Showing posts with label Cloud. Show all posts
Showing posts with label Cloud. Show all posts

31 December 2022

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu.

Ini pemandangan kawasan Bintaro Sektor 9 yang bisa disaksikan dari lantai 3 gedung Gramdia. Sayangnya gak bisa dapat pemandangan yang mengarah ke barat untuk bisa menikmati sunset. Meski demikian, tetaplah pemandangan yang bagus.


 Sudah lama aku gak beli buku, apalagi karena lebih sering baca-baca artikel, berita atau obrolan absurd di sosial media, jadi daya tarik buku sempat berkurang. Ditambah lagi dengan berbagai tontonan dan film yang banyak tersedia di internet. Tapi kali ini aku pengen mulai beli buku lagi dan membaca, mulai dari yang ringan-ringan saja dulu, sesuai minatku. Yang penting bisa enjoy untuk mengisi waktu luang, yang sekarang lebih banyak sendirian.

12 December 2022

Senja Situ Bungur

Masjid yang baru di tepi Situ Bungur dengan dua menara yang menjulang membuat pemandangan senja jadi tidak terlalu monoton.

Kelelawar mulai keluar dan sarang dan berkeliaran, termasuk di sekitar danau.

Rumah di tepi danau, kalau ada balkonnya bisa enak tuh buat ngopi pagi atau sore sambil menatap danau yang tenang meski kecil.

 

13 July 2021

Good Sunset

Menikmati senja dari atap rumah, keindahan sederhana yang cukup untuk melepaskan syukur dan menikmati waktu yang ada. 


Mensyukuri hal-hal yang sederhana ini bukanlah melarikan diri dari masalah, tapi menjadi penyeimbang dalam menghadapi berbagai tekanan/masalah hidup yang ada.

 

03 January 2020

Mengungsi Semalam di Hotel


Hari ke-2 tahun ini, masih banjir tapi genangan sudah berkurang, dan jalanan bisa dilewati motor. Tapi listrik masih dipadamkan karena daerah Ciputat Baru masih tergenang. Bahkan kabarnya kemarin sempat ada korban tersengat listrik.


Karena persediaan air makin menipis, kami putuskan untuk mengungsi sementara ke Hotel. Pilihan sementara di Hotel Citradream sebelahnya Bintaro Plaza, jadi dekat rumah dan masih gampang untuk mondar-mandir ke rumah kalau perlu.

Sore hari listrik di rumah kami masih padam, tapi ada beberapa rumah tetangga yang sudah menyala. Memang di kompleks ada 3 jalur yang berbeda, jadi kadang bisa jadi rumah kena pemadaman, tapi rumah tetangga tetap nyala. Baru sekitar jam 8 malam listrik benar-benar sudah menyala, jadi bisa beraktivitas normal. Tapi aku dan anak-anak tetap menginap di hotel, tanggung sudah bayar, lagipula belum yakin apakah bakal ada pemadaman lagi atau tidak.


Esok paginya cuaca masih mendung, serta sesekali gerimis. Linimasa di sosial media masih penuh soal banjir, khususnya di Jakarta, dan termasuk beragam kekonyolan yang ada - baik yang mencela pemerintah maupun yang membela. Kekonyolan sering muncul karena tidak konsisten, misal dulu santai saat banjir, sekarang mencak-mencak (meski ada alasan logis). Ada juga yang menganggap komentar si Aa gak relevan (dulu atau sekarang), tapi gak berani menganggapnya ngawur karena yang ngomong idolanya hahaha. Lucunya, membela kesalahan orang lain dengan cara menunjukkan kesalahan di kubu seberang - konyol sih. Two wrongs don't make a right.


Pagi hari aku dan El menikmati sarapan di hotel, sementara Fe masih tidur. Di sini kami bertemu beberapa keluarga yang juga mengungsi karena banjir. Keluarga ini dari daerah Sudimara, kebetulan ada anak sebaya El dan mereka asyik bermain. El sempat ceroboh mendorong temannya itu sampai hampir jatuh dari sofa, untung pihak keluarga bisa maklum. Ada juga keluarga pak Bernard, tapi waktu itu hanya istri dan mertuanya yang aku temui sedang sarapan.

