Showing posts with label Statue. Show all posts
Showing posts with label Statue. Show all posts

09 July 2017

Reuni Kecil dan Mencoba Jalur Lebak Bulus - Kampung Rambutan


Meski sudah setahun dibuka jalur busway antara Lebak Bulus - Kampung Rambutan, baru hari ini aku mencoba jalur itu. Hari ini ada acara "reuni" kecil bersama beberapa teman SMP dulu, dan tempatnya ada di Cibubur. Hanya saja aku janjian dengan beberapa teman untuk bertemu di daerah Cijantung dan berangkat bareng-bareng ke Cibubur.


Karena pembangunan MRT yang sedang berlangsung, halte Transjakarta di Lebak Bulus digeser ke pinggir jalan, dan sempit. Rute Lebak Bulus - Kampung Rambutan ini belum punya jalur busway khusus, jadi masih menyatu dengan kendaraan lain. Juga belum ada halte khusus, jadinya tidak jauh beda dengan naik Kopaja/Metromini.


Kami tiba di Cibubur sekitar jam 4, jauh meleset dari perkiraan kami sekitar jam 1 siang. Ya memang acaranya santai dan jalanan menuju ke sana sudah terkenal macetnya, tidak mengenal  libur.


Meski hanya berlima, tapi cukup menyenangkan bisa berkumpul dengan kawan lama berbagi cerita dan kenangan, tetap menjalin persaudaraan.


Acara bubar sekitar jam 7 malam, setelah kenyang tentu saja hehehe. Dari situ kami kembali ke Cijantung dulu, cukup lama melepaskan diri dari kemacetan di Cibubur.

Sampai ke Pasar Rebo sudah jam sembilan lebih, langsung masuk ke halte busway, sengaja biar hemat. Cukup lama menunggu bus menuju Lebak Bulus, hampir 30 menit tak juga ada. Padahal di layar informasi beberapa kali muncul keterangan akan datangnya bis ke sana, tapi mendadak bisnya "menghilang". Tidak ada petugas yang bisa dimintai keterangan, kalaupun ada petugas adanya di ruang tiket, yang harus keluar gerbang dulu - malas banget.

Saat akhirnya ada petugas yang bisa ditanyai, ternyata jalur ke Lebak Bulus HANYA sampai jam 9 malam, lewat itu sudah tidak ada lagi.
Akhirnya sih aku pulang naik taksi setelah sedikit berbasah ria.

19 May 2015

Cerita Pagi Sepanjang South Bridge Rd


Pagi ini ada acara yang dimulai cukup pagi, meskipun kalau telatpun tidak masalah. Tapi gara-gara terbiasa bangun jam 6, jadi milih berangkat pagi saja daripada bengong di hotel. Karena masih terlalu awal, aku putuskan untuk jalan kaki saja. Udara cerah dan segar, jarakpun mungkin cuma 2-3 kilo, jalan santai satu jam cukup lah.


Ini adalah kuil Hindu, Sri Mariamman Temple, yang dulu pernah aku lewati juga waktu pertama kali berkunjung di Chinatown. Sudah ada turis yang motret-motret di sana, meskipun belum banyak orang datang untuk beribadah. Katanya ini adalah kuil Hindu yang tertua di Singapura.

Nah, tak jauh dari kuil Hindu itu ada bangunan umat Budha, Buddha Relic and Tooth Temple and Museum. Bangunannya cukup megah dengan arsitektur tradisional Tionghoa. Tidak aneh kalau ada bangunan megah seperti ini karena lokasinya yang di tengah-tengah Chinatown. Sesuai namanya, tempat ini dipercaya menyimpan gigi Sang Budha, yang katanya ditemukan di Myanmar.

Masih di kawasan yang sama, ada bangunan ibadah lainnya di pinggir jalan, Masjid Jama'e. Sebagai kota dengan penduduk heterogen dari berbagai suku bangsa dan agama, keberadaan berbagai bangunan keagamaan yang berbeda secara berdekatan bukanlah hal yang aneh. Masyarakat kota yang heterogen cenderung mudah mengembangkan toleransi. Ini juga merupakan masjid yang cukup tua di Singapura, dibangun tahun 1826 oleh masyarakat Tamil muslim di wilayah itu.


