Showing posts with label Mosque. Show all posts
Showing posts with label Mosque. Show all posts

20 December 2022

Jalan pagi ke Situ Bungur

Pagi yang cerah, cocok buat jalan-jalan di danau sambil berjemur dan menikmati pemandangan sederhana.

Biar gak jenuh, aku dan Fe pergi jalan-jalan sebentar di danau berdua saja, El gak ikutan. Kami jalan kaki saja dari rumah, terus berkeliling satu kali putaran, dan lanjut pulang.



 Anjing yang cukup ramah yang ada di sekitar danau.

12 December 2022

Senja Situ Bungur

Masjid yang baru di tepi Situ Bungur dengan dua menara yang menjulang membuat pemandangan senja jadi tidak terlalu monoton.

Kelelawar mulai keluar dan sarang dan berkeliaran, termasuk di sekitar danau.

Rumah di tepi danau, kalau ada balkonnya bisa enak tuh buat ngopi pagi atau sore sambil menatap danau yang tenang meski kecil.

 

14 August 2022

Nostalgia : Cikini - Gang Sentiong

Seingatku, ini adalah pertama kalinya aku berada di St. Cikini, yang namanya sering aku dengar karena disebutkan dalam lagu legendaris Jali-Jali dan Keroncong Sapu Lidi. Paling-paling aku pernah lewat stasiun ini dalam perjalanan antar kota kalau berangkat dari (dan/atau tiba di) St. Gambir.  

Tapi dulu, jaman masih ngejain proyek di daerah Kramat Sentiong, aku sering mondar-mandir melewati tempat ini. Sengaja jalan kaki biar buat melepas kejenuhan selesai kerja, jalan kaki dari Jl. Kramat Raya ke Cikini, terus naik bis ke Sudirman atau Semanggi. Kadang sengaja ke sini untuk cari makan, juga sembari menunggu jalanan berkurang macetnya. 

Hari ini aku iseng mampir ke stasiun ini untuk nostalgia, dengan tujuan utama pengen ke rumah makan padang yang dulu sering aku kunjungi sepulang dari tempat customer. Ada menu favorit yaitu cumi kari berisi telur.

Sekarang trotoar tempat ini sudah terlihat lebih rapi dan nyaman dilewati pejalan kaki, meskipun tetap saja ada motor atau pengguna kendaran lain yang parkir, kadang-kadang.

Masjid Jami Al-Ma'mur, dari bentuknya tampak jelas kalau ini peninggalan jaman kolonial, dan dipertahankan sebagai cagar budaya meski dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah dan modern. Katanya, masjid ini dibangun oleh Raden Saleh di akhir abad 19.

Ternyata rumah makan padang yang aku cari sudah tidak ada lagi, beberapa bangunan di Jl. Raden Saleh juga tampak baru bagiku. Ya sudah, karena lapar, aku cari tempat makan yang ada saja. Sempat menyeberang Jl. Kramat dulu, kebetulan melihat rumah makan khas Makasar yang sepi, jadi aku makan sop konro saja. 

Selanjutnya aku lanjut jalan ke arah St. Gang Sentiong, lumayan juga dari jalan Kramat Raya. Tidak ada kenangan khusus dengan jalan ini, hanya saja dulu pernah naik angkot lewat sini untuk menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman Rani di daerah Rawamangun, sudah lama sekali.


 Agak lama juga menunggu kereta di stasiun ini. Aku sempat heran waktu melihat ada beberapa orang turun dari kereta yang menuju Jatinegara, terus alih-alih keluar stasiun, mereka menyeberang jalan dan menunggu kereta ke arah yang berlawanan. Ternyata mereka adalah penumpang yang hendak pergi ke St. Pasar Senen.


Update: belakangan aku baru tahu, kalau KRL dari Kampung Bandan ke arah Jatinegara, tidak berhenti di St. Pasar Senen, tapi lewat saja. Sementara kereta yang ke arah sebaliknya berhenti di stasiun itu. Jadi mereka yang dari arah Kemayoran, kalau mau turun ke St. Pasar Senen, harus turun dulu di St. Gang Sention, barulah naik kereta ke arah sebaliknya dan turun di St. Pasar Senen. Aneh juga, dan tentu saja merepotkan.

