I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
08 June 2014
Simple Bird with Orange Colour
Kehadiran burung ini, di atas atap rumah tetangga, cukup menarik perhatian para kucing, dan juga manusia. Aku sendiri sangat terhibur dengan munculnya burung ini, meskipun waktu kehadirannya tidak pasti. Entah apa namanya, tapi dia berkicau lumayan merdu (terutama ditengah bisingnya Jakarta), dan melihat ada warna jingga di pangkal ekornya, pasti bukan burung liar sembarangan. Ukurannya juga lebih besar dibanding burung gereja yang sering berkeliaran di sekitar rumah, mungkin hampir dua kali lipat.
Setidaknya ini burung bagus yang masih berkeliaran bebas, bukan di dalam sangkar seperti yang kebanyakan dimiliki para tetangga. Jumlahnya tidak banyak, tapi kurasa lebih dari satu. Beberapa kali aku menjumpai mereka di pepohonan sekitar kantor kelurahan. Kadang dikejar sama anak-anak kecil, bahkan tukang ojekpun tertarik untuk menangkapnya. Bagiku, biarlah mereka terbang bebas, menambah keindahan kota dimana kehadiran burung liar adalah pemandangan yang langka. Semoga dia tetap lestari dan bisa bertahan di tengah ganasnya belantara Jakarta.
07 June 2014
Betawi's Wedding with Ondel-Ondel
Pagi-pagi sudah terdengar nyaring suara orang "berantem". Rupanya di depan kantor Kelurahan lagi-lagi ada acara kawinan, kali ini memakai adat Betawi, lengkap dengan acara adu jawara saat menyambut mempelai pria. Juga ada sepasang ondel-ondel dengan iringan tanjidor.
Biasanya aku cuma melihat ondel-ondel ini jadi patung yang diam saja, atau yang sedang berjalan sedikit bergoyang, mungkin karena ukuran yang besar membuat gerakannya tidak leluasa. Baru kali ini aku lihat ondel-ondel njoget cukup lincah. Sepasang ondel-ondel ini bergoyang tidak hanya berjalan mondar-mandir, tapi juga sedikit beratraksi, berputar dan melompat.
Saat melihat aku bawa kamera, tetangga sebelah rumah nyeletuk "Didokumentasiin Om, jarang-jarang ada yang beginian". Wah, orang betawi aja bilang kalau ondel-ondel dan tanjidor sudah jarang dipentaskan.
Bayanganku, yang memainkan tanjidor, terutama rebab, adalah kakek-kakek. Eh, rupanya hampir semua pemain tanjidor ini masih tampak remaja. Baguslah, berarti ada regenerasi, mengingat kesenian tradisional ini tampaknya sudah jarang ditampilkan. Cuma aku perhatikan lagu-lagu yang dibawakan cukup akrab aku dengar, seperti Jali-jali, keroncong kemayoran, dan kadang lagu-lagu Benyamin. Malah sempat membawakan lagu Prau Layar (yang notabene lagu Jawa) dan lagu dangdut. Aku jadi berpikir, rasa-rasanya memang jarang menemukan lagu betawi yang baru. Jangan-jangan memang tidak ada lagu baru, atau kurang publikasi. Moga-moga cuma aku saja yang kurang gaul.
Ada yang tahu lagu Betawi pasca eranya Benyamin S?
01 June 2014
While Waiting, At BASO
Hampir semua orang sepakat, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Apalagi kalau yang ditunggu itu sudah sangat diharapkan, seperti menunggu datangnya makanan di saat makan. Adanya internet dan social media memang kadang bisa sedikit mengalihkan kita dari kejenuhan saat menunggu. Tapi seringkali aku memanfaatkan waktu menunggu dengan memotret hal-hal yang sederhana.
... sambal, kecap manis dan saos tomat ...
Kalau dipikir-pikir memang ketiga bumbu ini tergolong wajib untuk makanan Indonesia, minimal untuk makanan Jawa. Beberapa kali bosku merasa heran saat aku menambahkan kecap manis atau saos tomat ketika makan mie :).
Mengapa lampu di rumah makan cenderung dibuat agak redup dan remang-remang? Biar lebih romantis kah? Lha kasihan yang jomblo dong, makan sendirian di tempat romantis :) Adakah peranan cahaya redup dengan nafsu makan?
Untunglah makanan segera datang, mungkin karena kami juga datang agak awal dan pengunjung tempat ini belum terlalu ramai. Selamat makan!
30 May 2014
After Lunch at Hapetea Story, Tanjung Duren
Setelah beberapa hari lalu nyoain Kungfu Tea, sekarang giliran nyobain Hepitea Story, masih di jalan Tanjung Duren Raya juga. Tempatnya cukup nyaman buat nongkrong (dan kerja, kalau pas sepi), dan kebetulan koneksi Bolt di tempat ini lebih lancar jaya. Pas uji kecepatan bisa sampai 18Mbps (wooww), tapi ya kecepatannya naik turun, gak stabil. Setidaknya masih jauh lebih baik dibanding waktu nyobain di Kungfu Tea.
Oh ya, secara menu minuman yang disajikan agak lebih mirip dengan Kungfu Tea, lebih banyak jenis pop (teh rasa buah-buahan segar), dan waktu aku tanya apa yang spesial, juga disebutkan menu Yakult, jadi ya aku coba pesan itu dengan toping Popping Boba. Nah, topping jenis ini yang menurutku unik karena baru pertama kali nyoba (katrok kali pun..) Cuma kali ini aku belum sempat mencoba menu yang lain, kalau yang aku minum sih enak-enak aja, segar asal tepat waktu minumnya, soalnya asam.
