Showing posts with label River. Show all posts
Showing posts with label River. Show all posts

17 December 2022

Senja di Situ Parigi - Pondok Aren

Kembali nongkrong di Situ Parigi, pas menjelang matahari terbenam, siapa tahu dapat golden hour yang menakjubkan.

Air danau tampak berkurang, padahal bukan musim kemarau juga, tapi mungkin memang hujan sedang jarang turun.

Sungai di ujung danau juga tampat kering, tersisa aliran kecil, Kalau niat bisa nyari ikan di sana, pasti ada.



Pemandangan senja yang ditunggu, dengan siliuet peopohnan dan tower BTC menjadi salah satu ciri khas danau ini.




 Jalan setapak sekeliling danau sudah tampak rapi meskipun kecil, setelah direnovasi beberapa waktu lalu. Lumayan nyaman buat jogging keliling.

16 October 2022

Taman Menteng Bintaro - Sedikit Wajah Baru

Entah sejak kapan beroperasi, tapi ada yang baru dari Taman Menteng Bintaro, yaitu jembatan penyeberangan berubah dengan pagar yang baru dan bergaya Jepang.

Setahuku, selama pandemi, taman ini ditutup untuk umum. Ini juga terkait dengan perubahan tempat makan yang ada di seberang sungai dari taman ini, yang sebelumnya dipakai oleh Bebek Kaleyo, terus tutup. Selama pandemi, tempat itu mengalami renovasi, sehingga akses ke taman dari sisi barat tertutup.

Rupanya rumah makan itu berubah jadi restoran Jepang, Sushi Hiro, pantesan dekorasi sekitar taman jadi ikut bernuansa Jepang.

Pagi ini aku iseng jalan-jalan ke taman ini, sarapan dulu di areal parkiran dekat taman yang banyak pedagang kaki lima. Beli soto ayam saja, porsi pas, harga juga pas, kalau soal rasa sih soal selera, tapi masih mending lah. Semenjak ada pelonggaran PPKM, taman ini juga mulai ramai dikunjungi warga sekitar.

Malahan pas aku jalan mengitari taman, sempat papasan dengan tetangga rumah yang juga sedang refreshing bersama anak-anaknya di sini.

Sayangnya tempat bermain anak-anak tidak terlalu mengalami perkembangan, masih belum ada wahana baru, dan bahkan wahana lama agak kurang terawat, terutama ayunannya. Sedang untuk seluncuran yang besar, sepertinya ada sedikit perbaikan.

Entah ini seni instalasi atau sekedar untuk acara tertentu, kurang begitu jelas.



 Sebagai taman di tengah "kota", tempat ini lumayan sejuk dan rindang, jadi cocok buat sekedar bersantai murah-meriah, atau juga olahraga ringan. Tapi kalau akhir pekan ya lumayan ramai.

07 October 2022

Sisa Banjir Semalam

Kemarin sore air sungai menggenangi jalanan di ujung selatan kompleks yang paling rendah, meskipun sudah ada turap sungai. Tidak berbahaya, karena luapan air belum sampai masuk ke rumah warga kompleks kami. Tapi yang jelas kompleks seberang pasti lebih parah kondisinya, dan daerah yang lebih utara, terutama Jakarta, juga bakal mengalami genangan lebih besar.

Malamnya, saat aku hendak melewati terowongan di samping Bintaro Exchange, juga ada genangan cukup dalam, yang berasal dari luapan sungai, sungai  yang sama dengan sungai yang ada di samping kompleksku. Meski aku lihat beberapa motor tetap melaju menerobos genangan, aku milih putar balik, ketimbang motor bermasalah. 

Nah, pagi ini aku iseng menengok sebagian daerah kompleks Ciputat Baru yang semalam tergenang air lebih parah. Soalnya pagi hari waktu aku mengantar anak-anak ke sekolah, aku perhatikan masih ada genangan di mana-mana di sekitar kompleks itu. 


 Debit air sungai masih cukup tinggi, dan tertahan dengan tembok di sepanjang sungai, tapi tetap ada celah untuk air bisa menerobos ke kompleks. Sementara di sisi lainnya, jalanan yang masih ada genangan air di beberapa tempat. Waktu melewati, aku lihat sebagian warga sedang membersihkan teras dan halaman mereka yang kemungkinan semalam terdampak genangan air lebih tinggi.