Siangnya kami pulang karena sepertinya listrik sudah menyala stabil, dan banjir di pinggir kali juga sudah surut.

16 October 2018

Ke Jakarta Aku Kembali


Baru kali ini aku benar-benar merasa ingin segera meninggalkan Jogja dan kembali ke Jakarta. Selain karena tanggung jawab keluarga, rindu dengan duo bos kecil, juga karena suasana di Jogja (lebih tepatnya di rumah dalam masa berduka) memang kurang menyenangkan. Alasan yang cukup egois sebenarnya.


Semalam aku beli tiket pesawat dari Jogja ke Jakarta lumayan mendadak,dan sempat gagal. Untung pagi harinya aku segera sadar kalau pesanan tiketku dibatalkan dan segera mencari pengganti. Untunglah masih dapat tiket meskipun berangkatnya agak siang dan bukan tiket paling murah. Ya sekali-kali naik Citilink.


Aku berharap bisa melihat gunung Merapi saat lepas landas dari Bandara Adisutjipto ini, dan hampir terwujud karena pesawat berangkat ke arah timur terlebih dulu. Sayangnya meski cuaca cerah, tapi gunung itu tertutup awan. Lagipula aku tidak duduk pas di pinggir jendela, jadi susah juga memotretnya. Tapi pemandangan waktu pesawat berbelok lumayan menarik, bisa menangkap sebagian landskap kota Jogja dari udara.


Sepanjang perjalanan cuaca cerah, langit biru dengan sesekali gumpalan awan putih.

Sampai di Jakarta naik bis Damri biar irit, turun di Lebak Bulus sudah menjelang maghrib. Dari situ naik Go-Jek saja biar lancar, apalagi ini jam sibuk saat orang-orang pulang kerja.

08 June 2017

Awan Tipis di Langit Cerah


Dua hari terakhir ini langit mulai berawan meskipun masih panas dan belum turun hujan. Sudah hampir seminggu tidak turun hujan, nyamuk mulai bejibun dan katanya ular-ular juga mulai keluyuran keluar sarang.


Yang menarik dari awan-awan ini, karena tidak merata, bisa membuat adanya berkas cahaya matahari yang tampak indah dilangit, terpancar di sela-sela awan.

13 May 2017

Menengok Kembali Situ Rompong


Sudah lama tidak menengok Situ Rompong di Rempoa, Tangsel, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Salah satu alasan adalah aksesnya yang kurang praktis, dulu, meskipun lokasi danau ini ada di pinggir jalan. Tapi siang ini aku agak heran, karena ternyata sudah ada "akses" langsung dari pinggir jalan untuk menyaksikan danau ini dari jarak dekat. Dulu hanya bisa masuk dari gang kecil di antara perumahan warga (yang agak membuat kurang nyaman kalau bawa motor), atau dari gang kecil di samping pemancingan di tepi danau. Sekarang, bangunan di samping pemancingan itu sudah dibongkar, sehingga memberi akses yang cukup luas untuk melihat danau dari jarak dekat.


Saat melihat gundukan tanah di samping perumahan di tepi danau ini, sepertinya baru saja ada pengerukan danau. Browsing sebentar, ternyata benar dilakukan pengerukan sekitar bulan Februari 2017 oleh pihak Koramil Ciputat. Sebelah selatan danau yang dulu seperti rawa-rawa dengan banyak tumbuhan liar, sekarang juga sudah hilang, dan tepi danau langsung berbatasan dengan perumahan yang ada di tepi danau.


Danau ini memang tidak terlalu luas, tidak sampai 2 Ha, lebih kecil dibanding Situ Bungur yang masih lebih 3 Ha luasnya. Meskipun demikian, aku rasa perannya masih cukup penting untuk menampung air tanah (serapan air) dan sedikit mengendalikan banjir yang mungkin terjadi, sementara daerah sekitarnya semakin lama makin berubah menjadi pemukiman penduduk, termasuk rawa-rawa yang tak jauh dari danau ini.


