I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
Showing posts with label Sleman. Show all posts
Showing posts with label Sleman. Show all posts
15 October 2018
Selamat jalan, mbah Uti
Meski namanya Sutarti, tapi kami dulu lebih mengenalnya sebagai mbak Tarti atau mbak Tik. Belakangan, pihak keluarga lebih sering memanggil beliau dengan sebutan Uti atau mbah Uti, - sementara bapakku dipanggil mbah Kakung. Beliau adalah ibu tiriku, yang sudah ikut merawatku sejak aku berumur sekitar 10 tahun.
Kemarin beliau meninggal, setelah menderita sakit kurang dari sebulan. Cukup mendadak, tapi langsung parah dan kondisi fisiknya menurun cukup drastis.
Aku cukup kaget juga karena ada teman-teman SMP yang ikut melayat, salah satunya Tuti Maryatun (yang suaminya kebetulan juga teman sekolah kakakku). Adanya silaturahmi di media sosial cukup berperan dalam memberitakan informasi ini. Aku sendiri sengaja tidak mengirim kabar ini ke linimasaku, tapi ternyata ada teman yang tahu dan menyampaikan ke group alumni. Lebih terkejut lagi saat ada karangan bunga dari keluarga KATY'96 yang disampaikan oleh mas Sengut yang rumahnya memang tidak terlalu jauh dari lokasi.
Karena aku jarang pulang kampung, banyak wajah-wajah yang datang melayat yang tidak aku kenal. Aku masih ingat beberapa nama saudara dekat (dan beberapa tetangga), tapi sebagian besar sudah tidak dapat kukenali. Bahkan ada saudara dari Surabaya yang waktu kecil sering main bersama, aku baru menyadari mereka saat mereka sudah hampir pulang.
Beliau dimakamkan di pemakaman desa tidak jauh dari rumah, di samping orang tua dan saudara-saudara yang lain. Aku sendiri malah sudah lupa lokasi pemakaman kampung itu, jadi sempat kaget karena lokasinya sebenarnya tidak jauh dari jalan raya.
Mengikuti iring-iringan jenasah ini membuatku teringat saat kecil dulu sering ikut mengantar jenasah ke pemakaman bersama teman-teman kecil, bukan karena bela sungkawa, tapi karena ingin mengambil uang receh yang disebar sepanjang jalan. Dulu pecahannya hanya 5 atau 10 rupiah, kalau beruntung bisa dapat 25 rupiah, tapi sudah sangat senang. Entah apakah tradisi menyebar uang receh ini masih dilakukan atau tidak, tapi yang jelas tidak ada lagi rombongan anak-anak kecil yang tampak mengikuti iringan jenasah.
Ada sedikit keunikan dari pemakaman mbah Uti ini. Atas informasi pihak keluarganya (yang selama ini merawat beliau saat sakit), katanya beliau ingin dimakamkan secara Islam, agar ada yang "nyelametin". Padahal sudah sejak tiga hari sebelum kepergiannya, mbah Uti sudah sulit berkomunikasi. Pihak keluarga kami tidak masalah, toh bagi kami cara pemakaman bukan hal yang utama, yang penting adalah saat beliau masih hidup.
Sebenarnya sekitar setahun sebelumnya, mbah Uti sudah memberi diri untuk dibaptis, dan pembaptisan dilakukan di GKJ. Waktu itu baik mbah Kakung maupun mbah Uti masih sehat. Makanya malam sebelumnya dari pihak gereja tetap mengadakan ibadah untuk melepas kepergian mbah Uti.
Selamat jalan, mbah Uti. Terima kasih untuk semua yang telah dilakukan selama ini.
Pagi Yang Biasa
Sekelompok burung pipit bertengger di kabel listrik yang membentang di areal persawahan, sepertinya menunggu kesempatan untuk mencari makan di sawah yang sudah hampir siap panen, tapi sedang ditunggu oleh petani.
