Showing posts with label Animals. Show all posts
Showing posts with label Animals. Show all posts

06 September 2022

Bocah Cilik - Kucing Penginthil

Kucing ini aku panggil bocah cilik, sejak kecil sudah ada di teras mengikut emaknya. Sering berusaha menyelinap masuk rumah, baik saat pintu depan dibuka, atau kadang lewat loteng atas. 

Saat kami meninggalkan rumah untuk bermain di lapangan, dia masih tidur pulas. Tapi tak lama kemudian dia sudah muncul di lapangan, mengikuti kami.

Ya begitulah, dia hampir selalu mengikuti anak-anak bermain - entah di jalanan, di lapangan atau di mushola. Awalnya, saat dia mengikuti kami di lapangan (yang memang agak jauh dari rumah), dia jadi ragu saat kami dekati, seperti ketemu orang asing. Padahal jelas-jelas dia mengikuti kami, tapi gak mau dipegang. Tapi lama-lama dia semakin terbiasa dan tetap akrab meski sudah jauh dari rumah.


 Tapi kalau dia masuk rumah, aku segera menyuruhnya keluar. Soalnya dia nakal, kadang suka mengambil makanan di meja makan, padahal kucing-kucing di rumah tidak pernah begitu. Ya wajar sih, soalnya dia kan tinggal di luar, jatah makannya terbatas, beda dengan kucing yang ada di rumah. Tapi ya daripada merepotkan, mending aku minta dia tetap di luar rumah dan kami sediakan makan secukupnya.

Sekarang dia bukan lagi kucing kecil, tapi karena malas memberi nama, aku tetap memanggil dia "bocah cilik". Anak-anak kadang menyebutnya dengan Kitty.

02 July 2022

Jalan Pagi Dengan Sepatu Rusak

Pagi ini jogging pagi-pagi, start dari depan kampus UPJ, berhenti sejenak saat melihat pohon dengan warna hijau memanjang di rantingnya. Samar, karena cuaca agak mendung dan tempat agak jauh, tapi aku kira itu adalah ular hijau. Sengaja aku jogging bawa kamera, jadi aku motret. Meski kepalanya gak kelihatan, tapi sepertinya ini bukan sekedar daun. Aku beranjak pergi tanpa memastikan.

Melintasi samping stasiun Jurangmangu, aku menuju mal BXC, terus ke arah Taman Menteng. Melewati hutan di samping perumahan itu, yang sejauh ini masih dijaga (belum dijadikan cluster) sehingga cukup sejuk, dan jadi tempat mangkal beberapa ojek online.

Sejak pagi cuaca bercampur antara panas dan mendung.

Sampai arah Lotte Mall, aku belok ke arah Bintaro Sektor 9. Aneh juga melihat ada beberapa kuda dan penunggangnya melintas di jalan. Belakangan aku tahu mereka berkumpul di sekitar Giant, dan menawarkan jasa bagi anak-anak yang ingin naik kuda berkeliling.


 Dari perempatan dekat Harihari aku balik arah lagi ke mall BCX dan pulang, kali ini menyeberang lewat fly over di atas tol dan kereta api. Tampak sepatuku kondisi solnya makin parah, meski sebelumnya sempat aku lem. Padahal kali ini tidak banyak lari, lebih banyak jalan kaki. Ya memang kualitas lemnya juga bukan yang khusus untuk sepatu, jadi  wajar kalau gampang rusak.

Setelah ini sepatu ini aku buang, toh masih ada beberapa sepatu lain yang selama ini aku simpan tapi jarang dipakai.

18 April 2022

Kucing Roro Melahirkan Lagi (Kali Ketiga)

Setelah hamil beberapa lama, hari ini kucing Roro, kucing betina mungil bermata satu, melahirkan keempat bayinya di keranjang kucing yang sudah disiapkan Andre. Kucing ini sudah pernah 2 kali melahirkan, masing-masing selalu 4 bayi. Sayangnya, semua bayi itu meninggal sebelum masuk usia sebulan, karena sakit mendadak.


