24 December 2017

Renovasi Kubah Masjid Baitussalam


Dari atap rumah mertuaku, tampak sedang ada renovasi kubah masjid yang lokasinya  tidak jauh dari rumah itu. Bisa dibilang ini salah satu masjid yang paling mencolok kalau dilihat dari teras atas rumah,karena paling tinggi diantara bangunan-bangunan yang ada, dan kubahnya lumayan besar.


Demi keselamatan kerja, para pekerja mengenakan helm, yang agak lucu karena helm yang dipakai adalah helm untuk motor, bukan seperti helm yang sering dilihat dari pekerja bangunan. Yang penting aman,meski mungkin agak kurang nyaman hehehe.


Sebelumnya kubah ini  berwarna hijau polos dan kalau gak salah dari tembok biasa. Sekilas waktu aku lewat depan masjid ada keterangan tentang proyek renovasi ini, yang mengganti kubah masjid dengan bahan GRC dan lebih  warna-warni.


Selama aku di sini, bagian atas masih belum sepenuhnya tuntas, mungkin juga karena terhenti dengan adanya libur Natal (long weekend).

Ibadah Minggu Menjelang Natal


El sudah semangat ingin segera keluar rumah dan jalan-jalan, meskipun tidak tahu tujuannya kemana. Yang jelas dia semangat karena tahu bakal jalan-jalan naik mobil rame-rame.


Seperti dugaanku, El langsung memberontak dan menolak waktu diajak masuk ke dalam gereja. Dia tahu, di dalam gedung artinya dia tidak bisa bermain, sementara keinginannya saat itu adalah bermain dan berjalan-jalan. Jadi sementara anggota keluarga lainnya  masuk ke gereja untuk mengikuti ibadah minggu, aku mengikuti kemauan El berkeliling di seputar gereja.


Bosan berada di sekitar gereja, El mengajak berjalan-jalan lebih jauh, menyusuri jalan. Aku ajak dia menyeberang jalan ke SD Burengan, yang kebetulan gerbangnya terbuka tapi tempatnya sepi (tidak banyak orang). Di sana El sempat menjelajah - duduk di taman, naik tangga ke ruang perpustakaan (yang tentu saja sedang tutup) dan berkeliaran sebentar di halaman sekolah sebelum akhirnya kembali bosan dan mengajak ke jalanan. Aku bawa dia kembali ke lingkungan gereja.


Ternyata kali ini dia tidak menolak waktu aku ajak ke lingkungan TK yang ada di sebelah gereja, yang ruangannya  biasa dipakai untuk sekolah minggu. Acara sekolah minggu sudah selesai, tapi beberapa anak masih ada di sana, termasuk Timothy, kakak sepupunya. Jadilah  El bermain di sana, cukup bersemangat. Timothy dan anak-anak lainnya  tampak lebih asyik dengan gadget, tapi El gak peduli dan mondar-mandir saja di dalam ruangan. Lumayan juga, dia bermain di tempat itu sampai ibadah selesai.


Eh, ibadah minggu selesai dan waktunya pulang, El mau diajak masuk ke dalam gereja. Kali ini dia santai aja digendong Om-nya ke dalam gereja, tidak berontak seperti waktu pertama kali datang. Aku masih sempat bersalaman dengan pak pendeta dan ngobrol sebentar.

23 December 2017

Berangkat Mudik 2017


Tugu Monas jadi salah satu foto wajib sebelum berangkat mudik ke Jawa Timur tiap akhir tahun, maklum, setiap mudik selalu memakai kereta api  yang berangkat dari St. Gambir.

Siang ini hampir saja tertinggal kereta, karena pas berangkat dari rumah, di tengah jalan baru sadar kalau oleh-oleh tertinggal di rumah. Bukan barang penting sebenarnya, tapi sayang aja kalau makanan yang sudah dibeli lumayan mahal bakal sia-sia karena tidak dimakan. Jadi aku putuskan untuk  pulang dulu sendirian, sementara istri, anak dan adik ipar terus lanjut ke stasiun. Toh waktu juga masih lumayan tidak mepet.

Tapi perhitunganku sempat meleset, gara-gara pas mau naik ojek dari St. Tanah Abang, aku sempat di-PHP-in sama driver go-jek. Aku sempat harus menunggu hampir 30 menit, dan herannya justru kendaraan itu makin lama makin menjauh dari lokasiku menunggu. Setelah aku coba telp dan gagal, akhirnya dia cancel. Beruntung aku bisa dapat gantinya dan segera berangkat, sampai di St. Gambir 15 menit sebelum kereta berangkat. Alhasil gak bisa bersantai dulu di stasiun.


Rupanya El juga pas lagi rewel di dalam kereta yang belum berangkat. Dia enggan untuk masuk ke dalam kereta dan masih ingin bermain di dalam stasiun. Terpaksa aku gendong dan bawa jalan-jalan ke sekitar bordes agar bisa melihat pemandangan di luar. Sempat anteng saat melihat deretan mobil diparkir di samping stasiun, tapi tetap merengek ingin keluar dari kereta api. Saat kereta api berangkat juga masih sempat menangis, tapi akhirnya dia pasrah  juga.


Sepanjang perjalanan El lebih suka jalan  mondar-mandir di sepanjang gerbong, dan sesekali mengajak untuk ke bordes. Sempat ikut nimbrung dengan anak-anak lain  yang sedang bermain, tapi terpaksa aku singkirkan karena dia cenderung "merebut" mainan orang lain. Kebetulan ada anak kecil, yang mungkin sudah sekitar 4 tahun, yang sama-sama aktif dan mau mengajak El bermain.