Selain minuman, di sini menjual desert juga, kaya kue gitu, uniknya kuenya disajikan dalam bentuk pot. Aku sih belum minat nyobain, lagi berhemat di akhir bulan :) Btw, si mas yang dibelakang itu kok mirip Daus Separo (pemeran Ismail di OB) ya :-?
Nah, waktu kerjaku di sini agak terganggu karena lagi ada acara shooting dari adek-adek belia ini, entah dari tivi mana. Sepertinya sih dari tivi kampus. Awalnya mereka di lantai atas, makanya aku batal nongkrong di lantai atas. Eh, tak lama kemudian mereka pindah lokasi malah di lantai satu, aku tonton aja, malas beranjak ... sambil kerja tentunya. Adek yang paling kiri itu yang jadi pembawa acaranya, sepertinya acara ini terkait dengan tata rias wajah, kosmetik lah.
Dilihat dari luar ... gak ada papan namanya ya?
Sempat membingungkan sih, cuma di sisi kanan sebenarnya ada papan namanya, gak sengaja ke-crop.
#bukanpromosi #cumabagipengalaman
25 May 2014
Church Service in Javanese
Seorang bapak-bapak mendadak beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke speaker sambil mengulurkan smartphonenya. Oh, rupanya dia hendak merekam lagu yang dinyanyikan oleh paduan suara adiyuswa. Dalam hati aku senyum-senyum sendiri, ternyata aku bukan satu-satunya orang yang berniat merekam lagu dalam ibadah minggu ini :)
Karena istriku sedang berhalangan, sengaja aku menghadiri kebaktian minggu pas jam 10 di GKJ Nehemia, Lebak Bulus, karena di jam ini ibadah dibawakan dalam bahasa Jawa. Memang pengunjungnya sangat sedikit, mungkin seperti halnya istriku, banyak yang merasa kurang nyaman beribadah dengan bahasa Jawa, sekalipun di GKJ. "Gak terlalu paham kata-katanya", demikian kata istriku. Wajar, karena bahasa yang digunakan seringkali bahasa tingkat tinggi (krama inggil). Bahkan ibuku sendiri lebih memilih menghadiri kebaktian yang berbahasa Indonesia, kalau gak jam 6 ya jam 8 pagi, tapi kurasa sih alasannya lebih karena waktu, bukan karena bahasa.
Mozaik kaca di depan pintu masuk gereja.
Karena jarak cukup jauh, aku memilih memakai bis Transjakarta untuk berangkat ataupun pulang dari gereja, kalau naik taksi jaraknya jauh, tekor kalau cuma sendirian. Lagipula di hari Minggu pagi jalanan relatif lancar, dan busway juga gak terlalu penuh. Contohnya ini, kosong melompong pas masih di terminal Lebak Bulus. Pas berangkat sih sudah mulai penuh, tapi tetap ada bangku kosong.
23 May 2014
Kungfu Tea Tanjung Duren
Siang-siang memang paling cocok menikmati minuman dingin yang segar, apalagi di Jakarta yang panasnya ... #ahsudahlah. Biasanya pilihannya kalau gak es kelapa muda pinggir jalan, ya Chatime. Tapi kali ini aku mau nyobain kedai KungFu Tea yang ada di Tanjung Duren, depan gedung Pemadam Kebakaran.
Wah, suasana kedainya cocok buat nongkrong sendirian atau ramai-ramai, apalagi pas sepi gini, bisa kerja dengan nyaman. Pas ramai juga gak terlalu masalah sih, toh kebanyakan pengunjungnya mahasiswi Ukrida, atau anak-anak sekolah BPK Penabur hehehe
Sayangnya, sinyal Bolt maupun 3G dari XL gak terlalu lancar di sini, jadinya batal kerja seharian. Masih mendingan di CP atau di rumah.
Selain menyediakan minuman berbahan dasar teh, di sini juga menjual rupa-rupa makanan ringan. Tapi aku belum berminat, karena toh ke sini sekedar untuk minum sambil menunggu waktu makan siang.
Pertama kali aku nyoba Q-Latte, udah ada isi bubble dan kacang merah. Ugh, ternyata aku gak cocok dengan kacang merah. Kemudian aku coba beli yang Yakult Green Tea, dengan topping Cincau. Mantap, benar-benar menyegarkan. Hampir semua minuman di sini pakai madu, jadinya istriku kurang begitu suka. Meski demikan, kita bisa memilih tingkat kandugan madu yang kita ingin dalam minuman ini.
Bukan promosi, sekedar cerita kesan pertama saja :)
11 May 2014
Pink Ribbon Campaign at Mall Ciputra
Sudah lama gak mampir di Mal Ciputra (Citraland) dan tema saat ini (sepertinya terkait dengan ultah mall) adalah Pink Ribbon Campaign. Ini adalah kampanye untuk peduli terhadap kanker, khususnya kanker payudara. Di bilik yang ada di lobi itu ada tempat untuk mengumpulkan botol plastik bekas. Seingatku dulu pernah ada juga pengumpulan botol yang akhirnya dipakai untuk membuat pohon natal raksasa. Kali ini entah apa yang akan dibangun dari botol plastik yang dikumpulkan itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...






















