I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
09 August 2015
Mampir Ke Booth Teman Ahok
Kelompok relawan @temanAhok membuka beberapa booth di mall-mall besar di Jakarta untuk mengumpulkan KTP warga Jakarta yang ingin mendukung Basuki Tjahaja Purnama, sebagai calon independen Gubernur DKI di pilkada 2017 nanti. Tujuannya agar Ahok tetap bisa maju sebagai calon gubernur tanpa harus tergantung pada dukungan partai politik yang biasanya penuh pamrih.
Siang ini kami tak sengaja menjumpai booth ini seusai makan siang di Urban Kitchen Central Park, booth-nya persis di depan foodcourt itu. Aku sih lihat-lihat saja, gak ikutan meskipun aku punya KTP DKI. Lumayan senang juga melihat antusiasme warga, yang kebanyakan memang warga keturunan Tionghoa. Aku sih yakin mereka mendukung Ahok bukan karena kesamaan ras, tapi karena sejauh ini Ahok punya prestasi yang bagus. Sejauh ini lho, dan yang terdengar di media. Kalau banyak gosip atau rumor miring, ya masih sekedar kabar burung emprit lah :)
Saking penuhnya booth, apalagi ukurannya memang kecil, beberapa orang mengisi formulir sambil berdiri. Semoga ketulusan warga ini tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak manapun, semua berharap untuk kebaikan seluruh kota.
08 August 2015
Pasang Bendera Merah Putih
Sabtu malam ada undangan dari pak RT untuk ngumpul di pos ronda, agendanya adalah memasang bendera di lingkungan kompleks untuk menyambut HUT RI ke-70. Tidak banyak bendera yang dipasang, hanya sekitar belasan umbul-umbul dan bendera kecil-kecil, entah berapa banyak. Katanya sih bendera itu sisa perayaan tahun lalu, jadi gak begitu banyak. Meskipun tidak banyak warga yang ikut bergabung, tapi kegiatan malam ini lumayan meriah.
Memasang umbul-umbul adalah pekerjaan ringan, apalagi sudah ada warga yang menyumbang bambu. Yang sulit adalah memasang bendera kecil-kecil ini. Beberapa orang merasa kesulitan memasukkan benang ke dalam tali ini, karena lubang bendera terlalu rapat, juga karena malam hari sehingga pandangan kurang tajam. Beberapa orang mengeluh karena sudah bermenit-menit tanpa berhasil memasukkan satupun bendera :) Setidaknya ada kemeriahan dalam hal sepele. Inilah yang kadang aku sukai dalam kegiatan bersama semacam kerja bakti.
Waktu di kampung dulu, aku selalu menantikan perayaan 17an. Meriah dan merupakan ajang bersatunya warga untuk kegembiraan bersama. Salah satu kegiatan rutin adalah kerja bakti, membersihkan kampung, memasang atribut 17an, mengecat serta menghias gapura, pagar dan sebagainya. Tentu saja lebih meriah lagi kalau ada perlombaan dan pentas seni, tapi ini tidak selalu terjadi.
Sejak aku kuliah, bekerja dan menikah, aku tidak lagi merasakan kemeriahan perayaan HUT Kemerdekaan. Baru dua tahun terakhir aku sedikit merasakan kemeriahan perayaan itu, meskipun hanya jadi penonton perlombaan, tapi sudah cukup seru. Tahun ini, di tempat yang baru, setidaknya aku bisa ikut berperan lebih banyak dalam kegiatan ini di lingkungan.
Karena dilakukan malam Minggu, anak-anak kecil banyak yang ikut bergabung, apalagi ada orangtua mereka. Tapi yang namanya bocah, lebih banyak bermain ketimbang bekerja. Sedikit banyak mereka juga cukup membantu. Di sini ada satu bocah cukup nakal datang membawa petasan dan menyalakannya di lapangan. Karena terlalu berisik, salah satu warga protes dan orang tuanya harus campur tangan menghentikan ulan bocah-bocah itu.
Mungkin sudah banyak tempat, terutama di kota-kota besar, yang kehilangan momen kebersamaan warga seperti ini. Agak disayangkan, karena kebersamaan ini adalah salah satu budaya bangsa yang pantas dipertahankan dan dikembangkan.
