26 January 2018

Bintaro Exchange Mall - Suatu Malam


Jumat malam yang tidak terlalu ramai di Bintaro Exchange Mall, tapi juga tidak sepi. Beberapa restoran tampak penuh, bahkan aku harus masuk daftar tunggu di Imperial Kitchen, meskipun sudah di atas jam 7.


Kolam Koi yang biasanya ramai dikelilingi pengunjung, khususnya anak-anak, terlihat sepi dan tenang. Maklum, ini aku potret saat pulang, sudah jam 9 lebih.

Kunjungan Kawan dan Reuni Kecil


Akhirnya sempat juga Nanda mampir ke rumah di akhir perjalanan dinas rutinnya di Jakarta. Pertama kali nyobain KRL, katanya, setelah direformasi. Karena kartu uang elektroniknya tertinggal di hotel, dia beli tiket harian, ya setidaknya sudah pengalaman dan gak canggung lagi nanti.

Kami sempat ngobrol sebentar tentang kerjaan, tapi sebagian besar waktu dihabiskan untuk menemani El bermain hehehe. Sekitar jam 3 lebih, Yohan datang menyusul.


Malam harinya kami reuni singkat, mengajak Anggit untuk bergabung di Bintaro Exchange. Singkat, tapi lumayan lah, untuk berbagi kisah dan nostalgia juga. Reuni yang tidak direncanakan, biasanya malah kesampaian, ya meskipun dengan jumlah orang yang terbatas.

15 January 2018

Ulat Matahari (?)


Menempel di mobil tetangga yang diparkir di bawah pohon mangga, ulat ini tampak indah. Indah, tapi nggilani. Sepertinya ini ulat matahari, atau ulet srengenge, yang kalau tersentuh bisa memberi rasa gatal+panas di kulit.


Dulu waktu kecil aku sering menemukan ulat ini di pohon jambu air yang tumbuh di depan rumah, dan beberapa kali telapak kaki tersengat saat tak sengaja menginjaknya. Kemranyas! Sejak itu aku selalu mencoba hati-hati.

Jadi penasaran,seperti apa bentuk kupu-kupu dari ulat ini ya?

08 January 2018

Rumah Semut


Mengagumi kemegahan alam tidak hanya dari hal-hal yang besar dan megah - gunung, pantai, dasar laut, dan sebagainya. Tidak jarang, hal-hal kecil, dan terabaikan, menyimpan keindahan yang mengagumkan dari makhluk-makhluk kecil,seperti semut.


Yang cukup unik, setidaknya buatku, dari sarang semut ini adalah bentuknya yang memanjang seperti ranting. Mungkin bagi mereka, ini adalah bentuk menara, apartemen semut :D

28 December 2017

Liburan Natal 2017 : Pulang


Pot-pot bunga disusun membentuk nama KEDIRI di Stasiun Kediri,baru aku lihat kali ini. Melihat ukuran bunga yang kecil,memang sepertinya ini belum lama dibuat. Hari ini kami kembali ke Jakarta, naik kereta Gajayana.


Boneka mungil ini sementara waktu menjadi teman perjalanan kami, aku pasang saja di dekat jendela karena El tidak tertarik untuk bermain dengan boneka ini.


Karena berangkat masih sore (jam 4 sore), setidaknya kami masih bisa menikmati pemandangan di sepanjang rel kereta api dari jendela, apalagi saat cuaca cerah, hingga matahari tenggelam di wilayan Nganjuk. Kadang El duduk di samping jendela menikmati pemandangan, tapi lebih sering dia berjalan mondar-mandir di sepanjang gerbong.


Saat di St. Madiun, aku lihat ada deretan sepeda motor yang sudah dibungkus kardus, sepertinya hendak dikirim dengan memakai jasa kereta api. Di bagian lain stasiun, dan juga beberapa stasiun lain, aku juga sempat melihat kardus-kardus tertumpuk rapi beraneka ragam bentuk. Usaha sampingan seperti ini bisa menunjang bisnis kereta api, apalagi perjalanan sekarang sudah lumayan cepat.