Ada cerita menarik waktu melintas jalan ini. Seorang pria berwajah India mencoba menghentikan taksi di jalan ini, tapi tidak ada yang mau berhenti. Padahal aku perhatikan ada beberapa taksi kosong, tapi mereka memilih melintas langsung. Mungkin merasa kasihan, seorang pria tionghoa bertelanjang dada mencoba membantu dengan langsung menghentikan taksi di tengah jalan. Ada taksi yang berhenti, tapi sepertinya taksi itu ingin menuju satu tempat yang berbeda dengan pria India itu.

Pria Tionghoa itu mendatangi pria India dan ngobrol sebentar, entah apa yang dibicarakan. Tak lama setelah itu ada taksi yang mau berhenti, dan pria India itu berjalan dengan pelan menuju ke taksi yang berhenti agak di tengah jalan. Karena jalannya terlalu lambat, ada taksi di belakangnya yang merasa terganggu dan membunyikan klakson. Mungkin bukan terganggu, tapi memberi peringatan karena pria itu berjalan di tengah jalan sangat lambat. Mendadak si pria India tampak emosi dan mendatangi taksi yang membunyikan klakson tadi, berniat memukul badan taksi. Taksi itupun terus melaju dan kemudian pria India itu akhirnya mendapatkan taksi. Ah, mungkin tabiat seperti itu yang membuat taksi enggan berhenti :)

Waktu aku cerita ke temanku soal ini, menurutnya ada beberapa alasan supir taksi enggan membawa penumpang pria India, apalagi di pagi hari dan pakaiannya tidak terlalu rapi. Biasanya karena bau badan, atau bisa juga karena mereka sedang mabuk. Ah, entahlah :)


Di salah satu sudut jalan ada patung yang menggambarkan kehidupan sehari-hari warga di sekitar itu pada jaman dulu. Di samping patung-patung itu ada catatan tentang "Squatters & Squalor", pendatang liar dan penduduk miskin yang dulu menghuni daerah itu.


Aktivitas warga mulai terlihat di jalanan meskipun belum terlalu padat. Sebelumnya di perempatan ini ada sepeda yang melaju kencang di antara mobil-mobil yang melaju. Bukan di jalur sepeda atau di pinggir jalan, tapi di tengah-tengah, dan dikendarai oleh seorang wanita. Sayang sekali aku gak sempat memotretnya.

26 December 2014

Kediri Waterpark


Sejak bulan Juni 2014, Kediri memiliki wahana wisata baru yaitu Kediri Waterpark, yang letaknya ada di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Kecamatan Semen. Aku ikut ke sini menemani keponakan yang ingin bermain air. Toh gak ada kegiatan lain, jadi gak ada salahnya bermain bareng bocah-bocah :)


Masuk ke lokasi ini aku cukup tercengang dengan luasnya areal. Meskipun gak seluas TMII atau Ragunan, tapi tempat ini sudah cukup luas bagiku. Makanya gak heran kalau pengelola menyediakan kendaraan gratis untuk memutari areal ini. Wahana permainan yang ditawarkan di sini juga tidak hanya permainan air seperti kolam dan papan seluncur. Ada beberapa wahana lain, sayangnya sebagian besar wahana tersebut belum siap. Bahkan tampaknya tempat ini menyiapkan kereta monorail, entah kapan siap beroperasi.


Patung ganesha biru ini menyambut pengunjung yang datang di areal parkir. Agak unik, berbeda dengan patung-patung ganesha pada umumnya yang bertampang serius, patung ini tampak lebih jenaka dan cocok untuk anak-anak.


Areal persawahan yang ada di dekat Kediri Waterpark. Keren, pemandangan yang menakjubkan di lereng Gunung Wilis. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, lahan ini ada di areal persawahan produktif, yang berarti pembangunan wahana wisata ini merupakan alih fungsi dari sawah yang jumlahnya makin sedikit di Pulau Jawa. Wah, sayang juga kalau begitu :(


Yang aku rasa agak unik di sini adalah adanya wahana Colloseum. Entah ada apa di situ, kami tidak sempat mampir karena keasyikan berendam di air dan bermain plosotan. Tapi dari jauh bisa dilihat beberapa patung menghiasi tempat tersebut, kelihatannya ada patung Ganesha dan patung Dewi Kilisuci yang menjadi ciri khas kota Kediri.

