Showing posts with label Dance. Show all posts
Showing posts with label Dance. Show all posts

07 August 2022

Bulan Budaya dan Kebangsaan 2022

 

Hari ini ada acara untuk membuka kegiatan Bulan Budaya dan Kebangsaan 2022 di GKJ Nehemia Jakarta. Aku kurang paham detil acaranya apa, tapi nuansa tradisional kental sekali ditampilkan dalam ibadah hari Minggu ini, termasuk penggunaan gamelan untuk mengiringi ibadah.

Aku cukup tertarik dengan gunungan yang bernuansa Kristen ini, sebagai simbol budaya dan kebangsaan. Biasanya dalam wayang kulit, gunungan digunakan sebagai tanda memulai dan mengakhiri suatu pertunjukan.





21 April 2018

Festival Kesenian Sleman 2018


Dalam kunjungan singkat ke Jogja kali ini, aku cukup beruntung bisa sedikit menikmati festival kesenian Sleman 2018, yang diadakan di lapangan Denggung, dekat rumah. Berawal dari informasi Yani soal jalan yang ditutup karena pawai bregada, aku langsung bergegas menuju lokasi.



Dari 17 peserta, yang merupakan perwakilan 17 kecamatan di kabupaten Sleman, aku hanya sempat menyaksikan sekitar 7 penampilan. Penampilan mereka rata-rata cukup singkat, kurang lebih 5 menit. Apa ga rugi ya, dandan dan latihan repot kok cuma tampil sebentar? Rupanya penampilan di lapangan Denggung ini hanya puncaknya saja. Sebelumnya mereka sudah melakukan kirab, entah dari mana.


Di antara seluruh penampilan yang aku saksikan, yang paling menarik buatku adalah Tari Edan-Edanan. Terus terang aku baru tahu ada tarian seperti ini, tarian yang katanya ditampilkan untuk mengiringi pengantin, sebagai sarana untuk menolak bala (bahaya). Tariannya dilakukan oleh pria dan wanita, yang berperan sebagai orang gila. Agak aneh juga, orang gila kok diakai untuk mengusir kesialan hehehe. Sampai saat ini aku belum menemukan referensi tentang filosofi dan asal mula tarian ini. Yang jelas dari segi kostum dan gerakan, tarian ini menarik - beda jauh dari gambaran wong edan yang menakutkan.


Ada 3 penampilan dengan nuansa wayang/ketoprak. Yang pertama aku tidak sempat mendengarkan narasinya, tapi dari kostum salah satu pemain seperti cerita Mahabarata - seperti ada logo tokoh Gatotkaca. Yang kedua ada cerita Ramayana, mengambil kisah Rama Tambak, dimana pasukan kera yang dipimpin Hanoman sedang membangun jembatan menuju Alengka. Mereka dihalangi oleh pengikut Rahwana, salah satunya rombongan Yuyu Kangkang, pasukan kepiting. 


Yang ketiga mengambil cerita dari kisah Kethek Ogleng, yang juga melibatkan karakter kera putih dan pasukan kera.


Tiga penampilan lainnya bernuansa religi - agama Islam. Ada tari Badui, tari Ulama dan Kubro Siswo. Terus terang tarian ulama ini agak membingungkan, apa memang ada atau tidak. Sepertinya mereka ingin menggambarkan peranan para Ulama, selain dalam menyebarkan agama, juga dalam perjuangan bangsa.


Saat acara berlangsung sempat diwarnai dengan turunnya hujan cukup deras, tapi tidak menyurutkan antusias peserta maupun pengunjung. Adanya beberapa tenda dan panggung yang terpasang membuat pengunjung cukup nyaman berteduh. Sementara peserta yang kebagian pentas tetap melakukan penampilan mereka di tengah hujan dengan penuh semangat, termasuk anak-anak.


Update:
Sebenarnya selain kompetisi kesenian ini, ada juga kompetisi teater, juga konser musik pada malam dan dua hari berikutnya. Menurut temanku, dari info yang aku dapat di FB, ada juga kompetisi dolanan anak, juga per kecamatan. Nah, baik kompetisi kesenian maupun kompetisi dolanan, juaranya dari Kecamatan Mlati. Bravo!

28 June 2014

Trans Studio Bandung (Part 2)


Setelah makan siang, kami mencari wahana yang menarik tapi santai. Soalnya kalau memilih wahana yang memicu andrenalin, takutnya malahan sia-sia makanan yang barusan dinikmati. Apalagi makanan di dalam studio ini tidak bisa dibilang murah. Pilihan kami adalah Sky Pirates, wahana menaiki kapal Zeppelin berkeliling studio. Tentu saja bukan balon udara sungguhan, melainkan hanya memutar ibaratnya gondola.