 Dugaan kami, bayi-bayi kucing itu mati karena serangan kutu. Soalnya secara tempat, suhu dan makanan terjamin. Induknya rajin menyusui, kami juga berikan tempat yang nyaman agar mereka tidak kedinginan, dan tidak ada kucing-kucing lain yang sakit. Tapi memang saat itu, semua kucing memiliki kutu, termasuk kucing Roro. Sepertinya kutu-kutu ini menghisap nutrisi para bayi kucing sampai mereka gak bisa bertahan.

Belajar dari pengalaman ini, saat Roro kembali hamil karena belum sempat disteril, Andre mulai memberi obat kutu ke semua kucing di rumah. Kali ini agak lebih mudah karena semua kucing di rumah tidak terlalu akrab satu sama lain, jadi kami tidak terlalu kuatir kalau obat kutu akan terjilat oleh kucing lain. Meski demikian, kami memberi obat kutu ke tiap-tiap kucing dewasa secara bergantian.

Sebagai hasilnya, sekarang bayi-bayi kucing ini bisa lahir cukup sehat, dan tidak ada kutu yang menempel di mereka. Semoga kali ini mereka bisa bertahan sampai dewasa.

20 March 2022

Aneka Satwa di Situ Bungur

El sedang mengamati burung hantu yang dipamerkan di sudut Situ Bungur setiap akhir pekan, dekat pintu masuk yang ada di jalan Menjangan 3.

Selain burung hantu, ada juga biawak dan ular sanca berbagai ukuran. Semuanya jinak dan pengunjung diijinkan untuk memegang binatang-binatang itu, tentu dengan pengawasan para pawangnya.

Berbeda dengan kakaknya, Fe masih ragu-ragu dan takut untuk memegang hewan-hewan itu. 


Tidak cuma memegang biawak, El juga berani (dan senang) bermain dengan ular yang ada di sana. Mungkin juga karena beberapa waktu lalu ada kegiatan wisata bersama teman-teman TK dan salah satunya adalah bermain dengan ular sanca, jadi El makin berani. 


Aku sih senang-senang saja kalau anak-anak berani bermain dengan hewan-hewan liar, tentu saja yang sudah jinak, agar mereka tidak gampang takut. Tapi tetap was-was juga, dan harus mendampingi dengan bijak agar paham apakah binatang itu berbahaya. Jangan sampai semua ular dianggap jinak, padahal banyak yang berbahaya, jadi tantangan tersendiri juga untuk mengajar ke mereka kapan boleh bermain dengan satwa liar dan kapan tidak boleh.

28 December 2021

Kucing Roro Melahirkan - Kali Ketiga

 

Hari ini Roro, kucing betina mungil bermata satu, kembali melahirkan 4 bayi kucing di kandang yang sudah disiapkan. Andre belum sempat mensterilnya, dia sudah keburu hamil karena dia sering menyelinap keluar rumah lewat loteng di kamar atas.

Ini bukan pertama kali Roro melahirkan karena sebelumnya dia sudah 2 kali melahirkan, jadi ini adalah kali yang ketiga. Sayangnya, semua bayi kucing baik yang pertama dan kedua, mati sebelum mencapai usia satu bulan. Uniknya, setiap melahirkan pasti ada 4 ekor. Bayi-bayi itu mati cukup mendadak, tidak ada tanda-tanda sakit.

Dugaan sementara adalah karena kutu kucing, yang memang waktu itu ada sangat banyak. Nah saat Roro hamil untuk ketiga kali ini, Andre segera memberi obat kutu ke kucing ini, juga ke kucing lain di rumah termasuk Kleo, Ujo, Lilo dan Lolo. Jadi saat Roro melahirkan kali ini bisa dibilang rumah sudah bersih dari kutu kucing.

Update: 
Keempat bayi kucing ini bisa melewati masa lebih dari 3 bulan dengan sehat dan tanpa kutu. Oleh anak-anak mereka diberi nama Olaf (yang putih), Bleki (yang abu-abu), Geri (yang orange putih) dan Kyutipai (yang dominan orange).

23 December 2021

Kucing Kleo - Pipi Bengkak

Tak lama setelah Kleo aku kurung di kandang karena insiden tivi jatuh, aku lihat wajah sebelah kanan jadi bengkak. Jadinya aku keluarkan dia dari kandang, tapi sebisa mungkin aku suruh dia tetap berada di lantai atas.