Di tangan yang kreatif, baik dalam penataan ruang, lingkungan serta pendanaan, aku yakin tempat ini bisa diubah menjadi objek wisata yang ramah lingkungan dan menarik. Tantangannya adalah mencari orang tersebut di pemda, termasuk yang bisa mendapatkan pendanaan tanpa memberatkan APBD. Semoga saja ada :D

02 January 2017

Senja Itu di Situ Bungur


Seorang warga mengayuh rakitnya ke tepi untuk pulang selepas menjala ikan di Situ Bungur. Langit sudah mulai gelap dan matahari yang terbenam tinggal menyisakan sedikit sinarnya yang tertutup awan.


Sudah lama aku tidak bisa leluasa bermain di danau kecil dekat rumah ini, untuk sekedar menikmati matahari terbit atau tenggelam. Sore ini mumpung ada kesempatan dan sunset nya juga lumayan bagus, aku sempatkan untuk mampir sejenak. Tidak bisa berlama-lama, karena ada "tugas" menunggu di rumah.


Jadi ingat ponakanku yang mengeluh kecewa waktu berkunjung ke Situ Gintung, katanya tidak seindah yang dia lihat di foto-foto. Kalau Situ Gintung aja dibilang jelek, apalagi Situ Bungur yang jauh lebih kecil dan sederhana. Tapi bagiku, dibandingkan tidak ada sama sekali, ya tetap tempat ini layak untuk jadi alternatif refreshing di Tangsel yang mulai padat dengan perumahan dan kendaraan.

31 December 2016

Senja Terakhir 2016


Anak-anak bermain bola di lapangan kompleks di hari terakhir tahun 2016, sementara matahari sudah hampir tenggelam. Sebelumnya langit tampak sangat mendung, tapi berangsur-angsur awan makin memudar.


Aku perhatikan cahaya senja tampak indah, jadi aku putuskan untuk naik ke atap rumah biar bisa menikmati senja terakhir tahun ini. Sudah lama aku gak nongkrong di atap rumah untuk sekedar menikmati senja ataupun fajar menyingsing, dan hari ini aku punya kesempatan yang tidak ingin tersia-sia. Beberapa rumah sudah tampak lebih tinggi dibanding sebelumnya,dan satu pohon yang dulu menghiasi sebelah barat kompleks sudah menghilang.


Syukurlah, langit senja kali ini terlihat sangat indah, dihiasi dengan siluet pepohonan cemara yang masih tersisa. Selamat tinggal tahun 2016. Beberapa tahun lagi mungkin pemandangan ini akan berganti dengan siluet beton-beton menjulang. Mungkin.


Kucing ini "menemaniku" selama aku berada di atas genteng menikmati matahari terbenam. Tentu saja dia tidak henti-hentinya mengeong dan menggesek-gesekkan kepalanya ke kakiku, merayu minta makan. Setidaknya aku tidak sendirian di atap genteng hehehe.

Selamat tahun baru 2017, pus!

30 October 2015

A Slice of Cloudy Afternoon


Beberapa nelayan tampak masih semangat mencari ikan di Situ Bungur meskipun matahari sudah hampir tenggelam dan cahayanya tertutup oleh mendung kelabu sore ini. Seingatku baru ini aku melihat jala yang diletakkan di tengah-tengah danau, biasanya hanya di bagian pinggir saja. Hmm... atau mungkin aku yang lupa.


Sudah lama tidak turun hujan di daerah ini dan sore ini langit tampak mendung. Udara juga terasa gerah. Aku berharap hujan turun malam ini, selain agar udara jadi lebih sejuk, tapi juga agar nyamuk bisa makin berkurang. Kemarau panjang membuat sungai di samping rumah jadi kecil debit airnya dan mengalir pelan sehingga jadi tempat yang cocok buat nyamuk berkembang biak. Air sungai juga baunya tidak sedap seperti comberan.


