Showing posts with label Fashion. Show all posts
Showing posts with label Fashion. Show all posts

16 August 2022

Agustusan di TK - Baju Daerah

Berkaitan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI tiap bulan Agustus, hari ini sekolah Fe meminta para murid mengenakan baju daerah. Fe pakai kebaya saja, yang simpel.

Beberapa teman Fe tampak mengenakan baju adat berbagai daerah, tampak sangat menarik.

Menurutku, bulan Agustus lebih pas untuk acara seperti ini, ketimbang bulan April (hari Kartini), untuk mengenalkan anak-anak pada beraneka ragam budaya di nusantara, yang berbeda-beda dan menjadi kekayaan bangsa.


 Merdeka!

11 May 2022

Seragam TK


Pagi ini ke sekolah anak untuk nyobain seragam yang akan dipakai buat tahun ajaran depan. Berbeda dengan kakaknya yang masuk sekolah sejak playgroup, Fe mulai masuk ke TK kecil saja. Selain dia kemampuan bicaranya lebih lancar dibanding kakaknya, juga ada teman sebaya di rumah membuat komunikasinya lebih baik, jadi gak perlu buru-buru masukin ke sekolah.

Ada 5 stel seragam yang berbeda dan akan dipakai dalam seminggu, jadi setiap hari pakai baju yang beda. Ukuranya agak baku, jadi kami memilih ukuran yang kira-kira paling sesuai buat Fe. Badannya kecil, jadi lebih mudah nyari seragam yang cocok, dan sengaja nyari yang agak longgar biar bisa bertahan sampai 1-2 tahun ke depan.

15 April 2022

Makan Siang di Foodpedia Pasar Modern Sektor 7

Fe sedang mengaduk kopi hitam yang aku pesan siang ini sebelum makan. Makan siang kali ini aku ajak Fe ke Pasar Modern Bintaro Sektor 7, biar gak jenuh di rumah juga. Sempat bingung mau makan di mana, akhirnya mencoba di Foodpedia.

Aku mencoba menu nasi goreng, sedang Fe hanya makan kentang goreng. Rasanya lumayan.

Mungkin karena masih pandemi dan juga bukan pas jam makan siang, jadi tempat ini sepi. Mumpung sepi, Fe bebas menjelah lantai dua.

Sekali-kali bergaya sambil (pura-pura) minum kopi, aku minta tolong Fe untuk motret.


 Secara menyeluruh, desain cafe ini cukup menarik, khususnya yang lantai atas, meski sederhana tapi mencoba agar terkesan hijau. Sayangnya, pilihan atap membuat suasana agak gerah, meski ada ruangan khusus yang ber-AC. Selain itu, pelindung yang minimalis membuat tempat ini basah kuyup jika turun hujan deras.

14 April 2022

Sehari di Jakarta Bersama Fe

Pagi ini aku mengajak Fe untuk jalan-jalan di Jakarta, tepatnya ke Tanjung Duren, sekalian untuk mengisi waktu saat kakaknya pergi ke rumah nenek bersama Bunda. Fe tidak diajak mudik karena belum mendapat suntikan vaksin, jadi berdua saja di rumah bersamaku. Kami berangkat ke Jakarta menggunakan Commuter Line dari Stasiun Jurangmangu.

Gerbong kereta masih cukup sepi, jadi Fe bisa mendapat tempat duduk, apalagi masih ada pembatasan jumlah penumpang terkait PPKM meski sudah mulai longgar. Aku sempat bingung waktu Fe bertanya, kapan masuk terowongannya. Belakangan baru ingat kalau yang dimaksud Fe adalah MRT karena dulu mereka pernah diajak naik MRT dari Lebak Bulus ke Senayan, jadi sempat masuk ke terowongan.

Kami turun di Stasiun Palmerah, terus pindah menggunakan taksi online (GoCar). Meski jam kerja, tapi jalanan masih cukup lancar.

