Showing posts with label Bridge. Show all posts
Showing posts with label Bridge. Show all posts

25 September 2022

Nostalgia di Skybridge Semanggi

Ini adalah jalan menuju skybridge (jembatan penghubung) yang menghubungkan halte Bendungan Hilir di koridor 1 ke halte Semanggi di koridor 9. Dulu, demi menghemat biaya, aku gak masalah untuk berjalan melintasi jembatan ini, sambil memandang lalu lintas di bawah dan juga pemandangan sebagian pusat kota Jakarta. Pada masanya, jembatan ini menjadi salah satu jembatan transit terpanjang, meski masih kalah dengan jembatan Dukuh Atas yang saat ini sedang direnovasi.

Secara umum tidak ada yang berubah dari jembatan ini, bentuk dan terutama lantainya masih seperti dulu. Dulu paling sebel kalau harus melintasi tempat ini, melelahkan, apalagi saat panas terik dan membawa tas yang berat, disertai kondisi pikiran yang suntuk sehabis ketemu client. 

Hari ini sih beda, justru aku enjoy jalan di sini, karena tanpa beban apa-apa, malah hitung-hitung olahraga. Di usia seperti sekarang, berjalan kaki saja sudah sangat berguna untuk membantu vitalitas, karena jarangnya kesempatan untuk bisa olahraga.


 Yang agak beda adalah kondisi di sekitar Plaza Semanggi, salah satu mall yang pernah ramai jaman dulu, bahkan sering dianggap sebagai penyebab kemacetan di daerah ini, tak terkecuali di hari Minggu. Sementara sekarang, mungkin karena pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berakhir, sekitar mall ini tampak sepi. Mirip dengan kondisi di Blok-M Mall.

27 August 2022

Pasar Lama Kota Tangerang

Masinis kereta Bandara sedang bersiap-siap memberangkatkan keretanya di St. Duri, Jakarta. Hari ini aku ingin menjelah kota Tangerang dengan naik Commuter Line dari St. Duri, cukup sekali langsung sampai ujung tujuan.

Mungkin karena hari Sabtu pagi, kereta arah ke Tangerang agak sepi, jadi aku bisa menikmati perjalanan yang cukup lama tanpa terlalu capek. Seingatku, ini pertama kali aku naik kereta sampai ke St. Tangerang. Agak mengejutkan, sebagai stasiun di kota besar (ibukota provinsi), bangunan stasiun ini tidak terlalu megah. Dibanding dengan stasiun-stasiun yang sudah direnovasi seperti Kebayoran Lama atau Palmerah, jauh kalah megah. Terlalu sederhana.

Padahal kalau dari catatan ini, stasiun ini sudah berusia lebih dari 100 tahun, jauh sebelum republik ini berdiri. 

Ah, aku seperti de javu melihat jembatan ini. Entah kapan, samar-samar aku ingat pernah mengunjungi tempat ini, dan nyaris tidak ada perubahan. Aku ingat bentuk jembatan, serta masjid di sebelahnya. Mungkin ini kenangan saat aku pertama kali ke  daerah Tangerang untuk test masuk ke Politeknik Gajah Tunggal di daerah Cikokol, setelah lulus SMA. Sayangnya waktu itu gak punya kamera, juga belum ada ponsel, untuk mengabadikan perjalananku, tapi samar-samar aku ingat soal jembatan ini. Yang khas menurutku adalah adanya beberapa persimpangan dalam JPO ini. Ya, aku yakin pernah berkunjung ke kota ini, meskipun tidak naik kereta. Detailnya sih lupa.

Tanpa tujuan yang jelas, aku jalan kaki saja, memandang jalanan semrawut dari atas jembatan penyeberangan dan dari atas tampak jembatan yang melintang di Sungai Cisadane. Akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki  menuju Pasar Lama Kota Tangerang, yang katanya cukup populer.