Meskipun lokasi ini ada di lereng gunung yang asri dengan areal persawahan hijau, jangan berpikir kalau tempat ini akan sejuk-sejuk dingin seperti di Puncak (Bogor) atau di Lembang (Bandung). Sebaliknya, udaranya sangat terik, panas ngentar-ngentar. Malahan kadang berasa jauh lebih panas dibanding Jakarta. Angin dingin pegunungan yang berhembus tidak banyak membantu. Makanya kami lebih senang berendam di air.


Tempat ini meng-claim punya plosotan air (water slide) terpanjang se-Asia. Tapi sayangnya, banyak wahana yang belum siap pakai dan masih dalam perbaikan. Aku rasa water slide terpanjang itu salah satu yang belum bisa digunakan saat ini. Meski demikian, kalau kualitas layanan bisa lebih ditingkatkan, kurasa tempa ini bakal menyedot banyak wisatawan domestik di Kediri dan sekitarnya, bahkan idak mustahil bisa menandingi daerah Batu-Malang atau Lamongan.

Satu hal yang bikin agak malas di sini adalah kewajiban menggunakan kartu Brizzi atau kartu kredit BRI untuk bertransaksi. Gak fleksible, bikin report, meskipun di akhir kunjungan kita bisa melakukan refund jika masih ada dana tersedia (yang minimal 35 ribu). Persis kayak kasus di Trans Studio Bandung, yang harus pakai kartu Megacash dari Bank Mega. Ah, monopoli memang sering menjengkelkan.

Update:
Beberapa hari setelah ikut berenang di sini, badanku gatal-gatal, terutama di selangkangan dan di pundak. Hadeeeehhh...

01 November 2014

Taman Budaya Tionghoa di TMII


Sekelompok remaja sedang asyik berfoto bersama di pelataran gerbang Taman Budaya Tionghoa di TMII. Anjungan ini tergolong baru di sini, mulai diresmikan sejak 2008 (atau 2010 ya?) dan menuai beberapa kritik. Terlepas dari kritik yang ada, aku rasa keberadaan taman ini cukup menarik, mengingat komunitas Tionghoa tidak bisa dilepaskan dari perkembangan sejarah bangsa ini, juga tidak sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan budaya Indonesia.


Deretan rumah yang ada di taman budaya tionghoa ini, entah bagaimana mengatur isi rumah-rumah itu. Ada beberapa yang berisi perabotan kuno khas masyarakat Tionghoa, ada juga beberapa rumah yang khusus untuk kelompok Marga tertentu, seperti marga Wu dan Zhou. Entah mengapa beberapa marga itu mendapat tempat tersendiri, mungkin karena mengandung nilai sejarah atau punya komunitas yang besar.


Budaya Tionghoa tentu tak lepas dari shio alias zodiak ala Tionghoa, dan ada areal khusus berisi kedua belas binatang yang melambangkan masing-masing shio. Aku ingat di Chinese Garden Singapura juga ada patung-patung binatang shio ini.


Eh, ada patung Sun Go Kong lengkap dengan biksu dan teman-temannya juga. Kok masuk ke sini juga ya :-? Mungkin karena ini salah satu cerita yang sangat populer. Sampai saat ini aku masih penasaran dengan akhir cerita kera sakti ini, gak pernah baca bukunya sampai tuntas, filmnya juga belum nonton sampai selesai. Tapi yang paling membuatku penasaran adalah versi komik Tony Wong.


Gak cuma patung kera sakti yang ada di sini, tapi juga kisah legenda Sam Pek Eng Tay, mungkin karena saking terkenalnya. Tapi aku suka banget dengan patung ini, keren. Menggabungkan sepasang kekasih dengan gabungan pola kupu-kupu sebagaimana akhir cerita mereka. Harus diakui, cerita ini juga sudah menjadi bagian dari budaya nusantara, minimal di Jawa, karena dulu sering dijadikan tema cerita Ketoprak.


