Showing posts with label Lake. Show all posts
Showing posts with label Lake. Show all posts

20 December 2022

Jalan pagi ke Situ Bungur

Pagi yang cerah, cocok buat jalan-jalan di danau sambil berjemur dan menikmati pemandangan sederhana.

Biar gak jenuh, aku dan Fe pergi jalan-jalan sebentar di danau berdua saja, El gak ikutan. Kami jalan kaki saja dari rumah, terus berkeliling satu kali putaran, dan lanjut pulang.



 Anjing yang cukup ramah yang ada di sekitar danau.

17 December 2022

Senja di Situ Parigi - Pondok Aren

Kembali nongkrong di Situ Parigi, pas menjelang matahari terbenam, siapa tahu dapat golden hour yang menakjubkan.

Air danau tampak berkurang, padahal bukan musim kemarau juga, tapi mungkin memang hujan sedang jarang turun.

Sungai di ujung danau juga tampat kering, tersisa aliran kecil, Kalau niat bisa nyari ikan di sana, pasti ada.



Pemandangan senja yang ditunggu, dengan siliuet peopohnan dan tower BTC menjadi salah satu ciri khas danau ini.




 Jalan setapak sekeliling danau sudah tampak rapi meskipun kecil, setelah direnovasi beberapa waktu lalu. Lumayan nyaman buat jogging keliling.

12 December 2022

Senja Situ Bungur

Masjid yang baru di tepi Situ Bungur dengan dua menara yang menjulang membuat pemandangan senja jadi tidak terlalu monoton.

Kelelawar mulai keluar dan sarang dan berkeliaran, termasuk di sekitar danau.

Rumah di tepi danau, kalau ada balkonnya bisa enak tuh buat ngopi pagi atau sore sambil menatap danau yang tenang meski kecil.

 

28 August 2022

Kembali Mengunjungi Situ Gintung

Salah satu pohon yang cukup iconic di Situ Gintung, sejak dulu sudah ada dan memberi pemandangan yang menarik. Tidak heran kalau lokasi pohon ini dipakai untuk meletakkan nama bendungan ini.

Pagi ini sepulang dari gereja, aku naik angkot ke arah Ciputat dan turun di Situ Gintung karena penasaran dengan keadaannya saat ini. Sudah cukup lama aku gak mengunjungi tempat ini, bahkan seingatku aku belum pernah mengajak anak-anak ke sini.

Ternyata bagian bendungannya sedang ada renovasi, padahal biasanya tempat ini ramai dikunjungi masyarakat. Melihat bagaimana revitalisasi dilakukan di Situ Bungur dan Situ Parigi, aku membayangkan tempat ini bakal lebih keren lagi. Tapi harapanku ternyata meleset. Tidak banyak perubahan yang aku lihat di danau ini, kecuali jogging track yang lebih rapi (dulu juga sudah ada), dan bagian barat yang lebih rapi (dulu jadi tempat memelihara ikan dengan karamba).


Melihat rumah-rumah di pinggir danau jadi penasaran, sepertinya enak juga tinggal di sini, setiap hari bisa "healing" dengan nongkrong di pinggir danau yang airnya tenang dan sekitarnya masih rindang penuh pepohonan. Ya asal gak pergi keluar jalan naik mobil saja, bakal stres dengan kemacetan di sepanjang Jl. Juanda - Ciputat hehehe. Kondisi jalanan itulah yang membuatku hingga saat ini belum pernah mengajak anak-anak ke daerah ini, malas menghadapi ruwetnya lalu lintas, apalagi panas.

Makanya aku lebih sering ajak anak2 ke Situ Parigi yang lebih jauh dibanding Situ Gintung, tapi jalanannya masih nyaman.

Dari kejauhan tampak ada rombongan yang sedang mengadakan acara, sepertinya sih camping atau mungkin outbond, dan juga bermain perahu karet. Suara pengeras suaranya terdengar sampai seberang, dan ada juga acara musik.


Tempat inilah yang aku rasa mengalami perubahan paling mencolok, tapi ya hanya dibersihkan saja. Dulu tempat ini tampak kumuh dengan karamba-karamba untuk beternak ikan.


Tapi di bagian ujung barat ini, sepertinya khusus disediakan bagi para pemancing. 


Keluar dari kawasan danau, aku coba masuk ke kawasan wisata Pulau Situ Gintung. Memang agenda hari ini adalah semacam "survey" kalau kapan-kapan ada waktu buat ajak El. Agak jauh dari jalan juanda, meski bisa ditempuh dengan jalan kaki, ada tempat rekreasi berisi berbagai wahana air.


