Showing posts with label Ciputat. Show all posts
Showing posts with label Ciputat. Show all posts

12 December 2022

Senja Situ Bungur

Masjid yang baru di tepi Situ Bungur dengan dua menara yang menjulang membuat pemandangan senja jadi tidak terlalu monoton.

Kelelawar mulai keluar dan sarang dan berkeliaran, termasuk di sekitar danau.

Rumah di tepi danau, kalau ada balkonnya bisa enak tuh buat ngopi pagi atau sore sambil menatap danau yang tenang meski kecil.

 

07 October 2022

Sisa Banjir Semalam

Kemarin sore air sungai menggenangi jalanan di ujung selatan kompleks yang paling rendah, meskipun sudah ada turap sungai. Tidak berbahaya, karena luapan air belum sampai masuk ke rumah warga kompleks kami. Tapi yang jelas kompleks seberang pasti lebih parah kondisinya, dan daerah yang lebih utara, terutama Jakarta, juga bakal mengalami genangan lebih besar.

Malamnya, saat aku hendak melewati terowongan di samping Bintaro Exchange, juga ada genangan cukup dalam, yang berasal dari luapan sungai, sungai  yang sama dengan sungai yang ada di samping kompleksku. Meski aku lihat beberapa motor tetap melaju menerobos genangan, aku milih putar balik, ketimbang motor bermasalah. 

Nah, pagi ini aku iseng menengok sebagian daerah kompleks Ciputat Baru yang semalam tergenang air lebih parah. Soalnya pagi hari waktu aku mengantar anak-anak ke sekolah, aku perhatikan masih ada genangan di mana-mana di sekitar kompleks itu. 


 Debit air sungai masih cukup tinggi, dan tertahan dengan tembok di sepanjang sungai, tapi tetap ada celah untuk air bisa menerobos ke kompleks. Sementara di sisi lainnya, jalanan yang masih ada genangan air di beberapa tempat. Waktu melewati, aku lihat sebagian warga sedang membersihkan teras dan halaman mereka yang kemungkinan semalam terdampak genangan air lebih tinggi.

Jadi ingat kejadian awal tahun 2020 lalu. Untungnya kali ini tidak sampai ada kerusakan gardu listrik sehingga aliran listrik tidak terganggu.

28 August 2022

Kembali Mengunjungi Situ Gintung

Salah satu pohon yang cukup iconic di Situ Gintung, sejak dulu sudah ada dan memberi pemandangan yang menarik. Tidak heran kalau lokasi pohon ini dipakai untuk meletakkan nama bendungan ini.

Pagi ini sepulang dari gereja, aku naik angkot ke arah Ciputat dan turun di Situ Gintung karena penasaran dengan keadaannya saat ini. Sudah cukup lama aku gak mengunjungi tempat ini, bahkan seingatku aku belum pernah mengajak anak-anak ke sini.

Ternyata bagian bendungannya sedang ada renovasi, padahal biasanya tempat ini ramai dikunjungi masyarakat. Melihat bagaimana revitalisasi dilakukan di Situ Bungur dan Situ Parigi, aku membayangkan tempat ini bakal lebih keren lagi. Tapi harapanku ternyata meleset. Tidak banyak perubahan yang aku lihat di danau ini, kecuali jogging track yang lebih rapi (dulu juga sudah ada), dan bagian barat yang lebih rapi (dulu jadi tempat memelihara ikan dengan karamba).


Melihat rumah-rumah di pinggir danau jadi penasaran, sepertinya enak juga tinggal di sini, setiap hari bisa "healing" dengan nongkrong di pinggir danau yang airnya tenang dan sekitarnya masih rindang penuh pepohonan. Ya asal gak pergi keluar jalan naik mobil saja, bakal stres dengan kemacetan di sepanjang Jl. Juanda - Ciputat hehehe. Kondisi jalanan itulah yang membuatku hingga saat ini belum pernah mengajak anak-anak ke daerah ini, malas menghadapi ruwetnya lalu lintas, apalagi panas.

Makanya aku lebih sering ajak anak2 ke Situ Parigi yang lebih jauh dibanding Situ Gintung, tapi jalanannya masih nyaman.