Jadi ingat kejadian awal tahun 2020 lalu. Untungnya kali ini tidak sampai ada kerusakan gardu listrik sehingga aliran listrik tidak terganggu.

27 August 2022

Pasar Lama Kota Tangerang

Masinis kereta Bandara sedang bersiap-siap memberangkatkan keretanya di St. Duri, Jakarta. Hari ini aku ingin menjelah kota Tangerang dengan naik Commuter Line dari St. Duri, cukup sekali langsung sampai ujung tujuan.

Mungkin karena hari Sabtu pagi, kereta arah ke Tangerang agak sepi, jadi aku bisa menikmati perjalanan yang cukup lama tanpa terlalu capek. Seingatku, ini pertama kali aku naik kereta sampai ke St. Tangerang. Agak mengejutkan, sebagai stasiun di kota besar (ibukota provinsi), bangunan stasiun ini tidak terlalu megah. Dibanding dengan stasiun-stasiun yang sudah direnovasi seperti Kebayoran Lama atau Palmerah, jauh kalah megah. Terlalu sederhana.

Padahal kalau dari catatan ini, stasiun ini sudah berusia lebih dari 100 tahun, jauh sebelum republik ini berdiri. 

Ah, aku seperti de javu melihat jembatan ini. Entah kapan, samar-samar aku ingat pernah mengunjungi tempat ini, dan nyaris tidak ada perubahan. Aku ingat bentuk jembatan, serta masjid di sebelahnya. Mungkin ini kenangan saat aku pertama kali ke  daerah Tangerang untuk test masuk ke Politeknik Gajah Tunggal di daerah Cikokol, setelah lulus SMA. Sayangnya waktu itu gak punya kamera, juga belum ada ponsel, untuk mengabadikan perjalananku, tapi samar-samar aku ingat soal jembatan ini. Yang khas menurutku adalah adanya beberapa persimpangan dalam JPO ini. Ya, aku yakin pernah berkunjung ke kota ini, meskipun tidak naik kereta. Detailnya sih lupa.

Tanpa tujuan yang jelas, aku jalan kaki saja, memandang jalanan semrawut dari atas jembatan penyeberangan dan dari atas tampak jembatan yang melintang di Sungai Cisadane. Akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki  menuju Pasar Lama Kota Tangerang, yang katanya cukup populer.

Sekilas melihat jalanan ini mengingatkanku pada jalan malioboro, deretan toko. Tapi adanya dekorasi lampion, meskipun bukan musim Imlek, agak mengingatkanku dengan jalanan di Chinatown, Singapore, meski dalam versi lebih sederhana. 

Karena siang hari, tidak banyak yang berjualan di pinggir jalan. Aku jalan kaki saja menyusuri jalanan ini, tanpa tujuan, cuma menjelajah. Meski tidak banyak, tapi tampak juga beberapa pejalan kaki yang sepertinya juga "turis lokal" sepertiku.

Aku memilih belok ke jalan ini, yang menghubungkan jalanan utama tadi ke jalanan di tepi sungai Cisadane. Ada warung kopi di samping tikungan, sepertinya nyaman buat nongkrong dengan bangunan yang masih tampak seperti jaman kolonial. Kapan-kapan lah.

Kali Cisadane yang tampak lebar ini kelihatan tenang. 

Di daerah ini, kita bisa jumpai beragam rumah ibadah seperti kelenteng dan vihara dengan arsitektur gaya lama ,.. dan tentu saja ada masjid dan gereja.

Beberapa rumah dihias dengan mural yang cantik, tapi tak sedikit juga, terutama di bagian agak dalam, bisa dijumpai rumah-rumah yang sudah rusak tak terawat.

Kuil Boen Tek Bio, salah satu bangunan bersejarah.

Penasaran dengan kuliner di sekitar kuil Boen Tek Bio, aku nyoba nasi campur yang dijual di Kedai Khoe, tak jauh dari tempat itu. Sederhana, tapi tetap enak. Tidak semewah nasi campur di mal Central Park yang dulu sering aku makan, tapi justru rasanya terkesan "otentik", seperti khas kampung. Warungnya agak sempit dan waktu aku datang, meski masih ada bangku kosong, tapi penjualnya sibuk sekali, jadi nunggu agak lama.