"Sini, main sama Cia", begitu beberapa kali dia mengajak El bermain, dan bahkan mencoba memeluk El - yang tentu saja menghindar. Setidaknya El menanggapi ajakannya bermain, meskipun harus ikut maunya El hehehe. Saat El memilih untuk duduk dan menonton video di smartphone, Cia juga ikutan. Malah Cia yang betah bermain dengan El sampai enggan diajak ke tempat duduknya. Dia sempat berontak dan ngambek waktu dipaksa untuk beranjak oleh mamanya, karena memang sudah sampai di tempat tujuan, yaitu di Semarang.

Dibanding dengan perjalanan tahun lalu, bisa dibilang kali ini perjuanganku menemani El lebih ringan. Meski El masih aktif, tapi dia hanya mondar-mandir di sepanjang gang di dalam gerbong, atau bermain sendiri di kursi dan lantai. Sesekali dia ngambek tiduran di lantai kereta, tapi tidak sering. Kalau tahun lalu, karena belum bisa jalan, aku cukup kerepotan karena dia memaksa untuk terus keluyuran sambil merangkak - dan gantinya aku harus menggendong ke sana ke mari.

Perjalanan kali ini mengalami keterlambatan sekitar 1 jam, sehingga kami sampai di Kertosono jam 3 pagi. El baru tidur jam 1 pagi, dan sampai di stasiun dia sudah bangun lagi.

Liburan dimulai!

21 December 2017

Terompet Tahun Baru


El sedang serius mengamati pemulung yang sedang membuat terompet dari kertas. Salah satu ciri/icon pergantian tahun Masehi adalah terompet, jadi wajar kalau banyak penjual terompet dadakan yang mencoba mengais rejeki.


Entahlah apakah bisnis terompet ini masih menguntungkan atau tidak, mengingat begitu gencarnya "kampanye" (baca: hasutan) untuk tidak merayakan pergantian tahun Masehi ini dan ajaran yang mengaitkan terompet dengan budaya Yahudi. Dengan meluasnya penggunaan media sosial, kampanye semacam itu jadi lebih masif dan meluas, ditambah dengan "potensi" penyebaran penyakit lewat terompet dan beragam meme liar yang beredar luas.


Terus terang, mengaitkan terompet dengan budaya kaum tertentu, apalagi dengan terompet malaikat maut, adalah hal yang konyol. Tapi aku setuju tentang masalah kesehatan,jadi perlu bijaksana, meski gak perlu terlalu paranoid.

Semoga saja para pemulung ini bisa mendapat tambahan rejeki yang banyak dari usaha terompet dadakan seperti ini.

Bunga Wijayakusuma


Seingatku, inilah pertama kali aku melihat bunga Wijayakusuma yang hanya mekar pada malam hari ini. Pas iseng nongkrong di depan rumah sama tetangga, aku lihat di depan rumah tetangga ada bunga warna putih ini.


Meskipun belum pernah melihat sebelumnya, tapi aku langsung bisa menebak kalau ini Wijayakusuma, berdasar artikel-artikel yang pernah aku baca.

Memang benar-benar indah, sayangnya saat siang hari dia akan tampak layu (tidak mekar). Konon kabarnya, ada mitos bahwa bunga ini punya kaitan dengan penguasa.

03 December 2017

Bola Mainan


Ada dua hal yang selalu menarik perhatian El saat kami mengajaknya bermain ke Bintaro Exchange - ikan dan bola. Dia selalu betah melihat ikan koi di taman belakang mall ini. Selain itu,dia akan antusias saat melihat ada orang yang bermain bola. Biasanya dia akan nimbrung dan "merebut" bola itu, meskipun belum terlalu pandai memainkannya. Untunglah selama ini kami bertemu dengan anak-anak yang ramah, yang mau berbagi permainan dengan bocah yang belum genap 2 tahun  ini. Sepertinya lain kali kalau ke sini lagi harus bawa bola sendiri.


Selanjutnya beberapa kali aku sengaja membawa bola kalau El bermain di lapangan kompleks. Soalnya memang dia selalu ingin nimbrung kalau di sini ada yang bermain bola. Jadi daripada nanti dia mengganggu yang lain, aku harap dia bermain.


Rupanya ada satu faktor yang kurang - faktor teman. Meski sesekali tetap memainkan bola yang kami bawa, El tampak kurang antusias bermain karena tidak ada teman. Dia akan memegang dan menendang 2-3 kali, terus bosan dan mencari permainan lain.

Tapi ketika ada teman, dia akan bersemangat meskipun jadinya terkesan mendominasi :). Beberapa kali saat kami membawa bola di lapangan, justru anak-anak lain yang meminjam bola ini, dan gantian El meminjam mainan mereka hehehe.

01 December 2017

Penggantian Lampu Jalan (Lagi)


Salah satu aktivitas yang paling sering dilakukan pengurus kompleks kali ini adalah mengganti lampu-lampu jalan di sekitar kompleks. Lampu yang lama biasanya memakai model panjang, yang dirasa sudah kurang terlalu terang dan boros (meskipun listrik memakai fasilitas umum).

Beberapa diganti dengan model LED, tapi kali ini pak RT mencoba memakai bohlam hemat energi dan fitingnya memakai jenis yang simple agar lampu bisa bersinar ke segala penjuru.


Seperti biasa, anak-anak yang penasaran ikutan bermain di sekitar.

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...