Nah ini namanya jembatan cinta, jembatan dengan gaya khas Tionghoa. Cocok banget buat foto pre-wedding atau post-wedding. Ada yang mau nyoba foto prewed dengan gaya melompat dari atas jembatan???? hehehe


John Lie, salah satu pahlawan nasional keturunan Tionghoa dan patungnya diletakkan di taman ini. Selain patung John Lie, juga ada patung-patung lain seperti Confusios, Guan Yu, dsb. Juga ada patung Garuda Pancasila sumbangan dari keraton Yogya.

Secara ide, menurutku, keberadaan anjungan ini cukup bagus dan perlu. Hanya saja kalau dilihat isinya kok ada beberapa yang agak kurang pas. Harusnya, seperti ide taman mini yang menampilkan budaya-budaya setiap propinsi di Indonesia, fokus anjungan ini lebih ke budaya Tionghoa di Indonesia saja. Daripada patung-patung dari legenda tionghoa, mungkin ditampilkan tokoh-tokoh lokal atau bangunan2 khas Tionghoa di berbagai sudut nusantara, seperti Pontianak, Lasem atau Medan. Atau para wali dan raja-raja yang ada keturunan Tionghoa, seperti Raden Patah misalnya.

Ada yang sedikit mengganggu atau mungkin aku rasa kurang pas, adalah beberapa prasasti yang berisi ayat-ayat kitab suci. Secara umum, masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan di areal taman ini. Rencananya sih bakal diisi ini itu, kita lihat lima tahun ke depan. Sebagian besar patung atau bangunan yang ada di sini adalah sumbangan dari komunitas Tionghoa dari berbagai pelosok tanah air.

14 December 2013

Monas ...


Monas, monumen nasional, merupakan simbol kota Jakarta, dan bagiku ini salah satu tempat rekreasi di Jakarta yang murah-meriah dan sejuk karena banyak pohon  di sekitarnya. Jaman pacaran dulu sering menghabiskan waktu di sini, karena bingung mau nongkrong di mana lagi, dengan modal yang pas-pasan.


Seingatku setelah menikah baru kali ini aku dan istriku berkunjung lagi ke lapangan Monas. Inipun karena katanya ada pameran dan sekalian menukar tiket kereta di Gambir. Ada beberapa hal yang berubah dari kunjunganku terakhir. Salah satunya adala mulai banyak persewaan sepeda, baik sepeda biasa maupun sepeda listrik mini.


Meskipun ukurannya mini, tapi bukan berarti sepeda ini hanya bisa dinaiki anak-anak. Kadang orang dewasapun menungganginya berkeliling Monas, dan kadang malah dinaiki berdua bapak+anak. Karena menggunakan listrik, jelas ini relatif lebih ramah lingkungan dibanding motor, mobil atau delman.


Angin yang berhembus kencang di sini, salah satu hal yang kusukai, membuat porak-poranda tenda-tenda warung yang dibangun di lapangan sebelah selatan. Entah karena ada acara khusus atau setiap hari ada bazaar, tapi kulihat sudah banyak lapak-lapak penjual makanan di tempat ini, meskipun tampaknya belum semuanya beroperasi. Ini adalah hal yang baru juga, karena selama ini hanya di dekat parkiran mobil saja ada lapak penjual makanan, kecuali pedagang asongan yang berkeliling.


Pas juga banyak anak-anak sekolah yang berwisata di sini secara rombongan. Ada yang berseragam merah putih, ada yang berseragam pramuka, ada pula yang berseragam khas sekolah mereka. Pokoknya siang ini cukup ramai dengan anak-anak sekolah yang mungkin sudah mendekati waktu libur.


Taman di sekitar monumen juga sedang direnovasi, jadi tampak gersang dan tidak menarik. Penasaran juga seperti apa hasil renovasinya, karena terakhir kali aku kesini bareng Arik, tamannya sudah cukup bagus.


