I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
17 April 2019
Pemilu 2019
Di sini lagi, di TPS 011 Jakarta Barat, mengambil hak sebagai warga negara untuk memilih wakil rakyat. Sebenarnya kali ini aku tidak terlalu antusias, beda dengan waktu 5 tahun lalu ataupun waktu pilgub DKI sebelumnya. Kami datang sudah siang, jadinya suasana TPS sudah sepi, malah hampir tutup, karena mengantisipasi andaikan istri dan adik ipar gak dapat undangan C6.
Beberapa hari sebelumnya Pak RT ini sudah menghubungiku, memberi kabar kalau aku sudah dapat undangan untuk ikut pemilu, tapi dia gak yakin tentang istriku. Makanya aku diminta mengirim nama dan nomor KTP istri dan adik iparku. Ternyata kami bertiga semuanya terdaftar di DPT, jadi saat tiba bisa langsung lapor dan nyoblos.
Soal pilihan, ya sudah jelas lah, kan untuk INDONESIA. Untuk pileg sendiri, acuanku cuma satu : dari partai yang baru.
Selesai nyoblos, kami tidak sempat mampir-mampir ke rumah tetangga, tapi langsung ke mall untuk makan siang, sekaligus jalan-jalan sebentar. Lumayan, mumpung formasi lengkap.
Semoga pemilu ini membawa dampak yang baik bagi negeri.
13 April 2019
Ulat Kuning
Saat menemani El main ayunan di lapangan, mataku sempat melihat ulat kecil berwarna kuning ini persis di bawah ayunan. Untung sekali, kalau sempat kena kulit bisa gatal sekali akibatnya.
Sepertinya ini jenis ulat yang sering ada di pohon jambu, karena di lapangan memang ada satu pohon jambu air. Melihat bentuk bulunya, hampir seperti ulat srengenge, dan meski tidak mencoba untuk megang, aku yakin ini ulat bisa bikin gatal.
Tapi cakep.
31 March 2019
Resepsi Sunatan Raka
Bersama beberapa tetangga menghadiri resepsi sunatan Raka, tetangga yang masih satu blok. Ternyata dia disunat sudah beberapa bulan lalu, tapi entah mengapa selamatannya baru diadakan sekarang. Aku tidak tahu kalau sebenarnya ada rencana dari para bapak-bapak untuk bersama-sama datang setelah tengah hari, jadinya ini tampak cuma sedikit.
Kebetulan bisa datang full team. Seperti biasa, agak kewalahan mengawasi si El, yang bolak-balik ingin mencoba makanan yang ada. Selain itu, apesnya, ada pedagang mainan yang mangkal di dekat tenda - jadilah dia minta jatah mainan. Untung harganya murah.
Nah, rombongan ibu-ibu datangnya sebelum tengah hari, berbeda dengan rombongan bapak-bapak. Jadi bisa dibilang kami bergabung bersama rombongan para ibu :)
Saat mendapat undangan ini aku teringat kejadian waktu El masih berumur setahunan. Waktu itu ketemu dengan ibunya Raka, dan dia bertanya soal apakah El akan disunat. Aku jawab ya nanti kalau sudah besar. Eh, kok dia malah "menceramahiku", menganjurkan untuk segera sunat. Lah, aku juga tahu manfaat sunat kok, lagipula mentang-mentang aku orang Kristen gak paham soal sunat apa ya hehehe ... Toh di Jawa, sunat buat anak laki itu sudah jadi tradisi semua kalangan. Eh lha kok ternyata anaknya sendiri baru disunat setelah sekolah :)
Sebelum pulang, El lagi-lagi minta jatah "jajan" di para pedagang dekat acara resepsi. Kali ini yang diminta mainan gelembung sabun begini. Senang banget dia bermain ini.
30 March 2019
Selamat Jalan, Bulik Wiwik
Selang beberapa minggu setelah bapak meninggal, aku dapat kabar kalau Bulik Wiwik yang ada di Wonogiri meninggal dunia. Beliau adalah adik tiri bapak, satu ibu beda bapak. Pantas saja tidak ada keluarga dari Wonogiri yang datang di pemakaman bapak, rupanya beliau sedang sakit parah juga.
Waktu kecil aku sering bermain ke Wonogiri, salah satu tempat liburan yang menyenangkan meskipun perjalanannya tidak nyaman karena mendaki pegunungan dan selalu bikin mabuk darat. Dulu bulik Wiwik bekerja di gedung bioskop, tak jauh dari rumah simbah. Jadi tiap liburan ke sana hampir selalu aku luangkan waktu untuk nonton film secara gratis. Malah pernah nonton film Bodyguard sampai 3 kali, dan tertidur waktu nonton di kali ketiga hehehe.
Aku tidak sempat ikut melayat, hanya diwakili oleh mas Dian dan mbak Atik. Sedih juga mendengar kondisi mereka (bulik Wiwik dan bulik Menuk) akhir-akhir ini, sayangnya aku sendiri belum bisa berbuat banyak untuk membantu mereka.
Selamat jalan, Bulik Wiwik.