Tidak hanya bangunan kuil/klenteng yang memiliki nilai sejarah, tapi masjid di Kalipasir juga memiliki nilai sejarah karena dibangun sekitar abad 16, dan dianggap sebagai masjid tertua di Kota Tangerang.

Berjalan di sepanjang sungai ini jadi membayangkan sungai ini dimaksimalkan sebagai tempat wisata, tentu harus dijaga kebersihannya. Kalau di Singapura bisa ada wisata menjelajah sungai Singapura, mungkinkah bisa ditiru di sini? Atau sudah pernah dilakukan tapi kurang dikelola dengan baik? Soalnya sempat lihat ada dermaga juga, tapi sepi.

Mungkinkah bisa dibuat semacam transportasi umum dengan memanfaatkan sungai ini, sebagai alternatif transportasi darat yang rawan macet? Entahlah.



Masih belum puas menjelajah kota ini, setidaknya kapan-kapan mungkin bakal menjelajah ada apa di sekitar sungai di sebelah utara dari jembatan "pelangi" ini. Untuk kali ini, sudah capek, jadi aku segera balik ke stasiun Tangerang dan kembali ke rumah pakai commuter line yang murah meriah, meski waktunya lebih lama karena memutar ke Jakarta.


 

28 February 2021

Kualitas Air di Situ Parigi

Pagi hari, banyak orang yang jalan-jalan dan berolah-raga di sekitar Situ Parigi, Pondok Aren, Tangsel. Kebetulan aku habis beli ikan di Pasar Jombang, mampir sebentar karena sudah lama gak nengok danau/bendungan ini. Seperti Situ Bungur, kawasan ini juga sudah direvitalisasi sehingga nyaman buat jalan-jalan. Cuma kali ini aku tidak sempat berkeliling, hanya menengok bendungan saja.


 Kondisi air di bawah bendungan menunjukkan kualitas air sungai yang memprihatinkan. Begitu banyak busa sabun yang terlihat, menunjukkan air sungai ini sudah tercemar, setidaknya oleh deterjen. Parah memang. 

Waktu iseng aku posting ini di Facebook, sebagian teman berkomentar ini akibat menjamurnya bisnis laundry kiloan. Bisa jadi, aku sangat ragu kalau bisnis skala kecil itu punya penanganan limbah yang bagus, paling gampang ya, -- seperti pola pikir rata-rata rakyat Indonesia --, buang saja ke selokan.

Tapi bisa jadi ini jug aakibat limbah rumah tangga, akumulasi dari limbah perumahan di selatan yang terkumpul di sungai. Tidak bisa dipungkiri, semakin banyak penduduk yang tinggal di pinggiran Jakarta. Bahkan kompleksku sendiri, termasuk rumahku, membuang limbah rumah tangga yang di selokan, yang ujungnya akan dibuang ke kali. Sudah hal yang wajar, meski bukan praktik yang bagus. 

Sejauh ini aku belum nemu solusi untuk ikut mengurangi pencemaran sungai ini. Setidaknya aku berusaha tidak membuang sampah ke sungai. Seringkali aku prihatin dengan perilaku masyarakan yang masih hobi membuang sampah ke sungai, kadang dilempar begitu saja dari atas jembatan.

20 February 2021

Sungai Meluap Pasca Hujan Lebat

Hujan lebat semalam, dan hari sebelumnya, yang pasti juga terjadi di wilayah selatan (Bogor) membuat sungai samping kompleks meluap. Kolam nganggur terendam, termasuk jalanan di pinggir sungai.



Jalanan paling bawah, di samping kompleks juga ikut terendam, kurang lebih sekitar 20-30cm. Untung pekerjaan membuatan bronjong di tepi sungai sudah selesai, setidaknya bisa mencegah abrasi tepi sungai biar gak makin parah.




Sekali-kali aku ijinkan anak-anak bermain dengan air, toh tidak setiap hari dan juga tidak lama. Mereka cuma mondar-mandir sebentar selagi bermain. Namanya juga anak-anak, selalu tertarik bermain dengan air.
 

