Showing posts with label Cafe. Show all posts
Showing posts with label Cafe. Show all posts

01 October 2022

Jumpa Pii di Tanah Abang


Hari ini janjian dengan Pii ketemuan di Tanah Abang, karena sama-sama menjadi pengguna Commuter Line, kami ketemu di St. Tanah Abang saja. Aku cukup sekali kereta dari Bintaro, sedang dia dari Tangerang perlu transit sekali di Duri. Seingatku terakhir kami bertemu di Singapore, dekat gedung SingPost, lupa pastinya tahun berapa. Selanjutnya gak pernah ketemu lagi sejak dia pindah kerja (lagi) ke Kuala Lumpur. Baru tahun ini dia pulang kampung, balik kerja di Jakarta.


Pas kebetulan ada kesempatan untuk bertemu, juga bahan obrolan, ya aku ajak ketemua sambil mencoba Kopitiam Lim yang ada di kawasan Pasar Tanah Abang. Kafe bergaya Tionghoa Kolonial ini cukup menarik tempatnya, nuansa nostalgianya kental. Menu makanan dan minumannya juga khas.

Aku pesan nasi hainam ayam, seperti biasa selalu ingin mencoba jenis makanan ini di berbagai tempat.


Kami berdua ngobrol seperti biasa, ngalor ngidul gak terlalu jelas, kadang serius, kadang santai, kadang bergosip dan bernostalgia. Ya khas obrolan bapak-bapak lah hehehe.


Interior kafe sangat pas dipakai untuk ber-selfie-ria karena gayanya yang khas, unik dan tentu saja Instagram-able bagi para pemburu Story.  



Bahkan saat aku baru tiba, hingga selesai makan, yang notabene sampai lebih dari 2 jam, aku perhatikan ada yang sedang bikin konten, entah berkesinambungan atau sekedar mengisi waktu, tapi durasi mereka ada di sini lebih lama dibanding kami. Jaman sekarang, content creator maupun "content creator" tersebar di mana-mana, dan tempat seperti ini memang sangat menarik untuk menjadi tempat membuat konten sosial media.


 Saat kembali ke stasiun, kami mencoba melewati gang sempit di sekitar Pasar Tanah Abang, yang belum pernah aku lewati. Jadi agak nebak-nebak saja, gak pasti tembusnya di mana. Jadi tahu juga ada klenteng di samping pasar, lumayan megah, suatu bangunan yang wajar berada di kawasan niaga.

30 July 2022

Sarapan di Rummah GoA

Pagi ini kembali mencoba jogging ringan, lebih banyak jalan kaki, ya setidaknya untuk olahraga, mencoba meningkatkan stamina. Dari arah St. Jurangmangu, aku ke arah Boulevard Bintaro.

Jalanan tampak sepi, mungkin karena akhir pekan dan masih pagi, dan tampak beberapa orang juga berolahraga seperti bersepeda ataupun jogging dan jalan kaki. Aku belok ke arah Pasar Modern, terus menuju perumahan Puri Bintaro.

Di Perumahan Puri Bintaro ada semacam "danau", dan saat ini sedang dikeruk lumpurnya agar bisa menampung debit air lebih lama, sebelum dialirkan ke sungai selanjutnya. Secara tidak langsung ini adalah bagian untuk mencegah, atau setidaknya mengurangi, potensi banjir di sekitar ini dan juga di daerah aliran sungai yang lebih bawah. Aku perhatikan sih kompleks-kompleks besar dan elite biasanya menyiapkan hal seperti ini meski belum tentu bisa menjamin akan bebas banjir juga, tapi setidaknya cukup efektif saat debit air masih dalam batas normal.

Habis lari, aku coba mampir di Cafe Rummah Goa, yang persis ada di samping St. Jurangmangu dan dekat kampus UPJ. Tempatnya tergolong tersembunyi, karena tidak di pinggir jalan, juga tidak dekat dari parkiran stasiun. Konsepnya lumayan unik dan nyentrik, memanfaatkan lahan di lereng sungai.

Sayangnya, mungkin karena masih terlalu pagi, menu yang tersedia hanyalah menu sarapan, padahal aku berencana sekalian mau makan siang. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur. Aku pesan roti bakar dan pempek, serta soda merk Badak. Lumayan.


 Saat sedang makan, aku sempat mendengar obrolan antara tamu yang ingin memesan tempat untuk sebuah acara dengan pengelola cafe ini. Dari obrolan itu aku baru sadar kalau tempat ini dikelola oleh Dik Doank, sama dengan Kandank Jurank. Pantesan saja tempatnya unik.