Dari kapal "udara" itu, kita bisa melihat suasana di hampir setiap sudut studio ini. Gak terlalu berasa rugi lah. Berhubung jumlah kapal juga lumayan banyak, dengan waktu edar yang tidak terlalu lama, kita tidak perlu mengantri lama untuk bisa menikmati perjalanan ini. Pas banget untuk yang pengen sekedar santai sehabis makan.



Setelah berkelana lewat udara, giliran mencoba wahana lewat air, Jelajah. Meskipun tampaknya santai, rupanya "pelosotan" yang ada cukup tinggi dan menegangkan, dan cipratan air yang dihasilkan juga menambah seru wahana ini.


Istriku berada di sisi yang salah, sehingga terkena cipratan air yang cukup banyak dan membuat basah rambut serta bajunya. Untunglah pihak studio menyediakan pemanas, meskipun harus merogoh kocek 30 ribu untuk menggunakannya.


Meskipun tidak sempat menyaksikan pertunjukan dari maskot-maskot Trans Studio yang digelar di aula utama Studio Central, kami masih bisa menikmati pertunjukan tarian api yang menarik. Meskipun hanya seorang diri, namun pertunjukan yang menampilkan kelihaian memainkan api yang membara ini bisa dinikmati.


Dan tentu saja, dimana-mana selalu bisa kita jumpai orang yang bernarsis ria, dan berfoto bersama keluarga.


Mencoba berlatih menunggangi naga di wahana Dragon Riders hehehe. Meskipun tampak sepele, tapi ada kalanya kita dijungkat-jungkit cukup tinggi yang kadang bikin deg-degan. Ya tentu saja tidak terlalu menegangkan, tapi cukup menyenangkan lah.


Vertigo Galaxy, wahana yang mengingatkanku pada wahana Ontang-anting di Dufan. Sayangnya istriku maupun Andre tidak berani mencobanya, jadi akupun juga enggan. Selain wahana ini, ada satu wahana yang memang tidak berani aku coba, yaitu Negeri Para Raksasa, dimana pengunjung dihempaskan dari ketinggian 5 lantai. Melihatnya saja sudah tampak serem, jadi mendingan aku hindari saja. Sebenarnya sayang juga melewatkan wahana-wahana itu, mengingat jumlah wahana yang tersedia di sini tidaklah banyak, tapi apa daya, nyali belum terlalu tinggi hehehe.


Karena gak mau rugi, aku sempat memaksakan diri untuk mencoba wahana ini, Car Racing bersama Dunlop. Entah isinya apa, tapi kurang lebih kita akan naik mobil dan melaju dengan kencan layaknya berlomba. Sayangnya, antrian cukup panjang dan lama. Apalagi satu kendaraan hanya bisa dipakai 2 orang. Kami menyerah, berbalik arah dan memilih untuk pulang.


Dari dalam pelataran menjelang pintu masuk/keluar, kita bisa menyaksikan satu-satunya wahana yang berada di luar ruangan, yaitu roller coaster. Meskipun pendek, tapi tampaknya cukup menegangkan. Apalagi sepertinya ada gerakan melunjur mundur juga. Sayangnya gak ada teman, jadi lagi-lagi wahana ini kami lewatkan saja.

Secara keseluruhan, taman hiburan di dalam ruangan ini menarik, tapi tidak terlalu "wah". Artinya kami tidak terlalu minat untuk mengunjunginya lagi dalam waktu dekat. Bisa dibilang tidak ada wahana yang bikin kangen. Kalau di Dufan, aku masih bisa kangen dengan beberapa wahana seperti Halilintar dan petualangan 4D. Setidaknya rasa penasaranku sudah terpuaskan. Selanjutnya, waktunya menikmati sejuknya Bandung di akhir pekan.

07 June 2014

Betawi's Wedding with Ondel-Ondel


Pagi-pagi sudah terdengar nyaring suara orang "berantem". Rupanya di depan kantor Kelurahan lagi-lagi ada acara kawinan, kali ini memakai adat Betawi, lengkap dengan acara adu jawara saat menyambut mempelai pria. Juga ada sepasang ondel-ondel dengan iringan tanjidor.


Biasanya aku cuma melihat ondel-ondel ini jadi patung yang diam saja, atau yang sedang berjalan sedikit bergoyang, mungkin karena ukuran yang besar membuat gerakannya tidak leluasa. Baru kali ini aku lihat ondel-ondel njoget cukup lincah. Sepasang ondel-ondel ini bergoyang tidak hanya berjalan mondar-mandir, tapi juga sedikit beratraksi, berputar dan melompat.

Saat melihat aku bawa kamera, tetangga sebelah rumah nyeletuk "Didokumentasiin Om, jarang-jarang ada yang beginian". Wah, orang betawi aja bilang kalau ondel-ondel dan tanjidor sudah jarang dipentaskan.