27 July 2015
Taman Kecil Kami
Kali ini cuma pengen posting foto bunga dan tanaman yang ada di taman depan rumah. Taman ini kecil dan tidak tertata rapi. Aku belum punya rencana matang bagaimana mengatur taman kecil di teras ini.
Bunga adenium ini peninggalan dari pemilik rumah sebelumnya dan terbengkalai, tapi aku sengaja menyimpannya. Ada beberapa, tapi tinggal dua pohon ini yang tampak bangus, dan di musim kemarau ini mereka berbunga cukup banyak. Indah!
Tertarik dengan cerita kalau aroma Lavender bisa mengusir nyamuk, aku beli beberapa bunga lavender, soalnya nyamuk-nyamuk di rumah, termasuk di teras, sangat banyak. Sejauh ini sih belum tampak manfaatnya, bunganya juga belum banyak. Ada yang bilang, merawat bunga lavender agak susah karena bunga ini cocoknya di cuaca dingin. Kalau ternyata bunga ini bisa tumbuh bagus, mungkin aku akan memperbanyaknya.
Kalau ini bunga celosia (bunga boroco) yang aku temukan di tahan kosong dekat Graha Bintaro. Aku "colong" saja beberapa dan yang satu ini tumbuh luar biasa. Ini yang paling subur, mekar ke segala arah dan berbunga cukup banyak. Karena sangat besar, jadinya kurang begitu cocok dengan taman kecil yang aku punya, karena dia melebar kemana-mana dan memenuhi tempat. Tapi saat ini, selain hanya tanaman ini yang berbunga cukup banyak.
Ternyata ada laba-laba yang berhasil membangun rumah di sela-sela tanaman. Mungkin karena dalam dua minggu terakhir ini tidak ada kucing yang berkeliaran bebas di taman, jadi aktivitasnya tidak terganggu. Kalau ada kucing pasti dia sudah dihajar habis-habisan. Laba-laba ini masih kecil, panjang tubuhnya mungkin baru sekitar 1 cm. Agak susah mengambil foto laba-laba ini dengan kamera smartphone, meskipun akhirnya berhasil juga dari sudut tertentu.
Tanaman pucuk merah ini sudah mulai bertunas banyak dengan daun-daun muda yang berwarna kemerahan. Sepertinya tanaman ini harus dirawat dengan telaten, terutama disiram. Tanaman serupa milik tetangga tampak kering dan rontok daunnya waktu ditinggal mudik selama seminggu, karena tidak ada yang menyiraminya.
Terakhir, ini bunga kupu-kupu, barusan nyari infonya di internet. Namanya oxalis triangularis atau Purple Shamrock. Sejak awal membeli kami biarkan dia tergantung. Baik bunga maupun daunnya menjulur ke arah selatan, mencari cahaya matahari.
08 July 2015
St. Palmerah (Baru)
Beberapa kali mendengar kabar di media sosial tentang stasiun Palmerah yang baru, tapi baru malam ini aku sempat mengunjunginya. Stasiun baru inipun baru diresmikan tanggal 6 Juli 2015 ini oleh Menteri Perhubungan Ign Jonan. Seingatku, pembangunan gedung stasiun baru ini sudah dimulai tahun 2014 lalu, waktu aku mulai sering mondar-mandir Jkt-Bintaro memakai kereta api.
Kondisi lantai dua yang lega dan kosong, juga sebagai gerbang masuk penumpang. Sepertinya areal ini bakal dimanfaatkan untuk perniagaan, seperti yang pernah aku lihat di St. Sudirman. Bangunannya tampak lebih modern, dibanding dengan bangunan stasiun sebelumnya yang mungil dan seperti peninggalan jaman kolonial. Untunglah, bangunan yang lama tetap dipertahankan sehingga tetap terjaga nilai sejarahnya.
Nah, apa yang sempat terlintas di pikiranku ternyata diterapkan juga di stasiun ini - jembatan penyeberangan. Jadi lalu lintas penumpang (diharapkan) tidak mengganggu lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan di kanan-kiri stasiun yang biasanya macet parah.