Sekilas melihat jalanan ini mengingatkanku pada jalan malioboro, deretan toko. Tapi adanya dekorasi lampion, meskipun bukan musim Imlek, agak mengingatkanku dengan jalanan di Chinatown, Singapore, meski dalam versi lebih sederhana. 

Karena siang hari, tidak banyak yang berjualan di pinggir jalan. Aku jalan kaki saja menyusuri jalanan ini, tanpa tujuan, cuma menjelajah. Meski tidak banyak, tapi tampak juga beberapa pejalan kaki yang sepertinya juga "turis lokal" sepertiku.

Aku memilih belok ke jalan ini, yang menghubungkan jalanan utama tadi ke jalanan di tepi sungai Cisadane. Ada warung kopi di samping tikungan, sepertinya nyaman buat nongkrong dengan bangunan yang masih tampak seperti jaman kolonial. Kapan-kapan lah.

Kali Cisadane yang tampak lebar ini kelihatan tenang. 

Di daerah ini, kita bisa jumpai beragam rumah ibadah seperti kelenteng dan vihara dengan arsitektur gaya lama ,.. dan tentu saja ada masjid dan gereja.

Beberapa rumah dihias dengan mural yang cantik, tapi tak sedikit juga, terutama di bagian agak dalam, bisa dijumpai rumah-rumah yang sudah rusak tak terawat.

Kuil Boen Tek Bio, salah satu bangunan bersejarah.

Penasaran dengan kuliner di sekitar kuil Boen Tek Bio, aku nyoba nasi campur yang dijual di Kedai Khoe, tak jauh dari tempat itu. Sederhana, tapi tetap enak. Tidak semewah nasi campur di mal Central Park yang dulu sering aku makan, tapi justru rasanya terkesan "otentik", seperti khas kampung. Warungnya agak sempit dan waktu aku datang, meski masih ada bangku kosong, tapi penjualnya sibuk sekali, jadi nunggu agak lama.

Tidak hanya bangunan kuil/klenteng yang memiliki nilai sejarah, tapi masjid di Kalipasir juga memiliki nilai sejarah karena dibangun sekitar abad 16, dan dianggap sebagai masjid tertua di Kota Tangerang.

Berjalan di sepanjang sungai ini jadi membayangkan sungai ini dimaksimalkan sebagai tempat wisata, tentu harus dijaga kebersihannya. Kalau di Singapura bisa ada wisata menjelajah sungai Singapura, mungkinkah bisa ditiru di sini? Atau sudah pernah dilakukan tapi kurang dikelola dengan baik? Soalnya sempat lihat ada dermaga juga, tapi sepi.

Mungkinkah bisa dibuat semacam transportasi umum dengan memanfaatkan sungai ini, sebagai alternatif transportasi darat yang rawan macet? Entahlah.



Masih belum puas menjelajah kota ini, setidaknya kapan-kapan mungkin bakal menjelajah ada apa di sekitar sungai di sebelah utara dari jembatan "pelangi" ini. Untuk kali ini, sudah capek, jadi aku segera balik ke stasiun Tangerang dan kembali ke rumah pakai commuter line yang murah meriah, meski waktunya lebih lama karena memutar ke Jakarta.


 

23 July 2022

Kemayoran

Penasaran, hari ini aku mencoba menjelajah (sebagian) daerah Kemayoran. Dari St. Jakarta Kota, aku naik bis TransJakarta yang ke arah Sunter. Bis melintas Jl. Gunung Sahari, belok ke jalan Angkasa, lewat Ghra Askrindo, jadi ingat dulu pernah ada client di sini dan beberapa kali meeting. Juga melintasi jembatan layang di samping gereja Reformed yang cukup megah. Turun di halte HBR Motik.

Dari halte aku jalan kaki, sepanjang jalan ada jalur pejalan kaki yang cukup lebar, tapi sepi. Ada taman tapi seperti tidak terawat juga.

