I just try to capture an ordinary life --- moments, things, places, peoples, etc. --- with a simple skill
I believe that we can find many interesting things in life, even in a very simple thing.
24 November 2013
Sunday Service at New Life Community Church
Untuk pertama kali aku menghadiri ibadah hari Minggu di Singapura. Kebetulan kali ini aku ditugaskan selama dua minggu, jadinya weekend di sini, dan aku memilih New Life Community Church di Geylang. Alasannya sederhana, karena ada yang kukenal di sana.
Bisa dibilang aku datang pada waktu yang tepat, karena setidaknya dua orang yang aku kenal pas lagi datang. Pertama adalah Yuli, yang secara kebetulan juga, sedang mengadakan prosesi penyerahan anak hari ini. Aku sih tidak terlalu akrab dengan dia, apalagi dengan suaminya, jadi tidak terlalu sempat ngobrol juga dengannya.
Nah yang kedua adalah Ko Penes, yang dulu adalah pendeta di gereja tempat aku bernaung selama di Bandung. Kalau dengan Ko Penes dan istrinya aku cukup kenal dan seusai kebaktian aku sempatkan untuk menyambangi dia sekedar menyapa. Seingatku sudah sepuluh tahun lebih aku tidak bertemu dengannya, mungkin sejak dia melanjutkan kuliah teologi di Singapura dan memilih menjadi hamba Tuhan di sini.
Ini Jo (Joshua), anak tertua Ko Penes. Kebetulan dia baru saja ikut perjalanan misi ke Kamboja bersama ayahnya dan menyampaikan kesaksian dalam ibadah ini. Terakhir aku ketemu dia waktu dia masih kecil, mungkin sekitar umur 6-8 tahun, jadi dia gak bakalan ingat denganku :)
Pertemuan yang singkat, namun tetap saja mengesankan. Ibadah di tempat ini tidak jauh beda dengan cara beribadah di gereja waktu di Bandung.
22 November 2013
Christmas Decoration along Orchard Road
Patung keluarga beraneka warna ini menjadi icon Plasa Singapura, dan dengan adanya pohon natal sebagai latar belakangnya, patung itu tampak lebih meriah. Sejak bulan November, mall-mall di Singapura, terutama di sepanjang jalan Orchard sudah mulai memasang dekorasi bernuansa natal.
Dekorasi di sekitar Orchard Central aku rasa yang paling meriah. Dekorasi dipasang di hampir setiap kursi taman di sepanjang trotoar.
Tentu saja masih banyak dekorasi lainnya, seperti yang menempel di dinding atau pilar sepanjang mal.
Kalau ini pohon natal dengan berbagai dekorasi pendukung seperti kereta Santa, yang dipasang di depan Orchard Point, dilihat dari seberang jalan.
Pohon-pohon natal yang berjejer di sepanjang Mandarin Gallery tidak terlalu tinggi, dengan warna biru, dan dikelilingi lampu yang melingkari pohon. Sederhana, tapi saat malam hari, dekorasi ini tampak menawan dan modern.
Photo jarak dekat di salah satu pohon natal biru, jadi teringat film Tron.
Beralih ke pelataran Ngee Ann City, beberapa dekorasi khas natal seperti rusa, kue jahe dsb menempel di lampu jalan berwarna hijau. Tampak serasi dan keren, tentu saja kalau dinikmati di malam hari.
Pohon natal dari bola-bola coklat (entah sungguhan atau tidak) yang kemungkinan besar dibuat oleh Ferrero Rocher, salah satu produk coklat yang khas dengan bentuk bulat dan bungkus berwarna emas.
Nah, kalau lampu jalan ini ada di sepanjang jalan Orchard. Tapi waktu aku lewat, tidak semuanya menyala.
Sebuah taman buatan dipasang di pelataran ION Orchard, meskipun penuh dengan dekorasi bernuansa natal, tapi kok cenderung kayak dekorasi untuk pernikahan outdoor. Tentu saja menjadi favorit para pengunjung untuk sekedar duduk-duduk dan terutama berfoto ria.
Pohon natal raksasa juga dibuat di depan ION Orchard, dengan lampu yang berubah-ubah warnanya secara bergantian. Ternyata bagian tengahnya kosong dan orang bisa masuk di dalamnya. Di dalam pohon natal itu diputar lagu-lagu natal. Cukup menarik berada di dalamnya, tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Nah, kalau hiasan di depan Far East Shopping Center agak berbeda dengan yang lain. Di sini mirip dekorasi bernuansa hutan eksotik, dengan berbagai patung binatang liar. Menarik.
Friday Night at Orchard Road
Pekerjaan masih menumpuk, tapi jumat malam ini aku putuskan untuk menghabiskan waktu jalan-jalan di sepanjang jalan Orchard. Alasanku sederhana, selain penat dengan padatnya jadwal selama seminggu ini, katanya mal-mal di kawasan Orchard sudah mulai berhias dalam rangka Natal dan Tahun Baru.
