05 March 2005

Visiting Shinjuku



Hari ini mampir di Shinjuku, ada beberapa orang yang ingin ditemui Pak Iwan. Namun karena datang lebih awal, kami jalan-jalan dulu di balaikota, pusat pemerintahan kota Tokyo.



Nampaknya tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata. Sebagai kantor pemerintahan, kok rasanya tempat ini jauh dari nuansa ekslusif, berbeda dengan kantor berpagar tinggi yang sering kutemui. Mungkin karena lokasinya menyatu dengan areal perkantoran dan perbelanjaan .. mungkin :)



.. dan seperti biasa, tempatnya bersih dan rapi.



Ketemu dengan Shino (tengah) dan Komatsu (kiri). Shino pernah kuliah di UI mengambil sastra Indonesia, dan cukup akrab dengan artis Dian Sastro. Sementara Komatsu berniat memulai bisnis tenaga kerja, dan tertarik untuk menyalurkan tenaga kerja Indonesia ke Jepang.



Karena pak Iwan ada pertemuan reuni sekolah bisnisnya, aku memilih jalan-jalan sendiri di sekitar gedung balaikota Tokyo, daripada bengong di pertemuan yang pasti ngobrolnya bahasa Jepang doank.
Di sini bisa puas berfoto ria, termasuk berfoto diri :)



... bbrrrerr, dingin amat anginnya, padahal dah pakai jaket tebal.
Di belakang tampak sepasang muda-mudi sedang berlatih menari, atau semacam drama.



.. eksterior yang cukup modern di salah satu sudut Shinjuku, tersusun dari batubata.

At Ueno

Hari ini bangun agak siang, dan kantor sepi karena hari libur. Rencananya ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi (untuk bertemu calon rekan bisnis), seperti ke Ueno dan Shinjuku.



Dalam perjalanan ke stasion kami melewati taman yang cukup asri. Beberapa tanaman sudah mulai memunculkan warna musim semi sehingga tampak menarik...



... dan banyak burung dara di taman tersebut.



Di stasion Fuchu. Meski tidak mengalami hujan salju, namun aku masih bisa melihat salju secara langsung. Gundukan putih di sebelahku itu adalah salju yang turun beberapa hari sebelumnya. Aku cukup beruntung, di penghujung musin dingin ini masih bisa merasakan salju di Tokyo :)



Di Ueno kami menemui rekan Pak Iwan, yang kedua-duanya bukan orang Jepang asli. Sang suami keturunan China, sedang istrinya dari Bandung :).



Sedang ada promosi pariwisata di Jepang bagian utara, menyambut datangnya bunga sakura, yang katanya cuma berlangsung 2 minggu di awal musim semi. Cherry blossom, istilah bule-nya.



Makan siang di restoran yang murah-meriah, untuk ukuran Jepang (yah, meskipun untuk ukuran Indonesian masih agak mahal, apalagi buat mahasiswa). Semacam restoran plasmanan, dan di sini juga tersedia bermacam sushi, daging/ikan segar mentah :)
Menu ini lebih dapat dinikmati, dibanding menu jamuan elite waktu di Hiroshima 2 malam lalu.



Keramaian kota terlihat dari restoran. Di bawah jalur kereta, ada biksu dari kuil yang mencari sedekah. Dia hanya berdiri dan diam, tanpa mengganggu pejalan kaki. Tempat di bawah jalur kereta sepertinya pusat perbelanjaan yang murah meriah, sayangnya gak sempat mampir, toh juga gak niat belanja.

Menurut Pak Iwan, Ueno ini semacam daerah pinggiran Tokyo, kawasan yang tidak terlalu elit. Banyak orang asing (imigran) di sini, khususnya dari negara berkembang seperti asia tenggara, asia selatan dan timur tengah.

04 March 2005

Arrived at Tokyo, a Clean Metropolitan



Dari Hiroshima kami menuju Tokyo dengan shinkansen. Meski perjalanan cukup kencang, masih bisalah menikmati pemandangan sekitar, termasuk rumah-rumah yang sebagian atapnya masih bersalju saat memasuki wilayah Tokyo.



Sebuah patung ibu dan anak, persis di depan stasion kereta yang diatasnya merupakan pusat perbelanjaan. Sudah umum di Jepang, kalau mal berada di atas subway. Kalau gak salah daerah ini namanya Kokubunchi.
Dari tempat ini kami naik bis kota menuju daerah Fuchu, tempat kami akan menginap selama di Tokyo.



... salah satu sudut kota Tokyo...



Tas-tas kubiarkan tergelatak di bawah pohon, sambil menunggu pak Iwan mencari recehan (maksudnya nukar duit dolar ke yen). Karena hari libur, cukup sulit mencari money changer yang buka, dan akhirnya juga memang gak dapat.



Salah satu kebiasaan, atau gaya hidup, orang Tokyo yang patut ditiru adalah tertib menyeberang. Jarang sekali terlihat orang menyeberang sembarangan, dan rambu-rambu lalu lintas cukup dipatuhi.
Kadang kalau ada yang menyeberang jalan waktu lampu merah menyala (untuk penyeberang jalan) meskipun jalanan sepi, bisa ditebak bahwa dia orang asing.