Dugaanku tiang-tiang ini ditujukan untuk menghalangi kendaran (mobil, motor dsb) untuk melintas di trotoar, tapi entah mengapa begitu banyak dan posisinya termasuk acak.

Jalan layang dihias dengan cat warna-warni, khas dengan "pembangunan" Jakarta saat ini, penuh warna, berhias, instagrammable, entah apakah berdampak baik bagi kesejahteraan warganya atau tidak.

Selanjutnya aku melintas di samping Jl. Benyamin Sueb yang sangat tidak ramah pagi pejalan kaki karena susah mencari jembatan penyeberangan orang. Aneh juga, seingatku di tepi jalan ini ada jogging track yang bagus, tapi mengapa di ujungnya kondisi seperti ini ya. Setidaknya banyak pepohonan membuat tempat ini lebih asri, tidak gersang sebagaimana layaknya banyak tempat di Jakarta.

Kereta kuda sedang beristirahat di samping Jl. Benyamin Sueb. Sepertinya ini ditujukan untuk wisata, bukan untuk transportasi umum. Oh ya, aku sempat lihat ada beberapa orang duduk/nongkrong di pinggir jalan, sepertinya mereka mengharap rejeki dari orang-orang (kaya) yang lewat, meski tidak terang-terangan mengemis.

Nah, ini tujuan utamaku, cafe Roemah Sarapan. Beberapa waktu lalu Dessy menawarkan untuk ketemuan di sini, tapi karena aku "tersesat", jadinya batal dan mencari alternatif tempat lain. Makanya aku penasaran dengan tempat ini, jadi hari ini aku ke sana.

Di sini aku coba menu sop buntut bakar dan juga kopi ala V60, cuma ada varian kopi Bali Kintamani. Secara umum, rasanya lumayan, kopinya juga enak. Setidaknya gak merasa rugi dengan harga yang sekelas harga makanan di mall. Tempatnya juga cukup nyaman, setidaknya saat aku datang agak sepi, jadi tidak terlalu bising.


 Selesai makan, aku jalan lewat jalur lain, mengitari apartemen Spring Hill, terus tembus lewat underpass di bawah jalan HBR Motik. Balik lagi ke halte busway yang sama dengan pas aku datang, terus naik bis kembali ke arah St. Kota.

Kesimpulan, daerah ini agak sedikit membingungkan jika ditempuh dengan jalan kaki atau sepeda, misalnya. Selain jalan raya yang sangat lebar, tidak adanya akses menyeberang jalan yang berdekatan dan mudah.

09 April 2021

Servis Motor Ditinggal Ngemall

Di masa pandemi, aku malas sekali servis motor, harus nyari waktu yang pas agar anak-anak mau ditinggal di rumah. Belum berani untuk ajak mereka keluyuran. Nah saat ini ada kesempatan, setelah lebih dari 3 bulan gak servis. 

Berhubung antrian servis lumayan banyak, aku tinggal ke Bintaro Plaza, sekalian makan siang.

Meski jembatan penyeberangan di sisi timur mal ini sudah sering aku lihat, tapi baru kali ini aku menyeberangi jalan memakai ini.

Mall tampak sepi meski ada pengunjung dan banyak toko yang buka. Bioskop yang masih tutup jadi salah satu penyebab sepinya mall ini juga.


 Setelah muter-muter dan milih-milih mau makan apa, pilihan jatuh ke rice bowl Yoshinoya. Pas makan ada telpon dari bengkel, katanya ada masalah dengan shock depan, entah apa detilnya, total biaya bisa 500an. Ya sudah, aku iyain saja, terima beres lah.

Pas aku selesai makan, motor belum selesai dioprek. Aku perhatikan teknisi bolak-balik membongkar besi di porok bagian depan. Katanya sudah karatan dan dia coba bersihkan. Setelah selesai, hampir habis biaya 1 juta, termasuk bermacam spare part dan ganti oli. Begini resiko kalau jarang servis.