Bayanganku, yang memainkan tanjidor, terutama rebab, adalah kakek-kakek. Eh, rupanya hampir semua pemain tanjidor ini masih tampak remaja. Baguslah, berarti ada regenerasi, mengingat kesenian tradisional ini tampaknya sudah jarang ditampilkan. Cuma aku perhatikan lagu-lagu yang dibawakan cukup akrab aku dengar, seperti Jali-jali, keroncong kemayoran, dan kadang lagu-lagu Benyamin. Malah sempat membawakan lagu Prau Layar (yang notabene lagu Jawa) dan lagu dangdut. Aku jadi berpikir, rasa-rasanya memang jarang menemukan lagu betawi yang baru. Jangan-jangan memang tidak ada lagu baru, atau kurang publikasi. Moga-moga cuma aku saja yang kurang gaul.

Ada yang tahu lagu Betawi pasca eranya Benyamin S?


22 November 2013

Friday Night at Orchard Road


Pekerjaan masih  menumpuk, tapi jumat malam ini aku putuskan untuk menghabiskan waktu jalan-jalan di sepanjang jalan Orchard. Alasanku sederhana, selain penat dengan padatnya jadwal selama seminggu ini, katanya mal-mal di kawasan Orchard sudah mulai berhias dalam rangka Natal dan Tahun Baru.


Sepertinya kawasan ini tidak pernah sepi di malam hari karena padatnya pertokoan dan juga sudah menjadi salah satu icon belanja di kota ini, jadi para wisatawan juga "wajib" mampir ke sini, terutama yang punya duit lebih dan hobi belanja. Dan memang, mulai dari Orchard Central hingga ION Orchard, hiasan bernuansa Natal tampak mendominasi sepanjang jalan dan pertokoan.


Nah, yang tukang bergaya dan foto-foto ini sepertinya wisatawan. Di era digital dengan booming-nya kamera digital, membuat tiap orang dengan mudah mengabadikan kenangan lewat foto, termasuk (eh terutama) foto narsis. Gak ada salahnya, asal tidak mengganggu orang lain saja. Toh kenangan itu kadang tidak ternilai harganya.


Dan tidak hanya fotografer amatiran kayak aku dan para narsis mania yang sibuk di sini, sepertinya fotografer profesional juga tidak mau melewatkan momen di sini. Setidaknya aku melihat dari peralatan yang mereka bawa, selain model kamera DSLR kelas berat (gak mungkin masuk kantong), mereka juga bawa tripod. Tapi memang aku belum lihat ada yang bawa peralatan lighting di sini hehehe


Di depan Ngee Ann City ada lapangan cukup luas, lengkap dengan air mancur dan beberapa patung. Tentu saja ini menjadi tempat berfoto ria bagi para pengunjung, baik foto keluarga, foto narsis, atau foto gak jelas (kayak yang kulakukan).


Nah, ada yang unik dengan etalase Louis Vuitton ini, keretanya tidak ditarik oleh rusa salju, tapi oleh angsa :) Meskipun terkesan sederhana, dengan latar belakang berdominasi merah menyala (lebih ke warna Imlek dibanding warna Natal), tapi iklan ini bagus dan eye-catching.


Di halaman Wisma Atria tampak ramai dengan pengunjung, sebagian duduk, ada juga yang mondar-mandir dan (tetap) berfoto ria. Rupanya di sini ada beberapa pengamen yang sedang unjuk kebolehan.


Yang pertama adalah tiga musisi ini, membawakan irama instrumentalia bernuansa etnik. Lagu yang mereka bawakan tidak kukenal sama sekali, mungkin lagu mereka sendiri. Alat musiknya juga bukan selevel alat musik "anak band", tapi meskipun mengamen, kualitas mereka tidak kalah dengan peserta festival musik. Dari wajahnya, sepertinya mereka orang Jepang. Aku suka dengan cara mengamen seperti ini, tidak menggangu, juga tidak "memaksa", apalagi kualitas penampilannya juga keren.


Nah tak jauh dari letak ketiga musisi tadi, masih di pelataran Wisma Atria, sepasang penari juga unjuk kebolehan. Sang penari pria memainkan bola-bola kristal, sedang yang wanita menggunakan alat dari kayu yang mirip bumerang, ada 4 buah. Koreografinya juga menarik, dan mereka berdua juga berasal dari Jepang. Di akhir pertunjukan sang penari pria memperkenalkan diri soalnya, dan bilang kalau mereka dari Jepang.


Deretan patung warna-warni ini juga sudah tentu menjadi incaran mereka yang ingin berfoto-ria.


