17 April 2022

Bukber 2022

Bapak-bapak kompleks berfoto bersama di halaman samping mushola dalam acara buka puasa bersama yang diadakan kembali, mumpung PPKM sudah mulai dilonggarkan. Meski demikian, acara tetap menerapkan protokol kesehatan sebisa mungkin.

Dibalik foto ini, ada cerita lucu, karena tanpa sengaja seseorang menginjak kotoran kucing dan menimbulkan bau gak sedap, tapi mencoba bertahan demi bisa foto bersama.

Gantian ibu-ibu yang berfoto bersama, tentu setelah kotoran penyebab bau terlebih dulu disingkirkan.

Anak-anak aku ajak juga untuk bergabung dalam acara ini, dan tentu saja mereka antusias. Selain dapat bermain dengan teman sebaya, juga jarang sekali mereka punya kesempatan bermain malam-malam. Biasanya aku melarang mereka bermain di dalam mushola, kuatir ada yang gak berkenan dan kuatir mereka bikin berantakan. Tapi kali ini aku biarkan, toh banyak anak juga bermain dan banyak orang dewasa yang membantu mengawasi mereka.

Bu Bambang yang aktif menjadi fotografer tak ketinggalan memotret anak-anak yang sedang bermain.

Kesempatan yang cukup langka bagi anak-anak ini bisa berkumpul bersama, apalagi saat pandemi seperti ini.

Seingatku sudah 2 tahun tidak ada acara buka puasa bersama akibat pandemi, kalaupun ada kumpul-kumpul biasanya dilakukan secara spontan dan tidak resmi. Tidak semua warga hadir, karena masih ada yang memilih bersikap waspada dan gak mau mengambil resiko berkumpul dengan banyak orang.

El dan Fe belum kami ijinkan bermain dengan hape, jadi ketika ada teman mereka yang asyik bermain gadget, mereka jadi penasaran juga.

Sempat ada kejadian, El didorong oleh Bilal (anaknya pak Giri yang berumur 3 tahun). Spontan, El balas mendorong anak itu, yang seukuran dengan Fe, dan jatuh. Untung gak parah dan gak nangis. Segera aku coba memberi pengertian ke El agar tidak membalas mendorong, apalagi ke anak yang lebih kecil. Meski sempat protes karena merasa didorong duluan, tapi El mau nurut. Namanya juga anak-anak, inilah perlunya tetap mengawasi mereka saat bermain, sekaligus memberi ruang kebebasan agar mereka juga bisa belajar.

 

Cerita Kakak El Pulang Kampung

Kakak El berangkat menuju Kediri naik kereta api bersama Bunda dan Andre. Sudah 2 tahun lebih kami melewatkan jatah mudik karena pandemi, dan mumpung PPKM sudah mulai longgar dan ada libur panjang, istriku memutuskan untuk memanfaatkan waktu dan pulang kampung. El sudah mendapat vaksinasi Covid tahap 1, jadi sudah bisa naik kereta. Sementara Fe tidak ikut. Mereka berangkat sore hari tanggal 13 April 2022.


Bermain dengan anjing peliharaan kakak Timothy.


Ikut bermain di cafe.


Main kembang api.


Memberi makan rusa di penangkaran tak jauh dari rumah Yangti.


Bermain dengan kakak Timothy, entah main catur beneran atau cuma berpose.


Waktunya pulang, naik kereta juga, tanggal 16 April 2022. Semoga menjadi kenangan yang mengesankan.
 

15 April 2022

Makan Siang di Foodpedia Pasar Modern Sektor 7

Fe sedang mengaduk kopi hitam yang aku pesan siang ini sebelum makan. Makan siang kali ini aku ajak Fe ke Pasar Modern Bintaro Sektor 7, biar gak jenuh di rumah juga. Sempat bingung mau makan di mana, akhirnya mencoba di Foodpedia.

Aku mencoba menu nasi goreng, sedang Fe hanya makan kentang goreng. Rasanya lumayan.

Mungkin karena masih pandemi dan juga bukan pas jam makan siang, jadi tempat ini sepi. Mumpung sepi, Fe bebas menjelah lantai dua.

Sekali-kali bergaya sambil (pura-pura) minum kopi, aku minta tolong Fe untuk motret.


 Secara menyeluruh, desain cafe ini cukup menarik, khususnya yang lantai atas, meski sederhana tapi mencoba agar terkesan hijau. Sayangnya, pilihan atap membuat suasana agak gerah, meski ada ruangan khusus yang ber-AC. Selain itu, pelindung yang minimalis membuat tempat ini basah kuyup jika turun hujan deras.