Di tepi danau yang lain ada perahu yang menarik perhatianku sehingga aku menghentikan sepedaku meskipun gerimis sudah mulai turun. Selain bentuk perahu yang unik, sepertinya perahu ini sengaja dibuat untuk keperluan Pesta Rakyat Situ Bungur minggu lalu, yang membuatku tertarik adalah adanya seekor kucing di atas perahu itu. Dia tampak tenang seperti menikmati berada di atas perahu.


Mendadak aku sedikit kaget melihat anjing kecil ini berdiri menatapku persis di belakangku. Waktu aku mulai beranjak dan hendak memacu sepedaku, dia tetap mengikuti. Tidak menggonggong, hanya menatap, tatapan yang membuatku salah tingkah. Ini anjing tertarik mengikutiku atau hendak menyerangku ya? Setelah mengambil beberapa fotonya, aku segera memacu sepedaku dan pulang. Anjing ini sempat ikut melangkah sebentar, tapi kemudian berhenti. #fiuhh

#lake #bamboo #afternoon #dog #cloudy #fisherman #fishing #ship

10 June 2015

Mendung Yang Menambah Keindahan Pagi


Matahari pagi seperti terlambat terbit karena terhalang oleh mendung di ufuk timur. Perlahan tapi pasti, sinar pagi tampak semakin terang menerangi pagi yang dingin. Hujan yang turun kemarin masih menyisakan udara dinginnya di daerah Pondok Aren yang biasanya panas menyengat.


Meskipun langit tampak mendung, tapi perhatikan tidak akan turun hujan dalam waktu dekat, makanya pagi ini aku luangkan waktu untuk jalan-jalan, pakai motor. Karena bingung mau kemana, aku melaju saja ke arah Graha Bintaro, terus mutar ke arah Parigi Baru, melewati Vihara Siddharta.


Di salah satu sudut Jalan Manungga, dapat spot yang lumayan menarik untuk menikmati matahari pagi. Ada tanah kosong yang tidak terlalu kumuh dan menghampar tannpa halangan pepohonan ataupun perumahan. Meski ada sedikit sampah, tapi tidak terlalu mengganggu.


Dari tempat ini bisa kelihatan menara Masjid Bani Umar, sayangnya masih tampak terlalu jauh. Aku sudah coba cari tempat-tempat lain yang lebih dekat ke masjid unik itu, sayangnya tidak menemukan tempat pas. Agak sulit karena sekeliling masjid itu sudah penuh dengan pemukiman warga, sehingga pandangan selalu terhalang pepohonan ataupun perumahan.


Bunga ini adalah bunga liar yang dulu sering aku lihat di desa. Sepertinya bunga ini tidak terlalu bernilai komersial, soalnya jarang aku lihat bunga ini ada di taman atau dijual. Mungkin karena tanamannya kurang bagus meskipun memiliki bunga yang cukup menarik kalau dilihat dari dekat. Mungkin juga karena terlalu mudah tumbuh di tanah liar, entahlah. Mungkin belum waktunya saja hehehe...


Nah kalau ini di lokasi yang sering dipakai untuk offroad, sebelah timur dari Masjid Bani Umar. Ini juga spot yang menarik untuk menikmati matahari terbit, karena pandangan ke arah timur tidak ada halangan selain beberapa kabel listrik. Tapi yang membuatku menarik kali ini adalah burung-burung liar yang bermain di rerumputan. Aku hanya sempat memotret satu burung ini, yang tampak sedang asyik makan sementara teman-temannya sudah terbang menjauh waktu melihatku datang.


Awan mendung di langit sudah mulai terurai, tidak terlalu pekat, dan membentuk awan yang lembut seperti hamparan kapas. Langit yang sama, dengan gumpalan-gumpalan awan ini juga terlihat di kota Jakarta, soalnya salah satu temanku memposting foto-foto langit pagi ini di facebook, dengan pemandangan awan seperti ini. Indahnya pagi ini!