27 December 2019

Mudik 2019 : Hari Ke-6, Taman


Sejak dulu, kota ini minim angkutan kota (angkot), bahkan sebelum era transportasi online. Sebagai alternative, masih banyak becak beroperasi. Dengan maraknya ojek online, keberadaan mereka makin diabaikan, apalagi jumlah mereka yang sedikit dan jadwal operasional yang pendek. Ini aku ajak El naik angkot untuk pertama kali, pas sepi.


Meski tujuan kami adalah Taman Brantas, tapi kami turun di seberang sungai Brantas, melintasi jembatan lama. Jembatan lama masih digunakan meski kebanyakan yang melintas adalah becak dan roda dua. Fisik jembatan masih bagus, hanya kayu-kayu di bagian untuk pejalan kaki banyak yang perlu diganti.


Di samping jembatan Brawijaya yang baru ini ada 2 taman : Taman BMX Arena dan Taman Brantas. Seperti namanya, satu taman khusus untuk mereka yang ingin bersepeda gaya bebas, juga skateboard dan lainnya.


Cuaca pagi yang panas terik ini tak mengurungkan minat beberapa anak untuk bermain. El sendiri tampak antusias, sayangnya gak bawa sepeda. Tapi kalaupun bawa ya belum bisa nanjak-nanjak begini.


Di bawah jembatan baru yang melintas Sungai Brantas ini, ada yang menyewakan skateboard dan otoped. Sempat minat mencoba, akhirnya El mengurungkan niat karena sulit. Untung orangnya baik, gak perlu bayar duluan, boleh nyoba dulu.   Sewanya 10 ribu saja.


Taman Brantas ini cukup asri dan masih terawat, masih baru. Katanya sih ramainya kalau sore hari, ya wajar, soalnya kalau siang begini (ini baru jam 10), panas terik luar biasa. Mungkin karena pepohonan belum terlalu rindang.


Tempat nongkrong ini katanya juga ditujukan sebagai alternative pengganti taman di alun-alun, yang sempit. Selain tempat nongkrong dan lari,ada toilet umum dan kandang merpati. Lengkap! Kalau kurang, ya monggo nyemplung ke sungai Brantas hehehe.


El bolak-balik naik turun di "lubang" skateboard itu, sampai capek ngikutinnya. Soalnya dia gak bisa naik sendiri karena licin dan curam, jadi harus aku topang.


Pembangunan jembatan ini sempat mangkrak bertahun-tahun, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali tahun 2018 dan berhasil diresmikan bulan Maret tahun ini. Tampak kokoh dan megah meski tidak mewah dan diberi nama Jembatan Brawijaya.


Overall,  bermain di Taman Brantas cukup menyenangkan.


Rupanya El masih ingin bermain di penangkaran rusa. Jadi biar gampang nunggu ojek, aku ajak jalan menyeberang sungai Brantas dan menunggu di Taman Harmoni Kediri.


Sampai di tempat penangkaran rusa langsung disambut oleh pedagang kangkung. Salah satu pedagang langsung mengenali El dan berkata "Eh, datang lagi". Seperti kemarin, kami membeli kangkung lumayan banyak, toh masih terhitung murah dan menyenangkan bagi El.





Pulangnya aku lagi-lagi mengajak El jalan kaki, memang tidak nyaman dalam cuaca yang panas terik. Tapi biar dia terbiasa, toh harusnya tidak terlalu jauh dan ada pemandangan sawah yang bakal jarang dia temui di Jakarta. Tapi ya itu, kalau diajak jalan gini El malas-malasan, jalannya lambat dan sering berhenti karena capek.


Lagi-lagi El minta bermain di taman yang baru saja dibangun di lapangan Sukorame, diberi nama Taman Sukorame. Kecil dan berisi sedikit sarana bermain, dan menurut si ibu baju merah, taman ini memang belum diresmikan.