Sepertinya kawasan ini tidak pernah sepi di malam hari karena padatnya pertokoan dan juga sudah menjadi salah satu icon belanja di kota ini, jadi para wisatawan juga "wajib" mampir ke sini, terutama yang punya duit lebih dan hobi belanja. Dan memang, mulai dari Orchard Central hingga ION Orchard, hiasan bernuansa Natal tampak mendominasi sepanjang jalan dan pertokoan.
Nah, yang tukang bergaya dan foto-foto ini sepertinya wisatawan. Di era digital dengan booming-nya kamera digital, membuat tiap orang dengan mudah mengabadikan kenangan lewat foto, termasuk (eh terutama) foto narsis. Gak ada salahnya, asal tidak mengganggu orang lain saja. Toh kenangan itu kadang tidak ternilai harganya.
Dan tidak hanya fotografer amatiran kayak aku dan para narsis mania yang sibuk di sini, sepertinya fotografer profesional juga tidak mau melewatkan momen di sini. Setidaknya aku melihat dari peralatan yang mereka bawa, selain model kamera DSLR kelas berat (gak mungkin masuk kantong), mereka juga bawa tripod. Tapi memang aku belum lihat ada yang bawa peralatan lighting di sini hehehe
Di depan Ngee Ann City ada lapangan cukup luas, lengkap dengan air mancur dan beberapa patung. Tentu saja ini menjadi tempat berfoto ria bagi para pengunjung, baik foto keluarga, foto narsis, atau foto gak jelas (kayak yang kulakukan).
Nah, ada yang unik dengan etalase Louis Vuitton ini, keretanya tidak ditarik oleh rusa salju, tapi oleh angsa :) Meskipun terkesan sederhana, dengan latar belakang berdominasi merah menyala (lebih ke warna Imlek dibanding warna Natal), tapi iklan ini bagus dan eye-catching.
Di halaman Wisma Atria tampak ramai dengan pengunjung, sebagian duduk, ada juga yang mondar-mandir dan (tetap) berfoto ria. Rupanya di sini ada beberapa pengamen yang sedang unjuk kebolehan.
Yang pertama adalah tiga musisi ini, membawakan irama instrumentalia bernuansa etnik. Lagu yang mereka bawakan tidak kukenal sama sekali, mungkin lagu mereka sendiri. Alat musiknya juga bukan selevel alat musik "anak band", tapi meskipun mengamen, kualitas mereka tidak kalah dengan peserta festival musik. Dari wajahnya, sepertinya mereka orang Jepang. Aku suka dengan cara mengamen seperti ini, tidak menggangu, juga tidak "memaksa", apalagi kualitas penampilannya juga keren.
Nah tak jauh dari letak ketiga musisi tadi, masih di pelataran Wisma Atria, sepasang penari juga unjuk kebolehan. Sang penari pria memainkan bola-bola kristal, sedang yang wanita menggunakan alat dari kayu yang mirip bumerang, ada 4 buah. Koreografinya juga menarik, dan mereka berdua juga berasal dari Jepang. Di akhir pertunjukan sang penari pria memperkenalkan diri soalnya, dan bilang kalau mereka dari Jepang.
Deretan patung warna-warni ini juga sudah tentu menjadi incaran mereka yang ingin berfoto-ria.
Nah di depan ION Orchard, dekorasinya lebih menarik lagi. Selain pohon natal, juga ada semacam taman dengan penataan seperti tempat pernikahan namun tetap dalam suasana Natal dan Tahun Baru. Jadi banyak yang sekedar duduk-duduk menikmati suasana malam (untung cuaca lagi cerah), berfoto bersama keluarga, dan bernarsis ria membuat foto khas "selfie". Di sini aku sempat diminta memotret sepasang kekasih (sok tahu), dan kulakukan dengan senang hati.
Seorang biksu sedang memijit rekannya di depan ION Orchard. Ya, entah mereka biksu atau tidak, tapi pakaiannya cukup khas. Entah juga mereka di sini untuk belanja atau sekedar berwisata. Yang jelas waktu mereka sadar aku sedang memotret mereka, langsung mereka menghentikan aktivitasnya, dan akupun langsung ngacir ... hehehe...
Selepas ION Orchard sebenarnya masih ada deretan toko lagi di Orchard Road, tapi tidak terlalu meriah. Setidaknya aku tahu di situ ada kedubes Thailand. Lagipula waktu sudah terlalu malam, dan kakiku sudah pegel sekali, pertanda sudah saatnya berbalik arah dan pulang.
