Showing posts with label Skyscape. Show all posts
Showing posts with label Skyscape. Show all posts

11 October 2022

Jalan Pagi Seminyak - Kuta

Pagi ini kembali bermain ke pantai pagi-pagi, selagi ada kesempatan dan bisa bangun pagi. Masih dimulai dari pantai Seminyak, dan menuju ke arah pantai Kuta.

Seperti kemarin, sisa-sisa air di pantai masih memberi pantulan pemandangan langit dan awan tipis yang indah.

Hari ini aku perhatikan mulai banyak wisatawan yang belajar selancar, atau mungkin ada juga yang sudah mahir dan memanfaatkan waktu pagi untuk berselancar.

Sampai di pantai Kuta, ada banyak batu-batu besar di pinggir pantai. Entah ini karena sedang ada renovasi atau memang batu ini ada di sini. 

Saat sampai di Kuta, langsung ada ibu-ibu pedagang souvenir yang menawarkan barang dagangan. Karena memang aku pengen punya oleh-oleh, jadi ya aku beli saja. Aku beli gelang kerang, gelang gaharu dan topi ala Bali (Udeng). Agak mahal kurasa, tapi ya mumpung masih mampu beli, aku gak nawar.

Berdasar pengalaman kemarin, jadi pagi ini aku gak pakai jaket, cukup pakai kaos rangkap biar gak masuk angin. 


Anjingpun bersantai di pantai ... asyik sekali rasanya.


Setelah sampai di pantai Kuta, karena sudah mulai siang, aku balik ke Seminyak tidak lewat tepi pantai, tapi lewat jalanan di sepanjang pantai, yang dipenuhi dengan deretan hotel dan restoran.


 Bangunan-bangunan di sekitar pantai ini beraneka ragam dan menarik, kebanyakan bernuansa khas Bali, tapi ada juga yang cukup modern.

10 October 2022

Jalan Pagi di Pantai Seminyak

Pagi ini aku bergegas bangun saat matahari sudah terbit agar bisa jalan-jalan ke pantai. Adanya alarm lumayan membantu, jadi aku sudah bisa bangun jam 6 meski semalam tidurnya lewat tengah malam juga. Karena Wendi tidak mau aku ajak jalan-jalan, jadi aku berangkat sendiri. Jarak pantai sekitar setengah kilo dari  hotel.


Tidak ada niat olahraga, murni jalan-jalan menikmati pantai yang masih sepi, tapi gak terlalu sepi juga. Ada orang-orang yang juga sudah berjalan-jalan, berdoa, atau sekedar mengajak anjing jalan-jalan.

Cuaca cerah dan sedikit ada awan. Hamparan air di bibir pantai memberi pantulan pemandangan yang bagus, seperti cermin atau danau yang tenang.

... sempat juga motret burung yang terbang ini ...

Meski masih pagi, udara pantai masih terasa hangat, beda dengan pagi hari di pegunungan yang dingin menggigit.

Ada beberapa muara sungai di sekitar pantai ini, tapi cuma kecil.

Saat matahari mulai beranjak tinggi, para pekerja hotel dan resort sekitar pantai mulai meletakkan bangku-bangku di pinggir pantai untuk para wisatawan. Aku belum sempat tanya berapa sewa bangku itu, atau cukup beli minuman atau apa. Toh aku belum berniat untuk nongkrong di situ. Duduk-duduk di pasir pantai saja sudah cukup.

Saat aku sudah hampir pulang, aku bertemu dengan Sendy dan keluarganya. Dia berasal dari Situbondo, dan bepergian mengunakan mobil sendiri biar bisa sekalian dengan keluarga besarnya - istri, anak, mertua dan ibunya. Keluarganya menginap di hotel tak jauh dari kami menginap, dan pagi ini mereka sama-sama piknik ke pantai. 

Aku sempat kenalan bentar dengan mereka dan juga memotret keluarga itu. Menyenangkan sekali.

Ada banyak anjing di pantai ini, tapi sepertinya semuanya jinak. Entah ini anjing liar atau ada pemiliknya. Kadang ada anjing yang datang bersama dengan pemiliknya, tapi kadang aku lihat ada yang berkeliaran sendiri. Aku sih santai saja, tidak merasa terganggu.

... mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir bersantai di pinggir pantai ...



Ini asli pantulan air, air yang masih tersisa di pantai setelah sebelumnya ombak datang dan membasahi pasir dan tidak langsung hilang. Jadi bukan air laut yang menggenang. Kalau air laut justru sulit membuat pantulan pemandangan seperti ini karena pasti beriak dan berbuih.