Dalam perjalanan pulang ini El masih cukup merepotkan karena masih mondar-mandir, bahkan sesekali ngelosor di lantai. Dia sempat tidur jam 12 malam lebih, kami pangku seperti biasa, tapi terbangun sekitar jam 2 pagi dan memilih untuk tidur di lantai di bawah kursi. Saat aku coba mengangkatnya, dia menangis, jadi ya sudah kami biarkan saja. Aku sudah terjaga sekitar 1 jam sebelum tiba di Jakarta jam 4 pagi. Berbeda dengan saat datang, kali ini El tidak terbangun saat kami pindah naik taksi, bahkan sampai di rumah. Sudah benar-benar capek.

27 December 2017

Liburan Natal 2017 : Melihat Perjuangan Petani


Dua petani sedang membajak sawah dengan mesin berbahan bakar diesel. Pemakaian mesin untuk membajak ini bukan hal yang baru, sejak aku kecil juga sudah sering lihat meskipun belum banyak. Mungkin juga tergantung dengan daerahnya,karena kalau areal persawahannya terlalu miring,  agak susah juga bawa mesin bajak begini.

Jadi ingat jaman kecil dulu ada iklan soal sapi vs mesin, dimana pemilik sapi membanggakan diri kalau seusai membajak dia bisa pulang sambil nunggang sapi, sedangkan mesin pembajak sawah ini tidak bisa ditunggangi hehehe.


Hari ini tidak ada rencana bepergian mengisi liburan karena nanti sore sudah akan kembali ke Jakarta. Makanya aku manfaatkan pagi ini sebaik-baiknya untuk menikmati suasana pedesaan dengan persawahan dan udara  yang masih sejuk, meskipun harus berjuang menggendong El karena dia sedang malas jalan kaki. Bocah ini malas jalan kaki, tapi pengen jalan-jalan. Lumayan gempor juga, jalan-jalan hampir 2km, meski sesekali istirahat dan memotret.


Sebenarnya aku sempat melihat beberapa burung kuntul putih berkeliaran di persawahan di bawah Gunung Klotok ini. Sayangnya aku gak punya kesempatan untuk memotretnya, agak ribet mengawasi El yang berkali-kali lebih senang berjalan di tengah jalan atau merengek minta terus bergerak.


Aku baru sadar kalau aku belum pernah melewati tangga ini untuk menuju puncak bukit Maskumambang. Selama ini aku selalu naik dari tangga yang ada di sisi timur, sedangkan ini ada di sisi barat. Mungkin tahun depan perlu dicoba.

25 December 2017

Liburan Natal 2017 : Taman Agro Margomulya


Sudah hampir 10 tahun bolak-balik ke Kediri, tapi baru tahun ini aku diajak piknik mendekati Gunung Kelud, meskipun tidak sampai ke puncak gunungnya. Tujuan kami adalah ke Taman Agro Margomulya, yang terletak di jalur menuju Kelud, masih ada di wilayah kecamatan Ngancar, Kediri.


Sebelum tiba di lokasi kami mampir dulu di warung yang menjual makanan dengan menu dari bekicot. Makanan ini tidak asing lagi, karenan memang makanan yang banyak ditemui di daerah ini. Di sini ada pilihan sate bekicot atau krengsengan bekicot.

Selain banyak bunga yang tumbuh di sekitar jalan,  kita bisa melihat hamparan kebun nanas di sini, karena memang di sini juga merupakan setra perkebunan nanas. Tapi karena di keluarga tidak ada yang suka nanas, jadinya gak beli nanas satupun.


Lampion warna-warni diletakkan di pintu masuk Taman Agro Margomulya (TAM) ini. Justru jadi kepikiran, kok bentuknya lampion seperti menyambut Imlek, sengaja atau asal-asalan? Kami sempat nongkrong sebentar di areal parkir, yang juga ada kawasan rumah makan dengan banyak  pilihan makanan, menunggu ibu mertua yang makan siang (karena beliau tidak suka bekicot).