Kalau malam hari tempatnya lebih menarik lagi, ya kapan-kapan nyobain lah.

07 July 2022

Roti Bakar Akung

Tampak kantor pemasaran dari apartemen yang dibangun oleh PP di Jalan Merpati Raya, pas dekat pertigaan (sekarang jadi perempatan) dengan Jalan Aria Putra, persis di samping sekolah Tanah Tingal.

Hari ini aku ajak anak-anak mencoba main di cafe Roti Bakar Akung, yang ada di sebelah kantor pemasaran itu.

Seperti biasa, pesan es teh manis dan kentang goreng buat anak=anak, sementara aku pesan kopi dan juga roti bakar.

Ada tempat di lantai atas yang penuh kursi dan meja, dan banyak colokan listrik sehingga cocok bagi yang ingin kerja bawa laptop. Aku sih gak nyoba internetnya, karena memang cuma mau main saja. Tapi kalau melihat dari struktur atapnya, ada kemungkinan kalau hujan deras berangin bisa tampias.


 Selain itu juga banyak kursi buat nongkrong di taman, yang cukup teduh dengan adanya pepohonan besar yang rindang. Ada ayunan yang digantung di salah satu pohon besar, ya lumayan buat mainan anak-anak sebagai hiburan karena tidak ada tempat khusus bermain bagi anak-anak.

Ada juga panggung musik, katanya sih biasa ada live musik kalau akhir pekan. Memang kalau malam tempat ini kelihatan menarik, tapi entah banyak nyamuk atau gak.

29 June 2022

Akhirnya Ngopi di Kandank Jurank

Lapangan rumput di kawasan wisata Kandank Jurank sedang diperbaiki, jadi sementara ditutup. Sejak pindah ke Tangerang Selatan, aku sudah mendengar dan beberapa kali mampir ke tempat ini, tapi sekedar melihat-lihat, gak sampai benar-benar mampir. Sempat ragu juga sih, apakah masuk gratis atau tidak, dan sebagainya.

Hari ini menyempatkan diri mampir bersama anak-anak, sebagai bagian dari penjelajahan cafe di sekitar rumah. Tempatnya gak jauh dari sekolah El dan ada wahana bermain anak meskipun sedikit. Tapi di areal yang cukup luas itu, ada banyak tempat buat nongkrong bareng, atau sekedar menikmati pemandangan dan berbagai lapak pedagang juga ada, dibuat menarik dengan rumah-rumah mungil.

Aku cuma pesan kopi, teh, coklat (buat Fe) dan cemilan berupa mix fried (gorengan campur isinya kentang, singkong dan ubi). Sementara anak-anak aku biarkan bermain sendiri, aku menikmati kopi di sore yang sedikit mendung. Suasananya teduh dan asri karena banyak pohon, juga agak jauh dari jalan raya sehingga tidak terlalu bising. Sekitar tempat ini juga adalah perumahan warga, dan meski sebelahnya adalah jalan boulevar raya, tapi masih relatif sepi.

Tumben Fe minta minuman coklat, dan doyan juga. 

Menjelang pulang, aku lihat El membawa sebotol aqua. Kebetulan waktu itu ada anak-anak lain yang juga bermain, dan El bergabung dengan mereka. Malah El sempat ikut foto-foto bareng mereka, jadi aku sempat berpikir kalau aqua itu pemberian dari pengunjung yang lain. Pas mau pulang, seseorang menghampiri dan bilang kalau tadi El mengambil sebotol aqua dan belum bayar. Oalah, ternyata ambil sendiri. Padahal di kantong El sebenarnya ada uang 5000, pas dengan harga minuman itu, tapi ya karena gak pernah jajan sendiri jadi belum paham.


Bentuk lapak-lapak mungil yang sebagian ada yang mirip rumah pohon membuat El tertarik untuk naik dan bermain di sana. Tapi ternyata bagian atas rumah tingkat itu adalah untuk rumah tinggal, sementara bagian bawahnya menjadi warung. Jadi ya gak boleh sembarangan masuk ke sana, wong tempat pribadi. El sempat ngambek, tapi ya mau gimana lagi, emang gak boleh.


Btw, kunjungan kali ini cuma nyoba makan dan ngopi di salah satu lapak yaitu di Sadana Cafe. 

23 June 2022

Bi-Coffee

Penasaran dengan cafe yang satu ini setelah melihat postingan Instagram ibu-ibu dari teman sekelas El yang ngumpul di sini. Tampak pemandangannya bagus, dengan beberapa kolam ikan yang aku pikir bakal membuat anak-anak senang bermain.