09 December 2020

Turab Sungai Tahap 1

Sebelum akhir tahun, mungkin sesuai dengan target tahunan di pemkot, bronjong yang dipasang di tepian sungai sebelah kompleks dinyatakan selesai. Ternyata tidak sepanjang sungai, lagipula di bagian ujung sana masih lumayan aman, dengan pepohonan yang rindang. Selain itu tanggulnya juga tidak dibuat tinggi, jadi kalau air sungai meluap cukup banyak, seperti yang terjadi awal Januari 2020, tetap bakal membanjiri jalanan juga. Katanya sih, ini baru tahap 1, nanti akan ada tahap selanjutnya untuk meninggikan tanggul.

Ya menurutku sudah lumayan lah, apalagi biaya ditanggung pemkot, bukan dari warga. Setidaknya kami tidak terlalu kuatir kalau jalanan bakal ambles karena tergerusnya tepian sungai.

Agak aneh juga kalau melihat ada spanduk dipasang di pinggir sungai untuk mengingatkan warga agar jangan membuang sampah ke sungai. Bukankah ini wilayah kompleks (cluster) yang sebagian besar warganya mampu dan berpendidikan? Kami membayar tukang sampah yang secara rutin akan mengambil sampah di kompleks, jadi gak perlu pusing buang sampah ke mana. Jadi apakah ada yang buang sampah ke sungai? Hal dasar yang seharusnya dipahami oleh warga berpendidikan untuk dihindari.

Tapi memang, sedihnya, pada kenyataannya ada saja yang membuang sampah di sungai. Sejauh ini memang aku lihat pelakukan adalah asisten rumah tangga, tapi bukankah sang majikan seharusnya bisa menegur mereka, dan mereka bakal nurut? Entahlah, mungkin memang sang majikan juga gak peduli, meskipun kaya dan berpendidikan. Makanya pengurus memutuskan untuk memasang spanduk ini.

18 November 2020

Bronjong Pencegah Longsor Tepi Sungai

Setiap kali ada luapan air, terutama kiriman dari selatan, air sungai ini akan meluap ke kolam di tepinya, bahkan kalau kondisi parah bisa menggenang di jalanan pinggir kali. Untuk mencegah banjir jelas akan sulit karena butuh tanggul (turap) yang bisa menghalang air di sepanjang sisi, secara biaya bakal besar.

Kebetulan, ada salah satu calon walikota yang berkampanye di kompleks. Warga menyampaikan masukan (keinginan) agar dibuat tanggal/turap di pinggir kali di samping kompleks, agar kalaupun tidak bisa mencegah luapan air, setidaknya bisa menghalangi terjadinya longsor. Saat ini, pinggiran kali sudah mulai tergerus, hampir membahayakan jalan. Adanya pohon di pinggir jalan tidak terlalu membantu, karena tepiannya sudah terlalu sempit.

Untungnya, calon itu mendengarkan suara kami, dan kebetulan juga dia adalah pejabat aktif di pemkot, jadi punya wewenang untuk mengajukan proyek pemkot. Tak lama setelah obrolan di kompleks, segera ada yang melakukan survey, lanjut eksekusi dengan memasang bronjong di sepanjang tepian sungai yang ada di sisi kompleks. Sementara baru bisa direalisasikan berupa bronjong, belum bisa jadi tanggul penghalang banjir. Tapi ini sudah sangat bagus, karena setidaknya mencegar terkikisnya tepian sungai, dan mencegah rusaknya jalan karena ambles.


 Jadi teringat perdebatan antara normalisasi vs naturalisasi. Dalam kasus ini, naturalisasi sudah tidak memungkinkan lagi, tidak cukup lahan. Kalau dipaksakan, pepohonan akan ikut tergerus oleh arus sungai dan sia-sia. Jadi mau gak mau ya harus dinormalisasi - dikeruk dan dipasang penghalang buatan di tepi sungai. Sebagai jalan tengah, sementara tdak diplester (betonisasi), tapi dengan bronjong batu kali, jadi secara ekosistem sungai lebih baik.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...