Aku amati kota Kediri sedang membuat banyak taman kota. Baguslah, jadi makin asri.

NB: meski sepanjang jalan El mengeluh capek, tapi sesampainya di rumah dia bukannya istirahat, tapi masih aktif bermain.

06 February 2016

Menjelajah St. Palmerah


Sejak renovasi gedung Stasiun Palmerah menjadi lebih megah dan "modern", aku belum pernah menjelajah dari ujung ke ujung. Biasanya cuma lewat saja, mampir turun/naik kereta. Hari ini ada sedikit waktu longgar, jadi aku sempatkan untuk jalan-jalan bentar di stasiun yang tidak terlalu luas ini.


Ini jembatan penyeberangan di sebelah timur stasiun, yang menghubungkan stasiun dengan kompleks Senayan. Adanya jembatan penyeberangan seperti ini, di kedua sisi yang merupakan jalan raya, adalah solusi sangat tepat karena bisa mengurangi kemacetan. Sebelum ada jembatan penyeberangan seperti ini, solusinya adalah dengan lampu bangjo, yang meskipun membantu tapi sangat tidak nyaman, apalagi mental pengguna lalu lintas di kota ini yang hobi menerobos lampu merah.


Seorang bocah berpose, atau bermain ya :-?, di depan mesin tiket otomatis. Baru pertama kali ini aku lihat mesin seperti ini di Indonesia, mungkin karena sudah lama aku gak bepergian dengan kereta api. Tapi melihat lebih banyak yang antri di loket biasa ketimbang di mesin ini, sepertinya menunjukkan sosialisasi penggunaan mesin ini agak kurang. Atau jangan-jangan memang fungsinya beda kali ya? Sayang aku belum sempat meneliti lebih rinci fungsi dan cara penggunaan mesin itu.


Di ujung utara ada toilet dan juga mushala (prayer room). Toiletnya bersih dan rapi, mudah-mudahan selalu terawat dan nyaman seperti itu. Ada beberapa kursi untuk nongkrong atau menunggu, tapi tidak banyak. Mungkin perlu lebih banyak lagi kursi-kursi untuk calon penumpang bisa beristirahat sembari menunggu kereta yang sering datang terlambat, apalagi tempat ini terbilang sangat lega (kosong).


... ini mas petugas keamanan lagi main petak umpet kali ya hehehehe ....


Salah satu pedagang asongan yang masih bertahan berjualan di dalam kereta api meskipun sudah ada larangan dari pihak PT KAI. Aku perhatikan ada beberapa emak-emak yang berjualan seperti ini, dan "kucing-kucingan" dengan petugas, meskipun sebenarnya para petugas juga sudah tahu. Mungkin dalam tahap tertentu, para petugas berusaha menutup mata, asalkan tindakan pedagang asongan ini tidak terlalu mencolok dan mengganggu. Entahlah.


Kereta sudah datang! Untung ada mas-mas berbaju merah jambu yang "nyetop" kereta itu hehehe ... gak lah, dia melambai ke masinis. Meskipun sudah ada renovasi bangunan utama stasiun, tapi tetap saja ada bagian peron yang berada di luar bangunan utama. Meskipun ada atap penutup, tetap saja para penumpang dengan mudah akan kepanasan saat cuaca panas, dan kena hujan ketika hujan lebat turun.

Overall, menurutku stasiun yang baru ini adalah yang paling bagus, tentu saja dalam kapasitas pengetahuanku yang terbatas. Bahkan dibanding St. Gambir ataupun St. Sudirman, masih lebih bagusan ini, cuma fasilitasnya saja yang mungkin tidak selengkap St. Gambir atau St. Kota. Oh ya, satu lagi yang menarik adalah bangunan stasiun yang lama masih tetap dipertahankan dan digunakan, jadi unsur sejarahnya masih terpelihara.

Majulah perkeretaapian Indonesia!

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...