Makanya hari ini pas ada kesempatan aku ajak anak-anak ke sini, sekalian dengan keluarganya Anggit (suami + Jorel), karena aku minta tolong Anggit bawain beberapa keperluan kerja ke "kantor" pakai mobilnya. Lumayan siang-siang nongkrong dan makan, karena suasananya seperti ini, jadi terasa asri dan sejuk.

Cara pesannya secara "online", ada barcode di tiap meja, jadi pesan dulu di aplikasi/web, baru kemudian melakukan pembayaran di kasir. Harga makanan termasuk mahal, ya standard makanan di mall. Tapi sekali-sekali ya gak masalah.


 Karena letak meja yang terpisah cukup jauh, juga ada beberapa bungalow, lumayan cocok kalau buat ngumpul kerja bareng di sini, meski sayangnya gak semua lokasi ada colokan listriknya.

Selain kolam ikan, ada juga burung dan unggas tertentu yang dipajang di sini, jadi bisa menarik perhatian anak-anak. Saking betahnya, bukan karena makanannya, anak-anak agak susah diajak pulang, sempat sedikit rewel. Kalau harga makanannya sedikit lebih ramah dompet sih gak masalah sering-sering ke sini. 

22 June 2022

Glad Cafe

Ini sebenarnya cafe paling dekat dengan rumah, tapi entah mengapa aku agak malas buat mampir. Bangunan dan tampilannya sih menarik, apalagi ada lantai atas yang aku pikir bakal menarik kalau sunset. Sore ini aku sempatkan buat mampir, pertama kali bagi kami bertiga. Dulu sekali sempat mampir ke sini bareng bapak-bapak kompleks, tapi cuma bentar dan malam hari.

Di belakang cafe aku pikir bakal ada pemandangan menarik, ternyata agak mengecewakan. Apalagi saat itu mendung tapi panas, jadi pemandangan langit juga pas kurang bagus.

Selain kopi dan teh manis, menu yang aku coba di sini adalah singkong coklat keju. Ternyata porsinya banyak. Enak sih, tapi terlalu kenyang untuk dimakan sendiri, jadi aku bungkus bawa pulang. Anak-anak masih belum berminat mencoba makanan ini.

Btw, menikmati makanan ini jadi ingat lagu jadul "Singkong Keju" oleh Arie Wibowo. Dengan adanya makanan seperti ini sekarang, lagu itu jadi kurang relevan lagi, karena singkong (identik dengan orang miskin) dan keju (identik dengan orang kaya) sudah bisa disatukan dalam menu ini, dan bisa mudah ditemukan di jajanan kaki lima hehehe.

Meski tidak ada wahana khusus buat anak-anak, tapi karena tempatnya cukup luas dan banyak pernik-pernik menarik, anak-anak lebih tertarik untuk bereksplorasi (baca: main mondar-mandir). 

Mungkin tiap malam tertentu ada live music di sini, tapi entah kapan jadwalnya aku kurang tahu.

 

24 May 2022

Cafe Kopi Tiga Gelas

Nah, kali ini kami mencoba ngopi di Kopi Tiga Gelas, cafe di kebun yang terletak persis di samping sekolahnya El. Berkali-kali kami melewatinya, tapi tidak pernah sempat mampir. Kali ini saja, karena penasaran, kami mampir. 

Aku pesan kopi americano, oleh pemiliknya langsung dibuatin sendiri, sepertinya pegawainya sedang liburan. Lucunya, bagiku sih, sang "barista" minta maaf karena adanya kopi robusta, jadi bakal terasa pahit. Lah, bukankah kopi identik dengan pahit, jadi malah wajar. Mungkin dia pikir aku gak bakal kuat/suka minum kopi pahit. Lain  halnya kalau pakai jenis arabika yang lebih asem ketimbang pahit. Entahlah.

Pemilik kafe menyediakan kapur tulis buat anak-anak, jadi mereka bisa "berkarya" di lantai dan juga di salah satu meja yang terbuat dari beton. Lumayan buat aktivitas anak-anak, selain mondar-mandir di lokasi cafe yang lebih mirip kebun, jadi cukup terbuka, teduh dan asri karena banyak pohon. 

Sayangnya, karena namanya juga kebun, di  sini banyak nyamuk, dan kulitku termasuk mudah menarik banyak nyamuk.