28 December 2019

Mudik 2019 : Hari Ke-7, Waktunya Pulang


Hari ini di rumah saja, siap-siap untuk pulang. Andre dan pacarnya sudah lebih dulu berangkat pulang ke Jakarta, oleh-oleh juga sudah dibawa mereka. Jadi santai saja bermain di rumah menikmati cuaca cerah nan panas.


Kebetulan anak-anak juga santai saja bermain di sekitar rumah yang terlalu luas untuk ditinggali dua orang lagi. Eyang Uti dan Eyang Kakung bisa sejenak merasakan ramainya rumah dan melihat cucu-cucu bermain. Ah, sayangnya mas Timothy gak iku bergabung.


Meski belum pulih, kondis eyang kakung jauh lebih baik daripada tahun lalu. Beliau masih mampu jalan sendiri, bahkan juga mandi sendiri (dengan membawa kursi ke kamar mandi). Makanya kalau perjalaan tidak lama, beliau masih bisa ikut dan jalan pelan-pelan. Secara keseluruhan, liburan tahun ini menyenangkan, jauh sekali dibanding tahun lalu yang hanya pindah tidur karena semua sakit, termasuk eyang kakung sempat dibawa ke rumah sakit juga.


El sudah tidak sabar ingin naik kereta api lagi, ingin pulang bermain bersama temannya di rumah (aka si Upin). Seperti saat berangkat dari Jakarta, kereta Gajayana yang berangkat dari Kediri kali ini juga lebih awal, sekitar jam 4.15 sore. Sambil menunggu kereta tiba, El asyik bermain dengan anak sebayanya.


Enaknya berangkat lebih awal adalah kami bisa lebih banyak menikmati pemandangan alam, setidaknya sepanjang Kediri - Kertosono - Nganjuk. Dalam perjalanan pulang ini di dalam kereta banyak anak kecil juga, dan di bangku belakang ada anak sebaya El. Jadinya El dan Fe lebih sering bermain dengannya, - sesekali berebut mainan,, sampai mereka turun di Jogja. Banyak yang turun di Jogja, tapi banyak juga yang naik dari Jogja, jadi gerbong tetap penuh.  Setelah tidak ada teman bermain, El dan Fe istirahat, dan tidur tidak terlalu malam. Lumayan bisa istirahat sepanjang jalan.

21 February 2018

Jalan-jalan Pagi Mengitari Pondok Ranji


Matahari sudah mulai beranjak naik meskipun sinarnya masih sedikit terhalang awan tipis di langit timur. Pagi ini El mengajak jalan-jalan mengendarai motor, jadi aku ajak saja dia berkeliling kelurahan Pondok Ranji, mencoba menjelajahi tempat-tempat menarik di pinggiran Bintaro/Ciputat ini. Mulai dari Situ Bungur, yang airnya tampak tenang pagi ini, sementara langit biru jernih tanpa banyak awan meski sekarang masih di musim hujan.


Dari Situ Bungur kami lurus, menuju Masjid Jami Ar-Rahman di Jl. H. Gadung Raya, karena menurutku masjid ini paling unik bentuknya. Bisa dibilang ini untuk kedua kalinya aku memotret masjid ini dari arah depan, karena biasanya kami hanya melewati jalanan di belakang masjid. Terus terang, bentuk menara masjid ini agak gimana gitu :D.

Btw, persis di depan masjid ada satu petak makam, tempat H. Gadung dimakamkan. Aku sempat meneliti lebih lanjut, siapa H. Gadung ini.


Selanjutnya kami melintasi Jl. Rusa melewati jembatan penyeberangan di atas jalan tol Jakarta-BSD. Tampak antrian mobil di gerbang tol tidak terlalu banyak pagi ini, mungkin karena masih terlalu pagi.

Perjalanan kami lanjutkan, melewati kompleks Kurincang, kawasan yang tidak terlalu elit tapi lumayan rapi. Jalanannya rapi, ada jalur sepeda, dan juga ada papan-papan penunjuk jalan. Btw, di sini juga ada masjid dengan nama Ar-Rahman.


Ini lapangan bolah yang cukup luas di ujung Jl. Beruang, sepertinya di belakang itu adalah jalan tol, tak jauh dari SMPN 13 Pondok Ranji. Mungkin lapangan ini sering dipakai oleh sekolah itu untuk berolah raga, karena saat ini sudah jarang ada lahan kosong yang luas begini di kawasan padat penduduk.