Awalnya aku menduga matanya yang bermasalah dan menjadi bengkak, bisa karena virus atau bakteri, seperti yang sering kami temui pada kucing-kucing liar di jalanan. Dulu ada kucing tetangga yang bengkak matanya seperti ini dan kami bawa ke dokter, kata dokter harus dioperasi biar tidak menjalar ke yang lain. Alhasil satu bola matanya diambil. Tapi kata seorang aktivis Steril Yuk, meski matanya tidak bisa disembuhkan, tidak harus lewat operasi, karena lama-lama akan lepas sendiri. Cuma gak tega juga. 

Mirip dengan Roro, yang kemudian dirawat oleh Andre dan dibawa ke dokter untuk dioperasi. Kami duga Kleo mengalami sakit yang sama, tapi saat itu kami tidak berencana membawanya ke dokter. Ya sudah tua ini, pikirku. Apalagi Kleo masih doyan makan.


 Setelah 3 hari, ternyata bengkak di wajah Kleo sudah mulai kempes, meski ada luka menganga di pipinya. Dugaanku luka itu akibat dia sering menggaruk dengan kukunya. Tapi justru luka itu membuat nanah (juga darah) bisa keluar, jadi ini bengkak bukan karena infeksi di mata, tapi di pipi, karena besar jadi hampir membuat mata tertutup. Matanya sendiri aman. Setelah luka terbuka, aku beri obat luka ala kadarnya, juga alkohol agar steril. 

Makin lama bengkaknya kempes, lukanya juga mulai kering dan menutup. 

Update:
Hampir berbarengan dengan pengobatan kutu dan jamur, makin lama bulu di bagian pipi Kleo juga tumbuh dan menutup sempurna seperti awalnya. Sekarang Kleo sudah sehat lagi, meski tidak aktif karena memang sudah tua, lebih dari 10 tahun.

07 December 2021

Kucing Menangkap Tikus

Malam ini di dapur sempat terjadi kehebohan, rupanya si kucing Roro sedang mengejar tikus dan berhasil menangkapnya. Tujuannya bukan untuk dimangsa, tapi sebagai kegiatan bermain atau mungkin olahraga. Setelah digigit, tikus akan dilepas, terus dikejar lagi, begitu terus. 


 Agar tidak berlarut-larut "menyiksa" tikus itu, aku berniat menangkap si tikus dan membuangnya. Tapi Roro gak mau melepas begitu saja. Saat aku coba melepaskannya dan menangkap, rupanya tikus itu masih cukup gesit dan bisa lari dan sembunyi.

Bertahun-tahun merawat kucing, aku sampai pada kesimpulan bahwa tidak semua kucing mau mengejar tikus. Hanya kucing-kucing yang masih energik bermain dan sangat aktif bergerak yang senang mengejar tikus (juga kecoa). Untuk kasus kucing di rumah, sudah pasti mereka mengejar tikus bukan untuk dimangsa, tapi sekedar buat mainan. Yang aku ingat, dulu Kleo dan Ujo pernah juga menangkap tikus. Tapi saat mereka semakin tua, mereka gak mau lagi. Biasanya kucing-kucing kecil dan remaja yang masih sangat aktif mengejar binatang lain, yang lebih kecil tentunya.

Makanya aku tidak terlalu heran kalau ada tikus dengan santai keliaran di selokan atau got dan kucing-kucing cuek saja, soalnya malas ;-). Sempat sih beberapa kali nemu tikus kecil mati di teras, ketika di teras ada kucing yang masih usia remaja.

07 April 2021

Bermain Figur Binatang di Lapangan

Mainan paus sperma yang dibeli kemarin langsung dibawa bermain ke lapangan esok harinya. Cuaca lumayan cerah meski habis hujan, jadi pas banget bawa mainan binatang air.

Biar lebih rame, gak cuma mainan baru, tapi mainan rame, termasuk beragam figur dinosaurus juga dibawa bermain. Mumpung lapangan lagi sepi juga.