Berniat menikmati cemlan yang aku beli di Pasar Denggung, tampak seekor kucing sedang bermain dengan tikus kecil. Tampaknya sih dia tidak berniat menjadikannya sebagai santapan, hanya sebagai mainan - meski akhirnya tetap saja tikus kecil itu mati juga.
Pagi ini cerah, meskipun semalam tidur cukup larut, tapi aku bisa bangun pagi karena kondisi rumah memang sedang sibuk. Mumpung belum terlalu ramai, aku putuskan jalan-jalan sebentar menikmati sejuknya udara di kaki Gunung Merapi ini.
Sungai tempat bermain di masa kecilku dulu, sudah berubah tapi tidak terlalu drastis, masih ada sisa-sisa yang bisa dikenang. Setidaknya sekitar sungai belum berubah fungsi menjadi bangunan beton. Btw, sungai diberi sekat-sekat seperti bendungan, entah untuk tujuan apa. Yang jelas di sini dulu kami sering berenang karena sungainya cukup dalam, apalagi untuk ukuran anak-anak sekolah dasar.
Sekarang sudah jarang terlihat ada yang memanfaatkan sungai ini untuk mandi atau mencuci. Di seberang jalan dari sungai ini, areal persawahan sudah diuruk dan dijadikan deretan ruko.
21 April 2018
Sejenak Melepas Rindu
Matahari baru saja menyapa bandara Adisucipto, Yogyakarta, menerpa tanah bandara yang masih tampak basah. Udara sejuk menyambut para penumpang pesawat yang datang tepat waktu dari Jakarta.
Sudah hampir 5 tahun aku gak pulang kampung, di Mlati, Sleman, Yogyakarta. Istriku cukup sibuk kerja dan punya waktu mudik hanya akhir tahun, dan aku memilih mengalah untuk selalu liburan di kota istriku. Kali ini aku sempatkan untuk berkunjung ke kota ini, menjenguk bapak yang sakit keras. Bawaanku tidak banyak karena nanti malam aku sudah kembali ke Jakarta.
Meski sekarang taksi online sudah ada di kota ini juga, aku memilih memakai angkutan umum saja. Dari bandara naik TransJogja, melewati tengah kota. Mumpung masih pagi, jalanan masih sangat lancar dan penumpang juga sepi, lumayan sedikit melihat-lihat tengah kota, sedikit mengobati rindu.
TransJogja hanya sampai Terminal Jombor dan dari sana aku harus ganti dengan angkutan Jogja-Tempel. Sudah lama angkutan ini gak pakai kondektur, sepertinya penumpang mulai berkurang jadi harus menghemat.
Aku sengaja tidak langsung ke rumah, tapi menuju Pasar Denggung. Tidak ada yang istimewa dengan pasar ini, tapi aku ingin menikmati sedikit jajanan pasar tradisional. Di sini jajanan bisa aku beli dengan harga lebih murah dibanding yang dijual di Jakarta. Tapi aku gak sampai borong, lha wong yang makan paling aku sendiri, ya ga akan sanggup. Dari pasar ini aku cukup jalan kaki sampai rumah.
Sudah lama juga aku gak baca koran edisi cetak. Dulu sempat beberapa kali beli koran Kompas edisi hari Sabtu yang lebih padat isinya, ternyata hanya sempat baca halaman depan+belakang dan judul-judul berita. Selain masalah waktu, dan lebih banyak waktu tersita di gadget, gangguan dari para kucing dan juga El menjadi alasan lain. Sejak itu aku malas beli koran cetak. Sementara bapakku, yang tidak kenal dengan dunia digital, masih setia berlangganan koran. Menikmati pagi di lereng Merapi sambil baca koran di teras adalah suatu kemewahan, sayangnya suasananya agak kurang mendukung karena kondisi bapak yang cukup menyedihkan. Kadang ada juga tetangga yang sengaja berkunjung ke rumah sekedar untuk membaca koran, dan ngobrol tentu saja.