Ondel-ondel juga ikut menyemarakkan suasana di Monas, dan ini dulu tidak aku jumpai. Entah ini dari pengelola atau dari warga yang "mengamen", tapi sepasang ondel-ondel ini bisa dijumpai di sebelah utara, dekat pintu masuk. Pengunjung memanfaatkan maskot kota Jakarta ini untuk berfoto dengan latar belakang tugu Monas. Selain ini, ada juga anak-anak yang mengenakan ondel-ondel sambil mengamen berkeliling. Yah, lumayan daripada mengemis, sejauh tidak mengganggu ataupun memaksa pengunjung.


Catatan :
Foto-foto dalam postingan ini aku filter menggunakan filter Hefe di Instagram, tanpa harus diupload ke Instagram :)

29 November 2013

Bikini Bottom Landed on Changi Airport


Entah sejak kapan dekorasi natal bernuansa Bikini Bottom ini ada di Terminal 3 Bandara Changi, soalnya waktu aku tiba di sini 2 minggu lalu tidak sempat mampir ke sini. Tentu saja ini sesuatu yang berbeda dan menarik.


Tampak Spongebob dan Patrick dengan kostum khas natal mereka di rumah nanas yang ramai dikunjungi anak-anak dan juga para calon penumpang. Tentu saja mereka tidak melewatkan tempat ini untuk berfoto ria.


Nah ini juga masih di terminal 3,dan tampak anak-anak serta para orangtua mengantri untuk bisa bermain di arena permainan bernuansa Spongebob ini. Uniknya, sebelum mereka mulai bermain, mereka dikumpulkan dulu di pintu masuk, dan ada petugas remaja yang memberi "ceramah" ke anak-anak itu sebelum mereka mulai bermain.


24 November 2013

Light Show at Marina Bay


Kembali menikmati malam di pantai Marina, sekedar menghabiskan waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Kebetulan di tepi pantai sebelah Esplenade sedang ada konser musik yang menampilkan musisi India, tapi aku sih gak nonton, terlalu ramai, sekedar mendengarkan musiknya saja.


Dari tepi Esplenade bisa menikmati Marina Bay Sands dan juga gedung-gedung di samping Fullerton Bay, pemandangan yang indah dengan cahaya lampu yang warna-warni di tengah malam. Udara tidak terlalu dingin, bisa dibilang agak gerah sebenarnya, tapi tetap bisa dinikmati.


Ternyata dari jarak yang cukup jauh aku bisa mendapat gambar patung Merlion dengan cukup tajam. Tentu saja dengan mengandalkan fitur "Night" mode, karena aku masih belum tahu cara setting manual. Hasilnya tidak mengecewakan. Justru waktu aku coba mengambil foto dari jarak dekat, hasilnya tidak sedetail ini karena over exposure.


Kejutan .... aku sering melihat ada foto Marina Bay Sands dengan lampu-lampu menyala, aku pikir itu hanya foto dibuat-buat untuk iklan. Eh, ternyata di jam tertentu memang ada pertunjukan lampu dan air mancur, seperti yang pernah aku saksikan di Garden by the Bay. Sayangnya dari jarak ini aku tidak bisa menyaksikan lebih dekat pertunjukan air mancurnya, tapi melihat pertunjukan lampu-lampu itu saja sudah cukup mengesankan meskipun hanya sebentar. Berarti lain kali perlu atur jadwal biar bisa nonton pertunjukan air mancurnya.

Palawan Island


Persis di tengah pantai Palawan, yang bentuknya merupakan sebuah teluk sehingga airnya tenang, ada sebuah pulau kecil, di peta sih namanya Pulau Palawan. Isinya cuma sepasang bangunan yang mirip pura, yang semula kupikir merupakan resort atau restoran.


Kita bisa mendatangi pulau ini dengan melewati jembatan kayu yang lebarnya hanya pas untuk 2 orang dewasa. Jembatan ini  tidak stabil sehingga selalu berayun-ayun ketika kita berjalan di atasnya. Lucu sekali waktu aku melihat ada perempuan yang berjalan "merambat" karena ketakutan, sementara pacarnya justru ketawa-ketiwi sambil menggoyang-goyang jembatan.