Dari kejauhan tampak ada rombongan yang sedang mengadakan acara, sepertinya sih camping atau mungkin outbond, dan juga bermain perahu karet. Suara pengeras suaranya terdengar sampai seberang, dan ada juga acara musik.


Tempat inilah yang aku rasa mengalami perubahan paling mencolok, tapi ya hanya dibersihkan saja. Dulu tempat ini tampak kumuh dengan karamba-karamba untuk beternak ikan.


Tapi di bagian ujung barat ini, sepertinya khusus disediakan bagi para pemancing. 


Keluar dari kawasan danau, aku coba masuk ke kawasan wisata Pulau Situ Gintung. Memang agenda hari ini adalah semacam "survey" kalau kapan-kapan ada waktu buat ajak El. Agak jauh dari jalan juanda, meski bisa ditempuh dengan jalan kaki, ada tempat rekreasi berisi berbagai wahana air.


Di sebelah tempat rekreasi Pulau Situ Gintung tadi, ada kawasan kuliner dan outbond, tapi kelihatannya sedang ada masalah hukum terkait penggunaan lahan. Di beberapa tempat kau bisa lihat adanya papan pengumuman tentang kepemilikan dan larangan untuk menggunakan tempat ini tanpa ijin. Tempat penjualan loket untuk masuk areal outbond juga ditutup, meski ada jalur lain. Agak anehlah. Saat aku masuk, ada kurang lebih tiga kelompok pengunjung sedang mengadakan acara di sana, termasuk camping dan semacam reuni.


Tahu gini sih gak perlu beli tiket 10 ribu, toh ada "jalan tikus" yang gak dijaga begini.



 Pulangnya aku jalan kaki menyusuri trotoar sepanjang jalan Kertamukti, yang sudah lumayan rapi dan ada beberapa tempat duduk, dan melewati RS Hermina, tempat dulu Fe dilahirkan.

07 July 2022

Roti Bakar Akung

Tampak kantor pemasaran dari apartemen yang dibangun oleh PP di Jalan Merpati Raya, pas dekat pertigaan (sekarang jadi perempatan) dengan Jalan Aria Putra, persis di samping sekolah Tanah Tingal.

Hari ini aku ajak anak-anak mencoba main di cafe Roti Bakar Akung, yang ada di sebelah kantor pemasaran itu.

Seperti biasa, pesan es teh manis dan kentang goreng buat anak=anak, sementara aku pesan kopi dan juga roti bakar.

Ada tempat di lantai atas yang penuh kursi dan meja, dan banyak colokan listrik sehingga cocok bagi yang ingin kerja bawa laptop. Aku sih gak nyoba internetnya, karena memang cuma mau main saja. Tapi kalau melihat dari struktur atapnya, ada kemungkinan kalau hujan deras berangin bisa tampias.


 Selain itu juga banyak kursi buat nongkrong di taman, yang cukup teduh dengan adanya pepohonan besar yang rindang. Ada ayunan yang digantung di salah satu pohon besar, ya lumayan buat mainan anak-anak sebagai hiburan karena tidak ada tempat khusus bermain bagi anak-anak.

Ada juga panggung musik, katanya sih biasa ada live musik kalau akhir pekan. Memang kalau malam tempat ini kelihatan menarik, tapi entah banyak nyamuk atau gak.

Masa Pengenalan Sekolah - SD dan TK

Sebelum jam 6 pagi El dan Fe sudah bangun, mandi dan bersiap ke sekolah. Meskipun belum mulai pelajaran resmi, tapi hari ini mereka berdua bersama-sama berangkat sekolah untuk mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah. Meski beda jenjang (SD dan TK), tapi karena berada di sekolah / yayasan yang sama, jadi waktunya juga dibuat sama. Sekolah mulai jam 7 pagi.

El masih memakai baju TK yang lama, sedang Fe sudah pakai seragam TK yang baru.

Masih mengikuti protokal kesehatan, sebelum masuk, mereka cuci tangan dulu. Setelah cuci tangan, aku lepas (tinggal) mereka bersama dengan para guru masing-masing. Terutama El, karena memang sudah biasa sejak TK, setelah masuk lingkungan sekolah, aku biarkan sendirian tanpa harus ditunggu.