Di sebelah tempat rekreasi Pulau Situ Gintung tadi, ada kawasan kuliner dan outbond, tapi kelihatannya sedang ada masalah hukum terkait penggunaan lahan. Di beberapa tempat kau bisa lihat adanya papan pengumuman tentang kepemilikan dan larangan untuk menggunakan tempat ini tanpa ijin. Tempat penjualan loket untuk masuk areal outbond juga ditutup, meski ada jalur lain. Agak anehlah. Saat aku masuk, ada kurang lebih tiga kelompok pengunjung sedang mengadakan acara di sana, termasuk camping dan semacam reuni.


Tahu gini sih gak perlu beli tiket 10 ribu, toh ada "jalan tikus" yang gak dijaga begini.



 Pulangnya aku jalan kaki menyusuri trotoar sepanjang jalan Kertamukti, yang sudah lumayan rapi dan ada beberapa tempat duduk, dan melewati RS Hermina, tempat dulu Fe dilahirkan.

19 July 2022

Kembali Berkeliling Situ Parigi

Situ Parigi di siang hari yang agak mendung, pas hari kerja jadi lumayan sepi meski ada beberapa anak sekolah yang nongkrong di sini.

Hari ini kembali ngajak anak-anak jalan-jalan di sini biar gak bosen di rumah. Kali ini kami berjalan memutar searah jarum jam, dari jembatan lengkung lebih dahulu, baru ke arah air terjun dan balik.




 Seperti biasa, sebelum pulang nongkrong dulu di parkiran, beli cemilan dan minuman.

02 April 2022

Situ Parigi Setelah Revitalisasi

Untuk pertama kali aku mengajak anak-anak ke Situ Parigi, sekaligus juga ini pertama kalinya aku berkunjung kembali ke danau buatan ini setelah ada revitalisasi di tahun 2020. Kalaupun sebelumnya aku pernah berkunjung, itu sekedar lewat jadi belum tahu sejauh apa revitalisasi dilakukan. Aku membayangkan, kalau Situ Bungur yang jauh lebih sederhana bisa menjadi lebih menarik, pasti Situ Parigi ini bisa lebih bagus lagi.

Tampilan awal jelas lebih bagus, ada gerbang dan parkiran yang cukup luas. Dulu tempat ini tertutup, atau lebih tepatnya seperti kebun yang susah dijelajahi. Sekarang jadi rapi dan menarik untuk dikunjungi.

Selain gerbang, sekeliling danau juga sudah full ada jogging track dengan conblock mengelilingi danau, dan taman-taman di beberapa tempat yang menambah keindahan tempat ini. Apalagi hampir seluruh pinggir danau masih penuh dengan pepohonan rindang, meski ada beberapa bangunan penduduk tapi tidak terlalu menonjol.

Dulu ada pulau di tengah-tengah danau, tapi dihilangkan dan danau juga dikeruk agar bisa menampung air lebih banyak. Sebenarnya sayang juga danau itu harus dibuang, padahal tidak terlalu besar, harusnya bisa dimanfaatkan untuk wahana wisata yang lebih berdaya guna.

Oh ya, jangan terkecoh dengan tampilan air danau yang tampak begitu bersih dan bening. Di sana ada sampah, meski tidak terlalu banyak, tapi air danau ini bersumber dari sungai-sungai di atasnya yang sudah bercampur dengan berbagai limbah, terutama limbah rumah tangga yang begitu banyak. Banyaknya limbah ini bisa terlihat di bagian bendungan, dimana gelembung sabun tampak begitu melimpah. Juga di bagian hulu danau tampak banyak sampah menggenang. 

Meski demikian, tetap tidak mengurangi keindahan danau dan danau ini tetap layak untuk jadi tempat rekreasi dan refreshing.

Kami berjalan berkeliling danau, yang jaraknya hampir 2x lipat kalau mengelilingi Situ Bungur, tapi anak-anak tidak terlalu mengeluh. Mereka sempat menjumpai ada beberapa kambing mencari makan, dan mencoba memberi makan anak kambing itu dengan dedaunan yang ada. 

Ada orang, entah petugas resmi atau hanya warga sekitar, yang sepertinya sedang membersihkan permukaan danau dari sampah-sampah yang menggenang. Memang ada beberapa jaring dipasang di tepi danau untuk menangkap sampah, tapi entah seberapa efektif itu.