14 April 2022

Sehari di Jakarta Bersama Fe

Pagi ini aku mengajak Fe untuk jalan-jalan di Jakarta, tepatnya ke Tanjung Duren, sekalian untuk mengisi waktu saat kakaknya pergi ke rumah nenek bersama Bunda. Fe tidak diajak mudik karena belum mendapat suntikan vaksin, jadi berdua saja di rumah bersamaku. Kami berangkat ke Jakarta menggunakan Commuter Line dari Stasiun Jurangmangu.

Gerbong kereta masih cukup sepi, jadi Fe bisa mendapat tempat duduk, apalagi masih ada pembatasan jumlah penumpang terkait PPKM meski sudah mulai longgar. Aku sempat bingung waktu Fe bertanya, kapan masuk terowongannya. Belakangan baru ingat kalau yang dimaksud Fe adalah MRT karena dulu mereka pernah diajak naik MRT dari Lebak Bulus ke Senayan, jadi sempat masuk ke terowongan.

Kami turun di Stasiun Palmerah, terus pindah menggunakan taksi online (GoCar). Meski jam kerja, tapi jalanan masih cukup lancar.

Tujuan utama kami ke Jakarta kali ini adalah untuk mengambil surat pindah. Sebelumnya kami masih terdaftar sebagai warga DKI meski sudah pindah domisili ke Tangsel. Kami malas mengurus surat pindah sehingga kalau ada kegiatan terkait wilayan seperti Pilkada dan juga vaksinasi, kami masih sering dipanggil ke sini. Belakangan, kata pak RT, pihak terkait mulai ketat dalam pendataan warga mereka, apalagi kami sudah tidak ada tempat tinggal di sana.

Hingga suatu saat ketika mendaftar sekolah El di SD, pihak sekolah sempat mempertanyakan format Kartu Keluarga yang masih memakai format lama, ada kekuatiran kalau tidak diakui oleh dinas pendidikan terkait. Ketika kami mencoba mengajukan cetak KK, melalui sistem online, pengajuan kami ditolak, karena dianggap sudah tidak tinggal di wilayan itu. Pak RT setempat juga sudah tidak bisa membantu, mungkin karena kami jarang berkunjung (dan bayar iuran), karena pandemi jadi jarang pergi-pergi. Akhirnya kami putuskan untuk melakukan mutasi kependudukan ke Tansel. Tahap pertama adalah mengajukan surat pindah, yang bisa dengan mudah dilakukan secara online melalui sistem disdukcapil Jakarta Barat.

Kami cukup isi data melalui aplikasi Alpukat Betawi, termasuk mengisi kapan waktu untuk mengambil surat pindahnya. Proses sangat lancar, dan hari ini kami hanya mengambil suratnya saja. Karena masih pandemi, kami tidak perlu masuk ke kantor kelurahan, cukup memberi info ke satpam yang bertugas, dia yang lapor dan mengambil surat itu untuk kami. Lima belas menit beres.

Dari kantor kelurahan aku ajak Fe jalan kaki ke Mal Central Park, sekalian nostalgia dulu sering jalan ke sana untuk makan siang. Lewat ke rumah pak Budi/bu Warni, tapi rumahnya tutup.

Karena sudah lapar, aku langsung ajak Fe ke tempat makan. Tujuan utama adalah foodcourt Urban Kitchen, tapi ternyata tutup karena sedang renovasi. Jadi aku ke tempat ramen saja, Ikkudo Ichi, biar bisa makan ramen haram hehehe.

Meski ada beberapa pengunjung, tapi tempatnya relatif sepi.

Aku pesan dua porsi ramend, satunya berkuah pakai daging babi, satu lagi tidak berkuah pakai daging ayam, maksudnya buat Fe.

Tapi ternyata Fe lebih memilih ramen yang pakai kuah, meski makan ramennya dikit, tapi dia cukup menikmati kuahnya. Dagingnya sih aku yang makan karena dia masih gak suka makan daging. Aku sempat minta dia makan sedikit telur yang ada. Lumayan lah, setidaknya dia juga bisa enjoy makan, jadi aku gak cuma makan sendirian.

Habis makan kami jalan-jalan sekitar mal, dan tentu saja menyempatkan untuk mampir di tempat kolam ikan koi yang ikannya besar-besar.



 Setelah puas bermain, kami kembali ke rumah. Naik taksi dari mal ke Stasiun Palmerah, kemudian lanjut naik kereta sampai Stasiun Jurangmangu, kemudian naik motor ke rumah.