29 March 2019
Kurir Pakai Bajaj
Ini pertama kali aku melihat bajaj dipakai oleh kurir, kali ini dari JX (j-express.id), kurir standard yang dipakai oleh JD.ID. Menarik juga, sayangnya yang dipakai masih yang memakai bahan bakar bensin, bukan yang gas.
Jadi ingat pernah nonton video, ada paket yang diuji coba dikirim dengan menggunakan drone, kalau gak salah dari JD.ID juga. Tapi kalau pakai drone di Indonesia sih aku rasa masih sangat rawan, dan rasanya agak "kurang sopan" :)
16 March 2019
Pulang ke Jakarta
Rombongan calon penumpang bersiap saat kereta api yang hendak mereka naiki tiba di St. Tugu Yogyakarta. Malam ini kami juga akan kembali ke Jakarta, yang akan berangkat sekitar jam 9 malam. Dari Gendenk kami diantar keluarga Mas Yanto yang kebetulan dalam perjalanan pulang, tapi resikonya kami datang terlalu awal - sekitar jam 6 malam sudah ada di stasiun.
Sempat makan malam di Loko Cafe (lagi, tapi kali ini yang ada di dalam stasiun) kemudian menunggu di deretan bangku yang penuh dengan calon penumpang. Repotnya, bocah-bocah tidak sabar untuk diam menunggu saja, inginnya selalu bergerak. Agak beruntung ada areal kecil untuk bermain anak, setidaknya 15 menit lebih Fe dan El sempat menghabiskan waktu bermain di sana.
El lebih gak sabaran lagi untuk naik kereta api. Setiap ada kereta datang, dia ingin segera naik. Akibatnya sedikit rewel. Udah gitu El dan Fe sering rebutan sesuatu - tempat duduk, mainan, makanan, dan rebutan minta digendong. Pokoknya gak sabar kalau cuma menunggu.
Kereta datang tepat waktu ... selamat tinggal Jogja, sampai jumpa lagi.
Wisata Sehari : Taman Pintar & Malioboro
Mumpung lagi di Jogja dan ada waktu luang, kami manfaatkan dengan jalan-jalan sebentar di kawasan yang populer - pusat kota Jogja. Diawali dari Taman Pintar, karena seingatku ada banyak tempat bermain yang bakal membuat El senang.
Seperti dugaanku, El sangat antusias di sini. Mutar-mutar di berbagai areal yang ada, seperti tidak ada capeknya. Sempat mencoba naik mobil-mobilan,dengan tiket 12 ribu per orang, tapi ternyata El belum paham mengemudi, sementara orang dewasa dilarang ikutan. Ya sudah, jadinya batal. Untunglah untuk wahana air (naik kapal), justru wajib ditemani orang dewasa - jadi kami bisa berkelana sebentar di atas air, meski dalam cuaca yang lumayan panas terik, tapi senang.
Selain bermain, El bolak-balik minta jajan :)
Sementara Fe juga gak mau ketinggalan. Dia mencoba main ayunan khusus batita, dan juga bermain sebentar di taman. Dia tampak sumringah bermain dan melihat anak-anak lain bermain di sekitarnya. Tapi ya gak bisa lama-lama karena Fe belum bisa jalan, kalau ngesot terus ya kotor.
Dari Taman Pintar kami langsung melaju ke Stasiun Tugu naik becak motor, ongkosnya 15 ribu. Di sini cuma mencetak tiket untuk perjalanan pulang nanti malam dan foto-foto sebentar di loko yang dipajang di depan stasiun sebelah selatan.
... foto bersama saat nongkrong sebentar untuk minum kopi ... bocah-bocah susah untuk diajak wefie.
Pas waktunya makan siang, kami putuskan untuk mencoba Loko Cafe yang persis ada di samping rel kereta api, di ujung Jl. Malioboro. Tempatnya nyaman, makannya lumayan dengan harga turis tentu saja (bukan harga standard masakan di Jogja yang katanya murah). Aku sendiri nyobain mie jawa di sini, tapi rasanya kok kurang akrab di lidah.
Sepanjang jalan Fe tidur dalam gendongan, sementara El masih sempat menikmati jalanan Malioboro, setidaknya sampai mendekati Malioboro Mall. Selanjutnya dia mulai merengek minta gendong. Aku rasa karena dua alasan - kecapekan dan ngambek karena ingin mainan tapi tidak dituruti. Alhasil, hampir separuh perjalanan aku menggendong El, sambil membawa ransel berisi perlengkapan bocah-bocah. Lumayan.
Sekilas, tidak terlihat banyak perubahan di jalan yang menjadi wisata "wajib" di Jogja ini, selain trotoir yang lebih rapi dengan bangku-bangku yang nyaman. Setengah perjalanan mendadak hujan turun cukup deras, padahal sebelumnya panas terik. Sampai di ujung jalan, barulah hujan reda.
Di depan Benteng Vredeburg kami istirahat sebentar sambil menunggu jemputan dari taksi online. Lelah, tapi aku sangat senang dengan keberamaan kami saat ini.
...walau kini engkau telah tiada tak kembalinamun kotamu hadirkan senyummu abadi ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagibila hati mulai sepi dapat terobati ...
Penggalan lagu KLA Project yang membuatku terharu mengingat bapak yang baru saja tiada.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...


