Selain adanya beberapa (banyak) bangunan baru di kampungku ini, satu perubahan yang tampak mencolok adalah pembatas di tengah jalan raya ini. Keberadaannya memisahkan jalan raya yang cukup lebar ini, jalan raya yang seringkali padat oleh kendaraan yang melaju kencang karena jalanan lancar. Adanya pemisah ini sedikit banyak bisa membuat tertib, karena masing-masing sisi jadi hanya satu arah. Konsekuensinya, mempersulit kendaraan yang hendak menyeberang jalan, dan sepertinya fasilitas untuk berbalik arah jaraknya lumayan jauh. Bagi penyeberang jalan, ini jelas menguntungkan karena lebih memudahkan. Dulu aku sering sulit menyeberang karena luasnya jalan serta laju kendaraan yang kencang, jadi harus extra hati-hati.
Soal sakitnya bapak, sebenarnya sudah dimulai lebih dari setahun lalu, sejak beliau pulang dari Jakarta menjenguk El. Fisik yang mulai lemah ditambah beban mental karena kondisi kakakku membuat daya tahan tubuhnya melemah. Mulai muncul berbagai penyakit dan kali ini yang cukup berat adalah TBC kelenjar, persis seperti yang pernah aku alami. Ada benjolan di ketiak bapak dan setelah dioperasi baru ketahuan kalau itu TBC. Bapakku bukan perokok, tapi tentu saja bergaul dengan para perokok. Masalahnya, setelah operasi itu mulai diketahui ada beberapa masalah lain, jadinya komplikasi - termasuk beberapa organ dalam. Hal ini diperparah dengan kondisi emosi bapak yang jadi tidak stabil, enggan makan ataupun minum obat.
Bapak yang saat terakhir ketemu masih tampak gagah meskipun tidak kuat jalan jauh, kali ini tampak kurus kering. Karena jarang makan, tidak cukup tenaga yang dia miliki untuk berjalan dari kamar ke kamar. Meski demikian, aku berusaha untuk tetap positif, tidak ingin menunjukkan wajah sedih saat berbincang dengannya.
Sore hari semua anaknya berkumpul di rumah, meski tidak lama. Kami sempat makan bersama dan ngobrol bersama. Sebenarnya kami ingin menyampaikan kabar yang kami terima dari dokter, tapi akhirnya batal karena kuatir kalau bapak tidak siap dan malah makin membuat mentalnya jatuh. Jadi pertemuan ini hanya kumpul keluarga saja, pertemuan santai.
Aku pulang dengan pesawat yang sama waktu berangkat - Lion Air, jadwalnya sih jam 9.30 malam. Kali ini aku pergi ke bandara naik Gojek biar lancar. Saat check-in, jam keberangkatan sudah berubah jadi jam 10 malam. Sudah kuduga, pasti ada delay. Btw, hampir saja kardus yang berisi oleh-oleh tertinggal di bandara. Aku sempat lupa kalau bawaanku ada yang lain selain jaket dan tas ransel. Untung hanya tertinggal di pos periksaan / scanner, dan lagi gak butuh waktu lama sebelum aku sadar ada yang tertinggal.
Saat menunggu keberangkatan ke Jakarta, aku dengar ada pengumuman tentang tertundanya penerbangan Garuda yang menuju Jakarta, juga di jam yang sama. Sebelumnya aku hampir memilih penerbangan ini mengingat selisih harga yang tidak terlalu besar, cuma sekitar 200 ribu. Tapi akhirnya aku tetap milih yang termurah - penghematan 100ribu pun sangat berarti kali ini.