Location:
Orchard Road, Singapore
Church of The Sacred Heart - Singapore
Niatnya ingin "hunting" matahari terbenam, apa daya sudah terlambat. Dari arah Plaza Singapura, aku coba mendaki Port Canning dan menuju sisi sebelah barat. Siapa tahu ada posisi yang lebih tinggi sehingga bisa mendapat sudut pandang kota yang lebih bagus di waktu sunset. Tapi sebelum nemu posisi yang bagus matahari sudah terlanjur tenggelam.
Tapi setidaknya aku jadi menemukan salah satu gereja agak tua, Church of The Sacred Heart, yang merupakan gereja Katholik Roma, dibangun tahun 1910.
Aku tidak sempat mendekat untuk mendapatkan detail fotonya, hanya memotret dari seberang jalan. Di bagian paling depan tampak patung Yesus dengan warna keemasan, entah apakah dilapisi emas beneran atau cuma dicat.
Houses and Flowers @ Bedok Canal
Aku selalu suka melihat rumah di seberang sungai itu, terutama ketika dilihat dari tempatku saat ini. Bukan (hanya) karena rumahnya megah, tapi lebih karena sungai yang airnya tenang memberi pantulan yang bagus juga. Apalagi ketika langit sedang cerah di pagi hari, dengan langit yang berwarna biru, terasa tenang dan damai.
Okelah, rumahnya memang bagus, megah dah harganya pasti juga mahal, tapi bukan itu intinya :)

Di sepanjang jalan samping sungai itu juga ada beberapa tanaman bunga yang sederhana tapi indah. Sederhana karena bentuknya tidak terlalu nyleneh, dan warnapun tidak mencolok.
Masih terpesona dengan deretan perumahan di samping sungai (mungkin lebih tepat disebut kanal, Bedok Canal).
Nah kalau bunga ini sepertinya agak liar, karena aku sering lihat di lapangan rumput atau tepi sungai.
Pagi ini aku terlambat bangun, tapi untunglah masih punya waktu setengah jam untuk jalan-jalan sebentar menyusuri Bedok Canal. Setidaknya aku tidak melulu berkutat di depan laptop.
Bird Couple
Pagi-pagi terbangun oleh kicauan burung-burung di luar. Meskipun cuaca lagi mendung, aku bela-belain untuk bangun pagi agar bisa menyaksikan burung-burung liar itu dan menikmati kicauan mereka. Lagipula aku berniat untuk jalan-jalan sebentar di pagi ini.
Semula kupikir aku melihat burung unik dengan ekor bercabang, karena jaraknya cukup jauh. Setelah berhasil aku potret dengan zoom maksimal, eh, ternyata ada dua burung yang bertengger di antena tivi tetangga.
21 November 2013
Bundaberg - Ginger Beer
Semalam, lebih tepatnya 3 malam berturut-turut, aku terpaksa begadang hingga hampir jam 3 dan bangun jam 7 pagi. Akibat kurang istirahat, badan terasa capek dan masuk angin. Paling parah ya siang ini, perut rasanya kembung gak karuan, padahal cuaca sedang panas terik. Kalau lagi di rumah pasti aku langsung minum tolak angin dan bikin jahe panas. Apa daya sedang merantau dan numpang di rumah orang (curcol).
Eh, rupanya pas beli minuman di 7eleven, aku nemu minuman ini - Bundaberg Ginger Beer. Terus terang baru kali ini aku melihat Bir Jahe, dan bir ini tanpa alkohol (katanya). Sepertinya benar-benar pas waktu nemuinnya. Minuman dingin ini sangat menyegarkan diminum di tengah cuaca yang panas, tapi juga cukup melegakan perut karena kandungan jahenya. Lumayan, meskipun tidak tuntas, kembung di perut sedikit berkurang.
Aku cek sekilas, produk ini diimport dari Australia, dan pabriknya sendiri sudah berdiri sejak 1960. Wah, di Indonesia apa ada minuman kayak gini ya? Seingatku Jakarta punya bir pletok sebagai minuman khas, yang juga tidak mengandung alkohol, tapi kurasa tidak ada yang mengemasnya untuk produksi masal. Berminat?
Subscribe to:
Posts (Atom)
Bintaro View From Gramedia Building
Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...
-
Patung khas suku Asmat (kalau gak salah) terlihat berdiri kokoh dari gerbang keberangkatan terminal 2D bandara Soekarno Hatta Cengkaren...
-
Pagi ini perlu menjadi saksi dalam sidang perceraian kakakku di daerah Cibinong, dan biar hemat aku putuskan naik kereta api. Sebenarnya ...
-
Meskipun dekat rumah, sudah agak lama aku gak ngajak El jalan-jalan ke Bintaro Exchange Mall (BXC), meskipun hampir tiap hari melewatinya...







