Waktunya pulang, melintasi area paling menyebalkan di kelurahan ini - Stasiun Pondok Ranji, yang hampi selalu macet. Penyebab utamanya adalah angkot yang ngetem, sementara jalannya sempit. Selain itu perilaku pengendara motor saat pintu perlintasan rel ditutup juga memperparah kemacetan. Sudah waktunya tempat ini dibuat jalan layang atau terowongan.


Ini adalah penjual jajanan pasar di persimpangan kompleks Pertamina yang jadi langgananku. Penjualnya dari Surabaya dan sudah lumayan hafal denganku karena aku sering beli sambil nggendong El. Tidak terlalu banyak pilihan, tapi lumayan lah untuk alternatif jajanan.


Gedung Serba Guna yang cukup mungil di kawasan kompleks Pertamina juga, belum lama dibangun. Kalau gak salah pertama digunakan untuk acara pergantian tahun 2018 ini. Waktu itu beberapa tetangga ikut hadir.

Hampir satu jam kami berkeliling dan sampai rumah si bocah sudah mulai mengantuk.

24 December 2017

Renovasi Kubah Masjid Baitussalam


Dari atap rumah mertuaku, tampak sedang ada renovasi kubah masjid yang lokasinya  tidak jauh dari rumah itu. Bisa dibilang ini salah satu masjid yang paling mencolok kalau dilihat dari teras atas rumah,karena paling tinggi diantara bangunan-bangunan yang ada, dan kubahnya lumayan besar.


Demi keselamatan kerja, para pekerja mengenakan helm, yang agak lucu karena helm yang dipakai adalah helm untuk motor, bukan seperti helm yang sering dilihat dari pekerja bangunan. Yang penting aman,meski mungkin agak kurang nyaman hehehe.


Sebelumnya kubah ini  berwarna hijau polos dan kalau gak salah dari tembok biasa. Sekilas waktu aku lewat depan masjid ada keterangan tentang proyek renovasi ini, yang mengganti kubah masjid dengan bahan GRC dan lebih  warna-warni.


Selama aku di sini, bagian atas masih belum sepenuhnya tuntas, mungkin juga karena terhenti dengan adanya libur Natal (long weekend).

03 August 2017

Matahari Menjelang Senja di Situ Bungur


Sore ini El ngajak jalan-jalan pakai motor, caranya dengan menyodorkan alat gendongan yang biasa kami pakai untuk menggendong dia saat naik motor. Aku belum berani untuk mengajaknya naik motor tanpa gendongan itu. Ya sudah, aku ajak saja sebentar main ke Situ Bungur, menikmati matahari terbenam.


Ini masjid baru yang lumayan megah di tepi danau, di sisi sebelah timur. Katanya dibangun oleh tuan tanah paling kaya di kecamatan ini. Megah, tapi menurutku arsitekturnya terlalu biasa, padahal lokasinya menarik. Seandainya arsitekturnya dibuat lebih unik, -- entah modern atau klasik - , aku yakin bakal makin memperindah pemandangan danau, meskipun di tengah-tengah pemukiman yang tak rapi. Aku memang belum melihat lebih dekat ke dalam masjid itu, jadi belum terlalu mengerti apa keunikan masjid itu.


Aku tidak bisa lama-lama di sini, tidak sampai menunggu matahari benar-benar tenggelam, soalnya El belum bisa menikmati pemandangan matahari terbenam itu dan lebih minat untuk jalan-jalan di tepi danau - yang belum aku ijinkan karena takut terlalu bersemangat justru berbahaya. Jadi meski dia meronta-ronta ingin turun dari gendongan, aku tolak dan ajak dia kembali jalan-jalan dengan motor. Untung gak sampai nangis-nangis hehehe.

25 June 2017

Mengintip Senja Dari Stasiun Kebayoran Lama


Satu rombongan keluarga melangkah menuju gerbang keluar di dalam gedung stasiun kereta api yang sore ini tampak sepi.


Sore ini aku berniat untuk berkunjung ke tempat Bang Udin, salah satu keluarga dekat di Jakarta yang merayakan Idul Fitri, sesuai tradisi. Setiap tahun, tempat inilah yang "wajib" aku kunjungi di hari raya. Sayangnya kali ini istri dan anakku sedang sakit batuk+pilek, meskipun tidak parah tapi kami kuatir kalau kondisi mereka makin parah, jadi lebih baik mereka beristirahat saja di rumah. Jadinya aku sendirian.