Tujuan utama kami ke Jakarta kali ini adalah untuk mengambil surat pindah. Sebelumnya kami masih terdaftar sebagai warga DKI meski sudah pindah domisili ke Tangsel. Kami malas mengurus surat pindah sehingga kalau ada kegiatan terkait wilayan seperti Pilkada dan juga vaksinasi, kami masih sering dipanggil ke sini. Belakangan, kata pak RT, pihak terkait mulai ketat dalam pendataan warga mereka, apalagi kami sudah tidak ada tempat tinggal di sana.

Hingga suatu saat ketika mendaftar sekolah El di SD, pihak sekolah sempat mempertanyakan format Kartu Keluarga yang masih memakai format lama, ada kekuatiran kalau tidak diakui oleh dinas pendidikan terkait. Ketika kami mencoba mengajukan cetak KK, melalui sistem online, pengajuan kami ditolak, karena dianggap sudah tidak tinggal di wilayan itu. Pak RT setempat juga sudah tidak bisa membantu, mungkin karena kami jarang berkunjung (dan bayar iuran), karena pandemi jadi jarang pergi-pergi. Akhirnya kami putuskan untuk melakukan mutasi kependudukan ke Tansel. Tahap pertama adalah mengajukan surat pindah, yang bisa dengan mudah dilakukan secara online melalui sistem disdukcapil Jakarta Barat.

Kami cukup isi data melalui aplikasi Alpukat Betawi, termasuk mengisi kapan waktu untuk mengambil surat pindahnya. Proses sangat lancar, dan hari ini kami hanya mengambil suratnya saja. Karena masih pandemi, kami tidak perlu masuk ke kantor kelurahan, cukup memberi info ke satpam yang bertugas, dia yang lapor dan mengambil surat itu untuk kami. Lima belas menit beres.

Dari kantor kelurahan aku ajak Fe jalan kaki ke Mal Central Park, sekalian nostalgia dulu sering jalan ke sana untuk makan siang. Lewat ke rumah pak Budi/bu Warni, tapi rumahnya tutup.

Karena sudah lapar, aku langsung ajak Fe ke tempat makan. Tujuan utama adalah foodcourt Urban Kitchen, tapi ternyata tutup karena sedang renovasi. Jadi aku ke tempat ramen saja, Ikkudo Ichi, biar bisa makan ramen haram hehehe.

Meski ada beberapa pengunjung, tapi tempatnya relatif sepi.

Aku pesan dua porsi ramend, satunya berkuah pakai daging babi, satu lagi tidak berkuah pakai daging ayam, maksudnya buat Fe.

Tapi ternyata Fe lebih memilih ramen yang pakai kuah, meski makan ramennya dikit, tapi dia cukup menikmati kuahnya. Dagingnya sih aku yang makan karena dia masih gak suka makan daging. Aku sempat minta dia makan sedikit telur yang ada. Lumayan lah, setidaknya dia juga bisa enjoy makan, jadi aku gak cuma makan sendirian.

Habis makan kami jalan-jalan sekitar mal, dan tentu saja menyempatkan untuk mampir di tempat kolam ikan koi yang ikannya besar-besar.



 Setelah puas bermain, kami kembali ke rumah. Naik taksi dari mal ke Stasiun Palmerah, kemudian lanjut naik kereta sampai Stasiun Jurangmangu, kemudian naik motor ke rumah.

Perjalanan yang melelahkan tapi menyenangkan dan urusan juga tuntas. Tahap selanjutnya adalah mengurus surat datang di Tangsel agar bisa membuat KK dan KTP baru.

21 September 2021

Sekolah Tatap Muka Terbatas

Setelah sekian lama melakoni sekolah secara online, yang dianggap membosankan oleh El karena hanya menatap layar hape, hari ini masuk sekolah lagi meskipun dengan waktu dan jumlah siswa yang terbatas. Sekolah menerapkan protokol kesehatan, mulai dari screening sebelum masuk, cek suhu (termasuk pengantar) dan cuci tangan sebelum masuk sekolah. 

Untuk masuk ke dalam sekolah juga bergiliran, agar tidak terjadi kerumunan. Yang bikin aku agak kesal adalah dapat jadwal masuk pagi, jam 8.30, padahal biasanya aku baru bangun jam 8 paling cepat hehehe.