Digunakannya jembatan penyeberangan ini juga (diharapkan) mengurangi pelanggaran lalu lintas yang terjadi, baik oleh pengguna jalan atau pengguna angkutan kereta api. Soalnya waktu dulu memakai lampu bangjo untuk menyeberang jalan, lebih sering terjadi ketidaktertiban. Yang menyeberang sering gak sabaran, apalagi yang memakai kendaraan bermotor, terutama sepeda motor. Kalau pakai jembatan ini kan sama-sama tidak saling mengganggu.
Kabarnya, ada beberapa stasiun kereta yang akan dipermak selanjutnya, yaitu St. Kebayoran Lama, St. Parung Panjang dan St. Maja. Hmm.... aku belum pernah mengunjungi dua stasiun terakhir itu, kayaknya perlu jalan-jalan kesana kalau ada waktu luang. Target penjelajahan selanjutnya.
05 July 2015
Resto Ngalam - Fx Sudirman
Bukan bermaksud meng-endorse salah satu restoran, tapi cuma berbagi pengalaman pertama saja. Meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, bahkan sering lewat jalan Sudirman, tapi tidak sekalipun aku mampir ke mal Fx Sudirman ini. Entah mengapa, ada kesan enggan untuk masuk ke dalamnya, meskipun sekedar menjelajah.
Siang ini kami sekeluarga memutuskan untuk mampir ke mal ini buat makan siang, sepulang gereja. Kebetulan lokasi dekat dengan tempat ibadah dan lagi gak ada niat jalan-jalan ke tempat lain juga. Pilihan makan siang jatuh ke Resto Ngalam di lantai 1 (bener gak ya? Pokoknya naik satu lantai setelah lobby deh :) ).
Pengen nyobain aja makanan khas Jatim versi restoran di mal kota besar hehehe. Aku memilih Cwie Mie hijau dan Angsle, dua jenis makanan yang belum pernah aku coba meskipun aku beberapa kali mondar-mandir Jawa Timur. Cwie mie-nya lumayan, meskipun tidak istimewa buatku. Berhubung ini pertama kali aku makan cwie mie, aku gak bisa membandingkan dengan versi yang (mungkin) lebih enak. Tapi aku puas dengan angsle, minuman yang sangat mirip wedang ronde, terbuat dari jahe dengan berbagai "topping" di dalamnya.
Selesai makan kami jalan-jalan bentar di sekitar mal, melihat apa saja yang istimewa di mal ini. Salah satunya ada indoor slider, yang diklaim sebagai indoor slider pertama di Asia. Waktu itu sedang tidak beroperasi, mungkin untuk menghormati yang sedang beribadah puasa #eh. Lagipula aku gak bakal niat mencobanya dalam kondisi perut kenyang.
27 June 2015
RIP Feri - Satpam Komplek
Minggu siang ada kabar dari grup whatsapp bapak-bapak komplek tentang meninggalnya salah satu personel satpam. Penasaran, aku segera menuju ke pos satpam untuk memastikan kabar itu, sekaligus penasaran satpam mana yang meninggal. Nama Feri agak asing bagiku dan ternyata benar, dia adalah satpam yang belum lama bergabung, yang selama ini tampak pendiam. Karena rumah sakit tempat jenasah disemayamkan tidak jauh dari rumah, aku bareng salah satu satpam datang ke rumah sakit itu. Di sana sudah ada ibu angkat dari Feri, seorang ibu berjilbab yang duduk mengenakan baju batik.
Dari sini aku juga baru tahu kalau ternyata Feri yatim piatu dan tidak punya kerabat dekat. Dia tinggal menumpang orang lain, dan sudah lama menderita penyakit hepatitis yang menyebabkan komplikasi. Penyakitnya sudah cukup parah dan sepertinya warga kurang begitu paham kondisinya. Dengan keadaan ekonomi yang bisa dibilang miskin, wajar kalau dia mengabaikan penyakit itu. Seorang tetangga pernah mengajaknya berobat di klinik gereja dan dari situlah diketahui penyakitnya, tapi sayangnya tidak ada pengobatan intensif yang dilakukan. Meskipun sebatang kara, tapi ternyata dia punya banyak teman yang cukup peduli dan hadir dalam pemakamannya. Beberapa orang dengan sigap mencari tempat pemakaman yang mau menerima warga "asing", karena sebagian besar tempat pemakaman umum di Jakarta hanya menerima warganya sendiri, yang punya KTP dan KK setempat.