Aku baru sempat berangkat sore hari karena semalam tidak bisa tidur nyenyak, akibatnya siang hari aku memilih untuk "membayar hutang" istirahat itu. Apalagi pagi harinya aku "bertugas" meliput acara sholat ied di kompleks.


Aku cukup beruntung karena tiba di Kebayoran Lama pas menjelang matahari terbenam, jadi aku berhenti sejenak di gedung stasiun untuk menikmati (dan tentu saja mengabadikan) momen ini.


Saudaraku tinggal persis di balik gedung tinggi warna putih di sebelah kiri itu. Dulu di bawah jembatan layang itu ada warung nasi bebek khas Surabaya yang rasanya maknyus dan harganya sangat ramah di kantong, langganan tiap aku sempat mampir. Entahlah apakah warung itu masih ada atau tidak, mengingat trotoar di sekitar jalan ini sedang dirapikan. Btw, dengan adanya jalan layang yang baru, jembatan layang yang lama jadi terlihat pendek :)

25 May 2017

Ngabuburit ke Situ Parigi


Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro tampak megah dengan arsitektur bergaya modern, di sudut perempatan antara Cluster Emerald dan Cluster Discovery, Bintaro Sektor 9. Sore ini ada sedikit waktu luang, meski gak puasa, aku manfaatkan untuk jalan-jalan sebentar dengan tujuan Situ Parigi.


Di lahan kosong yang dipakai untuk latihan nyetir mobil ini, dengan tarif tertentu sebagai uang keamanan ke preman lokal, banyak juga yang sekedar nongkrong menunggu waktu buka puasa. Di belakangnya tampak menara masjid Bani Umar yang iconic. Sayangnya, jalanan di di depan masjid yang memiliki banyak ornamen bertuliskan Asma Allah, kondisinya banyak berlobang tak terawat, memprihatinkan.


Sampai di Situ Parigi sudah hampir maghrib, dan kondisi cuaca yang mendung tipis membuat suasana lebih redup. Sekilas aku tidak menyadari ada yang berbeda dengan danau ini, selain tampak lebih luas dan kelihatan sekali kalau baru saja dikeruk. Lama-lama aku sadar ada yang berubah, cukup significant.


Tak terasa sudah hampir 2 tahun aku tidak bermain ke danau ini, dan kali terakhir aku berkunjung di sini, sebelum dilakukan pengerukan, masih ada pulau kecil di tengah-tengah danau. Meskipun kecil, pulau itu berisi banyak pohon kelapa, dan tentu saja tanaman-tanaman kecil lainnya yang ditanam oleh warga sekitar. Menurutku itu pulau itu memberi keindahan tersendiri bagi danau ini, yang membuatnya sedikit berbeda dibanding danau atau bendungan lain yang sekedar genangan air.

Meskipun pengerukan, serta penguatan tanggul di sekeliling danau adalah tindakan yang sangat bagus untuk danau buatan ini, terutama mengingat fungsinya sebagai penampung air, aku cukup menyayangkan hilangnya pulau itu. Keindahan danau jadi jauh berkurang, padahal ada potensi menarik jika pulau itu dipertahankan. Entahlah, mungkin ada pertimbangan khusus termasuk kekuatiran kalau pulau itu akan menimbulkan pendangkalan lagi.


Sementara pengerukan di bagian hulu danau ini, sebelah utara, menurutku sangat pas. Sebelumnya tempat ini sudah seperti daratan karena pendangkalan yang parah, sebagian besar adalah rawa dengan rerumputan dan tanaman perdu lainnya. Setelah dikeruk, jelas daya tampung air jadi bertambah dan danau juga lebih luas. Harusnya cukup dengan memaksimalkan pengerukan bagian hulu ini, pulau yang ada di ujung danau bisa dipertahankan.

Kalau saja dari pihak pemkot Tangsel ada yang cukup kreatif dan visioner, tempat ini bisa jadi taman yang bagus. Tak usah jauh-jauh studi banding ke luar negeri, cukup lihat saja contoh taman-taman kota yang ada di Jakarta dan Bandung. Apalagi kalau pemkot punya nyali untuk "menggusur" bangunan liar yang sesuai aturan harus berjarak 50 m dari danau, lumayan tuh buat jadi jogging track dan juga taman. Di sekitar danau sepertinya juga banyak perusahaan dan perumahan mewah yang bisa "dipalak" untuk mempercantik danau, toh mereka dapat keuntungan juga.