Tampak beberapa orangtua murid masih menunggu anak-anak mereka, katanya sih ini hal biasa bagi para orang tua di hari pertama anak mereka masuk sekolah. Bagiku sih agak aneh, entah mengapa. Bahkan saat El masuk ke playgroup dulu, aku langsung tinggal pulang, karena aku pikir dia akan senang bermain dan lagipula ada para guru yang mengawasi. Mungkin karena waktu kecil aku juga seperti itu, tidak ingat pernah ditungguin orangtua saat sekolah, pulang sekolah juga pulang sendiri bareng teman-teman.

Hanya saja aku mulai berubah pandangan waktu Andre bercerita saat dia pertama masuk sekolah dulu. Katanya dia takut-takut, mau apa-apa serba takut atau malu, jadi harus menengok ke luar untuk bertanya ke ibunya. Misal mau pipis, yang diminta tolong ibunya dulu, baru ibunya menyuruh bilang ke guru. Begitulah, tidak semua anak cukup mandiri dan terbiasa pisah dari orangtua dan akrab dengan orang lain.

Untunglah, dengan bekal pengalaman El di TK, dan beberapa kali Fe juga ikut, mereka bisa dibilang terbiasa ditinggal orangtua dan bermain di kelas dengan biasa tanpa harus tergantung dengan orangtua. Jadi setelah aku drop mereka, aku tinggal pulang.

El diminta memperkenalkan diri di acara pengenalan lingkungan sekolah ini, bergantian dengan murid-murid lain. Foto dikirim oleh guru wali kelas via group WA.

Sekitar jam 9 aku jemput Fe pulang. Lumayan juga 2 jam. Fe tampak enjoy di sekolahan.


Nah ini waktu aku jemput El dari sekolah, kalau gak salah jam 9.30. Meski tidak semenarik waktu di TK, tapi setidaknya hari pertama ini belum berat karena belum ada pelajaran resmi.


 Sampai rumah, tak lama kemudian Fe tidur di sofa. Dia memang masih belum terbiasa bangun pagi, lagipula biasanya juga masih sering tidur siang. Ini malah belum sempat ganti baju, sudah kecapekan dan ngantuk hehehe.

10 May 2022

Cafe Ajieb Ciputat Baru

Kami kembali melakukan penjelajahan cafe di sekitar rumah, dan pilihanku saat ini adalah Cafe Ajieb di Ciputat Baru, yang sebenarnya pernah kami kunjungi juga. Cuma karena pandemi sempat tutup, tapi kali ini mulai buka lagi. Lagipula aku sedang pengen makan nasi kebuli kambing bakar khas dari cafe ini.

Karena lagi sepi, anak-anak lumayan bebas bermain, meskipun tidak ada wahana bermain khusus. Jadi mereka mondar-mandir saja, sambil melihat ikan dan burung yang ada di sini.



 Aku pesan nasi kebuli kambing bakar, sedang untuk anak-anak seperti biasa es teh manis. Juga aku beli indomi goreng buat El, sayangnya aku lupa memberi keterangan ke pelayanan, jadi bumbu dicampur termasuk bubuk cabe. Meski pedas, El memaksakan diri untuk makan, mungkin karena rasanya enak, tapi sambil makan dia gantian sambil minum, jadinya es tehnya cepat habis.

Menurutku, nasi kebuli dan daging kambing bakarnya enak.

--

Update:

Sekitar 1-2 setelah kami berkunjung, cafe ini direnovasi dan masih tutup.

02 February 2022

CoffeeYa Lagi - Bertiga

Kalau sebelumnya aku cuma ajak Fe ke cafe ini, kali ini aku ajak El juga, biar keduanya sama-sama pernah main ke sini. Sekali lagi aku pesan espresso saja, sedang anak-anak pesan es teh manis. Juga kami pesan mixed platter sebagai cemilan - isinya ada kentang, sosis dan nugget. Lumayan, Fe makan kentangnya, El makan sosis dan nugget.