Perjalanan yang melelahkan tapi menyenangkan dan urusan juga tuntas. Tahap selanjutnya adalah mengurus surat datang di Tangsel agar bisa membuat KK dan KTP baru.

08 April 2022

Nongkrong di Balkoni Cafe

Acara menjelajah cafe kali ini bersama anak-anak turut mengajak Anggit, yang juga sedang kerja dari rumah. Tempat yang dituju adalah Balkoni Cafe, dekat dengan supermarket Harihari yang biasa kami kunjungi saat belanja.

Anak-anak seperti biasa pesan teh manis dan kentang goreng. Aku pesankan roti bakar, tapi mereka kurang begitu suka.


 Aku sendiri pesan kopi dan roti dengan roasted beef. Kaget juga pas datang, ternyata rotinya pakai roti panjang, jadi banyak gini. Untunglah rotinya lembut gak bikin cepat kenyang, tapi tetap saja gak habis dimakan sendiri sekaligus. Jadi sebagian aku bawa bungkus.

Ketika pulang, mendadak turun hujan deras. Jadi Anggit menolong mengantar anak-anak pakai mobil, sementara aku pulang sendiri naik motor. Karena aku lewat jalan pintas, aku bisa sampai lebih dulu, cuma lebih basah saja hehehe.

06 April 2022

Renovasi Tempat Jemuran

Mumpung ada sedikit rejeki dan para tukang lagi lowong, aku minta bagian atap jemuran diperbaiki. Sebelumnya ditutup pakai atap plastik yang sudah bolong-bolong, kebanyakan karena diinjak-injak kucing, dan juga palang kayunya juga mulai keropos. Akibatnya sering bocor kalau hujan deras, meski hanya tempat jemuran, tapi cukup merepotkan kalau air merembes sampai bawah. Jadi aku minta atap diganti, pakai baja  ringan sebagai rangka dan atap yang lebih kuat. Namun biar tetap ada pencahayaan yang banyak, aku minta sebagian atap tetap pakai fiber bening.

Selain itu, aku minta bagian barat dibuat agak terbuka, dengan tambahan jendela agar aku bisa menikmati sunset, mumpung atap tetangga yang di sebelah juga sudah ditutup rapat. Dengan adanya jendela ini, aku berharap bisa menikmati matahari terbenam di sini, sambil menunggu jemuran kering ..hehehe.

Di samping jendela aku biarkan terbuka agar ada ventilasi udara yang lebih banyak. Soalnya tempat ini sangat panas kalau siang, apalagi kalau tidak ada udara yang masuk. Dengan adanya ventilasi ini, sementara di sisi timur sudah ada ventilasi yang cukup, aku harap udara bisa lebih sering mengalir dan segar.


 Sekarang aku bisa ngopi dan ngeteh di sini sambil menikmati senja, meski masih sedikit terhalang atap rumah tetangga.

Update: ternyata jendela dan ventilasi ini bermasalah ketika hujan deras turun, apalagi hujan yang pakai angin kencang, karena air hujan akan masuk ke dalam dan jumlahnya banyak. Jadi akhirnya aku coba tutup celah-celah di jendela dengan plastik seadanya, sementara untuk ventilasi di sebelahnya, bagian atas aku tutup dan menyisakan sedikit di bagian bawah. Lumayan bisa mengurangi jumlah air hujan yang merembes di tembok dan masuk ke dalam rumah. 

02 April 2022

Situ Parigi Setelah Revitalisasi

Untuk pertama kali aku mengajak anak-anak ke Situ Parigi, sekaligus juga ini pertama kalinya aku berkunjung kembali ke danau buatan ini setelah ada revitalisasi di tahun 2020. Kalaupun sebelumnya aku pernah berkunjung, itu sekedar lewat jadi belum tahu sejauh apa revitalisasi dilakukan. Aku membayangkan, kalau Situ Bungur yang jauh lebih sederhana bisa menjadi lebih menarik, pasti Situ Parigi ini bisa lebih bagus lagi.

Tampilan awal jelas lebih bagus, ada gerbang dan parkiran yang cukup luas. Dulu tempat ini tertutup, atau lebih tepatnya seperti kebun yang susah dijelajahi. Sekarang jadi rapi dan menarik untuk dikunjungi.

Selain gerbang, sekeliling danau juga sudah full ada jogging track dengan conblock mengelilingi danau, dan taman-taman di beberapa tempat yang menambah keindahan tempat ini. Apalagi hampir seluruh pinggir danau masih penuh dengan pepohonan rindang, meski ada beberapa bangunan penduduk tapi tidak terlalu menonjol.