Pelajaran tatap muka hanya dilakukan dalam waktu satu jam. Saat pulang juga dilakukan bergiliran, satu per satu. Meski sebentar dan jumlah teman yang lebih sedikit, El jauh lebih menikmati pertemuan langsung ini dan semangat untuk datang ke sekolah lagi. Jadwalnya memang tidak penuh masuk, hanya Senin dan Selasa, selebihnya tetap dilakukan secara online.


 Menikmati teh kotak dulu sebelum pulang.

02 October 2020

Pakai Batik di Hari Batik Nasional

Fe mengikuti gerakan kakaknya El saat mengikuti upacara bendera secara online. Untuk memperingati hari Batik Nasional, para murid dianjurkan memakai baju batik, meskipun sekolah tetap dilakukan secara online.



 El masih kurang antusias mengikuti pelajaran online, jadi harus diawasi dan dibimbing. Dia hanya semangat kalau diminta mengerjakan sesuatu.

16 June 2020

Masker - Outfit Wajib di Masa Pandemi

Mengajak anak untuk mengenakan masker saat bepergian adalah tantangan tersendiri. Jangankan bagi anak-anak, orang dewasa saja sering menganggap masker itu merepotkan dan enggan memakainya. Untunglah El dan Fe termasuk mudah disuruh memakai masker. Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang Corona, Covid-19, virus, sakit dan sebagainya - yang bahkan sejauh ini tidak mereka pahami. Aku cukup "mengancam", kalau gak mau pakai masker ya gak boleh main hehehe. Sempat ada tetangga yang "memuji", karena mereka juga mengalami kesulitan meminta anak mereka yang masih kecil memakai masker.



Bagi sebagian orang, memakai masker adalah pemaksaan, pengekangan akan kebebasan. Bagiku, setidaknya di masa pandemi ini, memakai masker adalah pilihan untuk berperan bagi diri sendiri dan orang lain. Ini adalah salah satu tindakan murah meriah yang bisa kita lakukan untuk ikut "berperang" melawan pandemi Covid-19, selain tentu saja dengan "rebahan" di rumah.

Lagipula, memakai masker itu tetap bermanfaat, terlepas adanya virus Covid-19 atau tidak, mengingat bagaimana kondisi polusi udara di sekitar kita saat ini. Jadi membiasakan memakai masker akan bermanfaat ke depannya, untuk kita lebih peduli menghadapi polusi udara yang sulit dihindari.

NB: masker yang dipakai saat ini memang sekedar fashion, tidak memenuhi kaidah kesehatan, tapi aku rasa sudah cukup lumayan untuk melatih mereka. Saat bepergian lebih jauh, misal ke pasar, aku akan meminta mereka memakai masker yang lebih aman.

01 March 2018

Mencoba Berlari (Lagi)


Sepatu ini aku beli sudah lama, harusnya lebih dari dua tahun lalu karena saat itu belum punya anak. Seingatku aku baru 1-2 kali memakai sepatu ini, karena memang jarang olahraga, terutama lari. Selain masalah stamina, dan kaki yang gampang sakit saat lari terlalu lama, juga makin lama sulit mencari waktu luang - dan lebih tepatnya sulit mendapat motivasi untuk olahraga.

Pagi ini aku iseng untuk mulai lari pagi, mumpung El sedang tidur, cuaca cerah, dan istriku sedang cuti. Biasanya tetangga berolahraga ringan dengan jalan/lari keliling kompleks, tapi aku merasa ragu. Jadi aku putuskan untuk lari di jalan raya, meskipun target awal tidak terlalu jauh. Dua-tiga km rasanya sudah cukup.