Sebelum dimakamkan, jenasah dimandikan dan disholatkan di mushola komplek yang ada di blok G. Wah, aku malah baru tahu kalau tempat itu ternyata mushola, aku pikir tempat ngumpul anak-anak kecil doang. Aku datang sebentar sebelum jenasah mulai dimandikan, siapa tahu ada yang bisa aku bantu, seperti menyiapkan perlengkapan dan sebagainya. Tapi setelah pemandian jenasah dimulai, aku pulang.
Aku tidak mengenal dekat dengan almarhum, tidak seperti dengan satpam-satpam lain. Selama ini dia tampak pendiam, malah jarang senyum. Sedikit obrolan yang pernah aku lakukan dengannya adalah ketika dia mengomentari kucingku yang mengikutiku saat bepergian. Sejak itu dia mulai tersenyum setiap berpapasan denganku. Kemarin aku masih sempat melihatnya bertugas meskipun hanya tampak tiduran di pos jaga.
Selamat jalan kawan, penderitaanmu sudah berakhir, tenanglah engkau di sana.
24 June 2015
Situ Pondok Jagung
Matahari pagi bersinar cerah, terlihat dari balik pepohonan di sekitar Situ Pondok Jagung atau Situ Rawa Kutuk. Setelah sebelumnya aku gagal menemukan danau ini, akhirnya pagi ini ketemu juga. Karena gagal mencapai danau ini dari jalan Pondok Jagung atau jalan Rawa Kutuk, aku coba jalur lain yaitu melewati komplek Regency Melati Mas. Memang menurut peta sih lokasi danau lebih dekat dari komplek ini, sayangnya dulu aku tertipu dengan nama jalan yang sama dengan nama danau. Lokasi danau persis di belakang kantor kecamatan, dan bisa dimasuki dari jalan di samping gedung dinas pemadam kebakaran. Awalnya aku sempat ragu karena seperti jalan buntu, tapi coba cuek dan melaju terus dan ternyata ketemu.
Saat ini sedang ada proyek pemeliharaan berkala bukan dari pemkot Tangsel melainkan langsung dari Kementrian PU & PR dengan dana dari APBN. Menurut keterangan yang sih proyek ini dimulai tanggal 12 Juni 2015 selama 150 hari dan menelan biaya 3,69 milyar rupiah. Syukurlah, ternyata pemerintah masih peduli dengan keberadaan tempat resapan air seperti ini. Padahal danau ini sudah terkepung oleh beberapa perumahan mewah seperti perumahan Alam Sutera, jadi harga tanah pasti sudah cukup melambung.
Ada dua alat pengeruk yang berada di lokasi. Karena baru saja dimulai, belum banyak perkembangan yang tampak. Sebagian besar danau bisa dibilang sangat dangkal dan penuh dengan sampah, terutama sampah berubah batok kelapa. Aneh juga, padahal kan gak banyak pohon kelapa di sini. Pokoknya kumuh banget lah.
Di bagian selatan masih ada sedikit areal yang tergenang air, ya mungkin cukup dalam. Tapi selain itu, isinya lebih mirip rawa-rawa dengan banyak tumbuhan di atasnya.
Kebanyakan adalah tumbuhan liar sejenis pakis, menghampar jauh hingga ke ujung di jalan Rawa Kutuk. Kita tunggu saja sekitar 6 bulan lagi apakah ada perubahan yang berarti di danau ini, semoga makin lestari dan indah.
Sebelum pulang aku mampir sebentar di warung yang jualan nasi kuning. Harganya sedikit lebih mahal dari nasi kuning yang biasa aku beli (9000 dibanding 7000, kalau pakai telor jadi 12000), tapi rasanya tidak mengecewakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...




