Dulu ada pulau di tengah-tengah danau, tapi dihilangkan dan danau juga dikeruk agar bisa menampung air lebih banyak. Sebenarnya sayang juga danau itu harus dibuang, padahal tidak terlalu besar, harusnya bisa dimanfaatkan untuk wahana wisata yang lebih berdaya guna.

Oh ya, jangan terkecoh dengan tampilan air danau yang tampak begitu bersih dan bening. Di sana ada sampah, meski tidak terlalu banyak, tapi air danau ini bersumber dari sungai-sungai di atasnya yang sudah bercampur dengan berbagai limbah, terutama limbah rumah tangga yang begitu banyak. Banyaknya limbah ini bisa terlihat di bagian bendungan, dimana gelembung sabun tampak begitu melimpah. Juga di bagian hulu danau tampak banyak sampah menggenang. 

Meski demikian, tetap tidak mengurangi keindahan danau dan danau ini tetap layak untuk jadi tempat rekreasi dan refreshing.

Kami berjalan berkeliling danau, yang jaraknya hampir 2x lipat kalau mengelilingi Situ Bungur, tapi anak-anak tidak terlalu mengeluh. Mereka sempat menjumpai ada beberapa kambing mencari makan, dan mencoba memberi makan anak kambing itu dengan dedaunan yang ada. 

Ada orang, entah petugas resmi atau hanya warga sekitar, yang sepertinya sedang membersihkan permukaan danau dari sampah-sampah yang menggenang. Memang ada beberapa jaring dipasang di tepi danau untuk menangkap sampah, tapi entah seberapa efektif itu.

Di bagian barat, ada perkampungan warga yang cukup padat, dan ada yang memelihara kawanan angsa dan dilepas bebas di pinggir danau. Terus terang aku agak takut dengan binatang ini, lupa apakah dulu pernah diserang atau tidak, tapi kebiasaan mereka yang tidak ramah membuatku sedikit waspada. Sementara anak-anak lebih cenderung cuek, aku mencoba berjalan hati-hati agar tidak mengganggu mereka. Sepertinya para angsa ini juga bersikap waspada melihat kehadiran kami.


Satu lagi yang menyenangkan di sini adalah adanya beberapa toilet umum, selain tempat buat nongkrong, dan juga ada beberapa mushola. Ada juga rumah adat betawi, entah apakah rumah warga, atau rumah untuk pajangan (budaya), aku belum sempat menggali informasi. Di depan rumah itu ada semacam teras yang bisa dipakai buat menggelar acara di tepi danau.


Secara keseluruhan, ada 3 jembatan yang harus kami lewati saat mengelilingi danau ini. Karena kami masuk dari arah selatan dan berjalan memutari danau berlawanan dengan arah jarum jam, jembatan yang pertama kami temui adalah jembatan di sisi utara, menyeberangi sungai kecil tempat keluarnya air danau. Sungai kecil itu relatif kumuh, debit airnya kecil jadi sampah lebih banyak berserakan di sana. Jembatan pertama ini dari besi, dan sudah ada sejak danau belum direnovasi.

Selanjutnya jembatan kedua ada di utara juga, persis di atas bendungan. Dari besi dengan pelindung rapat, karena di bawahnya adalah sungai yang lumayan besar tempat sebagian besar air danau ini mengalir pergi.

Jembatan ketiga adalah jembatan baru ini, jembatan yang sedikit melengkung, dari besi juga, untuk melewati sungai tempat masuknya air dari arah selatan. Mungkin karena bentuknya menggembung ke atas, Fe agak takut-takut saat menyeberangi jembatan ini.

Di tempat parkir ada beberapa warung, juga ada beberapa sarana buat duduk dan bermain anak. Jadi selesai mengelilingi danau, anak-anak bersantai dulu smabil menikmati jajanan dan minuman. Sejauh ini, tempat ini nyaman, dan penduduk sekitar juga terlihat ramah.

Ada terlihat dermaga sederhana, dengan sampan kayu yang juga sederhana, tapi El begitu penasaran ingin naik ke atasnya. Tentu saja aku tidak mengijinkan, jadi mereka hanya menongkrong di sini saja.

Sejauh ini, aku rasa revitalisasi Situ Parigi ini sudah sangat bagus, menjadikan tempat ini jadi tempat rekreasi sederhana tapi menarik di pinggiran Jakarta yang sudah lumayan sumpek. Karena anak-anak masih susah mengingat nama danau, kami menyebut tempat ini sebagai danau jauh (karena lokasi agak jauh dari rumah), sedang Situ Bungur sebagai danau dekat (karena sangat dekat rumah).

 

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...