Belum ada 1 km, aku sudah merasa capek dan menyerah. Persis di depan McD Menjangan, aku berhenti dan mulai jalan kaki. Mendadak pandangan berasa kabur dan berkunang-kunang, dan yang paling menyakitkan adalah dada rasanya sangat sesak serasa akan meledak. Andai aku ada di lapangan atau rumah, pasti aku sudah langsung merebahkan diri. Untuk tak jauh dari situ, di Bambini, ada tempat aku bisa duduk sejenak. Setelah nafas mulai teratur barulah aku lanjutkan perjalanan. Kadang lari, kadang jalan, dibawa santai saja - ketimbang tumbang di pinggir jalan bakal lebih memalukan hehehe.


Layaknya pemula amatir, biasanya kalau olahraga ujung-ujungnya beli makan juga. Pas kebetulan lewat penjual buah langganan, jadi mampir beli pisang, jeruk dan salak. Aku "cuma" beli jeruk 2kg, tapi ada dua orang yang berkomentar "Kok beli jeruk banyak banget".

Btw, terkait dengan rasa capek dan pandangan berkunang-kunang yang aku alami tadi, ada penjelasan menarik yang aku dapat dari Pak Widarto.

6 menit pertama masih ada cadangan udara di paru-2. Setelah cadangan udara habis, terasa engap. 
Kalau diteruskan, mulai saat itu paru-2 mengambil udara langsung dari udara bebas, lalu diproses menjadi oksigen. Nah, saat itulah yang namanya "latihan" aerobic dimulai.  
Maka latihan aerobic [melatih paru-2 menggunakan udara langsung dari udara bebas dengan berlari sebaiknya minimal 6 menit . . syukur bisa > 12 menit[ kalau jalan kaki ya harus lebih lama lagi, karena cadangan udara habisnya juga lama ]

23 December 2015

Lari Pagi di Bintaro Exchange


Lahan kosong dekat kompleks yang dalam sudah mulai dipersiapkan untuk pembangunan apartemen. Aktivitas pembangunan belum terlalu tampak, tapi truk-truk pengangkut tanah sudah mulai hilir mudik di jalanan, dan sedikit banyak agak mengotori jalan raya.

Bukan soal pembangunan apartemen yang ingin aku ceritakan di sini, tapi soal lari pagi. Hari ini aku putuskan untuk mencoba lari pagi, mumpung lagi libur.


Ini sekaligus menjajal sepatu baru yang aku beli dua minggu lalu, pas lagi ada diskon, jadi dapat harga 100 ribu kurang seribu. Meskipun model ini tinggal satu-satunya, tapi untunglah ukurannya pas dan aku cek kondisinya masih lumayan.


Lama tidak pernah olahraga membuat staminaku benar-benar jeblok. Baru sampai 800 meter nafas dah mau putus dan terpaksa berhenti. Yang paling parah adalah betis kaki bagian bawah, dekat pergelangan rasanya langsung ngilu dan kaku. Benar-benar memalukan, untung lari sendirian :)


Awalnya aku cuma mau mengitari mall Bintaro Exchange, tapi karena aku lihat ada beberapa orang yang masuk mall dengan kaos dan celana olahraga, aku jadi penasaran ikutan masuk ke taman di sebelah timur mall itu. Ternyata ada beberapa orang yang sedang berolahraga di dalamnya.


Kalau tidak ramai, tempat ini sangat nyaman untuk berolahraga. Jalur larinya rapi dan nyaman, lingkungan taman juga asri dan menarik, meskipun kebanyakan pohon masih belum terlalu rindang. Beristirahat di sini juga tampak nyaman, langit terlihat bersih, rumput terawat rapi. Jadi seperti lagi gak di Jakarta, eh ... kan memang ini di Tangsel ya hehehehe.


Satu lagi yang membuatku tertarik adalah adanya tempat refleksi kaki seperti ini. Jadi setelah kaki pegal berlarian, bisa sedikit relaksasi menginjak kerikil-kerikil tumpul di tempat ini dan merasakan pijatan di telapak kaki. Sayangnya waktu sudah terlalu siang, jadi aku gak sempat berlama-lama di sini. Setidaknya ini bisa jadi acuan kalau suatu saat ada waktu santai.


Perjalanan pulang aku melewati padang rumput di tanah kosong sebelah St. Jurangmangu dan mendapati beberapa kepik di rerumputan, Lady Bug alias Bapak Pucung.

