I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
14 October 2014
Sekitar Stasiun Woodlands
Seorang kakek dengan kendaraan listriknya menunggu untuk menyeberang jalan dari arah Admiralty Park di samping kampus RP. Daerah Woodlands adalah daerah di bagian utara Singapura, dan sudah dekat dengan perbatasan Malaysia. Seingatku, beberapa kali aku mampir ke tempat ini selalu pas cuaca hujan. Termasuk hari ini, meskipun udara masih panas, tapi baru saja turun hujan sehingga udara lumayan segar.
Sekitar stasiun Woodlands ada deretan pohon palem di sepanjang jalanan yang ada. Meskipun tidak tampak rindang, tapi setidaknya pohon-pohon itu sedikit mengurangi kegersangan daerah yang masih banyak lahan kosong ini.
Seorang pengendara sepeda menuntun sepedanya saat melintas jalur pejalan kaki yang menghubungkan jalan raya dengan stasiun MRT. Sepertinya khusus di tempat ini pengendara sepeda wajib menuntun sepedanya, dan meskipun jaraknya lumayan panjang, sebagian besar tertib menuntun sepedanya.
Stasiun Woodlands sendiri terintegrasi dengan terminal bisnya. Jadi di bagian atas adalah stasiun MRT, sedang bagian bawah terminal bis. Aku perhatikan ada beberapa tempat yang seperti ini, atau setidaknya tidak berjauhan jaraknya dan terhubung langsung cukup dengan berjalan kaki, seperti di Tampines, Bedok dan Ang Mo Kio.
Tak ketinggalan tempat parkir sepeda, selalu ada di dekat stasiun. Di sini aku perhatikan parkiran sepeda cukup banyak tersedia.
Burung dara, dan tentu saja burung Myna dan gagak, banyak berkeliaran di sekitar stasiun. Apalagi daerah ini masih banyak pepohonan dan juga lapangan rumput yang luas.
12 October 2014
Burung Liar Di Taman Bandara CGK
Taman-taman yang asri dan di dalam lingkungan Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK) mengundang banyak burung liar untuk mampir dan bermain. Bukan sekedar burung pipit atau merpati, tapi burung-burung yang menurutku agak sulit ditemukan di Jakarta.
Salah satunya burung ini, bulunya tampak tebal dan membuatnya terlihat tambun. Ada beberapa burung seperti ini sedang bermain di taman dekat ruang tunggu Terminal 2, sedang bermain dan membersihkan diri.
PS: foto di sini sedikit diolah dan dipertajam dengan aplikasi Camera360.
#birds #airport #cengkareng #jakarta
Seputar Teras Depan Rumah
Halaman rumah ada sepetak kecil lahan untuk taman, meski sangat kecil, tapi sudah jauh mendingan daripada ga ada sama sekali. Tapi kami belum sempat mengolahnya, karena masih fokus mberesin bagian dalam rumah, dan dana juga masih terbatas. Jadinya sekitar teras depan kami biarkan saja seadanya seperti waktu ditinggalkan oleh pemilik lama.
Sisa-sisa semen, kerikil dan cat masih banyak berserakan di taman. Tapi yang menyenangkan adalah munculnya tunas-tunas tanaman baru, kecil tapi tampak segar. Aku berusaha sebisa mungkin rutin menyirami taman yang gak seberapa ini setiap hari. Minimal biar tanaman yang ada bisa tumbuh, dan syukur-syukur muncul tanaman baru. Biar hemat.
Bunga inipun dulu sebenarnya dibiarkan terbengkalai di lantai atas oleh pemilik lama, sengaja tidak dibawa. Eman-eman, aku bawa saja ke depan dan aku rawat sebisanya. Lumayan, masih tampak segar dan berbunga, memberi variasi warna di taman. Ada beberapa bunga jenis ini yang bisa aku selamatkan dan masih hidup sampai sekarang.
Di sudut taman ada sebatang pohon besar sebagai bagian dari taman. Awalnya aku pikir itu batang pohon mati saja, sekedar pelengkap taman. Tapi kata tukang yang renovasi rumah, itu adalah pohon mangga yang masih hidup. Ternyata benar, di beberapa tempat muncul tunas-tunas baru. Wah, bisa berbuah gak ya, lumayan buat rujakan.
Kucing-kucing rumah selalu ingin keluar rumah karena merasa bosan di dalam. Salah satu aktivitas favorit para kucing saat di luar rumah adalah bermain tanaman, dan memakan rumput.
Ada sisa-sisa kayu yang sengaja masih aku simpan, siapa tahu suatu saat bermanfaat. Tapi jadinya ya membuat teras terkesan berantakan begitu. Belum ada cukup waktu luang untuk membereskannya.
10 October 2014
Fat Straw
Seorang bule menemani dua rekannya yang sedang menunggu pesanan minuman di Fat Straw, Gandaria City. Mereka tampak berbincang dengan asyik, meskipun aku gak paham apa yang mereka bincangkan. Aku sendiri memilih menunggu sambil duduk di pojokan yang ada colokan listriknya :)
Siang ini aku sengaja nunggu di kedai Fat Straw ini, bukan di kedai kopi seperti biasanya. Sekedar nyari alternatif, termasuk nyari yang lebih murah. Kalau di Starbuck atau Coffee Leaf, minimal aku harus merogoh kocek sekitar 30-50 ribu untuk ongkos nongkrong (bonus minuman tentunya). Di sini aku pesan paket minum yang sudah lengkap, harga 28 ribu.
Mungkin alasan dia pakai nama fat "gemuk" adalah karena bentuk cup-nya yang relatif tambun atau bantat, dibanding cup di kedai teh lainnya. Desain tutup cup-nya juga simple dan menarik. Soal rasa, hmm... aku baru nyoba menu andalan mereka, teh susu dengan bobba.