Lokasi ini ada beberapa lapak dengan jualan yang berbeda, tapi yang aktif saat itu hanya 3 - satu lapak utama yang jualan kopi, satu lagi jualan jus dan salad, satu lagi lebih ke makanan. E

l pesan sosis dibalut mi, cukup menarik buat dia.

Fe ya seperti biasa, kentang goreng saja.

Kami harus bergantian untuk menikmati kursi goyang ini, sekedar bersantai di kebun. Kapan-kapan pengen punya kursi begini, kalau ada rejeki berlebih.


 Gak bisa berlama-lama di sini, gak tahan dengan nyamuknya.

Sekedar info, Kopi Tiga Gelas tutup setiap hari Senin. Kata pemiliknya, istirahat sehari, soalnya biasanya hari Minggu lumayan ramai sampai malam.

19 May 2022

Kopi Kebun Bintaro

Sambil mengisi waktu luang dan membantu anak-anak menghabiskan waktu lebih variatif, penjelajahan cafe kali ini membawa kami mampir ke Kopi Kebun Bintaro, tak terlalu jauh dari rumah, di sekitar Jl. Cenderawasih. Sempat baca beberapa review dan melihat foto-foto lokasi, cukup menarik, setidaknya cukup lega buat anak-anak bermain (harapanku).

Pesan kopi seperti biasa. Sayangnya, saat aku datang, menu makanan yang tersedia kurang variatif menurutku. Jadi aku beli yang ada saja, udon dan kentang goreng buat anak-anak.

Selain areal outbound yang teduh karena berada di pepohonan, ada juga ruang tertutup berAC jika ingin menikmati kopi dan makanan. Yang menarik ada ruang terbuka di atas, tapi jelas lebih cocok dipakai waktu senja dan malam agar gak kepanasan, dan tempat inilah yang dipakai sama anak-anak untuk bermain.



 Untuk santai dan ngobrol bareng teman-teman sih lumayan lah tempatnya, nyaman dan asri. Soal rasa kopi dan makanan lainnya? Ah sayangnya kau lupa. Mungkin lain kali bisa mencoba lagi.

10 May 2022

Cafe Ajieb Ciputat Baru

Kami kembali melakukan penjelajahan cafe di sekitar rumah, dan pilihanku saat ini adalah Cafe Ajieb di Ciputat Baru, yang sebenarnya pernah kami kunjungi juga. Cuma karena pandemi sempat tutup, tapi kali ini mulai buka lagi. Lagipula aku sedang pengen makan nasi kebuli kambing bakar khas dari cafe ini.

Karena lagi sepi, anak-anak lumayan bebas bermain, meskipun tidak ada wahana bermain khusus. Jadi mereka mondar-mandir saja, sambil melihat ikan dan burung yang ada di sini.



 Aku pesan nasi kebuli kambing bakar, sedang untuk anak-anak seperti biasa es teh manis. Juga aku beli indomi goreng buat El, sayangnya aku lupa memberi keterangan ke pelayanan, jadi bumbu dicampur termasuk bubuk cabe. Meski pedas, El memaksakan diri untuk makan, mungkin karena rasanya enak, tapi sambil makan dia gantian sambil minum, jadinya es tehnya cepat habis.

Menurutku, nasi kebuli dan daging kambing bakarnya enak.

--

Update:

Sekitar 1-2 setelah kami berkunjung, cafe ini direnovasi dan masih tutup.

15 April 2022

Makan Siang di Foodpedia Pasar Modern Sektor 7

Fe sedang mengaduk kopi hitam yang aku pesan siang ini sebelum makan. Makan siang kali ini aku ajak Fe ke Pasar Modern Bintaro Sektor 7, biar gak jenuh di rumah juga. Sempat bingung mau makan di mana, akhirnya mencoba di Foodpedia.

Aku mencoba menu nasi goreng, sedang Fe hanya makan kentang goreng. Rasanya lumayan.

Mungkin karena masih pandemi dan juga bukan pas jam makan siang, jadi tempat ini sepi. Mumpung sepi, Fe bebas menjelah lantai dua.

Sekali-kali bergaya sambil (pura-pura) minum kopi, aku minta tolong Fe untuk motret.


 Secara menyeluruh, desain cafe ini cukup menarik, khususnya yang lantai atas, meski sederhana tapi mencoba agar terkesan hijau. Sayangnya, pilihan atap membuat suasana agak gerah, meski ada ruangan khusus yang ber-AC. Selain itu, pelindung yang minimalis membuat tempat ini basah kuyup jika turun hujan deras.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...