... selamat pagi, good morning ... 

... rasanya memang cukup melegakan bisa melihat pemandangan alam yang lepas seperti ini. Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati suasana ini. 

Pokoknya saat ini, sebanyak mungkin aku berharap bisa menikmati hari demi hari, agar bisa selalu bersyukur dan tidak selalu mengeluh dengan masalah hidup. Ada terlalu banyak alasan untuk bersyukur dan berbahagia, di tengah banyaknya keinginan yang tidak terwujud. Jangan sampai ambisi, apalagi emosi/amarah, yang kita miliki, membuat kita kehilangan waktu untuk bersyukur dan menikmati saat-saat yang indah. 


 Kurang lebih satu jam aku di pantai, terus balik jalan kaki lagi ke hotel, mandi dan sarapan di hotel bersama-sama, sebelum mulai acara dari kantor.

31 December 2021

Akhir Tahun 2021

Suasana menjelang senja dari atap rumah di hari terakhir tahun 2021. Tidak ada rencana apa-apa untuk menyambut pergantian tahun ini, mengingat pandemi masih belum terlihat mereda. Ya di rumah saja.


Pemandangan sunset/senja terakhir tahun 2021 dari atap rumah. Langit cerah, tidak banyak awan.


 Meski tidak banyak acara akhir tahun, tapi masih banyak juga warga yang merayakan malam pergantian tahun masehi ini, setidaknya di rumah masing-masing, dengan menyalakan petasan dan kembang api. Malam hari aku sempat iseng melihat kemeriahan (baca: kebisingan) di langit malam ini. Sedikit hiburan di masa pandemi, semoga tahun depan bisa lebih baik dan pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir.

Amin!

18 November 2021

Bulan Purnama di Situ Bungur

Malam yang cerah ditambah bulan purnama yang terang, sayangnya kamera ponsel tidak bisa menangkap bentuk bulan dengan bagus, membuat pemadangan cukup dramatis di Situ Bungur.


Malam ini aku dan anak2 sengaja mampir sebentar di sini sambil nunggu pesanan makan malam, tapi gak berani lama-lama, selain lapar, juga kuatir masuk angin hehehe.


 Sebenarnya El dan Fe ingin lebih lama bermain di sini, tapi mereka nurut juga waktu aku ajak pulang. Anak-anak senang bermain di luar termasuk saat malam hari, apalagi kalau di tempat yang jarang mereka kunjungi saat malam, sebagai alternatif biar gak bosan di rumah. Sayangnya, orangtua biasanya banyak kuatir. Sabar ya nak, sementara mainnya di rumah saja.

13 July 2021

Good Sunset

Menikmati senja dari atap rumah, keindahan sederhana yang cukup untuk melepaskan syukur dan menikmati waktu yang ada. 


Mensyukuri hal-hal yang sederhana ini bukanlah melarikan diri dari masalah, tapi menjadi penyeimbang dalam menghadapi berbagai tekanan/masalah hidup yang ada.

 

12 March 2021

Sore itu ...

Ya, hanya sebuah sore, di antara banyak sore dengan beragam variasi sunsetnya.

warna senja yang khas, dengan semburat lembayung berwarna jingga, kemerahan sesekali bercampur biru langit, akan terasa makin mempesona saat ada awan yang memantulkan cahaya senja itu.


 Di atas atap, tidak harus ada kopi untuk menikmati senja. Yang penting tidak hujan hehehe.

15 August 2020

Situ Bungur - Pasca Revitalisasi

Kembali menikmati senja bersama anak-anak, setelah proyek revitalisasi dihentikan - lebih tepatnya sudah selesai. Tempat favoritku adalah sisi timur, tempat yang pas buat melihat sunset.


Tanpa alat-alat berat terkait proyek, orang-orang lebih leluasa menikmati danau dan bermain, apalagi seputar danau sudah ada jogging track yang memutar, -- sebelumnya juga ada, tapi kurang rapi -- dan lebih bersih karena masih baru. Salah satu kekurangannya hanyalah kurang hijau, karena pepohonan yang dulu ada di sekeliling danau sudah banyak berkurang.



 

02 January 2019

Catatan Akhir Tahun 2018 - Liburan Penuh Kebersamaan


Liburan tahun ini mungkin menjadi liburan paling tidak menyenangkan sejak kami menikah. Aku menyebutnya sebagai liburan penuh kebersamaan, -- di mana semua anggota keluarga terkena sakit flu. Berawal dari kecapekan, terus kena virus flu (batuk, pilek, meriang) membuat kami semua terkapar. Sejak sampai di Kediri aku sudah merasa kurang enak badan dan ingin lebih banyak istirahat. Tapi karena El dan Fe masih tampak sehat dan bermain gembira, aku sedikit mengabaikannya.