Nah di depan ION Orchard, dekorasinya lebih menarik lagi. Selain pohon natal, juga ada semacam taman dengan penataan seperti tempat pernikahan namun tetap dalam suasana Natal dan Tahun Baru. Jadi banyak yang sekedar duduk-duduk menikmati suasana malam (untung cuaca lagi cerah), berfoto bersama keluarga, dan bernarsis ria membuat foto khas "selfie". Di sini aku sempat diminta memotret sepasang kekasih (sok tahu), dan kulakukan dengan senang hati.


Seorang biksu sedang memijit rekannya di depan ION Orchard. Ya, entah mereka biksu atau tidak, tapi pakaiannya cukup khas. Entah juga mereka di sini untuk belanja atau sekedar berwisata. Yang jelas waktu mereka sadar aku sedang memotret mereka, langsung mereka menghentikan aktivitasnya, dan akupun langsung ngacir ... hehehe...

Selepas ION Orchard sebenarnya masih ada deretan toko lagi di Orchard Road, tapi tidak terlalu meriah. Setidaknya aku tahu di situ ada kedubes Thailand. Lagipula waktu sudah terlalu malam, dan kakiku sudah pegel sekali, pertanda sudah saatnya berbalik arah dan pulang.

13 October 2013

Universal Studio Singapore : New York


Area New York harusnya kami kunjungi paling awal, tapi karena kami ambil arah berlawanan, justru kami melewati tempat ini pas menjelang pulang. Karena dah terlalu capek dan panas, kami tidak banyak mengunjungi tempat ini. Sebenarnya di sini ada wahana Sesame Street, Monster Museum, dan juga semacam Bakery (lupa detailnya) yang kami lewati begitu saja.


Hanya satu wahana yang kami kunjungi, karena penasaran, adalah wahana Lightroom, yang memberi pertunjukan singkat tentang contoh special effect yang biasa digunakan di film-film, dengan arahan (suara) langsung dari Steven Spielberg. Ceritanya tentang bencana badai di salah satu pelabuhan. Di sini sempat terlihat suasana badai yang melanda pantai, gudang yang porak poranda, kebakaran dan diakhiri dengan masuknya sebuah kapal. Cukup nyata, meskipun hanya rekayasa. Meskipun singkat, tapi merupakan pengalaman yang menarik, khususnya bagi pecinta film.


Oh ya, pas pulang lagi-lagi kami penasaran dengan suara gemuruh dan kerumunan orang di salah satu sudut areal ini, di depan gedung  Palace : World Premiere. Ternyata tempat ini ada pertunjukan street dance, yang turut mengajak pengunjung untuk unjuk kebolehan dalam menarik. Salah satunya adalah pengunjung dari India ini, dan juga anak kecil (di belakang pakai baju biru) yang menari Gangnam Style :)


Salah satu dekorasi bernuana Halloween di pinggir jalan area ini...

17 August 2013

Independence Day Game : Balloon Dance


Nah, perlombaan ini sederhana tapi bisa dibilang paling seru, lomba menari berpasangan dengan balon menempel di kepala. Peserta yang balonnya lepas akan dianggap gagal.

Sepanjang lomba diiringi lagu dandut yang diputar berulang-ulang, dan peserta wajib berjoget, tidak boleh hanya diam. Lagu yang diputar adalah lagu dangdut Bang Jali oleh Lynda Moymoy. Aku sendiri baru dengar lagu itu di sini.


Jadi tantangan dalam lomba ini adalah mengatur kekompakan untuk menjaga balon tetap menempel, karena masing-masing orang akan bergerak dengan berbeda. Sebenarnya dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini akan lebih mudah karena bisa memungkinkan komunikasi. Perlombaan serupa yang dulu pernah aku ikuti adalah pasangan saling memunggungi dan balon diletakkan di pantat, jauh lebih sulit.

Saking serunya, banyak pengunjung yang tidak mau melewatkan perlombaan ini dan mengabadikannya dengan kamera ponsel mereka.



Nah, ibu-ibu juga ditantang untuk ikut lomba ini, biar makin seru. Ada 5 pasang peserta yang mau ikut serta.


Berbeda dengan waktu lomba balap karung dimana peserta orangtua tidak mendapat hadiah, kali ini para ibu mengajukan syarat harus ada hadiah. Akhirnya pihak panitia, dan pak ketua RT, menyepakati hadiahnya untuk pemenang pertama 2kg sabun detergen, pemenang kedua 1kg sabun detergen hehehe... Hadiah murah meriah.

Bocah ini ditinggal ibunya ikut lomba. Bukannya menyemangati ibunya, dia malah asyik sendiri berjoget mengikuti alunan musik. Kocak juga, pas di depanku pula.


Nah inilah pasangan ibu-ibu yang jadi pemenang lomba joget balon :)

#lomba #17an #kemerdekaan #indonesia

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...