Entah mengapa sinyal bolt maupun xl agak jeblok di tempat ini. Untung ada koneksi wifi yang cukup kencang, hampir 1Mbps dan lancar karena gak banyak pengunjung. Juga aku bisa menebak dengan tepat password wifi di tempat ini tanpa harus tanya ke pelayannya. Sepertinya sudah jadi standard di warung-warung, password wifi selalu pakai nama menu andalannya :)
08 October 2014
Bumbu Instant
Dapat jatah daging kurban dari bu RT, sayangnya istriku lagi berpantang makan daging dan juga gak bakal sempat masak di hari kerja. Jadinya aku sendiri yang masak dan makan sendiri :) Butuh tiga hari untuk menghabiskan daging kambing dan sapi ini, mungkin satu kilo, kurang lebih. Hari pertama aku masak nasi goreng saja. Hari kedua aku nemu bumbu instant ini di Indomaret, bumbu sambal goreng. Rasanya ya lumayan, meskipun jelas beda kalau dibanding bikin bumbu sendiri. Hari ketiga aku masak sop, dengan bantuan teman :) Yang paling mantap ya hari ketiga itu, bumbunya lengkap.
04 October 2014
Bintaro - Depok via Tanah Abang
Beberapa waktu lalu aku sempat menyarankan seorang teman dari Depok untuk datang ke Bintaro naik KRL saja, lebih mudah. Tapi dia memilih naik motor ke Fatmawati dan sambung dengan taksi. Tidak terlalu lama karena kebetulan tidak kena macet. Secara teori, harusnya dengan KRL lebih cepat, waktu tempuh total mungkin cuma sejam lebih dikit. Hari ini aku coba buktikan teori itu.
Kerumunan calon penumpang KRL terlihat di Stasiun Manggarai, terutama untuk calon penumpang menuju Bogor. Aku terpaksa naik kereta dari Manggarai karena waktu menunggu kereta di Tanah Abang, keretanya masih siap-siap di St. Pasar Senen. Pas kebetulan ada kereta ke arah Manggarai, kami naik saja, dengan harapan akan lebih banyak kereta ke arah Depok dari stasiun ini.
Benar juga, gak sampai sepuluh menit kereta dari arah St Kota sudah datang. Meskipun penuh, tapi tidak sampai berjubel seperti pada saat hari kerja di jam sibuk. Memang, secara waktu, kalau kami memutuskan untuk tetap menunggu di St. Tanah Abang, paling beda waktunya 15-30 menit, tapi tadi di St. Tanah Abang calon penumpang sudah sangat banyak :)
Hitungan kasarku, dari Bintaro ke Tanah Abang sekitar 20 menit. Tanah Abang ke Manggarai sekitar 5 menit. Sedang Manggarai ke Kampus UI Depok sekitar 20 menit juga. Jadi harusnya total waktu gak sampai sejam, atau kalau hitunganku meleset, ya tetap saja cuma sejam lebih sedkit, gak sampai 1.5 jam. Masalahnya adalah waktu tunggu kereta yang tidak pasti, membuat perjalanan bisa memakan waktu selama 2 jam :)
Perjalanan pulang sedikit lebih cepat. Karena kami ingin langsung naik kereta yang ke arah Tanah Abang, kami harus menunggu kereta yang dari Bogor kurang lebih 15 menit. Saat menunggu, ada 2 KRL dari Depok ke arah Kota yang sudah melintas. Sebenarnya frekuensi KRL Jakarta - Depok ini terbilang cukup sering, kalau pas normal, paling 5 menitan. Tapi tetap saja penumpangnya penuh.
Sampai di St. Tanah Abang, sudah ada kereta jurusan Parung Panjang yang siap berangkat. Kami sudah pasrah saja, berjalan santai karena niat untuk naik kereta berikutnya. Ternyata kereta itu gak segera berangkat. Jadi meskipun sudah sangat penuh, kami putuskan untuk naik kereta itu, toh cuma 20 menit ini. "Sudah biasa", kata istriku. Jadi waktu tunggu saat kami pulang lebih cepat dibanding saat kami berangkat. Alhasil perjalanan pulang tidak sampai memakan waktu 1.5 jam.
#train #station #commuterline #jakarta #krl #transportation #waiting #people #snapshot #railway
02 October 2014
Nyobain Ayam Bakar Masardi
Pas lagi muter-muter nyari makan siang dekat rumah, gak ada yang tampak menarik. Pas sudah hampir balik lagi sampai rumah lihat waung makan Masardi yang dari luar tampak menjanjikan. Jadi mampir saja. Menu andalannya adalah ayam bakar dan ayam kremes. Aku pesan ayam kremes, karena menu lain seperti bebek dan burung dara belum tersedia.
Ternyata tidak mengecewakan, kremesnya enak, sambelnya juga lumayan pedes. Satu lagi keunggulan warung ini, khususnya bagi pecinta nasi layaknya kuli bangunan, kalau makan di tempat boleh ambil nasi sepuasnya :D
Kali ini aku nyobain di cabang Jl. WR Supratman Ciputat. Setelah baca spanduknya, rupanya ini cabang dari warung yang ada di Prapatan Duren. Wah, berarti lebih dekat lagi dong, cuma selama ini aku gak pernah memperhatikan.
Sedikit masalah adalah waktu makan yang agak kurang pas. Persis di samping warung lagi ada lapak jualan kambing untuk Idul Adha. Jadi meskipun aku makan ayam goreng, tapi aromanya bercampur dengan aroma kambing :D
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...
