Tapi ketika El mulai menunjukkan gejala yang lebih parah - batuk pilek dan beberapa kali muntah, aku juga tidak bisa mengabaikan kondisiku. Beberapa hari El tiduran saja karena lemas - menolak untuk makan dan minum susu. Meskipun dia merengek minta minum susu, tapi susunya sama sekali tidak diminum. Kondisi yang cukup menyedihkan, mengingat sebelumnya kalau El sakit tidak pernah sampai tampak begitu lemah. El sempat diperiksa di RS. Baptis Kediri, dan untunglah hanya didiagnosa sebagai flu, jadi tidak perlu rawat inap.

Kondisi Fe meskipun tidak parah tapi tetap saja tidak menyenangkan. Pilek dan batuk yang dia alami cukup mengganggu dan membuatnya sulit untuk tidur nyenyak. Akibatnya sepanjang malam sering terjaga, dan membuat kami juga ikut terjaga dan sulit istirahat secara maksimal.


Hampir selama 4 hari kepalaku sakit karena pilek dan meriang. Batuknya sendiri aku rasa belum terlalu mengganggu saat awal, lebih seperti batuk karena masuk angin. Tapi pileknya membuat kepala nyut-nyutan lumayan parah dan susah tidur. Baru setelah 2 hari berturut-turut aku hajar dengan parasetamol (Ultraflu), rasa pusing dan meriang mulai berkurang. Perjalanan pulang ke Jakarta bisa aku lalui tanpa nyeri di kepala, meski badan masih terasa masuk angin parah.

Istriku juga kena flu, begitu juga dengan Andre. Karena kelelahan, Eyang Kakung kambuh sakitnya dan harus dibawa ke RS. Jadi kami pulang ke Jakarta tidak diantar oleh Eyang Uti karena harus menunggu Eyang Kakung di rumah sakit.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, El tidak banyak bermain. Meskipun sesekali mengajak jalan-jalan di sepanjang gerbong, tapi dia lebih banyak tiduran di kursi. Untunglah kursi sebelah kosong sepanjang perjalanan, jadi dia bisa istirahat dengan cukup tenang sepanjang perjalanan - bahkan agak kesulitan memintanya bangun saat kereta sudah tiba di Jakarta. Sebaliknya dengan Fe, mungkin karena pilek yang mengganggu, lebih rewel saat pulang dibanding saat berangkat. Beberapa kali Fe menangis dalam perjalanan dan tidak mau diam, terpaksa istriku menggendongnya jalan-jalan di sepanjang gerbon dan juga di bordes.



Semoga tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya, liburan kita bisa lebih menyenangkan, dan lebih variatif.

16 October 2018

Ke Jakarta Aku Kembali


Baru kali ini aku benar-benar merasa ingin segera meninggalkan Jogja dan kembali ke Jakarta. Selain karena tanggung jawab keluarga, rindu dengan duo bos kecil, juga karena suasana di Jogja (lebih tepatnya di rumah dalam masa berduka) memang kurang menyenangkan. Alasan yang cukup egois sebenarnya.


Semalam aku beli tiket pesawat dari Jogja ke Jakarta lumayan mendadak,dan sempat gagal. Untung pagi harinya aku segera sadar kalau pesanan tiketku dibatalkan dan segera mencari pengganti. Untunglah masih dapat tiket meskipun berangkatnya agak siang dan bukan tiket paling murah. Ya sekali-kali naik Citilink.


Aku berharap bisa melihat gunung Merapi saat lepas landas dari Bandara Adisutjipto ini, dan hampir terwujud karena pesawat berangkat ke arah timur terlebih dulu. Sayangnya meski cuaca cerah, tapi gunung itu tertutup awan. Lagipula aku tidak duduk pas di pinggir jendela, jadi susah juga memotretnya. Tapi pemandangan waktu pesawat berbelok lumayan menarik, bisa menangkap sebagian landskap kota Jogja dari udara.


Sepanjang perjalanan cuaca cerah, langit biru dengan sesekali gumpalan awan putih.

Sampai di Jakarta naik bis Damri biar irit, turun di Lebak Bulus sudah menjelang maghrib. Dari situ naik Go-Jek saja biar lancar, apalagi ini jam sibuk saat orang-orang pulang kerja.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...