapi cukup menyenangkan lah.


Vertigo Galaxy, wahana yang mengingatkanku pada wahana Ontang-anting di Dufan. Sayangnya istriku maupun Andre tidak berani mencobanya, jadi akupun juga enggan. Selain wahana ini, ada satu wahana yang memang tidak berani aku coba, yaitu Negeri Para Raksasa, dimana pengunjung dihempaskan dari ketinggian 5 lantai. Melihatnya saja sudah tampak serem, jadi mendingan aku hindari saja. Sebenarnya sayang juga melewatkan wahana-wahana itu, mengingat jumlah wahana yang tersedia di sini tidaklah banyak, tapi apa daya, nyali belum terlalu tinggi hehehe.


Karena gak mau rugi, aku sempat memaksakan diri untuk mencoba wahana ini, Car Racing bersama Dunlop. Entah isinya apa, tapi kurang lebih kita akan naik mobil dan melaju dengan kencan layaknya berlomba. Sayangnya, antrian cukup panjang dan lama. Apalagi satu kendaraan hanya bisa dipakai 2 orang. Kami menyerah, berbalik arah dan memilih untuk pulang.


Dari dalam pelataran menjelang pintu masuk/keluar, kita bisa menyaksikan satu-satunya wahana yang berada di luar ruangan, yaitu roller coaster. Meskipun pendek, tapi tampaknya cukup menegangkan. Apalagi sepertinya ada gerakan melunjur mundur juga. Sayangnya gak ada teman, jadi lagi-lagi wahana ini kami lewatkan saja.

Secara keseluruhan, taman hiburan di dalam ruangan ini menarik, tapi tidak terlalu "wah". Artinya kami tidak terlalu minat untuk mengunjunginya lagi dalam waktu dekat. Bisa dibilang tidak ada wahana yang bikin kangen. Kalau di Dufan, aku masih bisa kangen dengan beberapa wahana seperti Halilintar dan petualangan 4D. Setidaknya rasa penasaranku sudah terpuaskan. Selanjutnya, waktunya menikmati sejuknya Bandung di akhir pekan.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...