 

26 December 2019

Mudik 2019 : Hari Ke-5, Rusa dan Renang


Kemarin El sempat melihat kolam renang waktu pulang dari Selomangleng, dan merengek untuk pergi berenang. Karena tidak ada agenda apa-apa hari ini, aku mengajaknya pergi berenang pagi ini. Syaratnya, berangkatnya jalan kaki, melewati areal persawahan, di cuaca yang sudah panas terik meski agak sejuk karena angin. Meski jarak hanya kurang lebih 1 km, tapi El agak malas-malasan jalannya, jadi makan waktu lama.


Saat memasuki kawasan Brigif 16 Wira Yudha, sudah ada beberapa pedagang di pinggir jalan, salah satunya menjual mainan gelembung sabun. Langsung saja El minta dibelikan dan semangat bermain gelembung sabun itu di taman dekat penangkaran rusa. Karena asyik dengan gelembung sabun, awalnya El tidak terlalu tertarik dengan rusa.


Di areal penangkan rusa ini ada banyak rusa, entah apa tujuan dan keuntungan penangkaran ini bagi pihak Brigif. Tapi yang jelas, adanya tempat ini memberi banyak manfaat bagi masyarakat sekitar : menjadi ajang pendidikan bagi anak-anak yang ingin mengenal satwa yang tidak mudah dijumpai di pemukiman ini, dan juga memberi pengalaman untuk kontak langsung dengan rusa sambil memberi makan kangkung. Bagi warga sekitar, ini memberi kesempatan untuk mencari rejeki, salah satunya dengan menjual kangkung, yang pastinya juga diambil dari petani sekitar. Udara yang masih sejuk dan penuh dengan pohon rindang membuat tempat ini juga nyaman untuk beristirahat.


Baru setelah bosan dengan gelembung sabun, El mulai tertarik memberi makan rusa - sampai habis sekitar 5 ikat kangkung. Per ikat dijual 2 ribu, dan 5 ribu dapat 3.


Di seberang penangkaran, tepatnya di lereng bukit Maskumambang sedang ada pekerjaan, entah akan dibangun apa. Moga saja pembangunan yang bermanfaat dan tetap memperhatikan lingkungan,  terutama bukit ini.


Akhirnya berenang juga di kolam renang milik Brigif 16/WY. Sepertinya kolam renang ini baru, kondisinya masih bagus, bersih dan terawat. Begitu juga dengan ruang ganti pakaiannya, lebih bagus dibanding yang selama ini dipakai El di BSD. Ada kolam khusus anak-anak dengan wahana permainannya, ada juga kolam renang umum untuk dewasa.


Tarif masuknya 12 ribu untuk dewasa dan 7 ribu untuk anak-anak. Ah, sangat murah dibandingkan dengan di Jakarta. Mungkin karena waktu liburan, jadi tempat ini ramai dengan anak-anak sekolah. Lucunya, El bertemu dengan salah satu orang tua yang menemani anaknya berenang, dan dia menganggap ibu itu adalah guru sekolahnya. Jadi aku sempat kaget waktu El nempel terus ke beliau, bermain dengan anaknya bahkan sempat dibopong oleh sang ibu. Waduh, malu juga. Untung beliau tidak masalah.


Rasanya pengen nyebur di sini, sayangnya tidak ada orang lain yang bisa mengganti untuk mengawasi El. Oh ya, aku sempat ditegur petugas karena memakai sendal  di lokasi kolam. Seharusnya sandal disimpan di rak sepatu yang disediakan.

Seperti dugaanku, agak susah mengajak El pulang. Waktu akhirnya dia mau diajak pulang, baru ketahuan kalau aku tidak membawa celana ganti. Aku hanya membawa baju ganti, handuk, popok dan celana dalam. Awalnya aku pikir El hanya akan berenang dengan celana dalam, tapi sampai di kolam renang aku suruh dia tetap memakai celana pendeknya.

Jadinya dia pulang hanya memakai baju dan celana pendek hehehe. Kami pulang naik ojek, yang kebetulan dapat driver perempuan. Untung jaraknya tidak jauh hehehe.