Makanya aku senyum-senyum saja, nyinyir dalam hati, waktu mendengar info keterlambatan yang dialami penumpang Garuda. Apalagi di majalah terbaru Lion Air, ada disebutkan bahwa peringkat Lion setingkat di atas Garuda soal ketepatan waktu. Tapi nyinyiranku terhenti seketika, saat ada pengumuman susulan. Kali ini dari pihak Lion menyampaikan permintaan maaf karena adanya keterlambatan 1.5 jam! Waahhhh ... Jadi bakal berangkat jam setengah 12 malah. Ternyata masih payah. Sebagai kompensasi dapat jajanan seperti ini - ini sih jajanan anak sekolah.
Gara-gara keterlambatan itu, sudah tidak ada lagi bis damri ataupun travel dari bandara. Mau naik taksi masih ragu-ragu. Akhirnya naik omprengan, patungan berdua dengan orang yang tujuannya Ciputat. Lumayan juga sih, selain ada teman jalan, ongkos juga lebih hemat - cuma kena 100 ribu per orang.
Festival Kesenian Sleman 2018
Dalam kunjungan singkat ke Jogja kali ini, aku cukup beruntung bisa sedikit menikmati festival kesenian Sleman 2018, yang diadakan di lapangan Denggung, dekat rumah. Berawal dari informasi Yani soal jalan yang ditutup karena pawai bregada, aku langsung bergegas menuju lokasi.
Dari 17 peserta, yang merupakan perwakilan 17 kecamatan di kabupaten Sleman, aku hanya sempat menyaksikan sekitar 7 penampilan. Penampilan mereka rata-rata cukup singkat, kurang lebih 5 menit. Apa ga rugi ya, dandan dan latihan repot kok cuma tampil sebentar? Rupanya penampilan di lapangan Denggung ini hanya puncaknya saja. Sebelumnya mereka sudah melakukan kirab, entah dari mana.
Di antara seluruh penampilan yang aku saksikan, yang paling menarik buatku adalah Tari Edan-Edanan. Terus terang aku baru tahu ada tarian seperti ini, tarian yang katanya ditampilkan untuk mengiringi pengantin, sebagai sarana untuk menolak bala (bahaya). Tariannya dilakukan oleh pria dan wanita, yang berperan sebagai orang gila. Agak aneh juga, orang gila kok diakai untuk mengusir kesialan hehehe. Sampai saat ini aku belum menemukan referensi tentang filosofi dan asal mula tarian ini. Yang jelas dari segi kostum dan gerakan, tarian ini menarik - beda jauh dari gambaran wong edan yang menakutkan.
Ada 3 penampilan dengan nuansa wayang/ketoprak. Yang pertama aku tidak sempat mendengarkan narasinya, tapi dari kostum salah satu pemain seperti cerita Mahabarata - seperti ada logo tokoh Gatotkaca. Yang kedua ada cerita Ramayana, mengambil kisah Rama Tambak, dimana pasukan kera yang dipimpin Hanoman sedang membangun jembatan menuju Alengka. Mereka dihalangi oleh pengikut Rahwana, salah satunya rombongan Yuyu Kangkang, pasukan kepiting.
Yang ketiga mengambil cerita dari kisah Kethek Ogleng, yang juga melibatkan karakter kera putih dan pasukan kera.
Tiga penampilan lainnya bernuansa religi - agama Islam. Ada tari Badui, tari Ulama dan Kubro Siswo. Terus terang tarian ulama ini agak membingungkan, apa memang ada atau tidak. Sepertinya mereka ingin menggambarkan peranan para Ulama, selain dalam menyebarkan agama, juga dalam perjuangan bangsa.
Saat acara berlangsung sempat diwarnai dengan turunnya hujan cukup deras, tapi tidak menyurutkan antusias peserta maupun pengunjung. Adanya beberapa tenda dan panggung yang terpasang membuat pengunjung cukup nyaman berteduh. Sementara peserta yang kebagian pentas tetap melakukan penampilan mereka di tengah hujan dengan penuh semangat, termasuk anak-anak.