Semoga saja pemkot punya visi yang lebih bagus buat danau-danau kecil yang ada di Tangsel ini.

19 May 2015

Cerita Pagi Sepanjang South Bridge Rd


Pagi ini ada acara yang dimulai cukup pagi, meskipun kalau telatpun tidak masalah. Tapi gara-gara terbiasa bangun jam 6, jadi milih berangkat pagi saja daripada bengong di hotel. Karena masih terlalu awal, aku putuskan untuk jalan kaki saja. Udara cerah dan segar, jarakpun mungkin cuma 2-3 kilo, jalan santai satu jam cukup lah.


Ini adalah kuil Hindu, Sri Mariamman Temple, yang dulu pernah aku lewati juga waktu pertama kali berkunjung di Chinatown. Sudah ada turis yang motret-motret di sana, meskipun belum banyak orang datang untuk beribadah. Katanya ini adalah kuil Hindu yang tertua di Singapura.

Nah, tak jauh dari kuil Hindu itu ada bangunan umat Budha, Buddha Relic and Tooth Temple and Museum. Bangunannya cukup megah dengan arsitektur tradisional Tionghoa. Tidak aneh kalau ada bangunan megah seperti ini karena lokasinya yang di tengah-tengah Chinatown. Sesuai namanya, tempat ini dipercaya menyimpan gigi Sang Budha, yang katanya ditemukan di Myanmar.

Masih di kawasan yang sama, ada bangunan ibadah lainnya di pinggir jalan, Masjid Jama'e. Sebagai kota dengan penduduk heterogen dari berbagai suku bangsa dan agama, keberadaan berbagai bangunan keagamaan yang berbeda secara berdekatan bukanlah hal yang aneh. Masyarakat kota yang heterogen cenderung mudah mengembangkan toleransi. Ini juga merupakan masjid yang cukup tua di Singapura, dibangun tahun 1826 oleh masyarakat Tamil muslim di wilayah itu.


Ada cerita menarik waktu melintas jalan ini. Seorang pria berwajah India mencoba menghentikan taksi di jalan ini, tapi tidak ada yang mau berhenti. Padahal aku perhatikan ada beberapa taksi kosong, tapi mereka memilih melintas langsung. Mungkin merasa kasihan, seorang pria tionghoa bertelanjang dada mencoba membantu dengan langsung menghentikan taksi di tengah jalan. Ada taksi yang berhenti, tapi sepertinya taksi itu ingin menuju satu tempat yang berbeda dengan pria India itu.

Pria Tionghoa itu mendatangi pria India dan ngobrol sebentar, entah apa yang dibicarakan. Tak lama setelah itu ada taksi yang mau berhenti, dan pria India itu berjalan dengan pelan menuju ke taksi yang berhenti agak di tengah jalan. Karena jalannya terlalu lambat, ada taksi di belakangnya yang merasa terganggu dan membunyikan klakson. Mungkin bukan terganggu, tapi memberi peringatan karena pria itu berjalan di tengah jalan sangat lambat. Mendadak si pria India tampak emosi dan mendatangi taksi yang membunyikan klakson tadi, berniat memukul badan taksi. Taksi itupun terus melaju dan kemudian pria India itu akhirnya mendapatkan taksi. Ah, mungkin tabiat seperti itu yang membuat taksi enggan berhenti :)

Waktu aku cerita ke temanku soal ini, menurutnya ada beberapa alasan supir taksi enggan membawa penumpang pria India, apalagi di pagi hari dan pakaiannya tidak terlalu rapi. Biasanya karena bau badan, atau bisa juga karena mereka sedang mabuk. Ah, entahlah :)


Di salah satu sudut jalan ada patung yang menggambarkan kehidupan sehari-hari warga di sekitar itu pada jaman dulu. Di samping patung-patung itu ada catatan tentang "Squatters & Squalor", pendatang liar dan penduduk miskin yang dulu menghuni daerah itu.


Aktivitas warga mulai terlihat di jalanan meskipun belum terlalu padat. Sebelumnya di perempatan ini ada sepeda yang melaju kencang di antara mobil-mobil yang melaju. Bukan di jalur sepeda atau di pinggir jalan, tapi di tengah-tengah, dan dikendarai oleh seorang wanita. Sayang sekali aku gak sempat memotretnya.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...