Yang menarik di cafe ini adalah ada bermacam alat bermain, seperti catur, uno dan kartu remi. Meski belum paham cara main, tapi El dan Fe sok-sokan bermain catur. Sedikit-sedikit aku coba jelaskan aturan dasar main catur, seperti bagaimana pion bergerak, juga beragam bidak catur lain. Tetap saja mereka belum paham, jadi jalan sesukanya. Gak masalah, yang penting enjoy.

Bosan bermain catur, mereka bermain menjejahi cafe, termasuk bagian luar. Karena bukan jam makan, dan di hari kerja, cafe jadi sepi sehingga tempat ini bisa leluasa mereka jelajahi. Aku mengawasi saja sambil menikmati kopi dan gorengan.



 Sekali lagi, mereka pergi ke cafe (atau restoran) bukan untuk makan apalagi ngopi, tapi untuk bermain. Ya setidaknya mereka bisa dapat variasi tempat bermain selain di rumah dan sekitarnya, sedang bapaknya bisa refreshing sambil ngopi.

07 October 2021

Makan Siang di SHSD Ciputat

Meski restoran ini tidak jauh dari rumah dan sudah lama beroperasi, tapi baru hari ini aku mencoba. Soalnya selama ini agak terintimidasi dengan megahnya bangunan, jadi kuatir kalau harganya gak terjangkau hehehe. Hari ini bingung mau makan apa karena menu catering kurang menarik, jadi ajak anak-anak makan ke sini, restauran Sambal Hejo Sambal Dakdak (SHSD), tak jauh dari Simpang Kompas Pondok Ranji. Kami datang di luar jam makan, jadi lumayan sepi, padahal biasanya lapangan parkir yang luas ini penuh dengan mobil.

Anak-anak senang di sini, bukan karena makannya tapi karena bisa bermain. Ada ayunan, tempatnya cukup lega, dan ada kolam ikan juga.

Interiornya bernuansa tradisional khas sunda, dengan banyak dekorasi untuk menggambarkan suasana desa dan barang-barang jaman dulu.

Karena baru pertama, agak bingung milih menu yang kebanyakan khas Sunda, gak masalah sih buatku, toh gak terlalu beda dengan masakan Jawa dan aku juga dah lama tinggal di Jawa Barat. Aku pesan nasi liwet (yang pastinya beda dengan bayanganku soal nasi liwet waktu kecil), sup  iga, ayam goreng, sayur asem dan sambel. Semuanya enak, terutama nasi liwet dan ayam gorengnya. El cuma makan nasi dan ayam, sedang Fe minum doang. Sayangnya, ukuran ayam gorengnya super kecil. Sejauh ini, hanya nasi liwet dan ayam goreng yang berkesan.

Anak-anak sempat enggan pulang karena masih senang bermain di sini, meski sekedar melihat ikan dan main ayunan. Okelah, meski harga masakan sekelas harga di mall, tapi masih tidak terlalu menakutkan lah, jadi bisa dipertimbangkan untuk mampir ke sini lagi.

 

13 September 2021

Mural di Tepi Danau Situ Bungur

Seorang penjual tape melintas di samping tembok penuh mural yang indah di jalanan di tepi danau Situ Bungur.

Paska revitalisasi Situ Bungur, sekeliling danau juga berbenah biar lebih cakep. Sebelumnya tempat ini juga sudah ada mural, tapi sepertinya diganti temanya, lebih menunjukkan tema lingkungan dan gambarnya juga lebih bagus. 

Semoga saja pesannya bisa diterima oleh para pengunjung danau, mengingat kesadaran para pengunjung masih cukup rendah terkait buang sampah pada tempatnya.

Di sisi lain danau, juga ada pemandangan menarik. Jejeran tanaman herbal tersusun rapi dalam pot-pot seragam di takan rak yang bagus. 

Entah siapa yang bertanggung jawab merawat tanaman-tanaman ini, tapi semoga bisa lestari dan bermanfaat bagi warga sekitar danau. Inisiatif yang patut diacungi jempol.

Tempat yang biasa dijadikan ajang selfie para pengunjung.


 Demi mematuhi protokol kesehatan, sudah disedikaan tempat cuci tangan bagi pengunjung danau, tapi cuma ada di satu tempat yaitu di gerbang utama. Padahal ada banyak jalan masuk untuk mengunjungi danau ini.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...