11 September 2014

Gladi Resik Peragaan Busana Thailand


Beberapa hari ini ada latihan peragaan busana di atrium utama Mall Central Park, dengan tema fashion dari Thailand. Awalnya aku cuek aja, karena melihat sekilas kok wajah-wajah modelnya gak jauh kayak wajah orang Jakarta.


Tapi melihat sang instruktur (pria, tengah dengan baju warna-warni dan celana panjang hitam), berbicara dalam bahasa asing (dugaanku sih bahasa Thai), barulah aku berhenti sejenak dan nonton, meskipun cuma sebentar.


.... yup, wajahnya gak jauh beda dengan wajah model di negeri sendiri ....


#fashion #show #thailand #mall #centralpark #models

28 April 2014

Elementary School March


Pagi ini mendadak ada suara gemuruh seperti marching band, yang semakin lama semakin mendekat. Kucing-kucing mulai panik,dan beberapa langsung bersembunyi karena kehebohan ini.


Rupanya anak-anak SD Tanjung Duren Selatan sedang mengadakan pawai untuk memperingati hari Kartini.


Rombongan paling depan berisi anak-anak marching band, dengan berbagai alat musik. Tidak bisa dibilang rapi, tapi ya lumayan lah, usaha yang patut dihargai.


Setelah rombongan pemain musik berlalu, dibelakangnya anak-anak lain berbaris tidak rapi, masing-masing mengenakan beraneka ragam baju daerah, dari seluruh penjuru nusantara. Gak cuma baju daerah, ada juga yang memakai baju petani, seragam polisi dan lain-lain.

Tapi salut juga ada yang pakai baju ala Papua, meskipun diganti dengan tali rafia. Kurasa itu pakaian paling murah-meriah, gak perlu ke salon seperti baju adat lainnya.



Semula aku pikir pawai ini akan parkir di TK samping rumah, ternyata lanjut terus. Waduh, padahal ujung gang itu jalannya kecil banget, cuma cukup untuk dilewati motor. Kayaknya pawainya agak maksain biar lewat depan kantor kelurahan.

Belakangan aku mulai berpikir, mengapa hari Kartini diperingati dengan berbagai mengenakan pakaian adat daerah. Kartini kan tokoh pemikir emansipasi wanita, apa hubungannya dengan baju adat? Sementara justru hari Sumpah Pemuda jarang diperingati semeriah ini. Kayak gak nyambung dengan semangat Kartini. Ah sudahlah... mungkin sudah jadi tradisi, dan sayangnya para pekerja di dunia pendidikan cukup enggan meninggalkan tradisi dan kurang kreatif menggali semangat Kartini.

11 October 2013

Shoes & Incense Burner



Pagi-pagi yang cerah, cocok buat menjemur pakaian, termasuk sepatu, seperti yang dilakukan tetangga bosku di rumah sebelah. Iseng aja jepret deretan sepatu ini, soalnya warna-warninya cerah dan menarik.


Kalau ini tempat membakar dupa yang digantung di depan rumahnya, terlihat klasik.

31 July 2012

Kleo Collage July 2012


Di bulan Juli ini, Kleo sudah tidak banyak bertingkah. Paling-paling keluyuran seperti biasa, khususnya di dalam kamar mandi. Salah satu momen istimewa adalah istriku memberikan dasi kupu-kupu buat Kleo. Sayangnya dasinya terlalu besar, jadi kurang pas. Apalagi ternyata Kleo punya leher kecil meskipun perutnya buncit :D

17 June 2012

Kids Fashion Show

 Ketiga anak kecil ini sedang bermain fashion show di gang kontrakan. Dengan pakaian seadanya dan berdandan sendiri mereka bergaya layaknya ajang pemilihan putri Indonesia.
Kalau dipikir-pikir, ketiga anak ini memang cukup mewakili keragaman suku di Indonesia. Ayu dari Bali (kiri), Luna dari Bandung (tengah) dan Annisa dari Jakarta (kanan).

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...