18 May 2015

Menikmati Senja Dari Atas


Matahari terbenam masih menyisakan bingkai cahayanya di atas langit dan masih bisa aku nikmati dalam penerbanganku malam ini.


Setiap perjalanan menggunakan pesawat, aku selalu ingin berada di samping jendela agar bisa menikmati pemandangan di luar. Apalagi kalau penerbangan pas siang hari dan sore hari, berharap bisa menyaksikan matahari terbenam. Dalam penerbangan kali ini, sebenarnya tempat dudukku sudah pas di pinggir jendela di sisi barat, dan jadwal penerbangan juga pas dengan waktu matahari terbenam. Sayangnya ada sedikit delay, jadinya telat juga menyaksikan matahari tenggelam.


Tapi aku masih sangat bersyukur bisa menyaksikan pemandangan ini dan mengabadikan gradasi cahaya senja yang menakjubkan, meskipun dengan keterbatasan kamera yang ada.

28 April 2015

Warna-Warni Langit Senja


Sore ini langit senja tampak indah luar biasa. Warna khas twilight, gabungan biru, orange, merah dan lembayung tampak terlihat di langit sebelah barat.


Cuaca cerah membuat cahaya matahari tidak terhalang, dan adanya awan tipis di sekitarnya memberi pantulan warna serta nuansa yang berbeda di langit.


Karena tidak sempat pergi ke tempat tertentu, aku nikmati saja senja kali ini di atas atap rumah, keindahan alam yang sayang kalau dilewatkan, meskipun sering kita abaikan begitu saja.


Nah kalau yang ini warna pantulan cahaya di langit sebelah timur yang berawan, persis sebelum gelap datang.

29 January 2015

Siluet Senja di Situ Bungur


Hujan deras di sore hari tadi masih menyisakan awan mendung di langit. Namun menjelang maghrib, suasana masih tampak cerah, menandakan matahari sore di ufuk barat masih punya celah untuk mengirimkan sinarnya. Ini juga berarti akan ada sunset moment yang indah, dan tempat terdekat paling menarik untuk menikmati peristiwa ini adalah di Situ Bungur.


Seekor kucing tampak sedang bersantai di tepi danau. Waktu aku mendekat, dia sempat waspada, tapi tidak berlangsung lama. Sepertinya dia jenis kucing yang akrab dengan manusia, dan ketika aku panggil, dia segera membalas dengan mengeong pelan. Tapi akhirnya dia pergi juga, karena toh aku gak membawa makanan untuk aku berikan ke kucing ini. Apakah dia sedang ingin menikmati senja juga? Entahlah.


Benar dugaanku, semakin lama langit mulai berubah warna. Dari sekedar kuning terang bergradasi ke warna biru, warna mulai berubah lebih jingga dan menyebar makin luas. Gerimis rintik-rintik mulai turun dan memberi sedikit riak di air danau yang tenang, tapi aku masih enggan beranjak. Aku masih penasaran mencari sudut-sudut yang bisa memberi siluet menarik untuk senja kali ini.


Saat hari sudah makin gelap, langit mulai berubah jadi lebih lembayung, bergradasi ke biru pekat, dengan taburan warna kuning emas dari sisa-sisa cahaya yang masih terpantul oleh awan. Luar biasa. Meski sedikit, pohon palem di sisi kiri itu bisa memberi variasi menarik dari deretan siluet, yang menambah keindahan langit senja.

Waktu baca salah satu status teman di fb, baru ngeh kalau suasana ini yang disebut sebagai twilight. Karena penasaran, aku coba selidiki lebih lanjut apa bedanya sunset dan twilight. Eh, rupanya twilight juga terjadi di pagi hari. Jadi twilight itu periode antara matahari masih nongol (persis di permukaan), dan ketika langit benar-benar gelap. Selain itu ada beberapa jenis twilight : civil, nautical dan astronomical. Civil twilight adalah saat paling terang setelah matahari tenggelam, sedangkan astronomical ketika langit hampir gelap, tapi masih menyisakan warna terang, biasanya warna biru gelap (beda dengan biru langit di siang hari)

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...