Sambil menunggu, terdengar lantunan lagu-lagu yang dibawakan oleh kelompok musik di panggung yang ada di depan pintu masuk. Setahuku ada 2 penyanyi,satu pria dan satu wanita. Sang wanita sempat memperkenalkan diri berasal dari Nganjuk, tapi aku gak sempat mendengar namanya. Ini dipotret dari tempat parkir, lumayan jauh dan terhalang bangunan di sekitar pintu masuk.


Kawasan wisata yang dikelola oleh salah satu BUMD Kab. Kediri ini katanya mulai dibangun tahun 2016 dan diresmikan tahun ini, dengan luas sekitar  2ha, berisi beragam jenis bunga. Salah satu tujuannya adalah untuk menjadi objek wisata penyangga bagi kawasan kawah Gunung Kelud, agar membatasi jumlah pengunjung di puncak gunung yang sempat meletus tahun 2014 lalu.


Taman ini menawarkan beragam jenis bunga dan spot-spot khusus untuk berswafoto, memfasilitasi trend jaman sekarang sehingga tempatnya  dikelola sedemikian rupa agar menjadi instagramable. Ada gubug-gubug dan tempat-tempat duduk untuk istirahat yang juga dihias menarik, tentu untuk foto-foto, dengan beragam dekorasi warna-warni.


Secara keseluruhan, tempat ini lumayan menarik untuk beristirahat sejenak, melepas penat dari kejenuhan kesibukan sehari-hari. Hamparan bunga warna-warni, udara sejuk dan segar serta latar belakangan gunung Kelud saling melengkapi pemandangan untuk melepas lelah dan sekedar berkumpul bersama keluarga. Apalagi tiket masuknya juga murah, cuma 5000 rupiah per orang.

Tapi memang taman ini masih jauh dari indah. Hamparan bunga yang ada, menurutku, masih belum terlalu rapi, dan kurang ada unsur edukasinya. Akan lebih menarik lagi kalau bunga-bunga yang ada bisa lebih tersusun rapi dan rapat sehingga memenuhi taman, apalagi kalau ditambah berbagai papan informasi yang bisa memberi penjelasan tentang jenis-jenis bunga dan keunikannya, misalnya. Areal taman juga menurutku masih terlalu kecil, kurang puas rasanyanya menjelajah keliling taman, apalagi dibanding dengan "perjuangan" menuju lokasi yang lumayan jauh dari kota Kediri. Tapi masih  bisa dimaklumi, soalnya kan masih baru dan butuh waktu untuk membuat bunga-bunga itu bisa tumbuh sempurna.

Satu lagi,sepertinya pengelola perlu memikirkan adanya satu daya tarik andalan, misalnya satu jenis bunga khas Kediri atau Jawa Timur, yang bisa jadi icon tempat ini. Entah sudah ada atau belum, tapi dari kunjunganku kemarin sih  aku tidak menemukannya.


Di sebelah selatan pintu masuk ada kawasan Lembu Sura, yang berisi patung manusia berkepala lembu/sapi, yang berdiri kokoh dengan latar belakang Gunung Kelud. Mengapa sosok ini dipilih? Waktu itu aku tidak sempat bertanya-tanya ke orang sekitar.

Setelah baca-baca sekilas, aku baru tahu tentang legenda tokoh ini, yang memang terkait dengan Gunung Kelud dan wilayah sekitarnya. Ada beragam versi cerita tentang legenda ini, tapi memiliki satu benang merah - seorang putri menolak diperistri manusia berkepala lembu, dan memintanya membuat sumur di lereng Kelud dalam semalam. Saat sumur hampir dibuat, Lembu Sura dikubur hidup-hidup di dalamnya, dan sebelum mati sempat mengucapkan kutukan.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...