Dari pulau ini kita bisa memandang laut lepas, yang penuh dengan pemandangan berisi kapal-kapal. Meski tidak sebanyak yang biasa aku lihat di East Park Costal. Di sini ada teropong yang bisa dioperasikan dengan koin $1, tapi sayangnya aku pas gak bawa koin $1, jadi tidak bisa mencoba.


Ini pemandangan jembatan dari menara pandang yang kurang lebih 3 tingkat. Lumayan juga.


Dari tempat ini juga bisa terlihat patung Merlion dan juga Singapore Cable Car...


Untuk sekedar leyeh-leyeh dan menyingkir dari kesibukan kerja, tempat ini cukup nyaman, dengan pemandangan yang bagus dan udara pantai yang segar. Apalagi kalau bisa dapat koneksi internet yang kencang, lebih mantap lagi.

Afternoon Walk in Sentosa Island


Bulan lalu aku penasaran karena merasa kurang puas melihat-lihat kawasan pulau Sentosa, berhubung waktu (dan tenaga yang terbatas). Eh ternyata kali ini ada kesempatan, hari Minggu terpaksa harus berada di kota ini sendirian. Jadi aku manfaatkan saja untuk jalan-jalan ke sini.


Dengan modal $4 dolar naik kereta Sentosa Express, aku turun di Waterfront Station. Dari Lake of Dream, aku belok kiri asal aja, tanpa tahu apakah ada jalan tembus dari arah sana.


Ternyata memang dari Lake of Dream ada jalan langsung menuju Merlion Plaza yang berdekatan dengan Imbian Station. Bahkan bisa dibilang jaraknya sangat dekat.


Kebetulan pas aku tiba di pelataran dekat Imbian Station sedang ada pentas perkusi, mungkin acara ini sempat tertunda karena hujan yang turun siang tadi, terlihat dari bekas-bekas air hujan yang masih tampak di lantai. Setelah pentas perkusi ini ada beberapa penampilan musik, tapi aku tidak sempat menikmatinya karena ingin melanjutkan perjalanan.


Patung merlion bayi ini imut sekali dan ada beberapa patung dengan pose berbeda di tempat ini.


Tempat sampah, lampu jalan dan petunjuk arah adalah beberapa fasilitas yang wajib ada di tempat wisata, dan kita bisa dengan mudah menemukannya di tempat wisata ini. Tentu saja ditambah dengan bangku taman dan toilet umum yang bersih dan gratis :)


Sebagian bunga yang  bisa ditemukan di sekitar patung Merlion. Ada untungnya juga jalan-jalan sambil setelah hujan, bunga-bunga jadi terlihat segar dan masih ada titik-titik air di dedaunan.



Dua kereta berpapasan menjelang masuk Imbian Station, dilihat dari bawah patung Merlion. Wisatawan yang berkunjung di tempat ini pasti berusaha mengabadikan moment berfoto ria di sekitar ini, entah dengan background stasiun, rel kereta dan tentu saja patung Merlion.


Kalau gak salah, ini adalah patung Merlion terbesar di Singapura, setinggi 37 meter, sementara patung asli yang ada di Merlion Park "hanya" sekitar 8,6 meter. Di bawahnya sebenarnya ada semacam Museum Merlion, tapi aku tidak sempat mengunjunginya, selain waktu terbatas, dana juga lagi pas-pasan :)


Melewati Merlion Plaza, aku menuju ke Beach Station melewati jalur patung Ular, sebuah selokan berkelok-kelok seperti ular dengan dinding yang berwarna-warni.


Entah konsep apa yang diusung taman ini, tapi sekilas memang menarik dan dengan pepohonan rindang di sekitarnya, tempat ini cukup nyaman untuk jadi tempat istirahat.



Sampai juga di Beach Station, yang persis di samping pantai paling selatan pulau ini. Jadi kalau dibilang aku berjalan dari pantai utara hingga pantai selatan meskipun masing-masing bukan yang paling ujung.


Itu adalah jalan setapak berundak yang menghubungkan patung ular dengan pelataran iFly di pantai Siloso.


Deretan gubuk di pantai itu adalah tempat pertunjukan Song of the Sea, tapi aku belum punya kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan itu. Mungkin lain kali kalau ada kesempatan. Dari sini aku belok ke kiri dan menuju ke pantai Palawan.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...