Usai berenang dan ganti baju di rumah, aku ajak El ke cafe untuk beli kopi dan makanan. Aku ingat kemarin dia merengek minta french fries, makanya aku cari tempat yang menjualnya tak jauh dari rumah. Tapi rupanya dia lebih tertarik bermain table hockey ketimbang makan. Yo wis, yang penting hepi.


Sebenarnya di menu tidak ada kopi hitam, tapi waktu aku tanya ternyata bisa dibuatin,meski konsekuensinya di struk ditulis manual hehehe. Belakangan aku kurang suka kopi susu ataupun kopi kreamer, perut sering mual.

04 June 2019

Ragunan Menjelang Lebaran


H-1 menjelang lebaran kami manfaatkan untuk jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, mumpung (seharusnya) belum terlalu ramai. Kami ingat beberapa tahun lalu saat lebaran, kunjungan ke tempat wisata ini sangat membludak sampai jalanan macet. Harapan kami bisa membuat El senang karena melihat binatang-binatang secara langsung.

Tapi ternyata El lebih berminat untuk bermain daripada melihat binatang.


Melewati kawasan burung-burung langka, bagus-bagus, sayangnya tidak punya waktu banyak untuk mengeksplorasi karena El sudah melaju lumayan cepat mendahului kami.


Melihat ini El langsung ingin naik, sayangnya belum beroperasi. Entahlah, tapi setidaknya tempat itu sepi dan kami memang tidak ada yang tertarik bermain di situ. Jadi beberapa kali aku mencoba mengalihkan perhatiannya. Bagaimana dengan Fe? Tampaknya dia belum paham, jadi ya ikutan saja.


Sejak awal El tampak berminat dengan buaya, karena dia memberi respon lumayan setiap bundanya menyebut kata crocodile (cekedai, kata El). Makanya kami coba langsung mengarahkan dia ke lokasi buaya, yang letaknya agak jauh dari gerbang utara. Sayangnya, sampai di lokasi kandang-kandang buaya tampak sepi. Seingatku, dulu ada agak banyak buaya berukuran besar. Setelah berputar-putar dan mencoba lebih cermat, memang ada beberapa buaya, tapi sebagian besar tampak bersembunyi, malah seperti berkamuflase. Seperti yang satu ini, hampir tertutup lumpur, kayak sudah bertahun-tahun tidak bergerak.

... dan ternyata El juga tidak terlalu berminat melihat buaya. Sepertinya perhatiannya cuma ada dua : mini zoo (yang ada di dekat gerbang masuk, karena banyak area bermain anak) dan kereta  yang berkeliling sepanjang kebun binatang.


Melewati satu kandang orang utang, tampak penghuninya kurang bersemangat. Mungkin karena masih pagi, atau memang sedang puasa hehehehe... Btw, belakangan baru sadar kalau di sebelah selatan ada kawasan khusus untuk primata, dan kami tidak sempat mengunjunginya. Pantesan saja beberapa kandang primata yang kami lewati tampak sepi, mungkin karena sudah dipindahkan.

Sampai di pusat oleh-oleh dan foodcourt, El sempat tertarik untuk membeli boneka. Setelah tanya-tanya harga, kami pastikan harga boneka yang dijual tidak terlalu mahal, wajar saja. Tapi alih-alih beli boneka, El memilih untuk membeli mainan gelembung sabun ini -- sama persis seperti tahun lalu waktu bermain di SeaWorld.

Baik El maupun Fe sangat gembira bermain gelembung sabun ini. Kebahagian sejati yang sederhana.


Sempat mampir sebentar melewati kandang gajah. El tetap tidak tertarik dengan binatang ini, dan mampir ke sini karena ingin membeli es krim.

Sempat ada pengunjung yang sendalnya jatuh ke parit di tepi kandang ini, dan meskipun sebenarnya bisa mengambil sendiri, tapi oleh pedagang di sekitar sana dianjurkan untuk memanggil petugas saja, lebih aman. Tak lama kemudian datanglah seorang petugas yang segera mengambilkan sandal tersebut.