Update:
Sebenarnya selain kompetisi kesenian ini, ada juga kompetisi teater, juga konser musik pada malam dan dua hari berikutnya. Menurut temanku, dari info yang aku dapat di FB, ada juga kompetisi dolanan anak, juga per kecamatan. Nah, baik kompetisi kesenian maupun kompetisi dolanan, juaranya dari Kecamatan Mlati. Bravo!
Sebenarnya selain kompetisi kesenian ini, ada juga kompetisi teater, juga konser musik pada malam dan dua hari berikutnya. Menurut temanku, dari info yang aku dapat di FB, ada juga kompetisi dolanan anak, juga per kecamatan. Nah, baik kompetisi kesenian maupun kompetisi dolanan, juaranya dari Kecamatan Mlati. Bravo!
27 May 2013
Lapangan Denggung
Sudah lama lapangan ini berbenah, lebih terawat dan bersih. Menurutku, lapangan inilah pusat kota Sleman. Waktu kecil dulu aku sering bermain sepakbola di sini, justru tidak bersama teman-teman se dusun, tapi bersama teman-teman dari desa lain. Pokoknya asal ada yang main bola dan kurang orang, aku bergabung. Btw, gelandangan yang sedang membawa alat mandi itu sudah kukenal sejak aku kecil, hanya saja aku lupa namanya.
Di lapangan ini juga dulu sering diadakan pasar malam dan pertunjukan layar tancap. Kalau istilah kerennya, bisa juga disebut Slemain Fair hehehe. Meskipun isinya begitu-begitu saja, tapi karena lokasinya dekat, aku gak pernah absen nonton pameran pembangunan dan pasar malam di sini. Sekarang sudah ada taman bermain anak-anak.
Wow ... di taman yang terletak di salah satu sudut lapangan ini ternyata ada beberapa alat fitnes juga. Padahal di Jakarta saja aku jarang nemu. Kalau di Singapura memang banyak. Moga saja peralatan itu tetap awet.
Di sebelah selatan lapangan juga ada patung gajah, dengan dua anak gajah. Bagus, apalagi di sekitarnya pohon-pohon cukup rindang. Beda banget dengan suasanya waktu aku masih kecil, gersang karena pepohonan cuma ada di sekeliling lapangan (pinggir jalan). Tapi kenapa patung gajah ya? Apakah ada gajah di Sleman? Mungkin kalau patung salak kurang menarik hehehe. Pas iseng google, nemu artikel ini : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/05/23/asal-usul-sleman-dan-ki-ageng-wonolelo-562564.html
Beberapa peralatan bermain anak-anak, yang kalau dilihat catnya sih masih terawat, meskipun lantainya sudah bopeng-bopeng. Tampak sepi, karena aku datang pas hari Senin pagi, bukan di hari libur.
Dua orang petugas kebersihan sedang beristirahat. Pantes saja bersih.
Oh ya, tempat sampahnya pun unik, ada yg berbentuk kangguru, ada juga yg berbentuk kodok. Moga saja dengan keunikan ini bisa mendidik anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Kadang prihatin melihat orang tua justru memberi contoh buruk pada anaknya, dengan membuang sampah sembarangan.
Di sebelahnya, persis dekat lampu merah, ada taman dengan patung adipati Sleman yang pertama, kalau gak salah KRT Pringgodiningrat. Tamannya cukup terawat. Kalau melihat taman dan lapangan Denggung ini, aku gak lagi merasa malu kalau Sleman dapat piala Adipura :)
16 August 2010
Mushroom Resto
Akhirnya kesampaian juga mampir ke Jejamuran, restoran yang khusus menjual masakan dengan bahan dasar jamur. Cukup unik, dan jamurnya juga diproduksi sendiri.
Sayang sekali, kesan pertama yang kami peroleh cukup mengecewakan,mengingat masakannya kurang terasa segar (tidak "fresh from the oven"), dan rasanya juga tidak istimewa.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...