Di bagian barat, ada perkampungan warga yang cukup padat, dan ada yang memelihara kawanan angsa dan dilepas bebas di pinggir danau. Terus terang aku agak takut dengan binatang ini, lupa apakah dulu pernah diserang atau tidak, tapi kebiasaan mereka yang tidak ramah membuatku sedikit waspada. Sementara anak-anak lebih cenderung cuek, aku mencoba berjalan hati-hati agar tidak mengganggu mereka. Sepertinya para angsa ini juga bersikap waspada melihat kehadiran kami.


Satu lagi yang menyenangkan di sini adalah adanya beberapa toilet umum, selain tempat buat nongkrong, dan juga ada beberapa mushola. Ada juga rumah adat betawi, entah apakah rumah warga, atau rumah untuk pajangan (budaya), aku belum sempat menggali informasi. Di depan rumah itu ada semacam teras yang bisa dipakai buat menggelar acara di tepi danau.


Secara keseluruhan, ada 3 jembatan yang harus kami lewati saat mengelilingi danau ini. Karena kami masuk dari arah selatan dan berjalan memutari danau berlawanan dengan arah jarum jam, jembatan yang pertama kami temui adalah jembatan di sisi utara, menyeberangi sungai kecil tempat keluarnya air danau. Sungai kecil itu relatif kumuh, debit airnya kecil jadi sampah lebih banyak berserakan di sana. Jembatan pertama ini dari besi, dan sudah ada sejak danau belum direnovasi.

Selanjutnya jembatan kedua ada di utara juga, persis di atas bendungan. Dari besi dengan pelindung rapat, karena di bawahnya adalah sungai yang lumayan besar tempat sebagian besar air danau ini mengalir pergi.

Jembatan ketiga adalah jembatan baru ini, jembatan yang sedikit melengkung, dari besi juga, untuk melewati sungai tempat masuknya air dari arah selatan. Mungkin karena bentuknya menggembung ke atas, Fe agak takut-takut saat menyeberangi jembatan ini.

Di tempat parkir ada beberapa warung, juga ada beberapa sarana buat duduk dan bermain anak. Jadi selesai mengelilingi danau, anak-anak bersantai dulu smabil menikmati jajanan dan minuman. Sejauh ini, tempat ini nyaman, dan penduduk sekitar juga terlihat ramah.

Ada terlihat dermaga sederhana, dengan sampan kayu yang juga sederhana, tapi El begitu penasaran ingin naik ke atasnya. Tentu saja aku tidak mengijinkan, jadi mereka hanya menongkrong di sini saja.

Sejauh ini, aku rasa revitalisasi Situ Parigi ini sudah sangat bagus, menjadikan tempat ini jadi tempat rekreasi sederhana tapi menarik di pinggiran Jakarta yang sudah lumayan sumpek. Karena anak-anak masih susah mengingat nama danau, kami menyebut tempat ini sebagai danau jauh (karena lokasi agak jauh dari rumah), sedang Situ Bungur sebagai danau dekat (karena sangat dekat rumah).

 

13 March 2022

Beli Anak Ayam di Situ Bungur

Minggu pagi, kembali aku dan anak-anak jalan-jalan mengelilingi Situ Bungur, wisata murah meriah dekat rumah apalagi saat cuaca cerah dan segar.

Entah sejak kapan, tapi sepertinya tiap minggu pagi mulai rutin ada kelompok ibu-ibu (karena seragam pasti bukan spontan) yang melakukan senam pagi di pinggir danau bagian timur. Sayangnya, aku sering menemukan sampah bekas botol atau gelas plastik berceceran di lokasi, seperti tidak ada yang peduli. Entahlah.

... langit cerah dengan sedikit awan putih ...

Kali ini aku turuti keinginan anak-anak untuk membeli mainan, dan mainan yang dipilih adalah anak ayam. Maininan ini kakinya bisa bergerak, secara manual, tanpa baterai. Pakai per yang diputar, tipikal mainan jadul. Meski sederhana, tapi karena ini pertama kali mereka punya mainan seperti ini, anak-anak tetap bersemangat dan senang. Salah satu wujud dari bahagia itu sederhana (lha memang yang bilang rumit sapa?).

Pulang dari danau gak langsung ke rumah, tapi mampir dulu di lapangan untuk bermain dengan anak-anak ayam itu. Belum puas main rasanya, meski sudah mengelilingi danau sekali putaran.


 

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...