Nah, akhirnya El menemukan tempat yang membuatnya betah - arena bermain. Awalnya dia tampak antusias ingin naik kereta api yang melintas di atas. Tapi setelah naik ke atas stasiun dan mendengar deru kereta, dia mundur, tidak berani. Bahkan di kereta api yang kecil yang berputar di bawah pun dia enggan untuk naik. Wah payah.

Satu-satunya permainan yang dia minati adalah bom bom car ini. Sampai lebih dari lima kali kami naik mobil-mobilan ini, semua coin yang dibeli dihabiskan untuk permainan ini. Itupun El tidak juga puas. Kami harus memaksanya untuk berhenti dan pulang. Tentu saja, perjalanan pulang penuh drama karena El menolak untuk pulang, dan aku terpaksa menggendongnya sampai gerbang masuk.

Oh ya, kami baru tahu kalau untuk masuk ke Kebun Binatang Ragunan ini wajib memakai Jakcard - kartu elektronik yang dikeluarkan Bank DKI. Tiket masuknya sebenarnya murah, hanya 6000 rupiah per orang. Jangan kuatir kalau tidak punya Jakcard, karena bisa beli langsung di sana. Waktu kami masuk, 3 orang dewasa 2 anak-anak + 1 tiket parkir, total bayar 45 ribu, dan dapat kartu baru Jakcard.

26 August 2014

Whip Scorpion


Baru kali ini aku melihat "serangga" seperti ini, tiba-tiba muncul dari bawah sofa waktu aku lagi kerja lesehan. Kaget banget waktu melihat dia merayap, karena sekilas bentuknya mirip dengan kalajengking. Bedanya dia gak punya sengat di ekornya, dan capitnya juga tidak segarang kalajengking.

Segera aku usir dia keluar dengan sapu, tapi tetap aku gak berani untuk membunuhnya. Jadi aku biarkan saja dia keluyuran di luar. Waktu ada tetangga yang melihat, dia juga penasaran binatang apa ini dan memintaku untuk membunuhnya, tapi aku biarkan saja.


Setelah aku coba googling sebentar, ternyata ini disebut sebagai Thelyphonida atau "whip scorpion", entah apa bahasa Indonesianya. Meskipun mirip kalajengking, tapi dia termasuk kelompok laba-laba dan katanya tidak beracun, meskipun ekornya bisa mengeluarkan cairan asam jika terancam.

Lewat bantuan google juga, nemu juga sebutan binatang ini dalam bahasa Indonesia, yaitu ketonggeng atau kalajengking cambuk.

16 October 2013

Fruit Bee


Seekor lebah mendadak hinggap di tangan kananku waktu aku lagi nunggu saat membeli sup buah dekat rumah. Aku pikir ini hanya lebah yang biasa berkerumun di buah-buahan, dan katanya lebah ini tidak terlalu berbahaya, makanya aku tenang saja.


Setelah beberapa kali mengambil gambarnya, baru aku mengusirnya. Bukan karena takut, tapi karena risih saja, lama-lama geli juga. Aneh-aneh saja kok mendadak lebah nempel di tangan.

13 October 2013

Cat in Aljunied Station


Kucing liar di Singapura tidak sebanyak kucing liar di Jakarta. Di sini malah lebih banyak burung liar terutama myna dan gagak. Hanya saja, beberapa kali aku lihat kucing di kota ini kok badannya besar-besar, gemuk dan terkesan terawat.


Karena menginap di daerah Geylang, kami sering mampir di stasiun Aljunied. Di sini ada 2 kucing liar, setidaknya selalu kami jumpai saat kami mondar-mandir di stasiun ini. Salah satunya berwarna abu-abu belang, dan dia sering tiduran saja di sekitar parkiran sepeda.


Satu lagi berwarna kecoklatan, dengan warna putih di bagian bawah, ini hobinya nongkrong di halte bis bawah jalur MRT. Kedua kucing ini jinak, mau diusap-usap dan merespon saat dipanggil. Waktu pertama kali kami melihat kucing-kucing ini, ada juga seorang bapak yang sedang bermain dengan mereka.

Penasaran juga, gimana aturan atau cara pemerintah mengatur soal kucing, baik yang liar maupun yang dipelihara.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...