Selama di Tokyo, kami nginap di Dynax, tempat kerja Pak Iwan waktu di Jepang. Di sini sempat bertemu beberapa staff yang juga berasal dari Asia Tenggara -- Vietnam dan Thailand. Tapi aku gak sempat ingat nama-nama mereka.

End of Winter in Hiroshima



Saat ini sudah merupakan akhir musim dingin. Di Hiroshima masih dingin, hujan cukup sering meskipun salju sudah jarang turun. Matahari sudah bersinar, membawa kehangatan di tengah-tengah udara yang cukup sejuk, meskipun kalau malam dingin banget.

Langit yang cerah dan cahaya matahari yang tidak terlalu terik membawa keindahan tersendiri di awal musim semi ini.



Nampak sungai yang membelah kota Hiroshima, gak tahu sungai apa. Berbeda dengan kebanyakan sungai di Jakarta, sungai ini nampak bersih. Beberapa kapal (entah buat apa) nampak berjejer sepanjang tepian, sayang aku gak sempat main-main di sungai itu.



Menatap keluar jendela, menikmat udara yang sejuk namun juga hangat.
Sayang aku gak punya cukup banyak waktu untuk menikmati tempat ini.

03 March 2005

To Hiroshima



Menikmati nyamannya kereta api di Jepang, bersih dan rapi, serta penumpangnya juga cukup tertib, khususnya dalam hal ngantri.



Woooaaa... shinkansen, kereta supercepat. Katanya yang ini kecepatan sampai 300 km/jam. Perjalanan Fukuoka-Hiroshima terasa cukup cepat, padahal jaraknya lumayan jauh.



Habis presentasi di kawasan Hiroshima University, malamnya menikmati jamuan makan khas Jepang. Waduh, ... beraneka makanan disajikan, rasanya aneh-aneh. Dari total makanan yang ada, paling cuma 10% yang aku bener-bener bisa menikmati :-<



Sementara pak Iwan ngobrol dengan yang lain, aku bengong saja sambil mencicipi makanan yang ada. Lha mau gimana lagi, mereka ngobrol pakai bahasa Jepun yang aku gak ngerti ... cuma ngerti Hai, Arigatou doank.

Oh ya, rata-rata orang Jepang hobi minum bir. Untung saja mereka cukup toleran, sehingga aku gak dipaksa minum bir. Sebenarnya bukan masalah haram atau tidak, berapa persen alkohol yang ada. Yang jadi masalah, aku gak suka bir, rasanya pahit, gak jelas menurutku. Sebagai orang Jogja tulen, aku lebih suka yang manis-manis. Makanya aku lebih milih minum coctail, yang mirip sirup, meskipun sebenarnya kadar alkoholnya lebih tinggi dibanding bir ... hehehehe

At Fukuoka Airport



Pesawat mendarat di bandara Fukuoka, kota di pulau bagian selatan Jepang. Ini pertama kalinya aku keluar negeri, dan pertama kali ke Jepang :)
Kebetulan belum lama ini jalur Denpasar-Fukuoka dibuka kembali, setelah katanya sempat beberapa waktu ditiadakan.



... deretan antrian untuk pemeriksaan imigrasi. Banyak yang cukup cemas, terutama yang baru pertama kali datang seperti aku ini, apalagi Jepang cukup ketat terhadap orang asing dari negara berkembang -- mungkin takut kebanjiran tenaga kerja ilegal :-<



... Terpaksa aku "nongkrong" bentar di ruang imigrasi, gara-gara pegawai kedutaan yang ngaco, masak naruh stempel di fotoku yang lugu -- kan jadi dicurigai :(



.. pak Iwan menunggu, harap-harap cemas. Dia sih nyantai saja masuk ke Jepang, soalnya sudah punya permanent resident, jadi sudah seperti WNJ.



.. mejeng bentar di lobby bandara, sehabis ganti baju dan cuci muka (gak mandi euy). Terlihat bandara yang cukup rapi dan bersih, kebetulan sedang tidak terlalu ramai.

02 March 2005

Many First Time (s)



Pertama kali naik pesawat ... heheheh.
Siap-siap lepas landas dari Bandara Sukarno-Hatta, tujuan pertama: Bali!



Pesawat sudah hampir mendarat di Bandara Ngurah Rai, yang ternyata terletak di tepi pantai (agak berseberangan dengan pantai Kuta). Ini artinya: pertama kali ke luar pulau Jawa, dan pertama kali ke Bali.



Pertama kali jalan-jalan di Bali, meskipun dalam rangka dinas kantor (artinya gak bener-bener refreshing, melainkan kerja). Di daerah Tabanan, aku install aplikasi SMS di salah satu rumah sakit. Patung dan sesajen banyak ditemukan di rumah maupun kantor di Bali. Gak heran kalau aroma "mistis" cukup terasa di sini.



Pertama kalinya berkunjung di Pantai Kuta yang termasyur :)
Menyenangkan, apalagi pas dapat sunset.



... siluetku, dipotret ma Pak Bagus....



Pak Bagus sedang menatap (atau menantang) senja ...

Bintaro View From Gramedia Building

Akhir tahun gak ada acara apa-apa, jadi iseng saja pergi ke Gramedia buat lihat-lihat buku, mumpung pandemi sudah berlalu. Ini pemandangan k...